Comscore Tracker

Mengenal Ajaran Nabi Muhammad SWT dengan Nilai-nilai Pancasila

Spirit Maulid Nabi Muhammad menjunjung tinggi kemanusiaan

Jakarta, IDN Times - Untuk mengenal lebih dekat ajaran Islam, sebaiknya yang pertama dipelajari secara utuh dan mendalam adalah sosok Nabi Muhammad SAW, sebagai pembawa atau pendirinya. Dalam hal ini umat Islam merasa beruntung karena sejarah Rasulullah tertulis secara lengkap dan hidup dalam sorotan sejarah yang terang benderang, sehingga mudah dipelajari dan diteladani kehidupannya.

“Tentu ini berbeda dari sejarah nabi-nabi sebelumnya yang riwayat hidupnya tidak semuanya bisa ditelusuri secara lengkap, meskipun kita meyakini mereka sebagai nabi utusan Tuhan yang mengajarkan jalan kebaikan, kebenaran dan keselamatan sebagaimana dituturkan dalam Alquran,” kata Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Komaruddin Hidayat, dalam keterangan tertulis, Kamis (29/10/2020).

Komaruddin menjelaskan, dari ke-enam rukun iman yang diajarkan dalam Islam, hampir semuanya gaib, tak terjangkau oleh nalar. Yang bisa dirujuk sebagai pintu masuk untuk mengetahui ajaran Allah SWT adalah melalui Alquran dan sejarah hidup Nabi Muhammad SWT.

Oleh karena itu, agar kalimat syahadat tentang Allah SWT dan kerasulan Muhammad SWT menjadi berkualitas, seorang muslim haruslah mempelajari sirah nabawiyah dan isi Alquran yang menjadi warisan terbesarnya, yaitu petunjuk Allah SWT untuk meraih kebahagiaan dan keselamatan hidup di dunia dan akhirat.

Baca Juga: Doa Nabi Muhammad Memohon Kebahagiaan dan Kebaikan dalam Hidup

1. Kemunculan Nabi Muhammad SWT selalu berada di pihak tertindas

Mengenal Ajaran Nabi Muhammad SWT dengan Nilai-nilai PancasilaTaj Yasin menyampaikan motivasi kepada santriwati di pondok pesantren agar disiplin menjalankan protokol kesehatan, beberapa waktu yang lalu. (Istimewa)

Ditegaskan dalam Alquran (Anbiya:107), Nabi Muhammad itu diutus Allah SWT untuk menebarkan rahmat bagi semesta. Nabi Muhammad menjadi instrumen Allah SWT untuk menebar kebajikan dan kedamaian bagi manusia.

“Jika memang demikian halnya, mengapa Nabi Muhammad dimusuhi, bahkan hendak dibunuh oleh orang-orang Qureisy yang notabene masih sebangsa?” tanya Komaruddin.

Pertanyaan ini, menurut Komaruddin, sesungguhnya bisa juga dialamatkan pada sosok Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Isa (Yesus) yang kesemuamnya juga dikejar-kejar musuh untuk dibunuh.

Salah satu penjelasannya, kata dia, adalah para nabi itu pada awal kemunculannya selalu berada pada pihak-pihak yang tertindas, yang kemudian melakukan kritik dan perlawanan pada penguasa yang menindas. Sosok nabi dianggap elite penguasa sebagai ancaman subversi yang akan menggulingkan dan merebut kekuasaan dari genggaman mereka.

“Ketika orang bicara kekuasaan, biasanya standar benar-salah menjadi sekunder, yang mengemuka adalah menang-kalah. Siapa yang dianggap mengancam mesti ditundukkan,” ujar Komaruddin.

Namun Nabi Muhammad, kata dia, sebagaimana juga nabi-nabi sebelumnya, pantang menyerah, bahkan mengalah hijrah ke Yathrib untuk menyebarkan ajaran Islam yang pada urutannya mendapat simpati dan pengikut yang terus meningkat, hingga kota Yathrib diubah namanya menjadi Madinah.

