Comscore Tracker

Viral Baju Adat Suku Tidung di Uang Rupiah, Pahami Sejarahnya Yuk! 

Asli dari Kaltara, tapi malah dikira pakaian adat Tionghoa

Balikpapan, IDN Times - Uang kertas edisi khusus senilai Rp75 ribu diluncurkan di Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin 17 Agustus 2020. Gambar 9 orang anak yang mengenakan busana adat ternyata menimbulkan kehebohan lantaran salah seorang anak yang menggunakan pakaian adat Kalimantan Utara, sempat dikira pakaian dari adat Tionghoa.

IDN Times berbincang langsung dengan Datu Norbeck, budayawan asal Suku Tidung, dari Provinsi Kalimantan Utara. Datu Norbeck membenarkan bahwa pakaian itu merupakan baju adat asli dari Suku Tidung.

"Iya, banyak yang menyangka itu busana China. Jadi busana itu sebenarnya salah satu busana adat dari suku Tidung, penduduk asli Kalimantan Utara. Jadi Suku Tidung ini, termasuk kaum pesisir yang beragama Islam. Itu adalah pakaian adat pengantin dari Suku Tidung. Tentang hubungan dengan China, secara budaya tidak ada," kata Datu Norbeck, melalui sambungan telepon, Rabu (19/8/2020) malam.

1. Busana di uang Rp75 ribu adalah busana pengapit pengantin Suku Tidung

Viral Baju Adat Suku Tidung di Uang Rupiah, Pahami Sejarahnya Yuk! Baju pengantin suku Tidung, Kalimantan Utara (Dok pribadi Datu Norbeck)

Dijelaskan oleh Datu Norbeck, pakaian yang digunakan oleh anak dalam uang baru pecahan Rp75 ribu tersebut merupakan busana yang menyerupai pakaian pengantin Suku Tidung. Dalam bahasa mereka, baju itu disebut sebagai busana pengapit pengantin atau yang biasa disebut anak pengantin.

"Jadi baju yang dikenakan si anak itu mirip dengan baju pengantin, tetapi ada cirinya bahwa ini baju pengantin, yang ini baju pengapit. Mirip sekali," jelasnya.

Baca Juga: Gubernur Kaltara: Perhatian Pemerintah, Baju Adat Tidung di Uang Baru 

2. Arti mahkota pada busana pengantin Suku Tidung

Viral Baju Adat Suku Tidung di Uang Rupiah, Pahami Sejarahnya Yuk! Busana pengantin laki-laki suku Tidung (Dok. pribadi Datu Norbeck)

Datu Norbeck lanjut menjelaskan, kemungkinan orang salah mengira bahwa pakaian tersebut dari adat Tionghoa karena foto anak berbusana Suku Tidung di uang tersebut tidak utuh.

Selain itu, menurut Datu Norbeck mahkota pada foto tersebut tidak tegak namun agak rebah.

Sebenarnya, dari sisi penggunaan jamong atau mahkota pada laki-laki harus tegak. Lengkapnya disebut Jamong Punsok Melaka, yang jika diartikan dalam Bahasa Indonesia berarti mahkota menyerupai Puncan Nanas.

"Tidak ada kaitannya juga dengan Kerajaan Malaka ya. Mungkin dahulu imajinasi dari perancangnya itu ke daun nanas. Jika yang pengantin punya, jelas sekali image-nya seperti daun nanas," paparnya.

3. Model aslinya, baju adat Suku Tidung diatur oleh raja

Viral Baju Adat Suku Tidung di Uang Rupiah, Pahami Sejarahnya Yuk! Pelaminan pengantin suku Tidung Kalimantan Utara (Dok. pribadi Datu Norbeck)

Datu Norbeck juga menerangkan bahwa dahulu pakaian adat pengantin ini merupakan rekomendasi langsung dari Raja Tidung. 

Tetapi seiring perkembangan zaman, para juru rias berkreasi. Antara lain ujung mahkota tersebut mengarah ke samping agar menyerupai sebuah tanduk. Sedangkan aslinya, mahkota tersebut memiliki model ujung yang mengarah ke belakang.

"Iya, dapat dikatakan bahwa di dalam acara pengantin tersebut, selain menghargai mempelai juga sebagai bentuk menghargai sang juru rias atas kreasi mereka. Jadi juru rias ini termasuk paling penting dalam pernikahan budaya di Suku Tidung," ucapnya.

4. Arti dari warna baju adat pengantin Suku Tidung

Viral Baju Adat Suku Tidung di Uang Rupiah, Pahami Sejarahnya Yuk! Busana pengantin suku Tidung untuk perempuan (Dok.pribadi Datu Norbeck)

Datu Norbeck menjelaskan bahwa warna baju adat yang dikenakan oleh anak pada uang kertas Rp75 ribu yang viral tersebut memiliki makna-makna khusus. Warna kuning menunjukkan bahwa hanya para bangsawan yang dapat mengenakannya. Sedangkan warna merah di busana tersebut merupakan penegas dari warna kuning itu.

"Dahulu itu hanya raja dan keluarga raja yang boleh menggunakan warna kuning. Jadi kuning ini bisa bermakna kehormatan, kemuliaan, dan keagungan. Jadi arti warna kuning dan merah pada baju itu menjelaskan bahwa yang mengenakan sedang ditinggikan statusnya. Pengantin kan seperti itu," ujarnya.

5. Sejarah singkat mengenai pakaian adat pengantin Suku Tidung

Viral Baju Adat Suku Tidung di Uang Rupiah, Pahami Sejarahnya Yuk! Baju pengantin suku Tidung, Kalimantan Utara (Dok pribadi Datu Norbeck)

Dikisahkan Norbeck, ada kisah menarik tentang penggunaan busana pengantin Suku Tidung ini. Dahulu, baju pengantin ini hanya dikenakan kaum bangsawan dan pengantin akan ditandu menuju ke rumah mempelai perempuan.

Syahdan, suatu saat dahulu ada sepasang pengantin yang memiliki perbedaan status. Pengantin perempuan dari kaum bangsawan, sedangkan laki-laki dari masyarakat biasa. 

Karena sang pengantin pria bukan dari keluarga bangsawan maka ia berjalan ke rumah pengantin perempuan. Sedangkan baju pengantin pria suku Tidung inilah yang ditandu oleh orang. Ketika sampai di rumah pengantin perempuan, baru sang pengantin pria mengenakan baju tersebut.

Merasa bahwa hal tersebut harus diubah, maka di tahun 1990-an diadakan musyawarah besar adat. Datu Norbeck selaku budayawan, ikut dalam musyawarah tersebut.

"Jadi diadakan musyawarah, dan saya banyak menyampaikan masukan. Salah satunya mengingat bahwa kebanyakan orang di Kalimantan adalah orang dari luar daerah sedangkan populasi orang Tidung yang tidak banyak, tidak dapat dipungkiri akan terjadi pernikahan dengan beda suku," katanya.

Ia melanjutkan, "Akhirnya diambil kesepakatan dengan memperbolehkan semuanya memakai pakaian tersebut. Namun harus ada bangsawan yang menjamin. Setelah ada penjamin itulah, lalu hingga sekarang pakaian adat pengantin itu dapat digunakan oleh semua orang," jelas Datu Norbeck.

Baca Juga: Makna Aneka Warna dan Pernak-pernik pada Pakaian Adat Dayak, Sakral!

Topic:

  • Isidorus Rio Turangga Budi Satria

Berita Terkini Lainnya