Comscore Tracker

Luhut VS COVID-19: Menang atau Tumbang?

Grafik kasus COVID-19 belum menunjukkan penurunan

Jakarta, IDN Times - Presiden Joko "Jokowi" Widodo menunjuk Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan untuk menurunkan kasus COVID-19 di sembilan provinsi dengan jumlah kasus tinggi, dalam waktu dua pekan.

Kesembilan provinsi tersebut antara lain DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Papua, dan Bali.

Orang nomor satu di Indonesia itu memerintahkan Luhut untuk menurunkan kasus dalam waktu dua pekan. Alih-alih kasus menurun, masyarakat yang terinfeksi virus corona setiap hari justru semakin bertambah. Bahkan, penambahan kasus harian COVID-19 kini hampir menembus angka 5 ribu.

Apakah penunjukkan Luhut sudah tepat? Dalam keterangan pers pada Jumat, 18 September 2020, menteri yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) itu menyebut tidak ada hal istimewa dalam penunjukan dirinya oleh Presiden. Dia justru membanggakan diri.

"Tidak ada hal istimewa yang saya lakukan. Saya boleh mengklaim saya manajer yang baik," ucap Luhut dalam konferensi pers virtual, Jumat, 18 September 2020.

Luhut mengklaim dirinya sebagai manajer yang baik karena memiliki tim hebat yang ahli di bidangnya masing-masing. Ia menyebut dirinya memiliki beberapa pegawai lulusan Universitas Harvard.

"Kalau ada yang bilang saya bukan epidemiolog, memang saya bukan epidemiolog. Namun saya dibantu orang-orang hebat,” kata Luhut, menambahkan.

Baca Juga: [LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di Dunia

1. Klaim Luhut yang menemukan formula untuk penanganan COVID-19 di Indonesia

Luhut VS COVID-19: Menang atau Tumbang?Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. (Dok. Kemenko Marves)

Dalam acara Mata Najwa, Luhut yang hadir sebagai narasumber menyebut tentang strateginya melawan COVID-19. Dia mengklaim telah menemukan sebuah formula untuk menangani pandemik di Tanah Air. Bahkan, dia mengatakan, hasil formula tersebut bisa terlihat dalam kurun sepekan.

"Sekarang kita mulai mengerjakannya, dan mulai satu minggu sampai 10 hari ke depan kelihatan hasilnya. Tentu tidak spektakuler, kita maintain dengan baik," kata Luhut dalam acara Mata Najwa yang disiarkan Trans7, Rabu malam, 23 September 2020.

Luhut menyebut tiga bulan terakhir pada 2020 merupakan masa-masa krisis penanganan COVID-19. Untuk itu, ia berharap formula yang ia pakai ampuh mengoptimalkan penanganan pandemik di tanah air.

"Dalam tiga bulan ke depan, dalam masa krisis, kita bisa lewati dengan baik sampai nanti vaksin ditemukan," kata dia.

Pada kesempatan ini, Luhut juga menyampaikan soal penunjukan dirinya merupakan hal biasa. Ia mengaku hingga kini masih melaporkan hasil penanganan COVID-19 kepada menteri koordinator lainnya.

"Kami setiap minggu rapat dengan Menko, saya lapor apa yang sudah saya lakukan, tidak ada yang aneh, tidak ada organisasi baru. Hanya kita lebih fokus melihat (penanganan pandemik) ini," tutur dia.

Luhut juga menegaskan, publik sah-sah saja membuat pandangan apa pun terkait pengangkatannya dalam penanganan pandemik COVID-19. Dia mengaku hanya mengerjakan tugas yang diamanatkan presiden.

"Bebas saja persepsi orang. Saya pikir selama ini (apa yang) diperintahkan presiden, tidak ada yang tidak bisa saya selesaikan," kata dia.

Mengutip omongan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Donny Gahral Adian bahwa Jokowi selalu memilih Luhut untuk mengatasi hal-hala besar, karena selama ini jenderal purnawirawan itu memang dipercaya presiden karena mampu mengeksekusi semua tugasnya. 

Donny menyebutkan secara keorganisasian, Luhut memang memiliki tupoksi untuk diberikan tugas menangani sembilan provinsi tersebut. Sehingga dia masih memiliki kewenangan.

