Comscore Tracker

Waspada! Kasus COVID-19 Naik 1.745 Dalam Sehari, Tertinggi di Jakarta

Kasus aktif COVID-19 tembus 10.796

Jakarta, IDN Times - Prediksi bahwa kasus COVID-19 mulai mengalami lonjakan hingga 65 hari ke depan mulai terealisasi. Satgas Penanganan COVID-19 pada Rabu (19/1/2022) mengatakan, dalam kurun waktu 24 jam terdapat penambahan 1.745 kasus COVID-19.

Ini lebih tinggi dibandingkan kasus harian pada Selasa, 18 Januari 2022, yaitu 1.362. Angka ini merupakan yang tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Dengan demikian, maka akumulasi kasus COVID-19 di Indonesia menjadi 4.275.528. 

Yang mengkhawatirkan, angka kasus aktif COVID-19 di Indonesia sudah mulai tembus 10 ribu. Satgas penanganan COVID-19 melaporkan, kasus aktif di Tanah Air telah mencapai 10.796. Angka ini mengalami kenaikan 1.232 dibandingkan sehari sebelumnya. 

Kasus aktif menggambarkan jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit atau yang menjalani isolasi mandiri. Sementara, jumlah kasus kematian harian akibat COVID-19 bertambah 9 jiwa. Maka, akumulasi kasus kematian sejak pandemik COVID-19 mencapai 144.192. 

Sementara, kasus kesembuhan harian bertambah 504. Sehingga, akumulasi jumlah warga yang berhasil sembuh mencapai 4.120.540. 

Lalu, daerah mana yang kasus hariannya ditemukan paling tinggi? Apa strategi yang telah disiapkan oleh pemerintah bila jumlah yang terpapar COVID-19 tak sanggup dirawat di rumah sakit?

1. Kasus harian COVID-19 tertinggi masih di Jakarta

Waspada! Kasus COVID-19 Naik 1.745 Dalam Sehari, Tertinggi di JakartaMonumen Nasional (IDN Times/Besse Fadhilah)

Berdasarkan data Satgas Penanganan COVID-19, dalam 24 jam terakhir kasus COVID-19 tertinggi ditemukan di Jakarta. Jumlahnya mencapai 1.012. 

Dari angka itu, diketahui sebanyak 745 di antaranya merupakan transmisi lokal. Sedangkan, 267 adalah kasus impor. Maka, akumulasi kasus COVID-19 di Jakarta mencapai 873.104. 

Di bawah Jakarta, ada Jawa Barat yang mencatatkan kasus harian 324. Semua kasus harian di Jabar merupakan transmisi lokal dan tidak ada yang kasus impor. Dengan demikian, akumulasi kasus COVID-19 di Jabar mencapai 710.307. 

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, medan perang pertama melawan Omicron akan berada di Jakarta. Sebab, kota ini merupakan titik pertemuan dari wilayah penyangganya. 

Sesuai arahan Presiden Jokowi, maka pemerintah akan memperketat penerapan protokol kesehatan dan penggunaan aplikasi PeduliLindungi. "Testingtracing, isolasi terpusat harus kembali ditingkatkan. Dianjurkan agar tidak berkerumun dan jalankan saja normal yang sudah ada," ujar Budi. 

Selain itu, pemerintah juga mengimbau warga agar menunda bepergian ke luar negeri untuk sementara waktu. Sebab, banyak kasus impor Omicron dibawa masuk oleh pelaku perjalanan internasional. 

"Mobilitas ke luar kota pun untuk sementara dikurangi, karena itu akan mengurangi laju penularan Omicron yang sangat tinggi dan cepat di Jadebotabek dalam beberapa minggu ke depan ini," katanya. 

Baca Juga: Omicron Terus Naik, Skenario Terburuk Pasien Akan Isoman di Rumah 

2. Sebanyak 1,3 juta warga telah menerima vaksin booster

Waspada! Kasus COVID-19 Naik 1.745 Dalam Sehari, Tertinggi di Jakartailustrasi vaksin booster (IDN Times/Aditya Pratama)

Salah satu strategi agar mampu menghadapi gelombang Omicron yakni dengan menggenjot pemberian vaksin booster. Berdasarkan data dari Satgas Penanganan COVID-19, dalam 24 jam terakhir, jumlah penerima vaksin dosis ketiga atau booster hanya 4.209. Maka, akumulasi warga yang telah menerima vaksin booster mencapai 1.348.413. 

Sementara, jumlah warga yang telah menerima vaksin primer dua dosis bertambah 945.503. Maka, total akumulasi warga yang telah menerima vaksin dua dosis mencapai 121.566.591. Padahal, target pemerintah semula untuk mencapai kekebalan kelompok, jumlah warga yang harus divaksinasi yakni 208.265.720. 

3. Pemerintah akan mengutamakan rumah sakit bagi pasien dengan gejala berat, sisanya isoman di rumah

Waspada! Kasus COVID-19 Naik 1.745 Dalam Sehari, Tertinggi di JakartaJuru bicara vaksin dari Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi (Tangkapan layar YouTube Kemenkes)

Sementara, Direktur Pencegahan Penyakit Menular Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan, skenario terburuk akibat lonjakan COVID-19 di gelombang ketiga yakni kasus harian bisa menembus 60 ribu. "Dalam 3-4 minggu ke depan akan mencapai puncaknya (varian Omicron). (Kasus harian) sekitar 40-60 ribu kasus," ujar Nadia kepada media pada 12 Januari 2022 lalu. 

Bila skenario terburuk itu yang terjadi, maka pemerintah kembali mengandalkan strategi lama. Mereka akan memprioritaskan fasilitas kesehatan bagi pasien COVID-19 dengan gejala sedang hingga berat. Bagi pasien tanpa gejala atau gejala ringan diminta untuk melakukan isolasi mandiri di rumah. Sebab, bila semua pasien Omicron dirawat, maka hal tersebut akan membebani tenaga kesehatan. 

"Ke depan bila kasus Omicron terus bertambah, kemungkinan isolasi yang diterapkan adalah isolasi mandiri tetapi akan dilakukan pengawasan yang ketat dari puskesmas maupun pusat layanan kesehatan setempat," ujar Nadia ketika mengisi webinar secara virtual mengenai cara menghadapi pandemik COVID-19, Minggu 16 Januari 2022. 

Untuk membantu pasien Omicron yang tengah menjalani isoman di rumah bisa cepat pulih, maka pemerintah kembali menggencarkan layanan telemedicine. Cara ini berbeda bila dibandingkan dengan strategi yang diterapkan sekarang. Pemerintah akan meminta pasien Omicron untuk menjalani perawatan secara terpusat di RSDC Wisma Atlet atau RSPI Sulianti Saroso. 

Nadia juga menyebut, mayoritas pasien yang terinfeksi Omicron tak menunjukkan gejala atau bahkan gejalannya ringan. Tetapi, varian ini tetap harus diwaspadai lantaran lebih menular dibandingkan galur Delta. 

"Gejala Omicron mayoritas adalah batuk, pilek, yang akan hilang dengan sendirinya," tutur dia lagi. 

Baca Juga: Menkes: 65 Hari ke Depan Akan Terjadi Lonjakan Omicron di RI

Topic:

  • Sunariyah

Berita Terkini Lainnya