Comscore Tracker

IMS 2020: Ketika Sandiaga Bicara Millennial dan Politik di IMS 2019

Sandiaga akan kembali jadi tamu IMS 2020 by IDN Times

Jakarta, IDN Times - Nama Sandiaga Uno mungkin sudah tak asing lagi bagi generasi millennial. Politikus yang akrab bang Sandi itu cukup populer di jagat media sosial, bahkan dikenal hingga generasi Z.

Sebelum terjun ke dunia politik, Sandiaga selama ini dikenal sebagai pengusaha muda dengan berbagai bisnisnya. Ia semakin dikenal publik, setelah memenangkan Pilkada DKI Jakarta 2017 sebagai wakil gubernur Anies Baswedan.

Pria bernama lengkap Sandiaga Salahuddin Uno ini kini semakin tersohor di dunia politik, setelah digandeng Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sebagai bakal calon wakil presiden yang bertarung pada Pilpres 2019.

Sandiaga akan menjadi pembicara di Indonesia Millennial Summit 2020, yang digelar IDN Times pada 17-18 Januari 2020 di The Tribrata, Dharmawangsa, Jakarta. Bagaimana kisah inspiratif dan visinya pada Pilpes 2024?

1. Cuti permanen dari dunia bisnis

IMS 2020: Ketika Sandiaga Bicara Millennial dan Politik di IMS 2019(IDN Times/Irfan Fathurohman)

Di panggung Indonesia Millennials Summit 2019 by IDN Times, Sandiaga mengaku sudah cuti permanen dari dunia bisnis, karena ia sekarang sudah mulai menekuni dunia politik dengan bergabung di Partai Gerindra. Dia meninggalkan dunia usaha sejak 2015.

"Saya sudah tinggalkan dunia usaha, dan sebetaulnya Pak JK mentor saya. Kenapa saya meninggalkan dunia usaha, karena saya khawatir kalau saya terus di dunia usaha dan berpolitik, Pak JK bilang, 'Politik baik, dunia usaha baik, berdagang baik, tapi jangan mencampurkan keduanya, karena nanti akhirnya memperdagangkan politik dan mempolitikkan dagang'," ujar Sandiaga, yang disambut tepuk tangan hadirin.

Baca Juga: IMS 2020: Basuki Hadimuljono, Anak Tentara Jadi Panglima Infrastruktur

2. Sandiaga sebut 50 persen millennial tak suka politik

IMS 2020: Ketika Sandiaga Bicara Millennial dan Politik di IMS 2019(IDN Times/Irfan Fathurohman)

Sandiaga mengaku sudah berkunjung ke lebih dari 1.000 titik di Indonesia dan 70 persen bertemu kalangan millennial menjelang Pilpres 2019. "Di acara kami selain emak-emak itu millennial. Millennial itu merupakan generasi yang unik ya, menurut saya," kata dia.

Dia juga mengaku sangat tertarik membaca hasil survei Indonesia Millennial Report 2019, karena dari hasil survei internal tim Badan Pemenangan Nasional (BPN), 50 persen millennial tak suka dunia politik. Berbeda dengan hasil survei IMR 2019.

"Di situ (IMR 2019) 23 persen, ya. Ini merupakan tantangan buat politisi buat menarik para millennial ini," kata pria berdarah Gorontalo itu.

Kedua, menurut Sandiaga, millennial dalam menentukan pilihan politiknya tidak di awal. Mereka menunggu, seperti debat capres perdana pada 17 Januari 2019, millennial kalangan menengah ke bawah sangat tertarik meski durasi lebih dari dua jam.

"Ternyata millennial nonton debatnya sampai habis, dan mereka bilang akan menentukan pilihan setelah nonton lima debatnya. Ini menjadi menarik kalau angkanya di [Indonesia Millennial Report 2019] hanya 23 persen. Di kami 50 persen gak suka politik, nah ini berbahaya buat para politisi," ujar Sandi.

"Karena politisinya ngebosenin, dan isu yang diangkat tidak (relevan)," sambung mantan pengusaha di bidang keuangan itu.

3. Tiga cara Sandiaga mencuri perhatian millennial

IMS 2020: Ketika Sandiaga Bicara Millennial dan Politik di IMS 2019(IDN Times/Irfan Fathurohman)

Sandiaga menyebutkan ada beberapa hal yang sebenarnya diangkat dalam survei millennial di kubu pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno jelang Pilpres 2019. Pertama, politisi harus memiliki tiga hal agar menarik kalangan millennial, yakni harus artikulasi dan autentik.

"Mereka harus menyampaikan dengan jelas dalam waktu yang sangat pendek hal-hal yang menjadi pesan kunci. Kedua, harus relevan. Begitu sudah tidak relevan dengan millennial, bicaranya malah isu kolonial, ya ditinggalin. Terakhir, talkable, harus berpotensi untuk nyambung dan viral, hal yang seru buat mereka," papar Sandi.