Apa yang menjadi daya tariknya sehingga para pengikutnya setia mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW dan siap membela gerakan Baginda Rasulullah? Yang pertama adalah akhlaknya yang dikenal sebagai orang yang terpecaya, al-amin, trusted person.

Pribadi yang jujur, senang menolong, dan tak pernah melukai perasaan orang lain. Yang kedua, adalah keunggulan ajarannya, yang mampu menembus hati dan membangkitkan nalar untuk berpikir kritis-logis.

Nabi Muhammad, kata dia, menyampaikan kebenaran Alquran dengan disertai integritas yang tinggi, mengundang dan membangkitkan nalar sehat untuk memahami secara jernih. Bukan taklid buta agar siapa pun yang memeluk Islam berdasarkan pilihan bebas dan suka rela.

“Secara tegas dikatakan dalam Alquran, tak boleh ada paksaan dalam menebarkan agama karena paksaan tak akan menghasilkan ketulusan dan kesalehan yang otentik,” ujar Komaruddin.

2. Peperangan pada zaman Rasulullah dipicu untuk mempertahankan diri

Mengenal Ajaran Nabi Muhammad SWT dengan Nilai-nilai PancasilaIlustrasi Al-Qur'an dan Buku Yasin (IDN Times/Besse Fadhilah)

Sehingga, menurut Komaruddin, jika dikaji buku sejarah dan ayat-ayat Alquran, semua peperangan yang terjadi semasa hidup Rasulullah dipicu untuk mempertahankan diri dari kekuatan musuh yang hendak menghentikan gerakan Nabi Muhammad SAW dan ajarannya.

Alquran pun menggunakan frase ‘diizinkan oleh Allah SWT kamu berperang’ bukannya disuruh setelah kondisi Nabi Muhammad benar-benar terancam jika tidak melakukan perlawanan.

Kondisi ini, menurut Komaruddin, tak jauh berbeda dari sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia yang memaksa rakyat nusantara berperang, baik dengan cara bergerilya maupun secara frontal adu fisik, karena adanya kekuatan asing yang tidak menghendaki lahirnya negara Republik Indonesia yang merdeka dan berdaulat penuh.

“Namun begitu mesti kita ingat bahwa Indonesia didirikan bukan sebagai mesin perang. Demikianlah, Nabi Muhammad adalah sosok pejuang kemanusiaan dan pembangun peradaban yang cita-cita dan warisannya terus berjalan sampai hari ini,” kata Komaruddin.

Dia menjelaskan, ajaran Islam yang dikembangkan bukanlah sebuah agama untuk memprovokasi perang. Perkembangan jumlah pemeluk Islam termasuk tercepat dibanding agama-agama lain.

Kandungan Alquran adalah ajaran untuk membangun peradaban, bukannya doktrin perang. Makanya, menurut Komaruddin, disayangkan adanya buku-buku sejarah maupun penceramah yang selalu menggambarkan dan mengedepankan cerita Muhammad sebagai pemimpin yang mengajak peperangan.

Menurut Komaruddin, oleh beberapa penceramah sejumlah ayat Alquran yang berkaitan dengan perang pada masa itu diangkat kembali untuk memprovokasi, agar umat Islam angkat senjata untuk menghadapi umat yang berbeda agama, pada hal konteks sosialnya sudah berbeda.

Padahal, menurut Komaruddin, semasa hidup Rasulullah perang itu hanya dilakukan sebagai pembelaan diri. Tak ada perintah perang hanya karena berbeda agama. Bagimu agamamu, bagiku agamaku, tegas Alquran.

Pada zaman modern ini, setelah Perang Dunia II, perang fisik adu senjata antar bangsa dan negara menurun drastis. Bahkan warga dunia dengan teknologi internet semakin terhubung satu dengan yang lain untuk menjalin kerja sama dalam bidang keilmuan dan ekonomi.

