Comscore Tracker

WHO: Pencampuran Vaksin COVID-19 Berbahaya

Harus ada data lanjutan soal pencampuran vaksin COVID-19

Jakarta, IDN Times - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan untuk tidak mencampur vaksin COVID-19. Mencampur dan mencocokan vaksin berbagai merek atau  produsen, kata WHO, merupakan tren berbahaya karena perlu ada data yang lebih banyak terkait dampaknya pada kesehatan.

"Ada sedikit tren berbahaya di sini. Ini akan menjadi situasi kacau di negara-negara jika warga mulai memutuskan kapan dan siapa yang akan mengambil dosis kedua, ketiga, dan keempat," kata Kepala ilmuwan WHO Soumya Swaminathan seperti dilansir ANTARA, Rabu (14/7/2021).

Baca Juga: WHO Marah, Banyak Negara Kaya Pakai Vaksin COVID-19 untuk Booster

1. Beberapa data soal pencampuran vaksin sudah tersedia

WHO: Pencampuran Vaksin COVID-19 BerbahayaVaksinator menyuntikkan vaksin COVID-19 dosis pertama pada seorang seniman saat vaksinasi massal bagi seniman dan budayawan, di Galeri Nasional, Jakarta, Senin (19/4/2021). (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)

Swaminathan mengatakan, pencampuran vaksin adalah suatu tindakan yang tidak berbasis data.

Namun WHO pada Selasa menyebut, beberapa data telah tersedia dan nantinya diharapkan akan ada lebih banyak data.

2. Pfizer bisa digunakan usai AstraZeneca

WHO: Pencampuran Vaksin COVID-19 BerbahayaVaksin Astrazeneca ( ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)

Sebelumnya pada Juni lalu, kelompok Ahli Penasihat Strategis tentang vaksin mengatakan, vaksin Pfizer dapat digunakan sebagai dosis kedua setelah dosis awal AstraZeneca, jika dosis yang terakhir tidak tersedia.

Hasil uji klinis lebih lanjut yang dipimpin oleh Universitas Oxford, sedang meneliti dan melihat hasil dari pencampuran vaksin AstraZeneca dan Pfizer serta Moderna dan Novovax.

3. Lembaga kesehatan yang buat keputusan bukan individu

WHO: Pencampuran Vaksin COVID-19 BerbahayaIlustrasi vaksinasi COVID-19 (ANTARA FOTO/Jojon)

WHO juga mengatakan, tengah menunggu data dari studi pencampuran dan kecocokan vaksin yang berbeda, serta imunogenisitas dan keamanan keduanya perlu dievaluasi.

WHO juga menegaskan, seharusnya lembaga kesehatan masyarakat yang membuat keputusan berdasarkan data yang tersedia, bukan individu.

Baca Juga: WHO: COVID-19 di Afrika Fenomena Pandemik yang Tak Terbayangkan

Topic:

  • Sunariyah

Berita Terkini Lainnya