Comscore Tracker

[Wawancara] Jejak Fahri Hamzah, si Pengantin Baru di Reformasi 1998 

Fahri Hamzah harus melewatkan bulan madu pada Mei 1998

Jakarta, IDN Times - Masa pelengseran Presiden Soeharto 21 tahun silam cukup membuat pedih Indonesia. Masyarakat saat ini mengenalnya dengan sebutan "Tragedi Mei 1998". Kala itu, ribuan mahasiswa melakukan demonstrasi untuk menurunkan Presiden Soeharto.

Di antara banyaknya organisasi mahasiswa yang ikut dalam demonstrasi, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) menjadi salah satu yang tergabung dalam aksi. Dan, Fahri Hamzah kala itu menjadi Ketua Umum KAMMI yang pertama.

Masa-masa tersebut bagi Fahri, sebagaimana mahasiswa lain, adalah masa penuh perjuangan dan patut dikenang.

Kepada IDN Times, Fahri secara eksklusif membuka kembali memorinya dan menceritakan kisahnya sebagai salah satu pelopor dari aksi Mei 1998. Mengenakan batik, Fahri mengisahkan lagi pengalamannya 1998 silam.

"Bang Fahri, tolong ceritakan sedikit soal peran abang di KAMMI dan cerita soal Mei 1998 ya bang," IDN Times membuka pembicaraan dengan Fahri.

Fahri menekuk tangannya ke depan. Menggunakan peci hitam khasnya, ia pun menjawab ramah, "boleh...."

Kemudian, ia mengambil napas sejenak, dan mulai mengupas kembali ingatannya tentang tragedi Mei 1998.

1. Fahri menjadi Ketua KAMMI yang pertama

[Wawancara] Jejak Fahri Hamzah, si Pengantin Baru  di Reformasi 1998 IDN Times/Kevin Handoko

Fahri memulai kisahnya. Ia menceritakan tentang awal mula terbentuknya organisasi yang dinaunginya. Fahri mengatakan, KAMMI terbentuk pada 29 Maret 1998. KAMMI adalah organisasi ekstra kampus dan sumber jaringannya disebut forum silahturahmi dakwah kampus. 

"Waktu itu di Malang dalam pertemuan KAMMI, saya didaulat oleh teman-teman untuk menjadi ketua umum yang pertama dan sekaligus sebagai pendiri," cerita Fahri mengingat kembali masa di mana dirinya diangkat menjadi Ketua Umum KAMMI yang pertama.

Baca juga: Kronologi Reformasi Mei 1998, Terjungkalnya Kekuasaan Soeharto

Ketika tragedi Mei 1998, lanjutnya, tuntutan mahasiswa sudah cukup memuncak, sehingga mahasiswa menginginkan sesuatu yang lebih konkret.

"Nah seruannya waktu itu adalah reformasi. Tapi kata reformasi itu semakin bermakna meminta Pak Harto mengundurkan diri," ujar Fahri.

2. Fahri berperan jalin komunikasi dengan elite di pemerintahan maupun di luar pemerintah

[Wawancara] Jejak Fahri Hamzah, si Pengantin Baru  di Reformasi 1998 IDN Times/Kevin Handoko

Cerita Fahri berlanjut ketika ia mengingat perannya di masa itu. Fahri bercerita, peranannya saat reformasi ada dua, yaitu berkomunikasi dengan elite Indonesia, baik yang berada di pemerintahan maupun di luar pemerintahan.

"Di dalam pemerintahan, saya berkomunikasi dengan Pak Syarwan Hamid, waktu itu dari Fraksi TNI di MPR, lalu juga termasuk dengan orang seperti Pak Prabowo saya juga berkomunikasi. Kemudian juga dengan beberapa pejabat," kata Fahri.

Fahri melanjutkan, selain berkomunikasi dengan elite pemerintahan, ia juga berkomunikasi dengan elite-elite luar pemerintahan seperti Amien Rais, salah satu tokoh inti dalam reformasi. Bukan hanya elite, kala itu Fahri juga mempunyai tugas untuk berkomunikasi dengan jaringan massa dan juga para mahasiswa.

"Dari lintas organisasi dan kita terus menerus menghangatkan suasana, turun ke jalan, dan mencapai puncaknya ketika kami mau menyelenggarakan 20 Mei Hari Kebangkitan Nasional di Monas," lanjutnya.

