Comscore Tracker

Survei IMS 2019: Mayoritas Millennial Tolak Khilafah

#IndonesiaMillennialReport2019, Pancasila tetap dijunjung

Jakarta, IDN Times - Millennial sedang menjadi sorotan. Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pada 2018, dari total populasi Indonesia sebesar 265 juta jiwa, millennial Indonesia atau penduduk berusia 20 sampai 35 tahun berjumlah 63 juta jiwa.

Jumlah tersebut sangat signifikan di mana millennial berkontribusi besar terhadap citra Indonesia di mata dunia. Salah satu yang menarik untuk digali adalah tentang persepsi mereka terhadap bentuk negara terbaik bagi Indonesia.

1. Sebagian besar millennial menolak khilafah

Survei IMS 2019: Mayoritas Millennial Tolak KhilafahANTARA FOTO/Yusuf Nugroho

Menurut hasil survei yang dilakukan IDN Research Institute dan bekerja sama dengan Alvara Research Center kepada 1.400 anak muda di 12 kota besar, sebanyak 81,5 persen responden berpendapat bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) seperti yang saat ini diadopsi sudah tepat.

Dalam laporan berjudul Indonesia Millennial Report 2019 tersebut, hanya 19,5 persen saja yang menilai khilafah sebagai bentuk negara ideal. Meskipun secara umum millennial bukan generasi yang menganut paham radikal (dengan cara kekerasan), tetapi ada potensi 19,5 persen dari mereka rentan terpapar radikalisme.

2. Mayoritas pendukung khilafah adalah millennial senior

Survei IMS 2019: Mayoritas Millennial Tolak KhilafahANTARA FOTO/IIrwansyah Putra

Ketika dibedah berdasarkan jenis kelamin, perempuan lebih banyak menyatakan dukungan terhadap khilafah (20 persen) dibandingkan laki-laki (16,9 persen). Kemudian, menariknya, millennial senior berusia 28 sampai 35 tahun adalah kategori umur yang paling banyak mendukung khilafah (19,2 persen).

Sedangkan hanya 17,9 persen anak muda berusia 20 sampai 27 tahun yang tergolong millennial junior bersikap serupa. Hasil ini berbeda dari survei Alvara pada 2017. Dalam survei dengan pernyataan yang sama, Alvara menemukan pelajar dan mahasiswa lebih konservatif dibandingkan kalangan profesional dan kelas pekerja.

Baca Juga: Cak Imin: Konsep Khilafah Muncul karena Kurang Bersyukur

3. Hampir 50 persen millennial tak mempersoalkan agama calon pemimpin untuk jabatan publik maupun politik

Survei IMS 2019: Mayoritas Millennial Tolak KhilafahANTARA FOTO/Prasetia Fauzani

Sikap lebih toleran juga ditunjukkan oleh millennial. Sebanyak 47,9 persen millennial menyatakan mendukung pemilihan calon pemimpin non-Muslim. Angka ini diikuti oleh 16,9 persen millennial yang tidak mempersoalkan agama seseorang sebab menilai Muslim maupun non-Muslim sama aja.

Sebaliknya, 22,4 persen millennial menegaskan mereka tidak mendukung pemilihan pemimpin non-Muslim. Konsisten dengan temuan sebelumnya, millennial junior adalah kategori usia yang mendukung calon pemimpin non-Muslim (50,5 persen). Sedangkan millennial senior yang menyatakan dukungan lebih sedikit (45,5 persen).

4. Kecenderungan untuk mendukung konservatisme Islam berhubungan dengan rasa tak puas secara ekonomi dan sosial

Survei IMS 2019: Mayoritas Millennial Tolak KhilafahANTARA FOTO/Holik Mandailing

Salah satu penjelasan mengapa sejumlah anak muda bersikap konservatif, bahkan mendukung khilafah, adalah karena ketidakpuasan terhadap kondisi ekonomi serta sosial. Ini seperti yang terlihat dalam studi yang disponsori Australia-Indonesia Centre dan dilakukan oleh para peneliti asal Indonesia dan Australia pada 2018 lalu.

"Semakin banyak anak muda Indonesia yang berpendidikan dari kalangan bawah serta menengah di kawasan urban yang frustrasi terhadap mobilitas sosial cenderung tertarik kepada penjelasan mengenai hambatan-hambatan sosial yang fokus pada tidak bermoralnya tata sosial saat ini," ujar Profesor Vedi Hadiz selaku deputi direktur Asia Institute di University of Melbourne.

Baca Juga: Ma'ruf Amin: Khilafah Itu Tertolak, Tak Usah 'Metenteng-Metenteng'

5. Ada harapan bahwa kelompok mayoritas lebih toleran

Survei IMS 2019: Mayoritas Millennial Tolak Khilafahunsplash.com/rawpixel

Terkait dengan temuan tersebut, Inayah Wahid yang seorang putri almarhum Gus Dur sekaligus aktivis keberagaman, mengatakan, "Saya melihat ada perpecahan, atau kubu, yang menunjukkan persaingan tidak sehat. Kita lupa bahwa kita ini sama manusianya. Parahnya, millennial juga dilibatkan dalam perseteruan itu."

Sedangkan mantan vokalis Nidji yang kini menjadi calon legislatif dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Giring Ganesha, menilai, “Yang bahaya sekarang politik SARA. Orang gak bakal diliat dari kinerjanya tapi cuma dari agama sama sukunya aja gitu. Ini yang bahaya.”

IDN Times menggelar Indonesia Millennial Summit 2019. Acara dengan tema "Shaping Indonesia's Future" ini dilangsungkan pada tanggal 19 Januari 2019 di Grand Ballroom Hotel Kempinski Jakarta.  IMS 2019 menghadirkan lebih dari 50 pembicara kompeten di berbagai bidang, dari politik, ekonomi, bisnis, olahraga, budaya, lintas agama, sosial, lingkungan sampai kepemimpinan millennial.  Ajang millennial terbesar di tanah air ini akan dihadiri oleh 1.500-an pemimpin millenial.

Dalam IMS 2019, IDN Times juga meluncurkan Indonesia Millennial Report 2019.  Survei ini dikerjakan bersama oleh IDN Research Institute bekerjasama dengan Alvara Research Center.  Melalui survei yang melibatkan 1400-an responden di 12 kota ini, IDN Times menggali aspirasi dan DNA millennial Indonesia. 

Simak hasilnya di IMS 2019, dan ikuti perkembangannya di situs kami ya. Kamu tertarik juga ingin ikut berpartisipasi dalam IMS 2019? Klik situs ims.idntimes.com untuk mendapatkan tiketnya. Buruan, tiket terbatas!

Baca Juga: Inayah Wahid: Yang Bilang Millennials Apatis, Mainnya Kurang Jauh!

Topic:

  • Rosa Folia
  • Ita Lismawati F Malau
  • Yogie Fadila

Just For You