Comscore Tracker

Cerita Peserta KLB Demokrat di Sumut: Diimingi Uang Rp100 Juta

Nyatanya peserta KLB hanya diberi Rp10 juta

Jakarta, IDN Times - Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memberikan testimoni salah satu peserta Kongres Luar Biasa (KLB) yang digelar di Deli Serdang, Sumatra Utara, 5 Maret 2020.

Dalam keterangan persnya, AHY menayangkan sebuah video dari mantan Wakil Ketua DPC Partai Demokrat Kota Kotamobagu Gerald Piter Runtuthomas, yang menceritakan kejadian KLB di Sumut tersebut.

Dalam tayangan video yang disiarkan langsung di kanal YouTube Agus Yudhoyono, Gerald mengaku mendapatkan undangan melalui salah kader Demokrat yang sudah dinonaktifkan, yaitu Vecky Gandey.

"Pada 18 Februari, dia mengajak saya melalui WhatsApp untuk ikut kongres. Dan disampaikan oleh Pak Vecky, mengikuti kongres ini untuk memilih ketua umum baru yaitu Pak Moeldoko (Kepala Staf Kantor Presiden)," kata Gerald, Senin, 8 Maret 2021.

Baca Juga: Kemenkumham Cek 5 Kontainer Legalitas Partai Demokrat yang Dikirim AHY

1. Peserta KLB mendapatkan uang Rp100 juta

Cerita Peserta KLB Demokrat di Sumut: Diimingi Uang Rp100 JutaSalah satu peserta KLB di Deli Serdang, Sumatra Utara (YouTube/Agusyudhoyono)

Setelah mendapatkan ajakan tersebut, Gerald mengaku awalnya menolak. Lalu, ia menghubungi Ketua DPC terkait undangan tersebut, dan telah diperingatkan bahwa itu adalah KLB ilegal.

Selang beberapa hari, Gerald kembali mendapatkan ajakan dari Vecky untuk bergabung di KLB. Namun, kali ini, Vecky mengiming-imingi uang Rp100 juta kepada Gerald apabila ia hadir dalam KLB.

"Pertama, kalau saya tiba di lokasi akan mendapatkan 25 persen dari Rp100 juta, yaitu Rp25 juta. Selesai KLB akan mendapatkan sisanya Rp75 juta. Tapi nyatanya kita hanya mendapat Rp5 juta," ucap Gerald.

Karena hanya mendapatkan Rp5 juta saja, Gerald dan teman-temannya sempat protes. Akhirnya, kata dia, Nazarudin memberikan mereka tambahan lagi uang sebesar Rp5 juta.

"Pada akhirnya saya dapat Rp5 juta dari KLB. Kami memberontak karena tidak sesuai harapan, tiba-tiba dipanggil dan ditambahi Rp5 juta dari M Nazarudin. Total kita dapat uang Rp10 juta," ungkap Gerald.

2. Peserta KLB Deli Serdang mengakui pemilihan Moeldoko sebagai ketua secara voting

Cerita Peserta KLB Demokrat di Sumut: Diimingi Uang Rp100 JutaKepala Staf Kepresidenan Moeldoko (Dok. KSP)

Gerald juga menjelaskan terkait jalannya KLB. Menurutnya, di KLB terdapat dua nama yang dicalonkan sebagai ketua umum Demokrat, yaitu Moeldoko dan Marzukie Alie (eks Sekjen Partai Demokrat) dan dipilih secara voting. Namun, tiba-tiba Moeldoko yang dipilih sebagai ketua umum.

"Setelah dapat dua nama untuk calon ketum, Pak Jhonie Allen langsung teriak yang mendukung Pak Moeldoko mana, semua berdiri tangan ke atas. Siapa yang memilih Pak Marzukie Alie, lalu berdiri," cerita Gerald.

"Tiba-tiba Pak Jhonie Allen ketok palu yang terpilih dalam KLB ini adalah Pak Moeldoko. Sementara, Pak Moeldoko tidak ada di tempat KLB. Hanya Pak Marzukie Alie," lanjutnya.

3. Moeldoko disebut-sebut telah memiliki KTA Partai Demokrat

Cerita Peserta KLB Demokrat di Sumut: Diimingi Uang Rp100 JutaKepala Staf Presiden, Moeldoko (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

Selain itu, Gerald juga mempertanyakan Kartu Tanda Anggota (KTA) Partai Demokrat yang dimiliki Moeldoko. Sebab, di dalam KLB disebutkan bahwa mantan Panglima TNI tersebut telah memiliki KTA.

"Yang jadi pertanyaan saya, ini Pak Moeldoko ditetapkan sebagai anggota saat KLB dan sudah mempunyai KTA. Sekarang, KTA Pak Moeldoko ini siapa yang tanda tangan? Kan harus ditanda tangan ketum. KTA-nya mana? Nomor KTA-nya tidak ada. Terus dipilih sebagai ketum. Kan aneh," ucap dia.

4. Dalam KLB hak suara hanya dimiliki 32 DPC

Cerita Peserta KLB Demokrat di Sumut: Diimingi Uang Rp100 JutaKonferensi Pers Ketua Umum Partai Demokrat AHY, mengenai Respon atas Pelaksanaan KLB Ilegal (Youtube.com/Agus Yudhoyono)

Selain itu, Gerald juga menceritakan bahwa peserta KLB yang hadir tidak ada registrasi sama sekali. Sehingga, siapa pun bisa bebas masuk ke dalam acara. Peserta hanya diberikan absen oleh masing-masing koordinator daerah.

Gerald juga membeberkan, dalam KLB tersebut yang punya hak suara hanya 32 DPC dari 412 peserta. Sementara, syarat memilih ketua umum dalam KLB adalah 2/3 suara sah ketua DPD dan 1/2 suara sah ketua DPC.

"Jadi 412 peserta ini yang sah itu 32 DPC, yang sisanya ini suara hantu. Saya hadir dalam kongres tersebut kapasitas sebagai wakil ketua. Tidak ada hak suara, tapi dimasukan untuk melengkapi administrasi sebagai hak suara," ungkap dia.

5. Peserta KLB mengaku diminta tiga kali menandatangani surat pernyataan

Cerita Peserta KLB Demokrat di Sumut: Diimingi Uang Rp100 JutaKetua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengepalkan tangannya sesaat sebelum menyampaikan keterangan kepada wartawan usai rapat dengan Ketua DPD Partai Demokrat se-Indonesia terkait Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat, Jakarta, Minggu (7/3/2021). Dari hasil rapat tersebut seluruh Ketua DPD Demokrat di 34 Provinsi menolak KLB yang berlangsung di Deli Serdang, Sumatera Utara dan tetap mendukung AHY sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah

Gerald juga mengaku, dalam KLB Deli Serdang dia diminta menandatangani surat pernyataan hingga tiga kali. Surat pernyataan tersebut berisi dukungan penuh terhadap Moeldoko menjadi ketua umum Demokrat.

"Kita ikut kongres dikasih lagi surat kedua yang isinya membatalkan pernyataan pertama bahwa tidak mendukung Pak Moeldoko. Lalu muncul lagi, mendukung penuh Moeldoko. Tiga kali saya tanda tangan surat," tutur dia.

Baca Juga: Solid Dukung AHY, Demokrat Surabaya: KLB Deli Serdang Tidak Sah!

Topic:

  • Rochmanudin

Berita Terkini Lainnya