"Beliau juga secara keorganisasian secara tupoksi memiliki wewenang untuk melakukan apapun yang diperlukan untuk menekan angka positif," ucap Donny saat dihubungi, Rabu, 16 September 2020.

"Saya kira penugasan ini biasa saja. Presiden ingin menugaskan sosok yang yang menurut beliau mampu melakukan atau mampu mengeksekusi arahan-arahan beliau, khususnya dalam penanganan COVID-19," tegas Donny.

Menurut Donny, kepercayaan yang diberikan Jokowi kepada menterinya tentu sesuai dengan kapasitas masing-masing yang dimiliki. "Saya kira kepercayaan terhadap Pak Luhut ini diberikan sesuai dengan kapasitas masing-masing, sesuai dengan resources yang mereka miliki, untuk bisa segera menurunkan kasus COVID di 9 provinsi tersebut," tutur dia.

2. Luhut siapkan delapan strategi untuk menangani kasus COVID-19 di sembilan provinsi

Luhut VS COVID-19: Menang atau Tumbang?Presiden Joko Widodo (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)

Luhut memiliki target-target yang harus ia capai untuk menangani kasus virus corona di sembilan provinsi. Selama dua minggu, dia diberi tiga target, antara lain menurunkan kasus harian, meningkatkan angka kesembuhan, dan menurunkan angka kematian.

"Diminta oleh presiden agar target ini dapat dicapai dalam waktu dua minggu ke depan," ujar Juru Bicara Satgas COVID-19 Wiku Adisasmito dalam keterangan pers yang disiarkan langsung di channel YouTube Sekretariat Presiden, Kamis, 17 September 2020.

Bagi Luhut penanganan COVID-19 ini ibarat seni. Istilah itu ia pakai lantaran pemerintah harus menyeimbangkan antara sektor kesehatan dan sektor ekonomi.

"Ini seperti seni, gimana kita memelihara keseimbangan antara penanganan COVID-19 dan ekonomi, sekaligus menunggu masa kritikal dengan vaksin dan obat," kata Luhut dalam konferensi pers virtual, Jumat, 18 September 2020.

Luhut mengakui saat pemerintah membuka sektor perekonomian, jumlah kasus COVID-19 di Indonesia meningkat. Masyarakat yang tidak disiplin dan belum adanya vaksin membuat pemerintah memberlakukan pengetatan protokol kesehatan lagi.

"Kita tidak disiplin sehingga angka kematian dan infeksi meningkat. Sekarang kita ketatkan lagi," ucap dia.

Dalam waktu dua pekan, Luhut juga bertugas mendorong perubahan perilaku masyarakat yang lebih disiplin melaksanakan protokol kesehatan. Tugas kedua menurunkan angka kasus harian. Tugas ketiga, meningkatkan recovery rate.

"Keempat, penurunan mortality rate dan kelima penurunan mortality cases," ucap Luhut.

Adapun strategi-strategi Luhut dalam penanganan COVID-19 meliputi:

1. Operasi Yustisi

Operasi yustisi merupakan operasi di mana pemerintah mengerahkan TNI-Polri, hingga organisasi masyarakat untuk memastikan masyarakat disiplin terapkan protokol kesehatan.

2. Fokus di sembilan provinsi

Penanganan COVID-19 selama dua pekan ini akan fokus kepada sembilan provinsi prioritas yang telah ditentukan pemerintah.

3. Perbaikan tata kelola ruang ICU

Pemerintah akan meminta rumah sakit rujukan untuk memperbaiki tata kelola di ruang ICU. Sebab angka kematian paling tinggi justru berada di ruang perawatan intensif.

4. Pembatasan wisatawan di Bali selama dua pekan

Meningkatnya kasus COVID-19 di Bali, membuat pemerintah harus mengambil keputusan untuk membatasi wisatawan masuk ke Pulau Dewata itu selama dua minggu ini. Pembatasan tersebut dilakukan untuk mengurangi kasus di Bali.

5. Tambahan lokasi karantina dan hotel untuk isolasi mandiri

Pemerintah sejak beberapa minggu lalu sudah mengusahakan untuk menambah lokasi isolasi mandiri bagi pasien COVID-19 yang bergejala ringan dan tak bergejala. Selain itu, pemerintah juga sudah bekerja sama dengan grup-grup hotel seperti Yello Hotel, Ibis Hotel, Pop! Hotel, Mercure Hotel, dan Novotel untuk isolasi mandiri.

