Comscore Tracker

Begini Pengakuan Para Tersangka Pembakar Lahan di Sumsel

Ada direktur hingga petani

Palembang, IDN Times - Polda Sumatera Selatan (Sumsel) merilis 11 tersangka dari keseluruhan 27 tersangka pembakaran lahan yang tertangkap tangan saat membakar lahan, dan terbukti membiarkan lahan mereka hangus terbakar hingga berdampak bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) 2019 di Sumsel.

Di antara 11 tersangka tersebut adalah seorang Direktur Operasional PT Hutan Bumi Lestari (HBL) Alfaro, yang ditangkap karena terbukti lalai membiarkan lahan konsesi perusahaan seluas 1.745 hektare terbakar dari total 2.800 hektare lahan konsesi terbakar pada Agustus lalu.

"Saya ditangkap Jumat lalu akibat karhutla di Muba (Musi Banyuasin), yang jelas tidak ada kami membakar lahan itu dengan sengaja, karena siapa yang mau rumahnya rusak?" ungkap Alfaro, di Muara Medak, Bayung Lincir, Muba, Sumsel, Senin (23/9).

Baca Juga: Lama Terkena Karhutla, Hujan Akhirnya Mengguyur Riau dan Kalimantan

1. Direktur Operasional HBL berkilah faktor angin menjadi penyebab kebakaran hutan dan lahan

Begini Pengakuan Para Tersangka Pembakar Lahan di SumselIDN Times/Rangga Erfizal

Alfaro mengklaim kebakaran hutan dan lahan terjadi lantaran api yang hidup di sekitar lokasi perusahaan mereka, terbawa angin kencang ke arah lahan konsesi perusahaan. Dia juga mengaku sudah berusaha memadamkan api yang keburu membesar.

"Awalnya kita sudah mengantisipasi kebakaran lahan dengan membuat sekat kanal banyak. Selain itu, kita ada satu tower pemantau api, alat berat, dan mesin pompa air, kami lengkap, hanya saja mobil damkar kita tidak punya. Selain itu, api tersebut cepat membesar karena dibawa oleh angin yang melompati kanal," papar dia.

Lahan milik perusahaan HBL sebelumnya sudah pernah terbakar saat karhutla terjadi pada 2015. Tahun ini lahan milik perusahaan tersebut kembali terbakar, akibat kondisi peralatan yang tidak memadai hingga membuat api cepat membesar dan membakar lahan gambut yang ada di sana. 

2. Afendi, petani Pedamaran yang mengaku sengaja membakar lahan

Begini Pengakuan Para Tersangka Pembakar Lahan di SumselIDN Times/Rangga Erfizal

Selain tersangka dari korporasi, Polda Sumsel juga mendapatkan 19 laporan mengenai pembakaran lahan yang dilakukan warga. Hingga saat ini, sudah 27 orang ditetapkan sebagai tersangka dan dalam proses penyelidikan sebelum dilimpahkan ke kejaksaan.

Salah satunya, Afendi, petani berusia 65 tahun di Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), yang mengakui perbuatannya telah membakar lahan dengan sengaja, untuk membuka kebun guna menanam timun.

"Saya menyewa lahan tersebut seharga Rp800 ribu setahun. Itu sengaja dibakar agar lebih cepat membuka lahannya," kata dia.

Tersangka lainnya, Maulana, warga Sungai Pinang, Kabupaten Banyuasin, itu mengakui penyesalannya membakar lahan setelah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Banyuasin. Dia mengaku membakar lahan pada musim kemarau untuk memudahkan membuka lahan perkebunan.

"Kalau ditanya menyesal, saya menyesal. Kami membakar lahan ini untuk digunakan sebagai lahan pertanian. Luasnya ada setengah hektare, musim kemarau membuat mudah pengelolaan lahan," kata pria 49 tahun itu.

3. Polda Sumsel segera melimpahkan kasus tersangka pembakar lahan ke pengadilan

Begini Pengakuan Para Tersangka Pembakar Lahan di SumselIDN Times/Rangga Erfizal

Sementara, Wakapolda Sumsel Brigjen Pol Rudi Setiawan mengatakan, Karhutla di Sumsel dalam dua bulan terakhir mengalami peningkatan. Dari data yang dimiliki Polda Sumsel, ada 20 laporan pembakaran lahan yang dilakukan 19 warga dan satu korporasi.

"Semua sedang kita proses dan akan dibawa ke pengadilan. Proses ini masih dalam penyidikan, kita akan segera limpahkan dan tunggu hasil putusan sidang. Dari penyelidikan awal kita, terjadi kelalaian di hutan produksi perusahaan tersebut, sehingga terjadi kebakaran di 1.745 hektare lahan konsesi. Mereka (perusahaan) tidak memiliki peralatan yang cukup memadai untuk memadamkan api," kata dia.

Rudi melanjutkan, setelah dihadirkan ahli dalam pemeriksaan tersangka Direktur Operasional BHL, diketahui perusahaan tersebut tidak memenuhi standar kelayakan sebuah perusahaan perkebunan.

"Saksi ahli mengatakan kalau perusahaan ini (BHL) sangat tidak layak. Harusnya mereka menyiapkan peralatan dan mekanisme kelengkapan," ujar dia.

4. Polisi sudah mengamankan barang bukti

Begini Pengakuan Para Tersangka Pembakar Lahan di SumselIDN Times/Rangga Erfizal

Dari 27 tersangka yang saat ini sudah ditahan, kata Rudi, rencananya akan dikenakan pasal berlapis, yakni lewat Undang-Undang Kehutanan, Lingkungan Hidup dan Perusakan Hutan. Para pelaku dianggap sengaja membiarkan terjadi kebakaran lahan di wilayah mereka.

"Polda Sumsel tidak main-main, karena merugikan banyak orang. Barang bukti sudah diamankan Polres, OKI, OI (Ogan Ilir), dan Muba," kata dia.

Baca Juga: Pengawasan Korporasi dan Pelibatan Warga Lokal Kunci Cegah Karhutla

Topic:

  • Rochmanudin

Just For You