Comscore Tracker

Teater Keliling: Menebar Nasionalisme di Bumi Pertiwi

Meski selalu tersandung masalah dana, Teater Keliling telah 1.600 kali pentas!

Banjarmasin, IDN Times - Usianya sudah beranjak senja, rambutnya pun sudah semuanya memutih, juga kulitnya yang sudah bergelambir. Namun semangatnya menebarkan cinta Tanah Air melalui seni teater di seluruh pelosok negeri belum ada yang mampu menandingi. 

Dialah Rudolf Puspa, pendiri Teater Keliling yang telah berkiprah puluhan tahun lamanya. Misinya sederhana: menyebarkan jiwa nasionalisme dan cinta tanah air melalui teater dengan cara berkeliling. 

"Dulu saya pernah menjadi pemuda," ucap Rudolf.

Baginya ada perbedaan yang cukup jauh antara pemuda zaman dulu dan masa kini. Ketika dirinya masih muda, saat mendengar kata 'pemuda' hatinya bergetar, semangat juang langsung berkibar. 

"Pemuda masa kini dilengkapi dengan gadget, tak bisa hidup tanpa pulsa," ucapnya sembari terkekeh. 

1. Melalui Teater Keliling bawa misi kebangsaan

Teater Keliling: Menebar Nasionalisme di Bumi PertiwiIDN Times/Linda Juliawanti

Rudolf tak diam saja melihat anak muda yang makin hari semakin hilang pula rasa cintanya terhadap negeri.  Bersama sejumlah rekannya, Dery Syma, Buyung Zasdar dan Paul Pangemanan, dia mendirikan 'Teater Keliling' sejak 13 Februari 1974.

"Teater Keliling konsisten berkarya dengan memasukan unsur-unsur sejarah kebangsaan, kebhinekaan, dan cinta Tanah Air dalam setiap pentasnya. Kami juga pakai musik dan memakai bahasa gaul agar bisa diterima oleh anak-anak muda zaman now," ujar Rudolf saat berbincang dengan IDN Times di Bukit Wisata Kiram, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Sabtu (7/4). 

Melalui teater, Rudolf dan kawan-kawan berharap agar pemuda masa kini kembali pada kodratnya, cinta Tanah Air dan memupuk rasa kebhinekaan. Kini Teater Keliling didukung oleh tokoh teater lainnya seperti Jajang C. Noer, Saraswaty Sunindyo, Ahmad Hidayat, Willem Patirajawane, Syaeful Anwar dan RW Mulyadi. 

Baca juga: Teater Bataclan Paris: Lokasi Pembunuhan 90 Orang Itu Dibuka Kembali

2. Modal nekad keliling nusantara

Teater Keliling: Menebar Nasionalisme di Bumi PertiwiIDN Times/Linda Juliawanti

Mata Rudolf tampak berbinar ketika disinggung soal mengapa kelompok seni peran ini dinamakan Teater Keliling. Meski alasannya begitu sederhana, tapi bagi Rudolf punya makna luar biasa. 

"Ketika main pertama kali, kami ditanya sama panitianya, waktu itu tahun 74 kami gak punya nama, akhirnya namain Keliling. Waktu pertama keliling tanggal 1 Juni 1974 di Jember pentaskan naskah yang kita produksi berjudul 'Mega-mega' milik Jajang C. Noer waktu itu. Jadilah sampai sekarang dipakai Teater Keliling," kisahnya. 

Pancaran matanya membuktikan bahwa ia bangga mendirikan Teater Keliling. Apalagi, misi yang ia bawa dalam setiap pentasnya begitu mulia. Meskipun, dalam setiap pentasnya selalu menemui kendala. 

"Kadang-kadang kalau kita bicara kendala, sebetulnya klasik selalu masalahnya dana. Tapi kami selalu berpikir udahlah bekerja saja, semua akan mengalir sendirinya. Prinsip kami di Teater Keliling itu adalah, kita ambil dari naskah yang kita produksi pertama kali yaitu 'Mega-mega' di mana ada kalimat 'semua bisa asal mau'. Jadi uang itu memang perlu, tapi bukan tujuan," ungkapnya.