“Agar warga bumi yang mencapai jumlah delapan miliar ini survive, dibutuhkan kemitraan dan kerja sama, bukannya kompetisi yang mengarah pada konflik senjata,” kata Komaruddin.

3. Ketuhanan dan kemanusiaan

Mengenal Ajaran Nabi Muhammad SWT dengan Nilai-nilai PancasilaTaj Yasin menyampaikan motivasi kepada santri di pondok pesantren agar disiplin menjalankan protokol kesehatan, beberapa waktu yang lalu. (Istimewa)

Lebih lanjut, Komaruddin menjelaskan, ada dua tema pokok seluruh ajaran Nabi Muhammad, yaitu ketuhanan dan kemanusiaan. Pertama, umat Islam diajak untuk merenung dan berpikir dengan membaca ayat-ayat semesta bahwa semua ini tidak datang dengan sendirinya, melainkan diciptakan Allah SWT.

Allah yang maha rahman dan rahim mencipta dan menyediakan ini semua untuk manusia. Manusia adalah makhluk ciptaan tertinggi dengan dilengkapi kecerdasan di atas yang jauh ciptaan lainnya. Oleh karenanya, manusia tidak pantas bersujud menyembah dan memuja objek apa pun yang lebih rendah dari posisi dirinya, misalnya jabatan dan harta kekayaan karena posisi manusia lebih tinggi dari keduanya.

Komaruddin mengatakan manusia tidak pantas memuja siapa pun selain Allah  SWT Yang Maha Agung dan absolut, sementara manusia posisinya sama-sama rapuhnya, yang mengenal kelahiran, sakit, dan kematian.

Saat ini penduduk bumi tengah gelisah, kata dia, kelimpungan dan dicekam ketakutan akibat dipermainkan COVID-19. Virus corona bisa juga dilihat sebagai bagian dari ayat kauniyah--memberikan tanda bahwa Allah itu ada, baik seperti yang tercatat dalam kitab Allah maupun melalui tanda yang ditunjukkan makhluk ciptaan-Nya, untuk dipahami dan direnungkan manusia, yang menyerang siapa pun tanpa pandang bangsa, agama, profesi dan kelas sosial.

Menurut Komaruddin, di samping diberi kecerdasan akal untuk membaca ayat-ayat Allah SWT, yang yang terhampar dalam semesta dan panggung sejarah manusia, Allah juga meniupkan ruh-Nya ke dalam setiap tubuh insani.

Ruh inilah wadah yang mampu menampung cahaya dan petunjuk ilahi yang disebut iman, yang kemudian tertulis dalam lembaran-lembaran hati. Ayat-ayat qalbiyah inilah yang mesti dipedomani dan jadi penuntun umat Islam semua, dalam berpikir dan bertindak agar seseorang memiliki karakter yang kokoh dan mulia (akhlaqul karimah), yang mampu menggerakkan seseorang untuk berbuat baik dan meninggalkan yang buruk.

“Allah mengingatkan, ‘Mengapa engkau menyuruh orang lain berbuat kebaikan, namun kamu melupakan dirimu tidak melakukan apa yang kamu perintahkan itu, pada hal engkau membaca kitab. Apakah kamu tidak renungkan?’" ujar Komaruddin.

Jadi sesungguhnya, menurut ia, dalam setiap dada seorang muslim tertulis kitab Allah SWT, yang disebut suara hati nurani. Baris-baris ayatnya akan semakin terang dibaca jika hatinya bersih, diterangi cahaya ilahi, yang membuat setiap orang memiliki kesadaran kuat untuk membedakan antara yang halal dan haram, yang mulia dan hina.

Hatinya mampu membedakan dan menggerakkan untuk memilih tindakan yang mendatangkan kebaikan bagi sesama manusia dan mencegah tindakan yang mencelakakan diri dan sesama manusia.

Ayat-ayat Allah SWT dalam kalbu itulah yang jadi pedoman dan penggerak tindakan, sedangkan kitab suci yang tertulis dalam lembaran kertas itu sebagai rujukan untuk dikaji oleh nalar, sebagai jalan masuk untuk memahami dan menghayati isi kitab yang ada di lembaran-lembaran hati.

