Comscore Tracker

[WAWANCARA KHUSUS] Perjalanan Ustaz Halim Mengantar Anak Punk Hijrah

"Yang saya ubah bukan 'casing', tapi mental anak jalanan"

Jakarta, IDN Times - Tokoh yang dikenal sebagai pendiri Komunitas Tasawuf Underground, Halim Ambiya, bercerita tentang salah satu komunitas yang dijalankannya. Tempat di mana anak punk dan anak jalanan dapat belajar tentang ajaran-ajaran islam, terutama salat dan mengaji.

Lokasinya tepat di kolong flyover di seberang Stasiun Tebet, Jakarta Selatan. Berada di tengah bisingnya suara klakson kendaraan dan angkot yang berlalu lalang, suara deru commuter line hingga debu knalpot kendaraan, anak punk dan anak jalanan selama tujuh bulan ini sedikit demi sedikit mempelajari ilmu agama.

IDN Times berkesempatan bertemu dan melakukan wawancara dengan Ustaz Halim Ambiya di kolong flyover seberang stasiun Tebet, Jakarta Selatan pada 25 Mei lalu. Berikut hasil bincang-bincang IDN Times dan Ustaz Halim.

1. Kenapa Ustaz memilih lokasi mengajar agama di bawah kolong flyover?

[WAWANCARA KHUSUS] Perjalanan Ustaz Halim Mengantar Anak Punk HijrahIDN Times/Margith Juita Damanik

Majelis pengajian tasawuf underground sudah tujuh bulan mengadakan pengajian di kolong jembatan ini. Sebelumnya tiga tahun keliling di beberapa tempat di Jabodetabek. Di sini anak punk Tebet ada 45 orang dari total keseluruhan sekitar 90an.

Mereka menjadikan basecamp ini untuk memudahkan anak punk yang lain. Dari Gondangdia, Manggarai, Tanah Abang, Bintaro, karena saya akan ambil simpul-simpulnya di sini.

2. Anak-anak di sini sudah memiliki kegiatan sejak awal atau dibentuk oleh Ustaz?

[WAWANCARA KHUSUS] Perjalanan Ustaz Halim Mengantar Anak Punk HijrahIDN Times/Margith Juita Damanik

Anak jalanan yang kita jumpai punya tradisi berbagi. Mereka mengumpulkan recehan kemudian disumbangkan ke yatim piatu. Jadi anak punk, anak jalanan, lalu dihimpun bikin acara sosial kemanusiaan itu gampang banget.

Anak-anak bikin goodie bag sendiri. Anak punk. Isi goodie bag-nya ada yang nyumbang. Kita buka kesempatan anak punk jalanan yang punya uang untuk ikut menyumbang.

Mereka sudah melakukan kegiatan kemanusiaan duluan. Kadang saya merinding ya. Lalu apa yang mau saya ajarkan tentang kemanusiaan kepada mereka mereka punya sense tinggi sekali untuk kemanusiaan dan persahabatan anak punk.

3. Apa saja kegiatan anak punk dan anak jalanan sehari-hari?

[WAWANCARA KHUSUS] Perjalanan Ustaz Halim Mengantar Anak Punk HijrahIDN Times/Margith Juita Damanik

Kalau yang sudah lama dengan saya sudah enggak ngamen, ada yang sudah barista, ada yang buka tambal ban sendiri, ada yang buka sablon, ada yang ikut bikin kedai kopi bersama saya, delapan orang.

Selebihnya mereka tidak tidur di sini, tapi mereka ngontrak. Ada yang sudah balik ke orangtuanya sambil bawa anaknya, ada yang memang di sini masih keluar masuk, akhirnya dia pas puasa dia nggak masuk ke kolong paling nanti habis Magrib dia baru datang, tapi malu dia nggak puasa, misalnya. Dibiarin aja sama kita jadi mengalir, gitu.

4. Bagaimana tanggapan Ustaz tentang stigma negatif yang kerap diberikan pada anak punk?

[WAWANCARA KHUSUS] Perjalanan Ustaz Halim Mengantar Anak Punk HijrahIDN Times/Margith Juita Damanik

Selama ini ada stigma negatif di masyarakat bagi saya itu kejahatan hati masyarakat. Misalnya gini, Masjid. Masjid mencari sumbangan untuk mendirikan masjid di jalanan, giliran anak jalanan masuk masjid dicurigai.

Dicurigai nyuri sandal, dicurigai ngambil amplified, dan sebagainya tanpa harus melihat dulu.