6. Sinkronisasi data pusat dan daerah

Selama dua pekan ini, pemerintah akan memastikan bahwa data pusat dan pemerintah daerah tak akan berbeda. Sebab, masih ada beberapa daerah yang datanya berbeda dengan pusat.

7. Melakukan lobi-lobi vaksin COVID-19

Agenda prioritas pemerintah ke depannya juga terus melakukan lobi-lobi vaksin. Luhut menyebut akan melobi Uni Emirat Arab untuk mendapatkan tambahan 10 juta vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan G42.

8. Imunisasi vaksin untuk tenaga medis

Tenaga medis menjadi benteng terakhir dalam penanganan COVID-19 ini. Luhut pun menjanjikan bahwa kelompok pertama yang akan mendapatkan vaksin terlebih dahulu adalah para tenaga medis.

3. Selama Luhut menangani COVID-19 dua pekan, penambahan kasus justru pecah rekor

Luhut VS COVID-19: Menang atau Tumbang?Arief Rahmat

Selama dua pekan penunjukkan Luhut, publik terus menunggu apakah akan membuahkan hasil atau tidak. Banyak pihak yang menyebut mustahil rasanya kasus yang sudah menyebar itu bisa turun hanya dalam dua pekan.

Jika melihat tren perkembangan kasus COVID-19 di Indonesia, setiap harinya memang selalu ada penambahan kasus. Bahkan, selama dua minggu Luhut diberi tugas menurunkan kasus, angka penurunan tak kunjung terlihat.

Bahkan, penambahan kasus harian COVID-19 mencetak rekor. Misalnya pada 25 September 2020, beberapa hari sebelum masuk dua minggu penunjukkan Luhut. Pada hari itu, dalam waktu 24 jam kasus di Indonesia bertambah 4.823 kasus dan menjadi hari dengan kasus harian terbanyak selama pandemik COVID-19.

Tepat sepekan setelah penunjukkan Luhut, kasus virus corona per 21 September 2020, justru membuat rekor baru. Kasus harian bertambah sebanyak 4.176 kasus, sehingga total kasus di Indonesia mencapai 248.852 kasus.

Sementara, berdasarkan wilayah, DKI Jakarta mencatat penambahan tertinggi kasus COVID-19 yakni sebanyak 1.352. Diikuti Jawa Barat (680), Jawa Timur (368), Jawa Tengah (238), dan Sumatra Barat (181).

Satgas COVID-19 juga melaporkan, per Senin 21 September 2020, tercatat 124 orang meninggal dunia akibat COVID-19. Total orang yang dimakamkan karena virus corona menjadi 9.677 atau 3,8 persen dari 248.852 kasus COVID-19 di Tanah Air.

Pada hari itu, DKI Jakarta juga menjadi provinsi dengan kasus kematian terbanyak, yaitu 29 kasus. Sehingga total kematian di Jakarta telah menyentuh 1.570 kasus. Sedangkan di Jawa Timur 2.990 dan Jawa Tengah 1.272 kasus

Meski demikian, jumlah pasien positif COVID-19 yang sembuh bertambah 3.470 orang di hari yang sama. Maka, total kesembuhan COVID-19 sudah 180.797 atau 72,6 persen.

Dengan demikian, terhitung hingga 28 September 2020, tepat dua pekan penunjukkan Luhut, kasus COVID-19 di Indonesia mencapai 278.722, di mana hari itu kasus bertambah sebanyak 3.509 kasus.

Luhut VS COVID-19: Menang atau Tumbang?Infografik Strategi Luhut dalam Menyelesaikan Pandemik COVID-19 di Indonesia (IDN Times/Arief Rahmat)

4. Satgas klaim kasus COVID-19 di sembilan provinsi mulai menurun, selama dua pekan Luhut menangani

Luhut VS COVID-19: Menang atau Tumbang?Ketua Satuan Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo. IDN Times/Debbie Sutrisno

Tepat dua minggu setelah Luhut memimpin penanganan COVID-19 di sembilan provinsi, Jokowi menggelar rapat terbatas bersama Komite PCPEN terkait penanganan wabah ini.

Usai rapat terbatas, Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Doni Monardo memaparkan perkembangan kasus selama dua pekan. Ia mengklaim kasus sudah mulai menurun sejak Luhut memimpin.