Dikatakan kitab suci, kata Komaruddin, karena datang dari maha suci, lalu disimpan di dalam hati yang suci, sehingga tak ada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang takwa. Sedangkan lembaran kitab suci yang tercetak dalam mushaf itu merupakan rujukan dan pintu masuk untuk dikaji dengan nalar.

Namun ketika mendekati Alquran hanya dengan otak dan nalar, tanpa kejernihan dan ketulusan hati, sangat bisa jadi yang muncul adalah perselisihan pendapat dan tafsir lalu menimbulkan perpecahan atas nama kebenaran Tuhan.

“Jadi, setinggi apapun pendidikan seseorang, sepintar apapun isi kepala seseorang, sehebat apapun jabatan seseorang, jika tidak diterangi dan dipimpin oleh qalbun salaim, hati yang bersih dan sehat, tidak ada jaminan perilakunya akan mendekatkan pada kebaikan. Mengapa? Karena kecenderungan manusia itu selalu mendorong berbuat zalim dan korup,” kata Komaruddin.

4. Ruhani atau spiritual yang senantiasa memancarkan kebaikan

Mengenal Ajaran Nabi Muhammad SWT dengan Nilai-nilai PancasilaIlustrasi Alquran (IDN Times/Umi Kalsum)

Komaruddin mengatakan di dalam Alquran terdapat kata "insan" sekitar 36 kali disebutkan. Kesemuanya berkonotasi negatif, seperti manusia itu mudah sombong, ingkar, keluh kesah, zalim, kikir, riya, dan sebagainya, sehingga jika sepak terjang manusia jika tidak dikendali oleh kekuatan ‘ruhani’, manusia senantiasa akan mengajak pada tindakan korup dan merusak.

Adalah ruhani atau spiritual yang senantiasa memancarkan kebaikan, kebenaran dan keindahan. Pendidikan ruhani itu wilayah kekuasaan Allah, karena Dia yang meniupkan ruhNya pada setiap manusia, melalui para rasulNya.

“Ruh itu urusan Tuhan. Hanya Tuhan yang bisa mendidik dan mengendalikannya,” ucap Komaruddin.

Berdasarkan pemikiran di atas, kata dia, maka umat Islam mudah memahami mengapa misi kerasulan Muhammad SAW itu yang ditekankan adalah iman pada Allah SWT, membangun insan bertakwa, dan menyempurnakan akhlak manusia.

Jika keimanan dan ketakwaan seseorang sudah kokoh, maka manusia dengan kecerdasannya akan mampu membangun kebudayaan yang menjunjung tinggi prinsip keadilan untuk kesejahteraan umat manusia.

Cara untuk menjaga kebersihan dan kekuatan hati itu dengan salat dan zikir. Artinya, di mana pun dan kapan pun seseorang berada, hatinya selalu terhubung dengan Allah SWT, sehingga mampu mencegah perbuatan keji dan munkar (Al-Ankabut: 45).

Terlebih bagi seorang pemimpin dan pebisnis, ketika membuat keputusan mesti senantiasa menghadirkan hati nurani dalam terang ilahi, agar keputusannya tidak mendatangkan kerusakan bagi sesama manusia. Sehingga terlihat jelas ajaran yang dibawa Nabi Muhammad, keimanan itu tertuju pada Allah SWT, namun buah imannya harus dirasakan sesama manusia untuk mencegah tindakan keji dan munkar.

Dalam Surat Albaqarah 177 dijelaskan, apakah kebajikan (al-birru) itu? Yaitu engkau mengimani Allah, adanya hari akhir, malaikat, kitab suci dan diutusnya para nabi-nabi. Lalu engkau memberikan harta yang kamu cintai itu kepada kerabatmu, anak-anak yatim, orang yang miskin, orang dalam perjalanan yang memerlukan pertolongan, orang yang karena kesulitan hidup lalu meminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya.

