Comscore Tracker

Bela Gatot Nurmantyo, Deklarator KAMI Sebut PKI Ada di Mana-mana

Deklarator KAMI bawa-bawa Ribka Tjiptaning

Jakarta, IDN Times - Deklarator Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), Marwan Batubara, sependapat dengan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, yang menyebut ada indikasi TNI disusupi komunis atau PKI. 

"Tapi kalau soal kepercayaan ya, saya percaya kepada Pak Gatot bahwa memang ada, PKI ada di mana-mana lah, intinya begitu," ucap Marwan saat dihubungi, Selasa (28/9/2021).

Baca Juga: Pangkostrad: Tudingan Gatot Nurmantyo Keji Sebut TNI AD Disusupi PKI

1. Marwan bawa-bawa Ribka Tjiptaning

Bela Gatot Nurmantyo, Deklarator KAMI Sebut PKI Ada di Mana-manaEks Anggota DPR dari Komisi IX (sekarang di Komisi VII), Ribka Tjiptaning Proletariyati (Tangkapan layar YouTube DPR)

Marwan percaya PKI dan komunis 'menyusup' di antara masyarakat Indonesia. Dia lalu menyinggung anggota DPR, Ribka Tjiptaning, yang merupakan keturunan dari PKI.

"Di mana-mana ya, salah satunya di DPR. Yang itu kan secara terbuka dia bilang bahwa memang anak PKI, tidak takut apa tidak malu jadi anak PKI, kan gitu kan, si Ribka Tjiptaning, ya kan," kata dia.

"Lalu di TVRI. Atau Dirjen apa tuh, kebudayaan atau apa tuh yang di Dikbud (Kemendikbud) ya kan, saya lupa nama lengkapnya, itu kan sedang ramai di medsos itu. Jadi kalau bicara pendapat Pak Gatot, saya 100 persen setuju," kata dia, menambahkan.

Namun, Marwan mengaku tidak bisa memberikan contoh terkait masih adanya PKI di Indonesia. Dia hanya meyakini Gatot Nurmantyo mempunyai bukti masih ada PKI di Indonesia.

"Soal buktinya apa, ya Pak Gatot pasti punya. Cuma saya dalam posisi untuk mengatakan yang dinyatakan Pak Gatot itu benar, gitu. Tapi saya tidak punya, memang tidak melihat bukti, cuma lebih kepada percaya gitu," ujar dia.

2. Kominfo klarifikasi hoaks Ribka Tjiptaning

Bela Gatot Nurmantyo, Deklarator KAMI Sebut PKI Ada di Mana-manaPolitikus PDIP Ribka Tjiptaning (IDN Times/Sidratul Muntaha)

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) mengklarifikasi hoaks Ribka Tjiptaning terkait postingan di media sosial yang berjudul "Aku Bangga Jadi Anak PKI Dr.Ribka Tjiptaning Ketua Komisi 1x Fraksi PDIP". Dikutip dari kominfo.go.id, unggahan tersebut adalah hoaks.

Diketahui, mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat Mayor Jenderal (Purnawirawan) Kivlan Zen menyebut ada kader PKI di PDIP, salah satunya adalah Ribka Tjiptaning. Alasan Kivlan, Ribka pernah mengeluarkan buku tentang dirinya merupakan anak dari kader PKI.

Mengenai tuduhan itu, Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menjelaskan Ribka memang memiliki orang tua dengan latar belakang PKI. Namun, kata dia, bukan berarti Ribka juga menganut paham komunis.

Baca Juga: Eks Panglima TNI Gatot Nurmantyo Sebut Ada Indikasi Komunis Masuk TNI

3. Gatot ungkap ada indikasi PKI di tubuh TNI

Bela Gatot Nurmantyo, Deklarator KAMI Sebut PKI Ada di Mana-manaEks Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)

Sebelumnya, Gatot Nurmantyo mengatakan, ada indikasi paham komunis telah menyusup ke tubuh TNI. Salah satu indikasinya, kata dia, sejumlah bukti-bukti penumpasan pelaku Gerakan 30 September 1965 yang tersimpan di Museum Dharma Bhakti di Markas Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) kawasan Gambir, Jakarta Pusat, diduga hilang atau sengaja dihilangkan.

Dari situlah, Gatot menyimpulkan ada indikasi paham PKI menyusup ke tubuh TNI.  Ia kemudian memutar video untuk menunjukkan ke publik bahwa dugaan itu bukan sekadar isapan jempol. 

"Video tadi menggambarkan betapa diorama yang ada di Makostrad, di depan Makostrad ada bangunan berupa kantor tempatnya Pak Soeharto dulu. Di sana lah direncanakan bagaimana mengatasi pemberontakan G30S PKI, di mana Pak Soeharto sedang memberikan petunjuk kepada Pak Sarwo Edhie sebagai Komandan Resimen Parako dibantu oleh KKO (Korps Komando Operasi)," ujar Gatot ketika berbicara di webinar dengan tajuk TNI Vs PKI pada Minggu, 26 September 2021. 

