Comscore Tracker

Diharamkan di Taiwan, Konsumsi Daging Anjing Justru Meningkat di Indonesia

Paling banyak justru di Pulau Jawa

Pada 12 April lalu, Taiwan melakukan perubahan Undang-undang atau amandemen. Peraturan baru tersebut melarang konsumsi daging anjing dan kucing. Aturan itu juga menegaskan prioritas Taiwan untuk melindungi binatang dari perlakuan kejam untuk kebutuhan konsumsi.

Dikutip dari CNN, seorang aktivis dari Humane Society International memuji langkah Taiwan tersebut. "Larangan progresif Taiwan adalah bagian dari tren yang sedang berkembang di seluruh Asia untuk mengakhiri perdagangan daging anjing yang brutal," ujarnya.

Hukuman yang diberlakukan semakin berat.

Diharamkan di Taiwan, Konsumsi Daging Anjing Justru Meningkat di IndonesiaBarcroft Media/Getty Images via NPR

"Sebelumnya, Undang-undang Perlindungan Binatang hanya mencakup pembantaian dan perdagangan daging anjing dan kucing. Namun, amandemen ini secara spesifik melarang konsumsi daging anjing," kata Jill Robinson dari Animals Asia Foundation.

Dalam peraturan yang baru, setiap orang yang kedapatan memakan atau memperjual-belikan daging anjing dan kucing bisa mendapat denda mulai dari Rp 21,8 juta hingga Rp 109 juta. Tak hanya itu, seperti dilaporkan TIME, pemerintah mempertimbangkan hukuman tambahan, yakni, menyebarluaskan nama dan foto mereka yang tertangkap memakan daging anjing dan kucing.

Baca Juga: Kim Jong-un Sebut Daging Anjing Enak dan Suruh Rakyat Korea Utara Untuk Memakannya!

Aktivis menyebut langkah Taiwan itu juga bisa dianggap sebagai sindiran kepada negara lain yang masih memperbolehkan praktik konsumsi daging anjing.

Diharamkan di Taiwan, Konsumsi Daging Anjing Justru Meningkat di IndonesiaAndy Wong/AP via National Geographic

Menurut Humane Society International, konsumsi daging anjing di sejumlah negara di Asia sudah menjadi hal biasa. Di antara negara-negara itu adalah Tiongkok, Filipina, Korea Selatan, serta Indonesia. Aktivis dari organisasi tersebut pun menilai langkah Taiwan itu adalah sindiran untuk Tiongkok dan Korea Selatan (serta negara lain yang masih meloloskan konsumsi daging anjing).

Tiongkok sendiri selama bertahun-tahun mendapat kritikan karena memperbolehkan festival makan daging anjing tahunan di Yulin. Pada acara itu, diestimasi ada 10.000 anjing yang dibantai dan disajikan sebagai makanan. Sedangkan di Korea Selatan, 80.000 anjing dijual dalam setahun di Moran Market, Seoul -- menjadikannya sebagai salah satu lokasi perdagangan daging anjing terbesar di Asia.

Di Indonesia, konsumsi daging anjing justru meningkat.

Diharamkan di Taiwan, Konsumsi Daging Anjing Justru Meningkat di IndonesiaThe Asahi Shimbun/Getty Images via NPR

Pada akhir Maret 2017 lalu The New York Times mempublikasikan sebuah tulisan yang khusus mengkritisi konsumsi daging anjing di Indonesia. Meski data terkait konsumsi daging anjing di Indonesia sangat langka dan sebagian besar pelaku industri itu bergerak dalam senyap, tapi para pemiliki restoran, tukang daging, peneliti serta aktivis pecinta binatang sepakat bahwa semakin banyak jumlah anjing yang dibunuh dan dimakan di negara ini.

Brad Anthony, seorang peneliti dan analis, mengatakan masih banyak orang Indonesia yang terlalu miskin untuk membeli daging sapi, sehingga mereka beralih ke daging anjing. Tak hanya itu, memelihara anjing untuk diperjual-belikan dan dikonsumsi dinilai lebih efisien.

"Memelihara anjing dan kucing membutuhkan tempat dan pakan lebih sedikit dibanding sapi, sehingga jauh lebih murah," ia kemudian menambahkan bahwa,"Faktor ekonomi menjadi alasan utama untuk produksi dan konsumsi (daging anjing)."

Ribuan anjing dikonsumsi per hari di Indonesia.