"Ini buat tantangan nanti teman-teman yang bicara di forum politik. Kalau gak, millennial gak vote, padahal ini masa depan milik millennial. Betul kan?" sambung pria yang suka berolah raga itu.

4. Sandiaga membantah ada millennial ingin Indonesia menjadi negara khilafah

IMS 2020: Ketika Sandiaga Bicara Millennial dan Politik di IMS 2019(IDN Times/Irfan Fathurohman)

Pertanyaan menarik lainnya pada Sandiaga adalah, sesuai hasil survei Indonesia Millennial Report 2019, sebanyak 19,5 persen millennials menyatakan Indonesia lebih ideal menjadi negara khilafah.

"Gak kelihatan ya dari seribu kunjungan saya ke millennial. Pancasila udah gak tergoyahkan. Millennial merasa negeri kita sudah kaya raya. Sumber daya alamnya melimpah, sumber daya manusianya hebat-hebat, pinter. Mereka optimis. Mereka melihat Bhinneka, Pancasila, dan UUD 1945 sudah embedded di mereka."

Yang ada, lanjut Sandiaga, selama kampanye di ribuan titik tersebut ia hanya menemukan hal-hal simpel seperti lapangan pekerjaan. Karena mereka melewati masa transisi dari ekonomi masa lalu ke masa ekonomi kekinian. Karena itu, lapangan pekerjaan dan life skill untuk mendapat pekerjaan jauh lebih penting.

Hal lain yang ditemui Sandiaga selama berkampanye Pilpres 2019, tentang keluhan warga terakit tingginya harga-harga kebutuhan pokok. Apalagi, millennial sekarang ini kuota internet menjadi kebutuhan sehari-hari.

"Napasnya sinyal, makannya kuota. Mereka ini grup yang aneh banget, unik banget!" ujar Sandi, yang disambut tawa hadirin.

“Ketinggalan dompet masih bisa ditangani, tapi ketinggalan power bank paniknya luar biasa," imbuh Sandi.

Sandiaga juga mengungkapkan perbedaan kaum millennial dengan generasi sebelumnya, yakni generasi X dan baby boomer, sebelum makan. Jika generasi lama akan lebih dahulu mencium aroma makanan yang akan disantap. Berbeda dengan generasi millennial, mereka akan mengabadikan lebih dulu makanan itu sebelum dimakan, untuk diunggah di media sosial.

"Gak bisa disandingkan dengan generasi sekarang. Ini yang membuat tantangan sekaligus peluang. Makanya saya optimistis, kita semua di sini, di Summit pertama, harus menghasilkan resolusi, millennial itu maunya apa untuk Indonesia? Bukan hanya lima tahun ke depan, tapi 20, 30, karena Indonesia harus menang," kata Sandi.

Jebolan Universitas George Washington, Amerika Serikat, itu mengatakan Indonesia yang kaya raya memiliki 7 juta pengangguran. Belum lagi pengangguran di kalangan millennial yang lebih tinggi dari negara lain.

"Apa yang ingin millennial lakukan agar lapangan kerja tercipta? Kalau susah kerja, ngapain cari kerja, buka lapangan kerja dan jadi entepreneur. Ini yang saya harapkan dari Summit ini. Kalau saya lihat muka-mukanya berbinar-binar semua, calon pengusaha sukses semua," kata Sandi sambil melempar pandangan ke arah audiens.

5. Sandiaga akan kembali menjadi pembicara di IMS 2020 by IDN Times

IMS 2020: Ketika Sandiaga Bicara Millennial dan Politik di IMS 2019(IDN Times/Irfan Fathurohman)

Sandiaga akan kembali berbicara di panggung Indonesia Millennial Summit 2020 by IDN Times. Acara dengan tema "Shaping Indonesia's Future" ini berlangsung pada 17-18 Januari 2020 di The Tribrata, Dharmawangsa, Jakarta.

IMS 2020 menghadirkan lebih dari 60 pembicara kompeten di berbagai bidang, dari politik, ekonomi, bisnis, olahraga, budaya, lintas agama, sosial, lingkungan sampai kepemimpinan millennial.

Ajang millennial terbesar di Tanah Air ini dihadiri oleh lebih dari 4.000 pemimpin millennial. Dalam IMS 2020, IDN Times juga meluncurkan Indonesia Millennial Report 2020 yang melibatkan 5.500 responden di 11 kota di Indonesia. Survei yang dilakukan oleh IDN Research Institute bersama Nielsen bertujuan untuk memahami perilaku sekaligus menepis mitos stereotip di kalangan millennial.

Simak hasilnya di IMS 2020 dan ikuti perkembangannya di IDN Times.

Baca Juga: IMS 2020: 7 Fakta Nadiem Makariem, Mendikbud Millennial Indonesia

Topic:

  • Rochmanudin
  • Wendy Novianto

Berita Terkini Lainnya