Doni menyebutkan pada 6 September 2020, kenaikan kasus aktif mencapai 24,5 persen dan masih di atas rata-rata dunia, yaitu 24,85 persen. Lalu, pada minggu berikutnya yaitu 13 September 2020, kasus aktif mengalami kenaikan 0,5 persen, di mana persentasenya menjadi 25,0 persen.

Selanjutnya, menurut Doni, pada 20 September 2020, kasus aktif mengalami penurunan menjadi 23,6 persen. Hingga pada 27 September 2020, kasus aktif terus menurun menjadi 22,5 persen.

"Data kemarin telah berada di posisi 22,5 persen, tepatnya 22,46 persen, ini penurunan. Jadi kita lihat data global itu berada pada posisi 23,13 persen, jadi kita berada di bawah angka global ya untuk kasus aktif," kata Doni dalam keterangan pers yang disiarkan langsung di channel YouTube Sekretariat Presiden, Senin, 28 September 2020.

Doni juga memaparkan angka kesembuhan secara nasional. Berdasarkan data yang dibacakan Doni, pada 6 September 2020, angka kesembuhan mencapai 71,4 persen. Lalu pada 13 September 2020, angka kesembuhan mengalami penurunan menjadi 71 persen.

"Kemudian turun menjadi 71 persen, artinya jumlah pasien sembuh itu berkurang. Tetapi 20 September itu mengalami peningkatan sebesar 1,5 persen," kata dia.

Namun, menurut data Satgas Penanganan COVID-19, per 27 September 2020, kasus kembali mengalami peningkatan menjadi 73,8 persen. "Tetapi kita harapkan angka kesembuhan di waktu-waktu ke depan akan semakin membaik," ucap Doni.

Doni juga memaparkan tentang perkembangan angka kematian akibat COVID-19. Dia mengklaim sejak 6 September, angka kematian di Indonesia mengalami penurunan.

"Pada 6 September persentasenya 4,1 persen, kemudian turun turun. Nah, sekarang berada di posisi 3,8 persen, artinya mengalami penurunan walau pun masih di atas angka rata-rata global," ucapnya.

Selain itu, Doni juga mengklaim selama penanganan COVID-19 di bawah Luhut, ia telah mengumpulkan kepala-kepala rumah sakit di berbagai daerah. Dia menyebut Luhut menggelar rapat untuk memperbaiki tata kelola ruang ICU agar dapat menekan angka kematian.

"Salah satu contoh di sini Rumah Sakit Persahabatan. Kita lihat, kasus ringan itu sembuh 100 persen. Kemudian kasus sedang, yang meninggal mencapai 2,6 persen, kemudian kasus berat 5,5 persen. Dan yang kritis menimbulkan kematian yang sangat tinggi sekali 67,4 persen," ujar Doni.

"Nah, di sinilah rapat yang dilakukan Pak Luhut, menekankan pentingnya upaya penanganan awal. Jadi jangan sampai terlanjur sakitnya sedang lantas baru dirujuk," lanjut Doni.

5. Meski tak signifikan, angka insidensi kasus di Jawa Tengah dan Bali menurun, tapi di tujuh provinsi lain justru naik selama dua pekan

Luhut VS COVID-19: Menang atau Tumbang?Seorang warga yang tidak mengenakan masker melintas, di depan mural yang berisi pesan waspada penyebaran virus Corona di kawasan Tebet, Jakarta, Selasa (8/9/2020). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

Benarkah kasus COVID-19 selama dua pekan ini menurun di bawah penanganan Luhut? IDN Times mencoba melakukan analisis terkait insidensi kasus di sembilan provinsi selama dua pekan penanganan Luhut.

Tim Pakar Satgas Penanganan COVID-19 Dewi Nur Aisyah mengatakan, melihat angka kasus COVID-19 secara mentah saja tidaklah cukup. Namun, masyarakat bisa melihat perkembangan kasus melalui analisis insidensi kasus atau kasus baru yang terjadi pada waktu dan wilayah tertentu.

Insidensi kasus juga digunakan sebagai salah satu indikator dalam menentukan kebijakan dan cara penanganan COVID-19. Untuk melihat insidensi kasus, dapat dihitung dengan cara jumlah kasus positif pada fase waktu tertentu, dibagi dengan jumlah penduduk sebuah daerah.