"Kalau bisa dibilang, kami ini boneknya teater Indonesia, nekad kemana-kemana demi teater," lanjutnya berapi-api. 

3. Pentaskan 1.600 pertunjukan dan raih beragam penghargaan

Teater Keliling: Menebar Nasionalisme di Bumi PertiwiIDN Times/Linda Juliawanti

Setelah berdiri selama 44 tahun lamanya, ribuan pementasan dengan berbagai lakon sudah dibawa Teater Keliling. Menurut Rudolf, Teater Keliling telah mementaskan lebih dari 1.600 pertunjukan di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, juga di 11 negara serta di 4 benua di dunia. 

"44 tahun kami berjalan, 1.600 pentas seluruh pelosok Tanah Air dan di 11 negara, kami jumpai suka dan duka yang luar biasa, terlebih dukanya. Kesedihan, kesulitan, rasanya macam berkah bagi kami, karena membuat kami makin berani," jelasnya. 

Pementasan yang dilakukan Teater Keliling tak sia-sia. Selain mendapat respon positif dari penonton, pada tahun 2010 Teater Keliling mendapatkan penghargaan dari MURI (Museum Rekor Indonesia) dengan predikat grup teater dengan pertunjukan teater modern Indonesia terbanyak. 

"Tahun 1982 dan 1994 kami juga pernah mendapatkan penghargaan lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup," tuturnya.

Saat ini, Teater Keliling makin berjaya dengan 3.000 anggotanya yang tersebar di sejumlah wilayah di Indonesia serta dukungan dari Bakti Budaya Djarum Fondation yang senantiasa menemani mereka 'keliling'. 

4. Tanamkan cinta Tanah Air melalui teater dengan keliling sekolah

Teater Keliling: Menebar Nasionalisme di Bumi PertiwiIDN Times/Linda Juliawanti

Selain berkeliling ke daerah-daerah dengan mementaskan lakon dan cerita soal sejarah Indonesia, Teater Keliling juga menyambangi sekolah-sekolah untuk memberikan workshop.

Rudolf mengatakan melalui workshop ini dapat menggapai fokus utama Teater Keliling dalam dunia pendidikan karakter bangsa, pembentukan mental dan emosi. 

"Saat ini anggota dari Teater Keliling mengajar ekskul teater di 13 sekolah di Jakarta dan sekitarnya, dengan harapan di masa depan dapat berkontribusi melatih di sejumlah pelosok negeri," kata dia. 

"Target kami memang anak muda, remaja, komunitas segala macam yang isinya remaja, mahasiswa makanya kami selalu keliling selalu ajak anak SMA dicoba disuruh dateng nonton."

5. Pesan untuk millennials

Teater Keliling: Menebar Nasionalisme di Bumi PertiwiIDN Times/Linda Juliawanti

Dalam setiap naskah yang dipentaskan Teater Keliling, para pemerannya selalu tampil sesuai realita di masa kini. Seperti lakon 'Sang Saka' yang menampilkan empat karakter anak muda dengan beragam sifat tapi memiliki kesamaan yakni lebih bangga dengan popularitas dibanding negeri sendiri. 

"Inspirasinya dari keliling ini kita tuh melihat bangsa dari Sabang sampai Merauke, kenapa sih bangsa ini gak maju? Oh ternyata yang sana korupsi, yang sana saling salah-salahin, sampai berantem masalah etnis. Inspirasi dari realita yang terjadi," kata dia.

Untuk itu, melalui pertunjukan teaternya, Rudolf berharap setelah Indonesia merdeka sejak 1945 melalui perjuangan para pahlawan, anak muda juga bisa memiliki satu kebanggaan apa yang disebut dengan Sang Saka. 

"Harapan kami setelah mereka tahu apa itu Sang Saka, mereka juga mulai mencintai Sang Saka. Mencintai bendera kita, merah putih bukan sekadar merah dan putih, tapi mempunyai makna dan kekuatan serta pondasi untuk bangsa ini. Sehingga anak muda ini merasakan bahwa Indonesia itu negara kita, milik kita dan kita yang harus merawatnya," tutupnya. 

Baca juga: Eksistensi Teater Koma di Kisah Sie Jin Kwie

 

 

Topic:

Berita Terkini Lainnya