Politikus PSI: Lebih Baik Debat di Medsos daripada Adu Fisik

Perang pendukung di media sosial sudah memanas

Jakarta, IDN Times - Politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Mohamad Guntur Romli menilai, debat pendukung dua kubu calon presiden dan calon wakil presiden di media sosial tidak bisa dihindarkan. Meskipun, kata dia, kampanye jelang Pemilihan Presiden 2019 belum dimulai. 

Hal itu dia sampaikan ketika berbicara di acara Indonesia Lawyers Club, Selasa (21/8). Saat ini, ada fenomena perang dua kubu pasangan Joko "Jokowi" Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiga Uno.  

1. Lebih baik berdebat di media sosial daripada adu jotos

Politikus PSI: Lebih Baik Debat di Medsos daripada Adu FisikChat di media sosial (pixabay)

Meski kampanye belum dimulai, perang dan debat kedua kubu pasangan bakal calon itu sudah dimulai. "Lebih baik debat di media sosial daripada adu fisik," kata Romli yang berusaha melihat sisi positif perang pendukung dua kubu. 

Dia menilai, adu mulut di dunia nyata lebih berbahaya ketimbang di media sosial. "Kalau media sosial kan hanya saling mention, dan riuh. Tapi, ini hanya di dunia nyata yang tidak melibatkan fisik," jelasnya. 

2. Perang pendukung di media sosial tak bisa dihindari

Politikus PSI: Lebih Baik Debat di Medsos daripada Adu FisikUnsplash / Kristina Flour

Perang para pendukung, kata Romli, tak bisa dihindarkan karena sifat media sosial merupakan perluasan dari "kegiatan resmi di dunia nyata." Media sosial banyak digunakan untuk menyebarkan hal-hal yang bersifat rumor--yang media massa resmi enggan menulis karena terbentur kode etik jurnalistik. "Dulu kita sering menyebutnya, percakapan warung kopi," kata dia. 

3. Meski demikian, warganet harus kritis

Politikus PSI: Lebih Baik Debat di Medsos daripada Adu Fisikpixabay

Meski demikian, Romli mengingatkan agar para pendukung menggunakan data dan fakta ketika adu dan debat. Jangan lagi sebarkan hoax, fitnah, apalagi berbau SARA. 

"Namun, Pilpres 2019 saya rasa bukan lagi soal SARA dan hoax melainkan politik uang. Ini lebih bahaya," kata dia. Dia menilai, warganet sekarang lebih cerdas untuk memilah mana hoax. 

Dia juga mengungkap bahwa informasi yang trending di media sosial belum tentu benar. Warganet harus mewaspadai informasi yang menjadi tren atau banyak di-retweet atau dibagikan. "Sekarang kan siapa yang bisa memainkan tagar. Direkayasa, termasuk tagar 2019 ganti presiden itu," jelasnya. 

Baca Juga: Akun Robot di Balik Perang Pendukung Capres di Medsos

Topik:

  • Ita Lismawati F Malau

Berita Terkini Lainnya