Selain menggunakan data Satgas COVID-19, IDN Times juga mengacu data sensus Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2010, untuk jumlah penduduk. Berikut ini angka insidensi kasus di sembilan provinsi prioritas pada pekan sebelum Luhut ditunjuk Presiden Jokowi, atau dalam kurun 7-13 September 2020.

- DKI Jakarta: penambahan 6.874 kasus atau insidensi kasus 7,08 per 10.000 penduduk.
- Jawa Barat: penambahan 1.547 kasus atau insidensi kasus 0,35 per 10.000 penduduk.
- Jawa Tengah: penambahan 2.154 kasus atau insidensi kasus 0,66 per 10.000 penduduk.
- Jawa Timur: penambahan 2.053 kasus atau insidensi kasus 0,54 per 10.000 penduduk.
- Sumatra Utara: penambahan 725 kasus atau insidensi kasus 0,55 per 10.000 penduduk.
- Kalimantan Selatan: penambahan 456 kasus atau insidensi kasus 1,25 per 10.000 penduduk.
- Sulawesi Selatan: penambahan 525 kasus atau insidensi kasus 0,65 per penduduk.
- Papua: penambahan 388 kasus atau insidensi kasus 1,36 per 10.000 penduduk.
- Bali: penambahan 850 kasus atau insidensi kasus 2,18 per 10.000 penduduk.

Angka insidensi kasus di sembilan provinsi prioritas dalam kurun 14-20 September 2020:

- DKI Jakarta: penambahan 7,746 kasus atau insidensi kasus 8,06 per 10.000 penduduk.
- Jawa Barat: penambahan 2.434 kasus atau insidensi kasus 0,56 per 10.000 penduduk.
- Jawa Tengah: penambahan 1.774 kasus atau insidensi kasus 0,54 per 10.000 penduduk.
- Jawa Timur: penambahan 2.620 kasus atau insidensi kasus 0,69 per 10.000 penduduk.
- Sumatra Utara: penambahan 903 kasus atau insidensi kasus 0,69 per 10.000 penduduk.
- Kalimantan Selatan: penambahan 453 kasus atau insidensi kasus 1,24 per 10.000 penduduk.
- Sulawesi Selatan: penambahan 1.076 kasus atau insidensi kasus 1,33 per 10.000 penduduk.
- Papua: penambahan 673 kasus atau insidensi kasus 2,37 per 10.000 penduduk.
- Bali: penambahan 523 kasus atau insidensi kasus 1,34 per 10.000 penduduk.

Angka insidensi kasus di sembilan provinsi prioritas dalam kurun 21-27 September 2020:

- DKI Jakarta: penambahan 9.613 kasus atau insidensi kasus 10,00 per 10.000 penduduk.
- Jawa Barat: penambahan 4.132 kasus atau insidensi kasus 0,95 per 10.000 penduduk.
- Jawa Tengah: penambahan 2.110 kasus atau insidensi kasus 0,65 per 10.000 penduduk.
- Jawa Timur: penambahan 2.182 kasus atau insidensi kasus 0,58 per 10.000 penduduk.
- Sumatra Utara: penambahan 670 kasus atau insidensi kasus 0,51 per 10.000 penduduk.
- Kalimantan Selatan: penambahan 462 kasus atau insidensi kasus 1,27 per 10.000 penduduk.
- Sulawesi Selatan: penambahan 928 kasus atau insidensi kasus 1,15 per 10.000 penduduk.
- Papua: penambahan 804 kasus atau insidensi kasus 2,83 per 10.000 penduduk.
- Bali: penambahan 783 kasus atau insidensi kasus 2,01 per 10.000 penduduk.

Melalui penjabaran data ketiga fase waktu tersebut, terlihat bahwa tidak ada provinsi yang angka insidensi kasusnya mengalami penurunan secara teratur dan signifikan. Hanya saja di Provinsi Jawa Tengah dan Bali cukup mengalami penurunan angka insidensi kasus.

Di Jawa Tengah, pada pekan sebelum Luhut ditunjuk, insidensi kasus yaitu 0,66 per 10.000 penduduk. Selanjutnya, pada pekan pertama Luhut ditunjuk menjadi 0,54 per 10.000 penduduk. Lalu, pekan kedua insidensi kasusnya menjadi 0,65 per 10.000.

