Kualitas Hidup dan Kesehatan Lansia Berisiko Memburuk Tanpa Perawatan

Jika dirawat tak tepat, kualitas hidup bisa memburuk

Jakarta, IDN Times - Peningkatan harapan hidup punya kontribusi pada penyakit kronis, keterbatasan fungsional dan penurunan fungsi kognitif pada usia lanjut atau lansia. Dr Elisabeth Schroeder-Butterfill dari University of Southampton, United Kingdom menjelaskan tanpa perawatan yang tepat kualitas hidup dan kesehatan lansia berisiko memburuk.

Sejak 2019, sebuah Studi Komparatif Perawatan Lanjut Usia telah dilakukan. Studi ini adalah kerja sama Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta dan University of Southampton (UK), bersama dengan Loughborough University (UK) dan Oxford University (UK).

"Tujuannya untuk memahami siapa yang terlibat dalam perawatan lansia, apa preferensi dan kebutuhan lansia, dan bagaimana keluarga lansia dapat didukung oleh layanan kesehatan, lembaga pemerintah, dan non-pemerintah. Studi komparatif berbentuk penelitian etnografi ini dilakukan di lima lokasi di Indonesia, DKI Jakarta, Sumatra Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Timur," kata dia dalam keterangan tertulis, dilansir Senin (9/1/2023).

1. Lansia yang ketergantungan perawatan tak terlihat di kebijakan publik

Kualitas Hidup dan Kesehatan Lansia Berisiko Memburuk Tanpa PerawatanGunung Merapi siaga, 133 lansia mulai diungsikan pada Sabtu (7/11/2020). IDN Times/Tunggul Damarjati

Pada 10 Januari 2023 mendatang akan dilakukan diskusi dengan stakeholder di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta sebagai diseminasi Studi Komparatif Perawatan Lanjut Usia dan peluncuran Policy Brief bertajuk “Jaringan Perawatan Lansia di Indonesia: Temuan dan Rekomendasi Kebijakan.”

Temuan Studi Komparatif menyebutkan bahwa lansia dengan ketergantungan
perawatan cenderung tidak terlihat dalam kebijakan publik yang memprioritaskan representasi “lansia sukses” dan “lansia tangguh”.

"Hal ini diperburuk dengan kemiskinan yang membuat keluarga tidak mampu membeli alat bantu kesehatan, seperti popok dewasa atau kursi roda," kata Elisabeth .

Baca Juga: Ssst.. Ini Bahayanya jika Banyak Lansia Masih Miskin di Indonesia

2. Perawat informal lansia juga tetap harus cari uang sembari merawat

Kualitas Hidup dan Kesehatan Lansia Berisiko Memburuk Tanpa PerawatanSenam dilakukan para lansia di barak pengungsian. IDN Times/ Siti Umaiyah

Prof Yvonne Suzy Handajani dari Pusat Penelitian Kesehatan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta yang tergabung dalam studi komparatif ini juga menyebut, perawat informal juga harus lakukan beberapa hal sekaligus, yaitu perawatan lansia dan pekerjaan untuk mendapatkan uang.

Beban berat ini membuat lansia mendapat perawatan meski tidak sesuai dengan kebutuhannya, semisal, keluarga tidak mengetahui cara mencegah luka baring bagi lansia tirah baring.

Penggunaan layanan kesehatan juga rendah bagi lansia dengan ketergantungan perawatan. Minimnya penggunaan layanan kesehatan tidak diimbangi dengan inisiatif layanan berbasis kunjungan ke rumah lansia.

Kader aktif menyediakan pengecekan dan informasi kesehatan bagi lansia di komunitas, namun masih jarang berinteraksi dengan lansia yang mempunyai kebutuhan perawatan tinggi. Akibatnya, lansia yang paling membutuhkan dukungan justru tidak menerima yang mereka perlukan.

3. Hambatan penggunaan layanan kesehatan harus bisa diatasi

Kualitas Hidup dan Kesehatan Lansia Berisiko Memburuk Tanpa PerawatanPemaparan studi komparatif tentang jaringan perawatan lansia di Indonesia hasil kolaborasi Unika Atma Jaya dan University of Southampton oleh Dr Elisabeth Schroeder-Butterfill pada Selasa (15/11/2022). (IDN Times/Lia Hutasoit)

Membaca temuan studi, ada empat rekomendasi yang perlu diprioritaskan oleh stakeholder baik pemerintah, masyarakat sipil, maupun komunitas menurut Elisabeth.

Pertama hambatan penggunaan layanan kesehatan pada lansia harus diatasi, kemudian layanan kesehatan harus menjangkau lansia.

Selain itu relawan perawatan kesehatan dan perawat informal membutuhkan pelatihan, setelah itu diperlukan perlindungan sosial untuk dukungan ekonomi
Kegiatan ini dihadiri kepala daerah dan perwakilan kepala dinas yang mempunyai tanggungjawab pada kebijakan serta program kelanjutusiaan di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dia juga menjelaskan pada tanggal 11-12 Januari 2023, kegiatan diskusi stakeholder bakal dilanjutkan dengan penyelenggaraan Konferensi Akademik Internasional bertajuk Dinamika Perawatan di Indonesia Masa Kini bertempat di Pusat Studi Kebijakan Kependudukan UGM.

Baca Juga: Kompleks, Ini Hasil Studi Kondisi Lansia di 5 Provinsi Indonesia

Topik:

  • Dwifantya Aquina

Berita Terkini Lainnya