Comscore Tracker

KLHK Luncurkan Trilogi Indonesia Menghadapi Perubahan Iklim

Masa depan kita tergantung perubahan iklim

Jakarta, IDN Times - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) meluncurkan buku (trilogi) Indonesia Menghadapi Perubahan Iklim di Jakarta, Senin (23/12).

Buku tersebut terdiri atas tiga volume, yakni Urgensi, Politik, dan Tata Kelola Perubahan Iklim (volume 1), Pembangunan dan Emisi Gas Rumah Kaca (volume 2), dan Perubahan Iklim: Krisis Sosial-Ekologis dan Keadilan Iklim (volume 3).

Sebanyak 78 penulis dari berbagai profesi dan latar belakang (menteri, regulator, aparatur pemerintahan, aktivis, pengusaha, akademisi, LSM, dan pemuda) memberi kontribusi terhadap trilogi Indonesia Menghadapi Perubahan Iklim.

"Kita juga nanti bikin soft file, vlog, atau podcast sehingga lebih banyak sasarannya (terkait pembaca dari trilogi Indonesia Menghadapi Perubahan Iklim). Setelah dari Madrid (COP 25), kita sudah mulai kumpulkan bahan untuk pemutakhiran data lagi. Nantinya setiap 2 tahun sekali akan diperbarui terus," ujar Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK Ruandha Agung Sugardiman.

1. Upaya pengendalian perubahan iklim yang dilakukan Indonesia bisa menjadi model untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim

KLHK Luncurkan Trilogi Indonesia Menghadapi Perubahan IklimIDN Times/Marwan F

Dalam menerbitkan trilogi ini, KLHK memenuhi empat maksud, yakni sebagai berikut.

- Urgensi persoalan, risiko, dan dampak perubahan iklim yang dihadapi seluruh penduduk dunia termasuk Indonesia;
- Protokol, persetujuan, dan kesepakatan para pemimpin dunia yang menjadi dasar tata kelola global pengendalian perubahan iklim, berikut dengan kebijakan, regulasi, dan langkah-langkah Pemerintah Indonesia dalam merespons hal tersebut;
- Berbagai kebijakan, kelembagaan, dan langkah-langkah politik yang ditempuh Pemerintah Indonesia dalam rangka mitigasi dan adaptasi perubahan iklim;
- Aksi kolektif dan praktik-praktik mitigasi dan adaptasi yang sejauh ini telah dilakukan berbagai lapisan dan golongan masyarakat (akademisi, kaum perempuan, masyarakat sipil, masyarakat adat, dan pengusaha atau pebisnis).

Keempat maksud tersebut dipandang perlu segera digalang pemahaman, pengetahuan, dan/atau kepedulian masyarakat agar berkembang aksi kolektif yang masif di berbagai lapisan dan golongan masyarakat.

Hal itu karena perubahan iklim merupakan tantangan global paling besar, paling urgen, multidimensi, dan kompleks sehingga menuntut semua negara di bumi melakukan perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi yang sistemis untuk mengatasinya.

Upaya pengendalian perubahan iklim yang dilakukan Pemerintah Indonesia dipandang sebagai yang progresif dan bisa menjadi model untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang kompleks dan multidimensi.

Topic:

  • Marwan Fitranansya

Berita Terkini Lainnya