Kemudian di Bali, insidensi kasus pada periode 7-13 September 2020 yaitu 2,18 per 10.000 penduduk. Pada dua pekan kemudian menjadi 1,34 per 10.000 penduduk dan 2,01 per 10.000 penduduk.

Walau pun tidak dapat dipungkiri bahwa pada pekan kedua angka insidensi kasus di dua wilayah tersebut kembali naik jika dibandingkan dari pekan pertama, namun setidaknya tidak melampaui angka pekan sebelum Luhut ditunjuk.

Alih-alih mengalami penurunan di provinsi lain, angka insidensi kasus COVID-19 justru naik setelah ditangani Luhut selama dua pekan. Misalnya, Provinsi DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Kalimantan Selatan. Berikut penjabarannya:

1. DKI Jakarta
Insidensi kasus DKI Jakarta pada periode 7-13 September 2020 yaitu 7,08 per 10.000 penduduk. Pada dua pekan kemudian menjadi 8,06 per 10.000 penduduk dan 10,00 per 10.000 penduduk.

2. Jawa Timur
Insidensi kasus Jawa Timur pada periode 7-13 September 2020 yaitu 0,54 per 10.000 penduduk. Pada dua pekan kemudian menjadi 0,69 per 10.000 penduduk dan 0,58 per 10.000 penduduk.

3. Kalimantan Selatan
Insidensi kasus Kalimantan Selatan pada periode 7-13 September 2020 yaitu 1,25 per 10.000 penduduk. Pada dua pekan kemudian menjadi 1,24 per 10.000 penduduk dan 1,27 per 10.000 penduduk.

Selain tiga provinsi tersebut, empat wilayah lainnya juga mengalami peningkatan angka insidensi kasus, saat penanganan kasus COVID-19 di tangan Luhut.

6. Perkembangan kasus harian COVID-19 di sembilan provinsi selama dua pekan ditangani Luhut

Luhut VS COVID-19: Menang atau Tumbang?Perawat menangani pasien di Poli Pinere RSUD Arifin Achmad, Kota Pekanbaru, Riau, pada 9 Juli 2020. ANTARA FOTO/FB Anggoro

Lalu, bagaimana perkembangan kasus virus corona di sembilan provinsi selama dua minggu di bawah penanganan Luhut? Berdasarkan data Satgas COVID-19, kasus di sembilan provinsi prioritas itu selama seminggu terakhir terus mengalami kenaikan.

Berikut perkembangan kasus harian COVID-19 di sembilan provinsi dalam sepekan terakhir:

Data per 15 September 2020 (penambahan kasus harian dan total jumlah kasus):
1. DKI Jakarta bertambah 1.076 kasus hingga total menjadi 56.175 kasus
2. Jawa Barat bertambah  347 kasus hingga total menjadi 14.938 kasus
3. Jawa Tengah bertambah 198 kasus hingga total menjadi 18.111 kasus
4. Jawa Timur bertambah 378 kasus hingga total menjadi 38.809 kasus
5. Sumatra Utara bertambah 249 kasus hingga total menjadi 8.808
6. Kalimantan Selatan bertambah 77 kasus hingga total menjadi 9.500 kasus
7. Sulawesi Selatan bertambah 107 kasus hingga total menjadi 13.583 kasus
8. Papua bertambah 65 kasus hingga total menjadi 4.637 kasus
9. Bali bertambah 68 kasus hingga total menjadi 7.380 kasus.

Data per 16 September 2020:
1. DKI Jakarta alami penambahan kasus sebanyak 1.294 kasus hingga total menjadi 57.469 kasus
2. Jawa Barat alami penambahan kasus sebanyak 293 kasus hingga total menjadi 15.231 kasus
3. Jawa Tengah alami penambahan kasus sebanyak 340 kasus hingga total menjadi 18.451 kasus
4. Jawa Timur alami penambahan kasus sebanyak 372 kasus hingga total menjadi 39.181 kasus
5. Sumatra Utara alami penambahan kasus sebanyak 126 kasus hingga total menjadi 8.934 kasus
6. Kalimantan Selatan alami penambahan kasus sebanyak 11 kasus hingga total menjadi 9.511 kasus
7. Sulawesi Selatan alami penambahan kasus sebanyak 164 kasus hingga total menjadi 13.747 kasus
8. Papua alami penambahan kasus sebanyak 126 kasus hingga total menjadi 4.763 kasus
9. Bali alami penambahan kasus sebanyak 49 kasus hingga total menjadi 7.429 kasus.

