Comscore Tracker

Curhat Lulusan Unsyiah di Balik Kebijakan Meniadakan Wisuda pada Mei

Dihantam wabah COVID-19, Unsyiah pun ikut tiadakan wisuda

Banda Aceh, IDN Times - Wisuda merupakan prosesi peneguhan bagi orang yang telah menyelesaikan pendidikan atau telah dinyatakan lulus. Bagi dunia akademik, wisuda menjadi penanda mahasiswa telah menyelesaikan studinya di universitas atau kampus.

Bagi sebagian mahasiswa, wisuda merupakan satu hal yang ditunggu-tunggu. Upacara pengukuhan yang digelar pihak kampus menjadi suatu bukti bahwa ia mampu menyelesaikan studinya. Sehingga, keluarga, sanak saudara, dan rekan-rekannya juga ikut berbahagia.

Lalu bagaimana jika prosesi yang dianggap sakral dalam dunia akademik tersebut ditiadakan di sebuah universitas?

Universitas Syiah Kuala melalui Surat Edaran Rektor Nomor B/1669/UN11/KP.11.00/2020 tertanggal 26 Maret 2020 tentang Perpanjangan Masa Pencegahan Penyebaran COVID-19 di Lingkungan Universitas Syiah Kuala, meniadakan upacara wisuda pada Mei 2020 mendatang. Sudah pasti, bagi lulusan periode Februari sampai April 2020 tidak ada prosesi pengukuhan gelar akademik.

Demi mencegah penyebaran COVID-19, itulah tujuan utama pihak kampus sehingga meniadakan upacara tersebut. Padahal kampus berjulukan Jantong Hate Rakyat Aceh ini biasanya melaksanakan upacara wisuda empat kali dalam satu tahun, yakni pada Februari, Mei, Agustus, dan November. Tak hanya periode Mei, bahkan jika wabah virus ini tak kunjung hilang, maka upacara wisuda di periode berikutnya juga terancam ditiadakan.

Sejumlah lulusan dari kampus yang bersangkutan pun coba IDN Times hubungi dan meminta tanggapan mereka terkait ditiadakannya wisuda di kampus mereka.

1. Sedih karena orangtua tidak pernah merasakan wisuda

Curhat Lulusan Unsyiah di Balik Kebijakan Meniadakan Wisuda pada MeiIlustrasi upacara wisuda di Universitas Syiah Kuala (IDN Times/Humas Unsyiah)

Ulfa Yanti, salah seorang lulusan Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ini berat menerima kebijakan yang dikeluarkan pihak rektorat dengan meniadakan wisuda pada Mei mendatang dan hanya menyerahkan ijazah.

Secara pribadi, mahasiswi angkatan 2015 ini ingin melihat orang tuanya bahagia saat dirinya memakai toga ketika hari penyumpahan. Orangtua-nya yang hanya lulusan SD dan SMA, diakuinya tidak pernah merasakan bagaimana suasana wisuda berlangsung. Apalagi dalam hal ini, Ulfa merupakan anak pertama dalam keluarganya.

“Sebenarnya orangtua itu ingin melihat anaknya wisuda, memakai toga, keluar dari ruangan tersenyum bahagia, tapi tiba-tiba sekarang cuma ambil ijazah saja,” kata Ulfa.

“Sedihnya itu sudah gak tahu dibilang dan gak tahu diungkapkan bagaimana lagi,” tambahnya lagi.

Meski merasa sedih, namun keputusan dari pihak kampus tidak bisa ditolaknya, mengingat demi kebaikan bersama. Namun, mahasiswi asal Kabupaten Nagan Raya ini berharap ada kebijakan lainnya yang dikeluarkan juga oleh pihak kampus.

“Sudah kebijakan dan boleh-boleh saja (ditiadakan wisuda), cuma tolong adalah kebijakan lain yang untuk yang memang menginginkan (diadakannya) wisuda, ujar Ulfa.

2. Daripada ditiadakan, mending ditunda saja wisudanya

Curhat Lulusan Unsyiah di Balik Kebijakan Meniadakan Wisuda pada MeiSuasana prosesi wisuda di Universitas Syiah Kuala (IDN Times/Humas Unsyiah)

Hal serupa juga dirasakan oleh Ajelita Winda Kesuma. Mahasiswi Program Studi Pendidikan Sejarah angkatan 2015 ini pun mengomentari kebijakan tersebut.

Menurut gadis asal Kabupaten Aceh Besar ini, pihak kampus sebaiknya bukan meniadakan upacara wisuda untuk Mei mendatang. Akan tetapi para lulusan periode Februari sampai April 2020, dipindahkan ke upacara di waktu yang lain.

“Pendapat saya ya tetap tidak setuju kalau ditiadakan. Daripada ditiadakan mending ditunda wisuda,” kata Winda.

Mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ini sangat berharap jika ada prosesi wisuda untuk dirinya dan sejumlah lulusan lainnya. Meski pihak kampus telah berencana membagikan ijazah semata untuk lulusan yang seharusnya diwisuda pada Mei.

“Tidak terasa khidmatnya, tidak terasa suasana kelulusan, dan gak bisa dapatkan rasa bangganya orangtua akan anaknya,” tutupnya.

Baca Juga: Akibat COVID-19, Unsyiah Tiadakan Wisuda Bulan Mei

3. Merasa dilemma, antara sedih dan senang

Curhat Lulusan Unsyiah di Balik Kebijakan Meniadakan Wisuda pada MeiIlustrasi upacara wisuda di Universitas Syiah Kuala (IDN Times/Humas Unsyiah)

Berbeda dengan Ulfa dan Winda, Muhammad Akbar Fauzi, mahasiswa Prodi Teknik Industri, Fakultas Teknik Unsyiah masih dilema dengan surat edaran yang dikeluarkan oleh rektor.

Secara pribadi, peniadaan upacara wisuda pada Mei mendatang membuat mahasiswa angkatan 2013 ini sedih, karena ia harus kembali menunggu untuk diwisuda di waktu selanjutnya. Akan tetapi, Akbar juga merasa senang jika wisuda ditiadakan, dengan alasan tertentu.

“Ada sedih sama senang. Sedihnya karena harus nunggu lagi wisuda bulan 8 nanti, untuk senangnya aku sebenarnya malas juga wisuda bulan puasa, karena gak ada yang datang nanti ke wisudaku dan baiknya lagi ijazahnya langsung dikasih nanti tanpa wisuda,” ungkapnya.

Ia juga merasa kurang puas jika kelulusannya tersebut prosesi wisuda ditiadakan. Jika pun tidak dilaksanakan pada Mei, ia berharap bisa ikut di waktu Agustus atau pun November mendatang. Namun, mahasiswa Prodi Teknik Sipil ini juga menginginkan agar ijazah segera dibagikan agar bisa langsung melamar kerja.

“Gak enak juga sudah enam tahun kuliah terakhir gak jadi wisuda,” kata Akbar. “Tapi yang penting ijazah dulu buat lamar kerja, makin cepat makin baik,” imbuhnya.

4. Jika sudah kondusif, wisuda bulan Mei boleh ikut di Agustus

Curhat Lulusan Unsyiah di Balik Kebijakan Meniadakan Wisuda pada MeiRektor Universitas Syiah Kuala, Prof Samsul Rizal (Humas Unsyiah)

Universitas Syiah Kuala melalui akun resmi Twitter-nya bernama @univ-syiahkuala, memberitahu bahwa lulusan periode Februari sampai April 2020 atau yang seharusnya diwisuda pada Mei mendatang, dapat mengikuti prosesinya di Agustus.

“Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng IPU: sekiranya kondisi sudah kondusif sehingga wisuda periode Mei-Juli bisa dilaksanakan pada Agustus. Maka lulusan periode Februari-April 2020, boleh mendaftar untuk wisuda pada Bulan Agustus,” tulis akun @univ-syiahkuala.

Pernyataan yang sama juga disampaikan dalam situsweb resmi Universitas Syiah Kuala yang dipublikasikan pada 3 April 2020 lalu.

5. Meminta penjelasan dari pihak kampus bagaimana cara mengurus berkas pemindahan jadwal wisuda

Curhat Lulusan Unsyiah di Balik Kebijakan Meniadakan Wisuda pada MeiGedung Biro Universitas Syiah Kuala (Dok. Unsyiah)

Winda mungkin satu dari sejumlah lulusan lainnya yang prosesi wisudanya ditiadakan dan berharap bisa dikukuhkan gelarnya di lain waktu.

Setelah mendapatkan informasi bahwa pihak Universitas Syiah Kuala membuka kesempatan bagi lulusan yang seharusnya di wisuda Mei ini untuk ikut di Agustus mendatang, ia pun coba mencari apa langkah-langkah yang harus dilakukan. Namun, mahasiswi ini tidak mendapatkan informasi apa-apa.

“Kalau pihak rektorat untuk memberi pilihan mengambil ijazah di bulan 5 atau wisuda di bulan 8, sebaiknya rektorat juga memberitahukan bagaimana cara pengurusan untuk wisuda bulan 8. Apakah harus ke pengajaran fakultas atau ke biro. Karena sudah tanya ke pengajaran fakultas, katanya itu kebijakan dari biro itu sendiri,” ungkapnya.

Kepada pihak kampus, ia menyarankan agar tidak hanya memberikan solusi pilihan, namun juga menjelaskan cara serta prosedur pengurusan berkas pendaftaran wisuda untuk Agustus nanti.

Baca Juga: Cegah COVID-19, Kampus di Jepang Gelar Wisuda Virtual Pakai Robot

Topic:

  • Isidorus Rio Turangga Budi Satria

Berita Terkini Lainnya