Comscore Tracker

Fadjroel Bantah Pemerintah Pakai Buzzer untuk Hadapi Kritik 

Fadjroel sebut masyarakat harus belajar mengkritik

Jakarta, IDN Times - Juru Bicara Presiden Joko "Jokowi" Widodo, Fadjroel Rachman mengatakan, pemerintah menerima kritikan dari masyarakat. Ia bahkan mengaku, pemerintah tak pernah menggunakan buzzer di media sosial untuk menyerang para pengkritiknya.

"Pemerintah tidak pernah takut kritik. Kritik itu jantung demokrasi," ujar Fadjroel saat dihubungi IDN Times, Kamis (11/2/2021).

 

 

1. Fadjroel akui media sosialnya juga sering diserang buzzer

Fadjroel Bantah Pemerintah Pakai Buzzer untuk Hadapi Kritik IDN Times/Teatrika Handiko Putri

Fadjroel membantah pemerintah menggunakan buzzer. Sebab, ia mengaku juga kerap diserang buzzer di media sosialnya.

"Pemerintah tidak punya buzzer. Media sosial saya juga 24 jam diserang buzzer, pakai fitur blok saja ya beres," kata pria berusia 57 tahun itu.

2. Influencer yang dibayar Kemenparekraf adalah resmi dan legal

Fadjroel Bantah Pemerintah Pakai Buzzer untuk Hadapi Kritik IDN Times/Daruwaskita

Fadjroel menyampaikan, influencer atau manajemen iklan terkait COVID-19 dan vaksinasi menyosialisasikan secara cuma-cuma dan gratis. Hal itu, kata dia, sebagai bentuk gotong-royong dalam menangani pandemik virus corona.

Sementara, untuk influencer yang digunakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, lanjutnya, adalah influencer resmi. Mereka direkrut Kemenparekraf guna meningkatkan pariwisata di Indonesia.

"Kalau influencer yang digunakan kemenparekraf itu resmi dan legal untuk branding dan awareness, ini websitenya www.lpse.kemenparekraf.go.id," tutur Fadjroel.

Baca Juga: Gegara UU ITE, Masyarakat Ogah Kritik Pemerintah

3. Fadjroel minta masyarakat belajar mengkritik dan pelajari UU ITE

Fadjroel Bantah Pemerintah Pakai Buzzer untuk Hadapi Kritik Ilustrasi Provokator (IDN Times/Mardya Shakti)

Terkait kritik kepada pemerintah, tak sedikit yang mulai 'ogah' melakukan hal itu karena adanya Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Maklum,  produk hukum itu kerap digunakan pemerintah membungkam kritik di dunia maya.

Menanggapi hal itu, Fadjroel meminta masyarakat untuk belajar mengkritik pemerintah dari pers. Mereka juga diminta untuk mempelajari lagi UU ITE itu.

"Sebelum mengkritik, belajar cara mengkritik dari pers dan pelajari UU ITE. Tugas pers mendidik rakyat," ucap pria lulusan FISIP UI ini.

4. Istana minta masyarakat kritik pedas dan keras pemerintah

Fadjroel Bantah Pemerintah Pakai Buzzer untuk Hadapi Kritik Presiden Jokowi menggelar rapat terbatas di Istana Bogor, Jumat (29/1/2021) (Dok. Biro Pers Kepresidenan)

Presiden Joko “Jokowi” Widodo meminta masyarakat untuk lebih aktif menyampaikan kritik serta masukan terhadap kinerja pemerintah. Menurut Jokowi, hal itu penting agar penyelenggara pemerintahan dapat memperbaiki kinerjanya.
 
“Masyarakat harus aktif menyampaikan kritik, masukan, atau potensi maladministrasi. Dan para penyelenggara layanan publik juga harus terus meningkatkan upaya-upaya perbaikan,” kata Jokowi dalam peluncuran Laporan Tahunan Ombudsman RI yang diatangkan melalui YouTube Ombudsman, Senin, 8 Februari 2021.
 
Kemudian, Selasa, 9 Februari 2021 di tengah perayaan Hari Pers Nasional, Sekretaris Kabinet Pramono Anung juga meminta agar media terus menyampaikan kritik pedas kepada istana. Ia menilai, kritik ibarat jamu untuk demokrasi yang lebih baik.
 
“Kita memerlukan kritik yang terbuka, pedas, dan kritik yang keras. Karena dengan kritik itulah pemerintah akan membangun dengan lebih terarah dan benar,” kata politikus Partai Demorkasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu.

Baca Juga: Jokowi Dorong Publik Lebih Aktif Sampaikan Kritik, YLBHI: Ironi!

Topic:

  • Ilyas Listianto Mujib
  • Dwifantya Aquina

Berita Terkini Lainnya