Masjid tidak menjadi tempat bagi para pendosa untuk mengadu, sebab sudah curiga saja dulu. Padahal mah, atas dasar apa anak-anak ini ada di jalanan? Mengapa anak punk ada di jalanan? Mereka tidak pulang ke rumah. Ini kan berarti persoalannya apa?

Faktor terbesar penyumbang mengapa anak-anak ini ada di jalanan adalah broken home. Berarti kejahatan orangtua. Berarti anak-anak menyaksikan konflik rumah tangga, berarti anak-anak menyaksikan kekerasan yang dilakukan ayahnya kepada ibunya, berarti kejahatan orangtua. Lalu kenapa ketika anak-anak di jalanan dipersalahkan?

Lalu begini lagi, pemerintah lagi, tidak adil. Ini kan perdanya sama, gojek online, pinggir jalan, orang-orang jualan di trotoar, yang sebetulnya tempat pejalan kaki, apakah mereka ditangkap seperti halnya anak punk, anak jalanan yang mengamen? Padahal pelanggaran Perda yang dilakukan sama. Ini kan tidak adil.

Jadi semua lini masyarakat entah itu di level pengambil kebijakan pemerintah, orang swasta, orang kompleks sama.

Makanya tingkat yang nyaman bagi anak punk anak jalanan untuk berteduh pom bensin. Musalanya buka 24 jam, toiletnya bisa dipakai kapan pun. Masjid terlalu angkuh, terlalu angker untuk anak-anak jalanan. Sebab tidak buka 24 jam, lalu anak punk sekedar untuk mandi, sekedar untuk wudu, untuk sekadar untuk menggunakan toilet, dicurigai.

Padahal apa salahnya? Boleh jadi hidayah datang saat kita di toilet.

Baca Juga: Berani Hijrah Baik Gelar Hapus Tato Gratis, Pesertanya Capai 31 Orang

5. Apa saja upaya pak Ustaz untuk perlahan menghilangkan stigma itu di masyarakat?

[WAWANCARA KHUSUS] Perjalanan Ustaz Halim Mengantar Anak Punk HijrahIDN Times/Margith Juita Damanik

Salah satu program yang kita buat adalah peta pengenalan jalan pulang. Satu, jalan pulang kepada Allah dengan pendidikan agama. Dua, jalan pulang kepada orangtua dengan pemberdayaan ekonomi dan sosial.

Anak-anak harus dibikin pede dengan skill. Kita diajarin barista, diajarin desain grafis. Yang tadinya menato diajarin coral draw dan Photoshop akhirnya dia nggak jadi 'natto', sekarang nyablon.

Biasa ngopi diajarin jadi barista, terjun jadi barista. Gak usah pakai proposal, datang relawan kemari ngajarin. Sekarang kita tunggu donasi untuk mereka bikin kedai kopi sendiri.

Kita punya kedai kopi tapi bareng-bareng. Nanti ke depan mereka sudah punya usaha sendiri.

6. Siapa saja yang menjadi relawan disini?

[WAWANCARA KHUSUS] Perjalanan Ustaz Halim Mengantar Anak Punk HijrahIDN Times/Margith Juita Damanik

Jadi cara mendekati mereka itu hanya dengan persahabatan. Relawan didatangkan ada mayor ngajar di sini, ada polisi, ada pengacara, ada dosen, mahasiswa datang ke sini.

Yang bisa ngaji, ngajarin ngaji, yang bisa memotivasi ngasih motivasi, yang punya pekerjaan kasih pekerjaan, yang punya cerita berbagi cerita. Ini keren. Saya ingin menunjukkan kepada dunia bahwa persahabatan itu mudah. Bahwa persahabatan itu bisa menyelesaikan banyak hal.

Selama ini kejahatan mata kita terhadap anak punk dan anak jalanan yang tidak adil melihat.

7. Kegiatannya rutin tiap minggu atau selalu ada kegiatan setiap hari?

[WAWANCARA KHUSUS] Perjalanan Ustaz Halim Mengantar Anak Punk HijrahIDN Times/Margith Juita Damanik

Saya mengajar di sini setiap Jumat dan Sabtu. Relawan yang ikut, mengaji dengan saya, mau tidak mau.

Lalu meskipun di sini acaranya Jumat dan Sabtu, pemberdayaan ekonomi dan sosial akan tetap berlanjut di kantor saya sama yang di kafe kedai kopi bersamanya, di Ciputat, Kedai Kopi Sholawat namanya.

Disebut kedai kopi bersama, permodalan dari saya, cuma menjadi pusat pelatihan bagi anak-anak. Saya hadirkan barista ada di situ dan dis itu juga anak-anak yang mondok di saya bisa dapat penghasilan kan? Dia malam ngaji, siangnya ikut nyablon. Atau ada yang malamnya jaga warung, siangnya ngaji dengan saya.