Gatot menyebutkan, diorama itu menjelaskan dari diskusi Sarwo Edhie dengan Soeharto ditemukan petunjuk lokasi jenazah jenderal TNI yang dibunuh pada akhir September 1965. Lokasi jenazah diketahui berada di Lubang Buaya, Jakarta Timur. 

"Ini menunjukkan (tidak adanya patung itu), mau tidak mau kita harus mengakui dalam menghadapi pemberontakan G30S PKI, peran Kostrad, sosok Soeharto, Kopassus, Sarwo Edhie, KKO dan Jenderal AH Nasution jelas akan dihapuskan. Patungnya di sana (Markas Kostrad) sudah tidak ada dan bersih," tutur dia lagi. 

Lebih lanjut, Gatot mengatakan dalam diskusi virtual ia sempat tidak percaya adanya sejumlah patung yang hilang di Museum Kostrad. Lalu, ia mengutus orang untuk berkunjung ke Museum Kostrad dan mendokumentasikan suasana di sana. 

"Ternyata bukan hanya patung Pak Harto, patung Pak Sarwo Edhie, dan Pak Nasution (yang hilang) tapi juga (patung) tujuh pahlawan revolusi sudah tidak ada di sana," kata Gatot. 

Ia kemudian menyebut insiden tersebut semakin menguatkan indikasi sudah berkembangnya paham komunis di tubuh TNI. "Maka saya katakan ini kemungkinan sudah ada penyusupan paham-paham kiri, paham-paham komunis di tubuh TNI," ujar Gatot. 

Ia lalu meminta agar TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara bersatu untuk membersihkan penyusupan PKI di tubuh TNI. Ia meminta agar TNI membersihkan jajarannya dari indikasi penyusupan paham komunis tersebut.

"Saya ulangi ini berarti sudah ada penyusupan di dalam tubuh TNI. Dalam kesempatan ini saya mengetuk jiwa patriotisme dan ksatria prajurit TNI AD, TNI AL, dan TNI AU agar bersama-sama membersihkan jajaran TNI dari penyusupan maupun pengaruh yang dapat merusak jiwa-jiwa prajurit TNI. Selain itu, paham tersebut bisa menyebabkan pengkhianat minimal atau pun menjual institusi hanya untuk sekedar jual jabatan dan akan bermuara pada ingkar, pada sumpah pada Allah. Bersihkan semuanya agar peristiwa kelam yang lalu tidak terjadi lagi," kata Gatot. 

4. Pangkostrad sebut tuduhan Gatot Nurmantyo keji

Bela Gatot Nurmantyo, Deklarator KAMI Sebut PKI Ada di Mana-manaDiorama di Museum Dharma Bhakti Kostrad, Gambir, Jakarta Pusat (kostrad.mil.id)

Sementara, Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad), Letjen TNI Dudung Abdurachman, angkat bicara soal tuduhan adanya penyusupan paham komunis di institusi TNI yang disampaikan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo.

Menurut Dudung, tuduhan Gatot itu tidak berdasar dan keji. Ia mengatakan ketiadaan sejumlah diorama di Museum Dharma Bhakti Kostrad, tidak serta merta bisa dijadikan dasar kuat bahwa paham komunis telah berhasil menyusup ke institusi TNI. 

Dudung mengakui sejumlah patung di Museum Dharma Bhakti seperti Soeharto, Sarwo Edhie, hingga AH Nasution memang sudah tidak ada. Tetapi, patung itu diambil atas permintaan mantan Pangkostrad Letjen (Purn) TNI Azymn Yusri Nasution (AY Nasution). Sejumlah patung tersebut semula juga dibuat dan ditempatkan di museum atas instruksi AY Nasution. 

"Patung tersebut diambil oleh penggagasnya, Letjen TNI (Purn) AY Nasution. Beliau yang meminta izin kepada saya selaku Panglima Kostrad saat ini. Beliau merasa berdosa membuat patung-patung itu menurut keyakinan agamanya, dan saya hargai alasan pribadi itu," ujar Dudung dalam keterangan tertulis, Senin, 27 September 2021. 

Ia juga merasa segan menolak permintaan AY Nasution yang ingin mengambil patung-patung itu. "Bila karena penarikan patung itu kemudian disimpulkan kami telah melupakan peristiwa 30 September 1965, itu sama sekali tidak benar," kata Dudung. 

Menurut Dudung ini bukan kali pertama Gatot mengungkit dugaan Partai Komunis Indonesia (PKI) bangkit di Tanah Air. Bahkan, paham komunis bolak-balik disebutnya telah menyusupi sejumlah petinggi di lingkar pemerintahan. 

Baca Juga: Jenderal TNI Agum Gumelar: Komunis Tak Bisa Muncul Lagi!

Topic:

  • Rochmanudin

Berita Terkini Lainnya