Yaitu mengangkat problem yang membelenggu seseorang, senantiasa mendirikan salat, menunaikan zakat, memenuhi janji-janjinya, yang semuanya itu dilakukan dengan sabar, konsisten, sekalipun ditimpa kesulitan dan penderitaan. Itulah orang-orang yang benar imannya, dan itulah tanda-tanda orang yang bertakwa.

“Ayat di atas sangat jelas dan tegas menunjukkan adanya keterkaitan langsung antara keimanan dan kemanusiaan,” kata Komaruddin.

Oleh karena itu, Komaruddin mengatakan, orang yang mengaku beriman, maka bukti keimanannya mesti terpancar dalam komitmennya untuk selalu memperjuangkan nilai-nilai dan harkat kemanusiaan, membela mereka yang tertindas dan terpinggirkan.

Itulah yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW dan para nabi sebelumnya. Sikap untuk selalu meniru perilaku Rasulullah dalam berserah diri dan menaati ajaran Allah SWT itu disebut Islam, orangnya disebut muslim. Di Indonesia, konotasi Islam diperluas lagi maknanya dengan memasukkan kategori dan identitas demografis-sosiologis yang kemudian dituliskan dalam KTP.

5. Dimensi spiritualitas dan kemanusiaan Pancasila

Mengenal Ajaran Nabi Muhammad SWT dengan Nilai-nilai PancasilaIDN Times/Imam Rosidin

Komaruddin menyebutkan, menarik sekali menghubungkan ajaran Rasulullah dengan nilai-nilai Pancasila yang dijadikan ideologi berbangsa dan bernegara. Ketuhanan atau kebertuhanan menjadi sila yang pertama.

Dengan demikian, kata dia, mestinya ketika bangsa dan negara ini merumuskan berbagai kebijakan publik mesti dilandasi dengan kesadaran penuh, bahwa semua yang dilakukan itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Implikasi dan konsekuensi dari sikap kebertuhanan itu, kata Komaruddin, maka seseorang memiliki cinta kasih dan kepedulian terhadap nasib sesama manusia. Orang yang mengaku bertuhan mestinya menghargai derajat sesama manusia, apapun latar belakang etnis dan agama, karena di atas itu semua mereka adalah makhluk Tuhan.

Kasih terhadap sesama manusia itu telah dicontohkan Nabi Muhammad. “Hai Muhammad, sekiranya kamu bersikap kasar dan berhati keras, niscaya ajakanmu tak akan didengar, orang-orang itu pun akan lari dari sekelilingmu” (Al-Imran: 159).

Jadi, hubungan antara ketuhanan dan peri kemanusiaan tak bisa dipisahkan, jika dua sila itu telah dihayati dan dijalankan, maka akan membuahkan kerukunan, perdamaian dan persatuan antar sesama manusia, dimulai dari rumah kita sendiri yaitu Republik Indonesia.

“Republik Indonesia itu batas administrative-teritorial, namun cinta kemanusiaan itu lingkupnya universal,” ujar Komaruddin.

“Hai Muhammad, kamu diutus sebagai penebar rahmat, cinta kasih untuk semesta” (Al-Anbiya : 107).

Hanya persatuan Indonesia yang diikat dengan kasih dan sikap saling menghargai sesama hamba Allah SWT, maka manusia bisa duduk bersama untuk bermusyawarah dengan hikmat dan bijaksana.

“Kita saling berbagi wisdom untuk memajukan bangsa dan negara dengan menundukkan ego dan kepentingan pribadi serta golongan, semata untuk kepentingan bersama, wujud konkretnya adalah menciptakan keadilan dan kesejahteraan untuk rakyat semua,” ujar Komaruddin.

Baca Juga: Selain Minyak Wangi, Ini 2 Hal yang Tidak Pernah Ditolak Rasulullah

Topic:

  • Rochmanudin
  • Irfan Fathurohman

Berita Terkini Lainnya