Diharamkan di Taiwan, Konsumsi Daging Anjing Justru Meningkat di IndonesiaKemal Jufri/The New York Times

Alasan lainnya adalah daging anjing dianggap terasa lebih hangat dan bisa berfungsi juga sebagai obat. Maka tak heran bila praktik memakan daging anjing dianggap hal biasa oleh sebagian orang yang menyukainya. Menariknya, meski anjing diyakini sebagai binatang haram oleh Islam, angka konsumsinya justru paling besar di kawasan yang mayoritas Muslim.

Karin Franken dari Jakarta Animal Aid Network menyebut dari hasil risetnya ada 215 anjing yang dikonsumsi setiap hari di Yogyakarta. Jumlah dua hingga tiga kali lipatnya terjadi di Jakarta. Sedangkan beberapa wilayah lain di Jawa berfungsi sebagai pengepul dan pemasok. Anjing-anjing yang dibantai pun terdiri dari anjing liar dan anjing peliharaan. "Mereka menjual (daging anjing) ke seluruh Indonesia," ujar Karin. Salah satu yang terkenal? Pasar Tomohon di Sulawesi Utara.

Tak hanya di pulau Jawa, Bali pun menjadi lokasi konsumsi daging anjing terpopuler. "60 persen dari konsumen adalah perempuan Bali yang menganggap daging anjing paling hangat dan protein paling murah," ujar Janice Girardi dari The Bali Animal Welfare Association. Institusinya mengestimasi ada 70.000 anjing yang dibantai per tahun untuk dikonsumsi di Bali.

Jual-beli daging anjing diyakini sebagai bisnis dengan nilai miliaran rupiah.

Diharamkan di Taiwan, Konsumsi Daging Anjing Justru Meningkat di IndonesiaKemal Jufri/The New York Times

Dikutip dari Tirto.id, di Pulau Jawa sendiri ada sedikitnya 12.960 anjing yang dibantai setiap bulannya untuk dikonsumsi. Pemilik restoran atau warung yang menyediakan olahan daging anjing adalah pihak yang paling kaya raya dalam bisnis jual-beli daging anjing. Berdasarkan perhitungan Tirto.id:

Dalam sebulan, sebuah warung di Solo membutuhkan 90 ekor anjing. Jika jumlahnya 136 warung, maka diperkirakan sekitar 12.240 ekor anjing dipotong setiap bulannya. Jika seekor anjing seberat 10 kg dan 1 kg daging bisa menjadi empat porsi masakan seharga Rp25 ribu, maka diperkirakan perputaran uang di bisnis itu mencapai Rp11 miliar per bulan.

Dengan fakta-fakta itu, maka konsumsi daging anjing bukan lagi perkara kebudayaan seperti yang diyakini selama ini, terlebih lagi bila konsumsi terbesar justru ada di Pulau Jawa yang mayoritas memeluk agama Islam. "Padahal kan haram. Itu artinya ini bukan soal kebudayaan," kata Angelina Pane, Koordinator Animal Friends Jogja (AFJ).

Kampanye untuk menyelamatkan anjing terus dilakukan.

Diharamkan di Taiwan, Konsumsi Daging Anjing Justru Meningkat di IndonesiaGetty Images via ibtimes.co.uk

Pemerintah sendiri tak melarang konsumsi daging anjing. Peraturan yang adalah lebih kepada larangan memperlakukan binatang dengan cara-cara kejam, tapi lebih diarahkan ke binatang seperti sapi maupun kerbau. Meski begitu, para aktivis pecinta binatang terus berupaya untuk mengkampanyekan kesadaran bahwa anjing tak boleh dikonsumsi.

Animal Friends Jogja (AFJ) memiliki kampanye "Dogs Are Not Food" di mana mereka menekankan anjing merupakan sahabat manusia. Sementara para aktivis di Bali berhadapan dengan pemerintah yang ingin membasmi para anjing liar karena dikhawatirkan menyebarkan rabies. "Anjing liar diberi vaksin, diberi tanda. Jadi, tidak ada alasan bagi pemerintah untuk melakukan eliminasi," ujar Jonatan Wegiq dari Garda Satwa Indonesia.

Baca Juga: 23 Foto Anjing Dulu dan Sekarang Ini Membuatmu Gemas dan Senyum Sendiri

 

 

 

Topic:

Berita Terkini Lainnya