Comscore Tracker

Sore-Sore Berkah: Cara Islam Menyikapi Perbedaan

Diversity is beautiful, guys!

Jakarta, IDN Times – Episode Sore-Sore Berkah kali ini akan membahas mengenai bagaimana cara seorang Muslim menyikapi perbedaan. Baik perbedaan urusan suku, bangsa bahkan dalam urusan ideologi seperti perbedaan agama.

“Firman Allah di dalam Al-Quran, di dalam Surat Al-Hujurat ayat 13, Allah SWT berfirman audzubillah himinasyaitonirrajim, bismillahirrahmaanirrahiim.Yā ayyuhan-nāsu innā khalaqnākum min żakariw wa unṡā, wa ja'alnākum syu'ụbaw wa qabā`ila lita'ārafụ,” kata Ustaz Hanan Attaki alam tayangan Sore-Sore Berkah yang disiarkan melalui kanal YouTube IDN Times, Jumat (15/5).

“Wahai manusia, sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan atau Adam dan Hawa. Dan kami jadikan kalian bersuku-suku, berbangsa-bangsa agar kalian saling mengenal Al-Quran, Surat Al-Hujurat Ayat 13,” lanjut dia.

Dalam ayat ini, menurut Ustaz Hanan, Allah menjelaskan bahwa sesungguhnya perbedaan itu adalah fitrah. Perbedaan tidak perlu dianggap sebagai masalah.

Karena pada dasarnya, Allah menciptakan kita berbeda-beda.Artinya, Allah yang telah menjadikan kita berbeda-beda, Allah yang telah menjadikan kita variatif banget, dari warna kulit, bahasa, tradisi bahkan anak yang kembar saja pasti ada bedanya.

Jadi, kita gak perlu panik dan gak perlu terlalu lebay menyikapi perbedaan.

Bahkan sebagai sesama umat muslim saja ada perbedaan antara satu mahzab fiqih dengan mahzab yang lain.

“Bahkan kadang-kadang kita pernah mengalami perbedaan dalam urusan hari lebaran, ini agak-agak repot nih tapi tetap harus toleran,” kata Ustaz Hanan.

Nah, yang jadi pertanyaan, bagaimana menyikapi perbedaan seperti ini?

“Di dalam Islam nabi mengajarkan kita tentang dua bentuk perbedaan, ada perbedaan istilahnya 'ikhtilaf tanawwu’, perbedaan yang sifatnya keragaman, variasi artinya dia tidak kontradiktif satu dengan yang lain cuma justru membuat semakin banyak varian, semakin banyak keragaman sehingga kita bisa melihat keindahan,” kata Ustaz Hanan.

Contohnya urusan fiqih. Sama-sama salat, yang satu 23 rakaat yang satu lagi 11 rakaat. Kata ulama, cara menghadapi perbedaan jenis ini adalah dengan bersyukur. Perbedaan juga harus disyukuri lho. Kedua, saling menghormati. Toleransi dan menghargai perbedaan itu penting, lho.

“Yang kedua ada perbedaan namanya i’tillah futuhat artinya perbedaan yang kontradiktif,” kata Ustaz Hanan.

“Misalnya perbedaan agama yang satu mengatakan ini benar, yang lain mengatakan ini gak benar. Yang satu mengatakan ini halal, yang lain mengatakan ini haram,” lanjut dia.

Bagaimana cara menghadapinya? Kata Ustaz Hanan, caranya adalah saling menjelaskan secara argumentatif tapi harus tetap saling menghargai, lakum diinukum wa liyadin.

“Kalian dengan agama kalian, kami dengan agama kami. Kalian dengan kepercayaan dan keyakinan kalian, kami dengan keyakinan kami. Dan kita gak boleh saling mengganggu,” kata Ustaz Hanan.

“Itu konsep menyikapi perbedaan yang ada di dalam Islam,” lanjut dia.

Semoga Ramadan kali ini bisa membuat kita semakin bisa merayakan perbedaan dan lebih penuh toleransi. Apa pun berbedaannya, kita harus tetap saling dukung.

“Teman-teman yang Natal silakan merayakan Natal dan kita yang Idulfitri silakan Idulfitri,” tutup Ustaz Hanan.

Baca Juga: Sore-Sore Berkah: Hukum Mendebat Orangtua, Ini 4 Aturan Al-Quran

Topic:

  • Isidorus Rio Turangga Budi Satria
  • Hidayat Taufik

Berita Terkini Lainnya