Comscore Tracker

Cerita Caleg Muda PKPI Cakra Yudi Hilangkan Budaya Politik Uang

Cakra maju dengan modal tak kurang dari Rp50 juta

Jakarta, IDN Times - Pemilu 2019 telah usai. Kini saat proses rekapitulasi suara dilakukan untuk melihat siapakah caleg yang lolos ke Senayan. Kendati tidak semua caleg lolos ke Senayan, namun sebagian di antara mereka tetap bersemangat.

Seperti caleg millennials bernama Cakra Yuda Putra dari Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), ia tetap bersemangat walau pun partainya diprediksi gagal ke Senayan. Banyak pengalaman yang menjadi pelajaran dari kontestasi politik tahun ini, bagi pemuda 22 tahun itu.

Lalu, bagaimana cerita Cakra saat mengikuti kampanye di Pileg 2019 ini?

1. Memberikan edukasi politik kepada masyarakat

Cerita Caleg Muda PKPI Cakra Yudi Hilangkan Budaya Politik UangInstagram/@cakra_cyp

Pria kelahiran 1996 ini mencalonkan dirinya sebagai caleg di DPR RI dari dapil DKI Jakarta II yang meliputi Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan Luar Negeri. Saat masa kampanye, Cakra menceritakan sedikit pengalamannya ketika bertemu warga di dapilnya.

Setidaknya, Cakra kini mengetahui ternyata masih banyak masyarakat berpola pikir lama, bahwa caleg harus memberikan uang atau sembako saat kampanye. Hal itu dialaminya saat kampanye di dapil.

Melihat fakta tersebut, Cakra pun tergugah untuk mengedukasi masyarakat tentang pendidikan politik tanpa uang. Ia coba melakukan terus menerus kepada masyarakat selama berkampanye.

"Perlahan-lahan saya kasih pemahaman ke mereka kalau misalnya sekarang itu sudah gak zaman lagi money politic, kasih sembako. Selain itu melanggar KPU, itu juga gak mendidik. Karena tugas seorang wakil rakyat itu mendengarkan suara bapak dan ibu. Bukannya bagi-bagi sembako," cerita Cakra kepada IDN Times, baru-baru ini.

Baca Juga: 52 Rumah Sakit di Jateng Siap Layani Caleg Stres

2. Banyak anggota DPR dari dapil DKI Jakarta II yang tak pernah menyapa masyarakat

Cerita Caleg Muda PKPI Cakra Yudi Hilangkan Budaya Politik UangInstagram/@cakra_cyp

Selama mengunjungi 50 titik pada masa kampanye, Cakra menemukan potret bahwa anggota DPR umumnya tidak datang secara rutin ke dapil DKI II. Dia mendengar langsung cerita dari warga yang ia kunjungi.

"Anggota DPR gak pernah ada yang datang. Saya sudah sekitar 50 titik itu selalu saya tanya, pasti selalu gak ada yang datang. Kalau pun datang ya udah gitu-gitu aja, cuma formalitas gitu, bukan secara berkala, secara rutin," ujar dia.

3. Cakra mengaku lebih suka cara kampanye dengan blusukan

Cerita Caleg Muda PKPI Cakra Yudi Hilangkan Budaya Politik UangInstagram/@cakra_cyp

Selama kampanye, Cakra lebih suka blusukan agar dapat bertemu langsung dengan masyarakat. Karena dengan cara tersebut, ia bisa lebih memahami apa yang menjadi masalah masyarakat selama ini dan mencoba mencari solusinya.

Tapi untuk komunikasi dengan millennial, Cakra punya cara sendiri, yani dengan membuka forum diskusi. Tak hanya itu, untuk menggaet anak-anak muda, ia juga memanfaatkan media sosial untuk berkampanye.

"Kalau ketemu millennial saat blusukan, lebih enak sih karena millennial itu lebih haus akan ide. Lain dengan bapak-bapak dan ibu-ibu sudah mikir kebutuhan anak, tapi kalau millennial itu gimana sih biar kita dikembangkan," kata dia.

4. Cakra menghabiskan biaya tak lebih dari Rp50 juta selama kampanye

Cerita Caleg Muda PKPI Cakra Yudi Hilangkan Budaya Politik UangInstagram/@cakra_cyp

Lantas, berapa kira-kira biaya yang telah dihabiskan Cakra selama masa kampanye? Ternyata, Cakra hanya menghabiskan biaya tak lebih dari Rp50 juta. Bahkan, saat blusukan, ia hampir tidak pernah mengeluarkan biaya, karena dia hanya menyusuri perkampungan warga.

"Paling, sometimes, nyediain konsumsi segala macam itu gak, wasting money banget. Paling untuk Alat Peraga Kampanye (APK), kaos, spanduk, gitu, ada sponsor. Ada dari partai juga ngebantu," ujar Cakra.

Menurut Cakra, besar atau kecilnya biaya yang dikeluarkan seorang caleg tergantung dari dapil masing-masing. Apabila dapil caleg tersebut berada di luar ibu kota, tentu akan menghabiskan biaya lebih banyak dibandingkan yang berada di dalam ibu kota.

"Kalau dapilnya di luar kota kan kadang 100 meter baru nemu satu rumah, tergantung. Kalau ada yang sampai ratusan juta atau miliaran, kita harus lihat dulu dapil nya, metode kampanyenya seperti apa," kata dia.

5. Cakra ingin tetap berkontribusi kepada masyarakat jika gagal ke Senayan

Cerita Caleg Muda PKPI Cakra Yudi Hilangkan Budaya Politik UangInstagram/@cakra_cyp

Dalam sebuah kontestasi politik memang harus siap menang dan kalah. Cakra pun sudah siap akan hal itu. Walau pun nantinya gagal, ia tetap bersemangat untuk berkontribusi kepada masyarakat. Baik  melalui jalur partai atau non-partai.

"Saya ke politik juga bukan untuk gaya-gayaan, bukan untuk jabatan, tapi emang pure ingin mengubah sistem, supaya masyarakat bisa merasakan dampak sosial dari politik itu sendiri," kata Cakra.

"Makannya kalau gak lolos ke Senayan, mau kolaborasi sama millennials, lewat partai atau non. Kita gerak aja," kata Cakra, menambahkan.

Baca Juga: 52 Rumah Sakit di Jateng Siap Layani Caleg Stres

Topic:

  • Teatrika Handiko Putri
  • Rochmanudin

Just For You