Data per 17 September 2020 (penambahan kasus harian dan total jumlah kasus):
1. DKI Jakarta bertambah 1.113 kasus hingga total menjadi 58.582 kasus
2. Jawa Barat bertambah 353 kasus hingga total menjadi 15.584 kasus
3. Jawa Tengah bertambah 293 kasus hingga totak menjadi 18.744 kasus
4. Jawa Timur bertambah 327 kasus hingga total menjadi 39.508 kasus
5. Sumatra Utara bertambah 117 kasus hingga total menjadi 9.051 kasus
6. Kalimantan Selatan bertambah 36 kasus hingga total menjadi 9.547 kasus
7. Sulawesi Selatan bertambah 120 kasus hingga total menjadi 13.867 kasus
8. Papua bertambah 73 kasus hingga total menjadi 4.836 kasus
9. Bali bertambah 63 kasus hingga total menjadi 7.492 kasus.

Data per 18 September 2020 (penambahan kasus harian dan total jumlah kasus):
1. DKI Jakarta bertambah 1.258 kasus hingga total menjadi 59.840 kasus
2. Jawa Barat bertambah 341 kasus hingga total menjadi 15.925 kasus
3. Jawa Tengah bertambah 198 kasus hingga total menjadi 18.942
4. Jawa Timur bertambah 485 kasus hingga total menjadi 39.993 kasus
5. Sumatra Utara bertambah 125 kasus hingga total menjadi 9.176 kasus
6. Kalimantan Selatan bertambah 25 kasus hingga total menjadi 9.572 kasus
7. Sulawesi Selatan bertambah 159 kasus hingga total menjadi 14.026 kasus
8. Papua bertambah 58 kasus hingga total menjadi 4.894 kasus
9. Bali bertambah 51 kasus hingga total menjadi 7.543 kasus.

Data per 19 September 2020 (penambahan kasus harian dan total jumlah kasus):
1. DKI Jakarta bertambah 988 kasus hingga total menjadi 60.828 kasus
2. Jawa Barat bertambah 470 kasus hingga total menjadi 16.395 kasus
3. Jawa Tengah bertambah 271 kasus hingga total menjadi 19.213 kasus
4. Jawa Timur bertambah 379 kasus hingga total menjadi 40.372 kasus
5. Sumatra Utara bertambah 97 kasus hingga total menjadi 9.273 kasus
6. Kalimantan Selatan bertambah 78 kasus hingga total menjadi 9.650 kasus
7. Sulawesi Selatan bertambah 167 kasus hingga total menjadi 14.193 kasus
8. Papua bertambah 205 kasus hingga total menjadi 5.099 kasus
9. Bali bertambah 85 kasus hingga total menjadi 7.628 kasus.

Data per 20 September 2020 (penambahan kasus harian dan total jumlah kasus):
1. DKI Jakarta bertambah 1.138 kasus hingga total menjadi 61.966 kasus
2. Jawa Barat bertambah 427 kasus hingga total menjadi 16.822 kasus
3. Jawa Tengah bertambah 303 kasus hingga total menjadi 19.516 kasus
4. Jawa Timur bertambah 336 kasus hingga total menjadi 40.708 kssus
5. Sumatra Utara bertambah 95 kasus hingga total menjadi 9.368 kasus
6. Kalimantan Selatan bertambah 85 kasus hingga total menjadi 9.735 kasus
7. Sulawesi Selatan bertambah 174 kasus hinga total menjadi 14.367 kasus
8. Papua bertambah 50 kasus hingga totak menjadi 5.149 kasus
9. Bali bertambah 121 kasus hingga total menjadi 7.749 kasus.

Data per 21 September 2020 (penambahan kasus harian dan total jumlah kasus):
1. DKI Jakarta bertambah 1.352 kasus hingga total menjadi 63.318 kasus
2. Jawa Barat bertambah 680 kasus hingga total menjadi 17.502 kasus
3. Jawa Tengah bertambah 238 kasus hingga total menjadi 19.754 kasus
4. Jawa Timur bertambah 368 kasus hingga total menjadi 41.076 kasus
5. Sumatra Utara bertambah 22 kasus hingga total menjadi 4.317 kasus
6. Kalimantan Selatan bertambah 82 kasus hingga total menjadi 9.817 kasus
7. Sulawesi Selatan bertambah 36 kasus hingga total menjadi 14.403 kasus
8. Papua bertambah 27 kasus hingga total menjadi 5.176 kasus
9. Bali bertambah 139 kasus hingga total menjadi 7.888 kasus.