8. Apakah ada ajaran-ajaran utama tertentu yang diajarkan di komunitas ini?

[WAWANCARA KHUSUS] Perjalanan Ustaz Halim Mengantar Anak Punk HijrahIDN Times/Margith Juita Damanik

Nggak pakai. Kita tidak berafiliasi dengan ormas apa pun, pada partai apa pun.

Ini saja saya sering pakai celana komprang, celana yang pendek, ini Taliban dikiranya saya menganut ajaran tertentu. Tapi saya merokok.

Padahal saya merokok bagian dari syiar. Kalau saya nggak merokok, kalau saya nggak ngopi, mana mungkin saya diterima sama anak-anak. Karena mereka pengopi semua perokok semua. Cuman sekarang saja saya pengen tampil 'ngepunk'.

9. Banyak yang menyebut anak-anak di sini diajari hijrah. Hijrah yang seperti apa?

[WAWANCARA KHUSUS] Perjalanan Ustaz Halim Mengantar Anak Punk HijrahIDN Times/Margith Juita Damanik

Inilah tadi program peta jalan pulang. Mengenalkan peta pulang kepada Allah. Berarti kan ini hijrah, yang tadinya tidak mengenal Tuhannya, nggak tahu agamanya, akhirnya dia berhijrah.

Lalu peta pulang kepada keluarga, sehingga dia sadar tugasnya, tugas sosialnya, tugas kemanusiaannya, tugas sebagai diri sebagai hamba yang kelak beranak pianak harus pulang ke orangtua, harus punya keluarga, harus punya cita-cita.

Maka dia harus disiapkan untuk hijrah pada yang lebih baik dengan pekerjaan yang dipunya, dengan wirausaha yang akan digeluti.

10. Pak Ustaz tidak mewajibkan mereka untuk mengubah penampilan dan gaya berpakaian?

[WAWANCARA KHUSUS] Perjalanan Ustaz Halim Mengantar Anak Punk HijrahIDN Times/Margith Juita Damanik

Enggak. Jadi hijrah itu artinya sebetulnya kan berpindah. Itu aja, gak usah terlalu jauh, gak usah dihubung-hubungkan dengan konsepsi orang menggunakan kata hijrah yang lain.

Makanya kita tidak gunakan itu, kita kan program kita disebut Pengenalan Peta Jalan Pulang. Padahal mah jalan pulang itu artinya taubat, to back, untuk kembali.

Jadi di kita tidak berafiliasi pada apapun. Tetap, siapa pun silakan. Orang Muhammadiyah mau masuk, NU mau masuk, orang FPI bahkan masuk, silakan gabung nggak ada persoalan

Baca Juga: Hapus Tato Gratis, Perjalanan Hijrah Anak Punk Kolong Jembatan Tebet

11. Apa ada perbedaan yang Ustaz lihat dibanding tujuh bulan lalu?

[WAWANCARA KHUSUS] Perjalanan Ustaz Halim Mengantar Anak Punk HijrahIDN Times/Margith Juita Damanik

Jelas ketika dia ikut ngaji dengan saya, pertama berarti dia ikut salat dengan saya. Berarti yang tadinya tidak salat, berarti salat. Kalaulah saya bilang Jumat Sabtu, berarti setiap Jumat Sabtu dia salat.

Lalu kedua, memutuskan mata rantai narkoba. Berarti mereka yang ngaji dengan saya sudah tidak lagi narkoba. Saya berarti memutuskan mata rantai narkoba. Persoalan dari 100 ada yang masih 4 ada 3, itu persoalan lain.

Jadi apa yang saya lakukan, misalnya ketika di awal, saya tidak menyuruh mereka untuk menghapus tato, karena yang saya ubah bukan casing tapi mental.

Tetapi lambat laun, baru beberapa bulan saya ada di sini, mereka pengen menghapus tato. Lalu saya hubungi para LSM yang punya mesin penghapus tato memberikan syarat, karena berat gak ambil.

Alhamdulillah, dua minggu yang lalu kita berhasil melakukan kerja sama dengan IMF, Islamic Medical Service, yang memiliki alat penghapus tato dan punya mobil ambulans penghapus tato.

Kita bekerja sama siapa pun yang mau bekerja sama penghapus tato melalui Tasawuf Underground, gratis, tanpa bayaran apa pun. Dengan asumsi, nanti akan dibayar oleh pihak ketiga.

