Comscore Tracker

5 Fakta Masjid Gedhe Kauman Jogja, Saksi Perjuangan Agresi Belanda

Masjid Gedhe Kauman berdiri pada 1773 M

Yogyakarta, IDN Times - Masjid Agung Yogyakarta atau yang lebih dikenal dengan nama Masjid Gedhe Kauman, memiliki sejarah penting bagi perjuangan bangsa Indonesia. Masjid ini digunakan sebagai lokasi berkumpulnya para pejuang untuk menyusun strategi melawan penjajah.

Tak hanya itu, Masjid Agung Yogyakarta juga menjadi tempat ibadahnya keluarga kerajaan. Letak masjid ini tidak jauh dari Keraton, tepatnya di sisi barat Alun-alun utara, Jalan Kauman, Gondomanan, Kota Yogyakarta.

Berikut lima fakta Masjid Agung Yogyakarta.

Baca Juga: Masjid Taqwa Sekayu Semarang: Buah Tangan Utusan Sunan Gunung Jati

1. Masjid Gedhe Kauman didirikan pada 1773 M

5 Fakta Masjid Gedhe Kauman Jogja, Saksi Perjuangan Agresi BelandaSejumlah jamaah menanti ibadah sholat Jumat di Masjid Gedhe Kauman. IDN Times/Tunggul Damarjati

Mengutip situs Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY, masjid ini didirikan pada Ahad Wage 29 Mei 1773 Masehi, atau 6 Rabiul Akhir 1187 Hijriah/Alip 1699 Jawa.

Pendirian masjid atas prakarsa Sri Sultan Hamengku Buwono I dan Kiai Fakih Ibrahim Diponingrat selaku penghulu keraton. Sedangkan rancangan bangunan Masjid Gedhe Kauman dikerjakan oleh Kiai Wiryokusumo.

2. Untuk ibadah keluarga raja dan rakyatnya

5 Fakta Masjid Gedhe Kauman Jogja, Saksi Perjuangan Agresi BelandaKegiatan salat Jumat di Masjid Gedhe Kauman. IDN Times/Tunggul Damarjati

Masjid Agung Yogyakarta juga dikenal sebagai Kagungan Dalem Masjid Gedhe Kauman, menjadi bagian tidak terpisahkan dari Kasultanan Yogyakarta. Di mana masjid ini didirikan sebagai tempat beribadah bagi keluarga raja serta rakyatnya.

3. Dua bangunan kembar di depan serambi jadi ciri khas Masjid Gedhe Kauman

5 Fakta Masjid Gedhe Kauman Jogja, Saksi Perjuangan Agresi BelandaMasjid Gedhe Kauman (Dok: dpad.jogjaprov.go.id)

Gaya arsitektur Masjid Gedhe Kauman mengadopsi desain Masjid Demak. Ada empat pilar utama, yang dikenal dengan saka guru dengan atap berbentuk tajug lambang teplok atau bentuk atap bersusun tiga.

Atap masjid menggambarkan tahapan dalam menekuni ilmu tasawuf, yaitu syariat, thareqat, ma’rifat. Selain itu, tiga tingkat pada atap tersebut juga dapat dimaknai sebagai iman, Islam, dan ikhsan.

Masjid Gedhe Kauman juga memiliki 48 pilar di dalam bangunan masjid, sementara atapnya terdiri dari 16 sisi dengan tiga tingkat. Merujuk pada buku yang diterbitkan Embun Kalimasada, Masjid Gedhe Kauman punya ciri khas tersendiri, yakni adanya dua bangunan kembar di depan serambi yang disebut dengan Pagongan, yaitu bangunan yang digunakan untuk menyimpan gamelan yang akan digunakan pada upacara Sekaten memperingati maulid Nabi Muhammad SAW.

4. Terdapat ruang khusus untuk raja

5 Fakta Masjid Gedhe Kauman Jogja, Saksi Perjuangan Agresi BelandaSalat Jumat di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. IDN Times/Tunggul Damarjati

Masjid Gedhe Kauman terdiri dari beberapa bagian. Pertama, mi’rab atau tempat pengimaman. Lalu ada liwan yaitu ruangan luas yang digunakan untuk para jemaah.

Selanjutnya, ada juga serambi yang merupakan bagian luar bangunan, dan tempat wudu. Di dalam Masjid Gedhe juga terdapat ruangan khusus untuk raja ketika hadir di masjid, berada di shaf terdepan, dikenal dengan nama maksura.

5. Digunakan untuk menyusun strategi menghadapi Agresi Belanda hingga perjuangan setelah kemerdekaan

5 Fakta Masjid Gedhe Kauman Jogja, Saksi Perjuangan Agresi Belandajogja.antaranews.com

Pada masa awal sebelum kemerdekaan, serambi Masjid Gedhe Kauman juga berfungsi sebagai pengadilan yang dikenal dengan nama Pengadilan Surambi. Tidak hanya itu, masjid ini juga berperan penting bagi perlawanan bangsa Indonesia dalam mengusir penjajah.

Saat itu, Tentara Rakyat Indonesia bersama para pejuang Asykar Perang Sabil rutin berkumpul di masjid ini, untuk menyusun strategi penyerangan melawan Agresi Militer Belanda. Selanjutnya, para pahlawan yang gugur dimakamkan di sisi barat masjid ini.

Masjid Gedhe Kauman juga menjadi saksi sejarah setelah kemerdekaan. Masjid ini menjadi sarana perjuangan bagi Komponen Angkatan 66 dalam menumbangkan Orde Lama, maupun bagi pejuang reformasi dalam menumbangkan kekuasaan Orde Baru.

Baca Juga: Berusia Hampir 4 Abad, Masjid Tua Tosora Kini Sisakan Puing Sejarah

Topic:

  • Rochmanudin

Berita Terkini Lainnya