3. Aksi di Monas dibatalkan karena telah diblokade oleh militer

[Wawancara] Jejak Fahri Hamzah, si Pengantin Baru  di Reformasi 1998 Capture Buku Politik Huru Hara Mei 1998

Malam itu, di tanggal 19 Mei, Fahri, Amien Rais dan juga AM Fatwa tengah mengumpulkan strategi jelang aksi demonstrasi para mahasiswa, pada 20 Mei 1998, di Monas. Fahri mengatakan, dirinya dan kedua orang tersebut, melakukan survei di sekitar Monas untuk melancarkan aksi. Namun yang terjadi, sekitar Monas telah ditutupi oleh blokade dari tentara. Seolah-olah kawasan itu harus steril dari ribuan mahasiswa yang akan melakukan aksi demo.

"Kami mencurigai waktu itu, juga Pak Amien yang dikontak oleh beberapa pejabat militer, mengatakan bahwa bisa-bisa terjadi pertumpahan darah juga gitu," ujar Fahri.

Setelah Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998, tentunya menjadi pukulan tersendiri bagi para mahasiswa yang akan menggelar aksi demo. Sehingga, mereka pun berpikir dua kali agar tak lagi terjadi pertumpahan darah di Monas.

"Akhirnya, dibatalkanlah peristiwa 20 Hari Kebangkitan Nasional. Lalu ada remobilisasi dari Monas ke Gedung DPR," kata dia.

4. Rumah Fahri sempat dijadikan markas menjelang aksi di DPR

[Wawancara] Jejak Fahri Hamzah, si Pengantin Baru  di Reformasi 1998 Capture Buku Politik Huru Hara Mei 1998

Usaha para mahasiswa untuk melengserkan Presiden Soeharto tak berhenti walau banyak rintangan. Fahri mengenang, ketika itu para organisasi mahasiswa sampai membuat banyak pos untuk bisa saling berkomunikasi. Bahkan, rumah Fahri pun sempat dijadikan markas para elite organisasi mahasiswa. 

Uniknya, saat Tragedi Mei 1998, Fahri merupakan pengantin baru. Ia tinggal bersama istrinya yang seorang dokter. Namun, impian indahnya hidup sebagai pengantin baru belum bisa dirasakan.

Ia memiliki tanggung jawab cukup besar dalam aksi tersebut. Fahri harus rela berbagi rumah dengan mahasiswa lainnya, sehingga istrinya harus tinggal sementara di rumah orangtuanya.

"Kami baru menikah sebenarnya. Istri saya itu koas yang jaga malam. Suatu hari, pulang jaga malam, kos-kosan saya itu penuh dengan mahasiswa. Termasuk di kamar tidur saya. Hahaha...." kata Fahri tertawa mengingat masa-masa itu.

"Istri saya kan capek, semalam gak tidur kan. Akhirnya dia pamit pulang ke rumah orangtuanya. Dan sejak itu, rumah menjadi markas," lanjut Fahri.

Selain di rumahnya, ada beberapa markas yang berdiri di tempat-tempat lain. Salah satunya rumah Malik Fadjar juga menjadi markas mahasiswa. Tugas Fahri waktu itu adalah berkomunikasi dengan pos-pos tersebut. Elite dari PP Muhammadiyah-lah yang paling aktif berkomunikasi dengannya.

Melalui pos-pos itulah, nantinya setiap wilayah bisa berkomunikasi satu sama lain. Karena di masa itu belum ada telepon genggam, sehingga para mahasiswa berkomunikasi satu sama lain melalui pager.

"Jadi wilayah komunikasi yang saya katakan tadi, berkomunikasi dengan elite dan massa adalah yang saya lakoni sehari-hari," jelas Fahri.

Bahkan, kala itu Fahri sampai tidak pernah pulang seminggu ke rumahnya, berkendara naik motor, pindah dari satu pos ke pos lainnya karena harus berkomunikasi dengan elite dan massa.

5. Fahri dan Amien Rais berkeliling menggunakan ambulans

[Wawancara] Jejak Fahri Hamzah, si Pengantin Baru  di Reformasi 1998 IDN Times/Sukma Shakti

Cerita unik Fahri lainnya ketika berjuang dalam aksi Mei 1998, ia harus berkeliling naik ambulans bersama Amien Rais. Fahri mengatakan, setelah kerusuhan dan peristiwa Trisakti yang terjadi, di depan gang rumah masyarakat sudah dipasang barikade. Sehingga, kalau mengambil jalan pintas, maka akan dihadang oleh masyarakat.

Pemikiran Fahri dan Amien kala itu, jika menggunakan ambulans, tentunya akan lebih aman berkeliling mengunjungi pos satu ke pos lainnya. Karena memang tidak ada orang yang bisa menghentikan ambulans.