Kita akan carikan donasinya antara Tasawuf Underground dengan pihak IMS. Sekarang sudah sekitar 220 orang, baik anak punk dan anak jalanan dan luar itu yang mengantre mendaftar di Tasawuf Underground untuk daftar hapus tato gratis.

Apa itu enggak menginspirasi? Ini tanpa Yayasan, tanpa selembar proposal kita bisa jalan. Saya ingin menunjukkan bahwa partisipasi sosial itu lebih tinggi nilainya.

Siapa yang menggaji saya? Siapa yang menggaji relawan? Enggak ada. Datang ke sini setiap Jumat dan Sabtu. Tapi relawan datang ke sini sebagai sahabat, membantu mencarikan pekerjaan anak-anak ini, cari makanan, carikan kontrakan, bahkan memberi advokasi.

12. Advokasi seperti apa yang diberikan?

[WAWANCARA KHUSUS] Perjalanan Ustaz Halim Mengantar Anak Punk HijrahIDN Times/Margith Juita Damanik

Kerap kali anak punk dan jalanan yang mengamen ketangkap Satpol PP dan dimasukkan, kadang-kadang di Joglo, ada yang penampungan di Serpong. Biasanya itu kejam sekali.

Ada yang biasanya ditelanjangi, disiram, disemprot pakai selang. Ada yang dicampur kan, ditahan, dimasukkan satu sel dengan orang gila. Fakta-fakta ini biasa kita jumpai di jalanan.

Karena itu saya membentuk relawan untuk membentuk advokasi. Siapa pun yang belajar ngaji dengan saya maka dia harus diadvokasi. Kalau ditangkap Satpol PP, kita harus keluarkan.

13. Ada yang sudah mengalami advokasi?

[WAWANCARA KHUSUS] Perjalanan Ustaz Halim Mengantar Anak Punk HijrahIDN Times/Margith Juita Damanik

Lebih dari empat orang sejak tujuh bulan. Lalu mereka itu kan tidak punya KTP, nggak punya BPJS. Gak usah nawar-nawarkan kampanye tentang hasil Pilpres, orang mereka KTP aja nggak punya, BPJS aja nggak punya. Yang penting kalau mereka sakit bisa ada yang menyembuhkan? Bisa ada yang bawa ke dokter?

Ada 2dua bayi yang dilahirkan dari anak punk berhasil kita selamatkan. Akhirnya kita urun rembuk, masukkan ke IGD, carikan dokter, sampai biaya persalinan semua ditanggung sama hasil urunan para relawan di sini.

Anak punk berbagi, anak jalanan pun berbagi, dua orang bayi.

Lalu ada yang sakit paru. Sampai pada kata ketakutan saya melihat dimungkinkan mereka terpapar HIV/AIDS. Saya datang ke IDI, meminta mereka datang ke kolong. Mau mereka, karena mereka menyaksikan, memang di sini ada orangnya.

Apa begini harus pakai proposal? Pakai pemerintah? Kagak ada. Langsung jalan. Partisipasi sosial itu harus sifatnya refleks. Tindakan sosial tidak boleh hanya berdasarkan budget. Itu yang mau kita ajarkan kepada masyarakat.

14. Ustaz apa punya target untuk anak-anak di sini?

[WAWANCARA KHUSUS] Perjalanan Ustaz Halim Mengantar Anak Punk HijrahIDN Times/Margith Juita Damanik

Saya berharap ini menginspirasi. Bukan untuk mengajak orang membikin pengajian di kolong jembatan kayak saya, tapi menginspirasi bagaimana mereka melihat anak punk dan anak jalanan.

Bagaimana mereka mau berbagi kepada mereka, bagaimana mereka mau nggak di kompleks tertentu ambil anak jalanan sebagai anak asuh, misalnya, itu kan keren.

Jadi targetnya itu inspirasi yang melahirkan daya ubah.

Terakhir ini, Alhamdulillah, minggu yang lalu, kita telah diizinkan oleh pihak wali kota untuk mendirikan musala di sini.

Musala di sini karena memang agak susah ya, di sini memang taman, kalau taman itu kan memang boleh untuk public area ya. Saya berharap ini bisa menginspirasi pada yang lain.

Musalanya didirikan dalam waktu dekat. Kalau ada biaya sekarang, kita bangun sekarang. Kita enggak minta uang dari wali kota, kita minta izin. Saya mau menunjukkan kepada siapa pun bahwa membantu orang tanpa harus persiapan budget, bersifat public harus sifatnya nuratif dan langsung.

Baca Juga: Menanti Senja Bersama Anak Punk yang Belajar Hijrah

Topic:

  • Dwifantya Aquina

Just For You