Comscore Tracker

Anies: Puncak COVID-19 Belum Usai Walau Positivity Rate Turun

Angka persentase kasus positif tak bisa diprediksi

Jakarta, IDN Times - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meminta masyarakat tidak langsung menyimpulkan puncak COVID-19 sudah dilalui walau angka positivity rate atau persentase kasus positif di Jakarta mengalami penurunan. 

"Saya mohon kepada teman-teman untuk jangan kemudian menyimpulkan sudah lewat puncak (kasus covid) karena nanti itu baru minggu-minggu depan baru kita simpulkan itu," ujarnya dalam agenda bersama Kadin Indonesia, TNI-Polri yang diselenggarakan virtual, Minggu (25/7/2021).

1. Angka persentase kasus positif tak bisa diprediksi seperti arus lalu lintas

Anies: Puncak COVID-19 Belum Usai Walau Positivity Rate TurunIlustrasi isolasi COVID-19. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)

Dia mengungkapkan bahwa angka positivity rate yang turun harus di perhatikan karena bisa berubah kapan saja. Dia mengatakan hal ini tak bisa diprediksi dalam waktu singkat.

"Karena ini berbeda dengan aliran arus lalu lintas yg bisa diprediksi jam-jam-an. Kalau ini waktunya perlu mingguan," kata dia.

Baca Juga: Penolakan Pemakaman COVID-19 Marak Lagi, Polisi Kembali Kawal Ambulans

2. Anies jabarkan angka positivity rate di Jakarta

Anies: Puncak COVID-19 Belum Usai Walau Positivity Rate Turunilustrasi pasien COVID-19 (ANTARA FOTO/Ampelsa)

Anies memaparkan bahwa DKI mencapai angka positivity rate 43 persen pada 13 Juli dan trennya mulai turun menjadi 41 persen pada 16 Juli, lalu menjadi 36 persen pada 18 Juli, dan pada 21 Juli menjadi 28 persen.

"Per kemarin (24 Juli) itu angkanya 24 persen. Jadi ada tren positivity rate yang menurun," kata dia.

3. Anies sebut testing di Jakarta selalu tinggi

Anies: Puncak COVID-19 Belum Usai Walau Positivity Rate TurunIlustrasi tes cepat antigeng. (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)

Di sisi lain, Mantan menteri pendidikan dan kebudayaan itu juga mengungkapkan bahwa angka tes COVID-19 di DKI Jakarta selalu tinggi dari target Badan Kesehatan Dunia (WHO). 

Target tes WHO adalah 1.000 orang dites PCR per sejuta penduduk per minggu (bukan spesimen), artinya target WHO untuk Jakarta adalah minimum 10.645 orang dites per minggu.

"Di sisi lain testing kita di jkt itu selalu tinggi, yang disyaratkan oleh kemenkes kita harus 15 kali lebih tinggi dari pada standart WHO dan Jakarta sudah di atas itu, bahkan beberpaa kali kita sudah di atas 30 kali standar WHO," kata Anies.

Baca Juga: Kasus Isoman Meninggal di DKI Tertinggi, Anies: Tak Pernah Tutupi Data

Topic:

  • Dwi Agustiar

Berita Terkini Lainnya