"Kalau dengan Pak Amien itu saya naik ambulans. Kenapa? Karena ambulans itu gak bisa dilarang orang kan. Jadi ada rumah sakit Islam di Cempaka Putih itu, memberikan satu mobil ambulans kepada Pak Amien," ungkapnya.

Mendapatkan ambulans dari salah satu rumah sakit, akhirnya itulah yang menjadi modal transportasi kegiatan Fahri dan Amien untuk berkeliling. Karena kalau tidak menggunakan ambulans, Fahri yakin dirinya pasti akan dihadang orang.

6. Fahri tak menyangka Soeharto akan jatuh secepat itu
[Wawancara] Jejak Fahri Hamzah, si Pengantin Baru  di Reformasi 1998 Capture Buku Politik Huru Hara Mei 1998

Di hari mundurnya Presiden Soeharto, Gedung DPR sudah dipenuhi oleh ribuan mahasiswa. Tugas Fahri waktu itu adalah berkomunikasi dengan para tokoh. Ketika paginya Presiden Soeharto telah mengundurkan diri, Fahri datang bersama Amien ke Gedung DPR. Suasana kala itu sangat macet di sekitaran Gedung DPR. Fahri dan Amien sudah tak lagi menggunakan ambulans sebagai transportasi.

Setelah Presiden Soeharto menyatakan mundur, Fahri, Amien, Hariman Siregar, dan ketua-ketua lainnya saling bertemu di Gedung DPR untuk berkomunikasi dengan para tokoh. 

"Saat saya masuk teman-teman sudah siap. Lalu saya masuk bersama Pak Amien, menonton atraksi di sini begitu banyak teman-teman mahasiswa," kata Fahri.

"Macet dari sana (depan DPR). Kebetulan bukan ambulans yang masuk, karena kami tahu, kami akan ke sini. Saya dengan Pak Amien itu bareng-bareng ke sini," sambung dia.

Fahri sendiri tak pernah menyangka jika Presiden Soeharto akan jatuh secepat itu. Selama 32 tahun berkuasa, menurutnya, Presiden Soeharto sangat kuat untuk bisa dijatuhkan. Ia pun berpikir bahwa perang mahasiswa dan Soeharto akan berjalan sangat lama, terutama jika memikirkan satu periode saja.

"Gak kebayang, mana bisa? Orang Pak Harto lagi kuat-kuatnya. Pak Harto itu kuat. Cuma memang ya ada hal-hal yang kita gak tahu. Begitu cepat dia menyerah, termasuk satu keajaiban," tutur Fahri.

"Begitu dia pulang dari Mesir, dia menyatakan mundur. Luar biasa itu," tambah dia.

7. Karakter aktivis Fahri telah terbentuk sejak SMP

[Wawancara] Jejak Fahri Hamzah, si Pengantin Baru  di Reformasi 1998 IDN Times/Sukma Shakti

Setelah reformasi, Fahri pun akhirnya bergabung dalam politik. Ia mengaku jika karakter aktivis telah tumbuh dalam dirinya sejak SMP. Di SMP, ia sudah mulai aktif ikut organisasi. Saat di sekolah menengah pertama, ia tergabung dalam pelajar Muhammadiyah. Begitu juga hingga SMA, ia masih aktif bergabung di pelajar Muhammadiyah.

Gelora aktivisnya kemudian terus dibangun hingga di bangku kuliah. Bahkan ia sudah mulai ikut aksi demo ketika kuliah.

"Kuliah saya dulu itu waktu di Mataram sebentar, saya sudah demo di Mataram itu. Lalu kemudian, begitu di UI, saya mulai aktif," jelas Fahri.

Setelah rezim Orde Baru berakhir dan bersamaan dimulainya era Reformasi pada 1999, Fahri mulai aktif menjadi staf ahli MPR hingga 2002. Usai 2 tahun menjadi staf ahli, karier politik Fahri semakin naik ketika ia bergabung di Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada Pemilu 2004.

Ia pun terpilih sebagai anggota DPR Dapil NTB. Karier politiknya terus menanjak ketika Fahri selama tiga periode selalu terpilih menjadi anggota DPR RI Fraksi PKS. Puncaknya, di Pemilu 2014, ia terpilih menjadi Wakil Ketua DPR RI periode 2014-2019.

Baca juga: [Wawancara Eksklusif] Aktivis Hendro Cahyono Blak-Blakan Soal Dalang Kerusuhan 1998

 

Topic:

  • Sunariyah
  • Dwi Agustiar

Just For You