Comscore Tracker

Penolakan Pemakaman COVID-19 Marak Lagi, Polisi Kembali Kawal Ambulans

Di Bondowoso keluarga tolak pemakaman jenazah COVID-19

Jakarta, IDN Times - Anggota Polres Ogan Komering Ulu, Sumatra Selatan, mengawal proses pemakaman jenazah seorang warga diduga terpapar COVID-19 berinisial AA (83) ke Tempat Pemakaman Umum (TPU), guna mengantisipasi penolakan warga di sekitar pemakaman.

"Alhamdulilah tidak ada kendala selama proses pemakaman yang dilaksanakan di TPU Husnul Khatimah, Kecamatan Baturaja Timur pada Sabtu (24/7/2021)," kata Kapolres Ogan Komering Ulu (OKU) AKBP Arif Hidayat Ritonga, dilansir kantor berita ANTARA, Minggu (25/7/2021).

Baca Juga: Bertaruh Nyawa Jemput Jenazah COVID yang Meninggal saat Isoman

1. Selama proses pemakaman mendapat pengawalan polisi

Penolakan Pemakaman COVID-19 Marak Lagi, Polisi Kembali Kawal AmbulansMobil Jenazah yang mengantarkan jenazah pasien COVID-19 ke TPU Pondok Ranggon pada Selasa (16/9/2020). IDN Times/Aldila Muharma&Fiqih Damarjati

Jenazah warga Perumahan Baturaja Permai, Kecamatan Baturaja Timur yang meninggal dunia di rumah duka pada Jumat (23/7/2021) tersebut, dimakamkan tim Satgas COVID-19 menggunakan pakaian APD lengkap sesuai standar protokol kesehatan.

Arif mengatakan selama proses pemakaman mendapat pengawalan polisi, mulai dari rumah duka hingga almarhum diangkut menggunakan ambulans menuju ke TPU, untuk dimakamkan dengan protokol kesehatan guna mencegah penyebaran virus corona.

2. Pengawalan guna mengantisipasi penolakan dari warga

Penolakan Pemakaman COVID-19 Marak Lagi, Polisi Kembali Kawal AmbulansPemakaman jenazah pasien COVID-19 di TPU Rorotan, Jakarta Utara (4/7/2021). (IDN Times/Uni Lubis)

Arif menjelaskan, pengawalan jenazah COVID-19 merupakan kegiatan rutin yang dilakukan seluruh Polsek jajaran Polres OKU, jika terjadi kasus warga meninggal dunia akibat terpapar virus corona.

Hal itu dilakukan guna mengantisipasi penolakan dari masyarakat terhadap proses pemakaman jenazah yang meninggal dunia akibat COVID-19 secara protokol kesehatan.

Pengawalan tersebut juga bertujuan untuk mencegah kerumunan masyarakat di tempat pemakaman umum, karena dikhawatirkan dapat menimbulkan penyebaran virus corona.

3. Jumlah keluarga yang mengantar jenazah ke makam dibatasi

Penolakan Pemakaman COVID-19 Marak Lagi, Polisi Kembali Kawal AmbulansGubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melakukan pemantauan di TPU Rorotan, Jakarta Utara. (dok. Humas Pemprov DKI Jakarta)

Jumlah pelayat yang mengantar almarhum ke tempat peristirahatan terakhir dibatasi, dan wajib mematuhi protokol kesehatan 3 M yaitu memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak minimal satu meter.

"Kami juga melakukan pendataan pihak keluarga yang sempat kontak erat dengan almarhum sebelum meninggal, supaya melakukan test swab dan isolasi mandiri selama 14 hari," kata Arif.

4. Penolakan jenazah COVID-19 dimakamkan secara prokes masih terjadi di beberapa daerah

Penolakan Pemakaman COVID-19 Marak Lagi, Polisi Kembali Kawal AmbulansPemakaman jenazah pasien COVID-19 di TPU Rorotan, Jakarta Utara (4/7/2021). (IDN Times/Uni Lubis)

Baru-baru ini kembali terjadi penolakan pemakaman jenazah COVID-19 secara protokol kesehatan, dari warga di sejumlah daerah. Seperti kejadian yang terbaru di Bondowoso, Jawa Timur.

Pihak keluarga menolak saat jenazah COVID-19 akan dimakamkan secara protokol kesehatan. Keluarga mengambil secara paksa jenazah, dan mengeluarkan jenazah dari peti mati.

Peti mati kemudian dirusak dan dibakar ramai-ramai oleh keluarga dan warga setempat.

Sebeumnya, relawan pemakaman jenazah COVID-19 Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Kabupaten Jember, Jawa Timur, juga dianiaya warga usai terjadi pengambilan paksa jenazah terkonfirmasi positif yang akan dimakamkan secara protokol kesehatan COVID-19.

"Warga merebut peti jenazah dan membukanya, kemudian mereka berencana untuk memandikan jenazah tersebut. Hal itu tidak sesuai dengan protokol pemulasaran jenazah yang terkonfirmasi positif," kata Pelaksana Tugas Kepala BPBD Jember Moh. Djamil saat menggelar konferensi pers di Kantor BPBD setempat, Jumat, 23 Juli 2021.

Upaya paksa pengambilan jenazah pasien terkonfirmasi positif hingga menyebabkan sejumlah relawan kesakitan setelah dipukul hingga dilempari batu tersebut terjadi di Desa Jatisari, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember pada Sabtu (17/7/2021).

Menurut Djamil, relawan BPBD Jember memutuskan kembali ke markas karena situasi tidak kondusif, namun ada warga yang mencoba menghadang relawan, baik menggunakan kendaraan maupun yang berjalan kaki.

"Ada dua relawan yang mengaku dipukul dan salah satu relawan tangannya dipelintir hingga kesakitan dan terjatuh, bahkan ada relawan yang kepalanya terkena lemparan batu. Itu sungguh keterlaluan," tuturnya.

Ia mengatakan warga sepertinya tidak terima jenazah tersebut dimakamkan secara protokol COVID-19, namun caranya salah melakukan penganiayaan kepada relawan yang memakamkan jenazah yang terkonfirmasi positif.

"Kami hanya menjalankan tugas untuk memakamkan warga yang terkonfirmasi positif COVID-19, sehingga seharusnya warga bisa memahami tugas kami dan membantu untuk pemakaman," katanya.

Djamil mengatakan kejadian serupa terkait penolakan keluarga terhadap pemakaman secara protokol COVID-19 sering terjadi, namun tidak separah yang terjadi di Desa Jatisari, Kecamatan Pakusari.

"Kami berharap jangan sampai kejadian penganiayaan kepada relawan pemakaman jenazah COVID-19 terulang kembali di Jember dan kami mendesak dilakukan proses hukum terkait kejadian tersebut," katanya.

Baca Juga: 2 Orang yang Ambil Paksa Jenazah Pasien, Ternyata Positif COVID-19

Topic:

  • Rochmanudin

Berita Terkini Lainnya