Comscore Tracker

Hadapi Pandemik, Layanan Keagaman Dinilai Perlu Optimalisasi

Layanan agama di tengah pandemik perlu ditingkatkan

Jakarta, IDN Times - Sudah satu tahun lebih pandemik COVID-19 melanda dunia. Tidak hanya mengancam kesehatan fisik, pandemik juga berdampak pada kesehatan mental. Terlebih, dengan adanya pembatasan sosial, serta peningkatan kasus COVID-19 yang tinggi menjadikan kesabaran dan kepatuhan terus diuji.  

Berdasarkan hasil survei daring yang dilakukan oleh Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama pada 8-17 Maret 2021 ditemukan bahwa, mayoritas responden merasa semakin religius sejak menjalani hidup di era pandemik COVID-19. 

Mayoritas responden juga merasa keyakinan keberagamaan mereka membantu secara  psikologis dalam menghadapi pandemik dan dampaknya. Meski begitu Balitbang dan Diklat Kemenag menilai, masih sedikit layanan konsultasi psiko-spiritual atau psikologi keagamaan yang tersedia.

1. Agama jadi salah satu coping strategy

Hadapi Pandemik, Layanan Keagaman Dinilai Perlu OptimalisasiSeorang ayah mengajari anaknya berdoa. (ShutterStock/MamaBelleandthekids)

Dalam makalah berjudul “Urgensi Layanan Agama di Masa Pandemi COVID-19” yang diterbitkan Balitbang dan Diklat Kemenag disebutkan bahwa, agama merupakan salah satu coping strategy terhadap suatu kondisi penderitaan. 

Survei KUB Puslitbang, yang dilakukan pada 2020 juga menjelaskan bahwa 84,4 persen masyarakat Indonesia mempertimbangkan agama dalam membuat keputusan. Hal itu pun, tercermin pada situasi pandemik sekarang.

“Beberapa teori tentang peran penting agama/religiusitas terhadap kehidupan seseorang, dan  peran agama sebagai ‘tempat berlabuh’ di saat sulit, terkonfirmasi. Banyak responden semakin merasakan nilai penting agama saat mengalami ujian,” dikutip dari makalah tersebut.

Baca Juga: Sudah Tahu Metode Pendidikan Agama Charlotte Mason? Ini Penjelasannya!

2. Layanan keagamaan belum memadai

Hadapi Pandemik, Layanan Keagaman Dinilai Perlu OptimalisasiSeorang perempuan tengah beribadah secara virtual/online. (ShutterStock/YGqphoto)

Meski begitu, layanan keagamaan Puslitbang dan Diklat Kemenag menilai belum cukup memadai. Berdasarkan hasil riset, hanya ada 22,1 persen responden yang mengaku pernah mendapat konseling psikologis-keagamaan selama menjalani pandemik.

Selain itu, Puslitbang dan Diklat Kemenag juga menyarankan adanya optimalisasi peran pemuka agama dan komunitas keagamaan dalam memanfaatkan media virtual/online. Perlu diketahui, konten keagamaan di media sosial dan ceramah agama di TV/radio lebih banyak dipilih responden dibanding baca buku, layanan konseling atau kunjungan pemuka agama.

Di tengah pembatasan sosial, layanan keagamaan psiko-spiritual dapat dikembangkan melalui  virtual, telekonseling, WhatsApp Center/Contact Center dan sebagainya, melengkapi pendekatan medis-kesehatan seperti telemedicine yang saat ini dikembangkan oleh Pemerintah dan Kemenkes.

3. Mengumpulkan 1.550 responden

Hadapi Pandemik, Layanan Keagaman Dinilai Perlu OptimalisasiGedung Kementerian Agama. (ShutterStock/Harismoyo)

Dalam melakukan survei daring ini, Puslitbang Kemenag menyebarkan tautan angket melalui jejaring media sosial dengan bantuan jaringan kantor Kemenag provinsi dan kabupaten/kota se-Indonesia. 

Survei daring berhasil mengumpulkan 1.550 responden yang terdiri dari penderita COVID-19, penyintas, dan masyarakat di 34 provinsi. Guna melengkapi dan memperkuat temuan kuantitatif, Puslitbang Kemenag juga mengumpulkan informasi kualitatif dengan mewawancarai 20 informan terpilih. 

4. Menyampaikan beberapa saran dan pertimbangan

Hadapi Pandemik, Layanan Keagaman Dinilai Perlu OptimalisasiPemanfaatan teknologi digital untuk mempelajari ilmu agama. (ShutterStock/OduaImages)

Puslitbang dan Diklat Kemenag juga menyampaikan beberapa saran dan pertimbangan untuk memenuhi kebutuhan layanan keagamaan masyarakat di tengah pandemik COVID-19 seperti berikut: 

1. Kemenag dalam hal ini Ditjen Bimas-bimas Agama memerintahkan kepada penyuluh agama di seluruh wilayah Indonesia untuk mengintensifkan kegiatan penyuluhan agama  terutama pesan menjaga keimanan/aspek teologis-spiritual menghadapi wabah dan menjaga diri serta keluarga di masa pandemik.


2. Ormas Keagaman dan Majelis Agama terus menyampaikan kepada umatnya tentang pentingnya menjaga keimanan/aspek teologis-spiritual dan menjaga diri dan keluarga di masa pandemik untuk tetap mematuhi protokol kesehatan 5M.


3. Model layanan keagamaan psiko-spiritual di tengah krisis pandemik perlu dikembangkan oleh Kemenag. Juga, optimalisasi peran ormas keagamaan dan majelis agama untuk memberikan pelayanan keagamaan tersebut. 

4. Di tengah pembatasan sosial, layanan keagamaan psiko-spiritual dapat melalui virtual/telekonseling sebagaimana telemedicine yang saat ini dikembangkan oleh pemerintah. 

Dengan begitu Puslitbang dan Diklat Kemenag berharap layanan keagamaan di tengah pandemik bisa lebih dioptimalkan, mengingat keberadaanya bisa membantu memperkuat mental masyarakat di kala pandemik COVID-19. (WEB)

Baca Juga: Sosialisasi Produk Halal Belum Efektif, Kemenag: Manfaatkan Medsos

Topic:

  • Ridho Fauzan

Berita Terkini Lainnya