Comscore Tracker

Ada Kelas Bahasa Ibrani di Jakarta, Begini Keunikannya

Kelas digelar dua hari sepekan selama dua bulan

Jakarta, IDN Times - Apa jadinya kalau seorang Muslim tertarik belajar Bahasa Ibrani dan bahkan mengajarkan bahasa itu di dalam kelas di Jakarta? Rupanya peminatnya cukup besar lho. 

Kenalkan, Sapri Sale (52 tahun), pria yang sudah lama penasaran dan memendam minat besar untuk mempelajari Bahasa Ibrani. Bahkan, saking penasarannya, ia sampai membuka kursus Bahasa Ibrani yang digelar dua kali dalam sepekan yakni hari Senin dan Rabu. Satu sesi berlangsung selama 90 menit.

Melalui surat elektronik kepada Times of Israel, Sapri mengaku sudah penasaran mempelajari Bahasa Ibrani sejak tahun 1990an lalu. Ketika ia masih mahasiswa yang belajar di kampus prestisius Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir.

1. Murid Sapri datang dari beragam latar belakang

sapri-sale-bahasa-ibrani-0356461f7c46e969e9248e1a6c5052a8.jpegwww.timesofisrael/courtesy

Saat ini ada sekitar 20 murid yang belajar di kelas Bahasa Ibrani yang diajarkan oleh Sapri. Ia mengajar di dua kelas yang berlokasi di markas Konferensi Indonesia mengenai Agama dan Perdamaian di pusat Jakarta. Tujuan awal dari kelas ini agar para murid memahami dasar Bahasa Ibrani. Murid-muridnya pun datang dari beragam latar belakang. 

"Ada yang Muslim, Kristiani, dan agama lainnya. Tapi, mayoritas merupakan Kristiani. Perkiraan saya di masa depan, akan lebih banyak murid dengan latar agama Muslim yang mengikuti kelas saya. Sebab, ada kemiripan antara Bahasa Ibrani dan Arab. Apalagi Bahasa Arab lebih mudah dipelajari," kata Sapri dalam artikel yang terbit pada Selasa (13/03). 

Sapri pun gak membantah memang muridnya lebih banyak yang berlatar belakang Kristiani, karena mereka ingin membaca Alkitab dengan bahasa asalnya yaitu Ibrani.

Sementara, tujuan akhirnya yakni ingin membangun jembatan komunikasi antara Indonesia dengan Israel. Agar tercipta rasa saling pengertian dan membangun dialog. 

Menurut Sapri banyak orang Indonesia tidak memahami situasi yang sesungguhnya mengenai konflik di Timur Tengah. "Mereka hanya memandangnya dari sudut anti terhadap Israel dan solidaritas yang tinggi terhadap warga Palestina," katanya. 

Baca juga: Berkonflik dengan Palestina, Israel Siap Rangkul Arab Saudi

2. Sapri juga membuat buku panduan ke Israel

kamus-4e6fd55b3478ec233f92b07de32f0fe8.jpgtimesofisrael.com

Sapri yang kelahiran Palu, Sulawesi Tengah, itu rupanya juga telah menerbitkan kamus berjudul "Millon Rishon" pada 2016. Proses pengerjaannya tidak mudah, karena sudah dilakukan sejak 10 tahun sebelumnya. Maka, jadilah kamus yang disusun Sapri memiliki lebih dari 35 ribu entri kata dalam Bahasa Ibrani. 

Rupanya kamus itu mendapat sambutan yang positif dari beberapa gereja, seminari, mahasiswa dan empat universitas Islam. Beberapa ratus salinan kamus itu telah dibagikan kepada komunitas Muslim dan Kristiani. 

Salah satu Imam senior bahkan mendukung penuh terbitnya kamus tersebut. Bahkan, ia berfoto sambil memegang kamus tersebut. Sapri sengaja tidak mengungkap nama dari Imam itu. 

Usai menerbitkan kamus, Sapri kini tengah mengerjakan dua buku berbahasa Ibrani lainnya. Namun, isinya kali ini berupa panduan bagi turis Indonesia yang ingin berkunjung ke Israel. Satu buku lainnya berisi penggunaan tata Bahasa Ibrani. 

"Saya yakin karya ini akan membukakan jalan agar dua negara dapat berdialog," kata dia. 

3. Belajar Bahasa Ibrani seperti belajar bahasa lain

gevro-70256c32397230e4b195b0a5338dc0e0.jpgtimesofisrael.com

Selama satu bulan ia membuka tempat kursus Bahasa Ibrani, belum ada respons apa pun dari pemerintah atau pemda. Tapi, ia sudah dikritik bolak-balik oleh kelompok tertentu. Bahkan, Sapri dianggap mata-mata Israel di Indonesia gara-gara mengajarkan Bahasa Ibrani. 

Adapula yang mengkritik bahwa Bahasa Ibrani adalah bahasa musuh, karena sehari-hari digunakan oleh orang Yahudi. "Mereka menuding saya sebagai kaki tangan atau mata-mata Israel," ujar Sapri. 

Padahal, menurutnya mempelajari Bahasa Ibrani sama saja seperti belajar bahasa asing lainnya, misalnya Bahasa Jepang. 

"Saya mengajarkan Bahasa Ibrani untuk membuat orang belajar mengenai budaya dan teknologi Israel. Sama saja ketika kita belajar Bahasa Jepang atau bahasa negara lainnya, salah satunya pasti untuk mengenal budaya dan teknologi mereka," tuturnya. 

Tetapi, Sapri tidak membantah bahwa saat ini Pemerintah Indonesia masih menolak untuk menjalin komunikasi secara resmi dengan Israel. Padahal, Israel pernah menawarkan untuk membangun hubungan diplomatik, tapi tawaran itu ditolak mentah-mentah oleh Indonesia.

Baca juga: Mayoritas Anggota PBB Tolak Keputusan Trump Akui Yerusalem Ibukota Israel

 

Line Ads

Topic:

Just For You

I Want More !