Data per 22 September 2020 (penambahan kasus harian dan total jumlah kasus):
1. DKI Jakarta bertambah 1.236 kasus hingga total menjadi 64.554 kasus
2. Jawa Barat bertambah 575 kasus hingga total menjadi 18.077 kasus
3. Jawa Tengah bertambah 228 kasus hingga total menjadi 19.982 kasus
4. Jawa Timur bertambah 341 kasus hingga total menjadi 41.417 kasus
5. Sumatra Utara bertambah 98 kasus hingga total menjadi 9.566 kasus
6. Kalimantan Selatan bertambah 85 kasus hingga total menjadi 9.902 kasus
7. Sulawesi Selatan bertambah 121 kasus hingga total menjadi 14.524 kasus
8. Papua bertambah 73 kasus hingga total menjadi 5.249 kasus
9. Bali bertambah 108 kasus hingga total menjadi 7.996 kasus.

Data per tanggal 23 September 2020 (penambahan kasus harian dan total jumlah kasus)
1. DKI Jakarta bertambah 1.133 kasus hingga total menjadi 65.687 kasus
2. Jawa Barat bertambah 516 kasus hingga total menjadi 18.593 kasus
3. Jawa Tengah bertambah 257 kasus hingga total menjadi 20.239 kasus
4. Jawa Timur bertambah 338 kasus hingga total menjadi 41.755 kasus
5. Sumatra Utara bertambah 87 kasus hingga total menjadi 9.653 kasus
6. Kalimantan Selatan bertambah 82 kasus hingga total menjadi 9.984 kasus
7. Sulawesi Selatan bertambah 124 kasus hingga total menjadi 14.648 kasus
8. Papua bertambah 138 kasus hingga total menjadi 5.387 kasus
9. Bali bertambah 130 kasus hingga total menjadi 8.126 kasus.

Data per 24 September 2020 (penambahan kasus harian dan total jumlah kasus):
1. DKI Jakarta bertambah 1.044 kasus hingga total menjadi 66.731 kasus
2. Jawa Barat bertambah 804 kasus hingga total menjadi 19.397 kasus
3. Jawa Tengah bertambah 434 kasus hingga total menjadi 20.673 kasus
4. Jawa Timur bertambah 343 kasus hingga total menjadi 42.098 kasus
5. Sumatra Utara bertambah 96 kasus hingga total menjadi 9.749 kasus
6. Kalimantan Selatan bertambah 63 kasus hingga total menjadi 10.047 kasus
7. Sulawesi Selatan bertambah 165 kasus hinggal total menjadi 14.813 kasus
8. Papua bertambah 266 kasus hingga total menjadi 5.653 kasus
9. Bali bertambah 119 kasus hingga total menjadi 8.245 kasus.

Data per 25 September 2020 (penambahan kasus harian dan total jumlah kasus):
1. DKI Jakarta bertambah 1.171 kasus hingga total menjadi 67.902 kasus
2. Jawa Barat bertambah 734 kasus hingga total menjadi 20.131 kasus
3. Jawa Tengah bertambah 331 kasus hingga total menjadi 21.004 kasus
4. Jawa Timur bertambah 293 kasus hingga total menjadi 42.391 kasus
5. Sumatra Utara bertambah 94 kasus hingga total menjadi 9.843 kasus
6. Kalimantan Selatan bertambah 33 hingga total kasus menjadi 10.080 kasus
7. Sulawesi Selatan bertambah 169 hinggs total kasus menjadi 14.982 kasus
8. Papua bertambah 110 kasus hingga total menjadi 5.763 kasus
9. Bali bertambah 144 kasus hingga total menjadi 8.389 kasus.

Data per 26 September 2020 (penambahan kasus harian dan total jumlah kasus):
1. DKI Jakarta bertambah 1.322 kasus hingga total menjadi 69.224 kasus
2. Jawa Barat bertambah 386 kasus hingga total menjadi 20.517 kasus
3. Jawa Tengah bertambah 364 kasus hingga total menjadi 21.368 kasus
4. Jawa Timur bertambah 279 kasus hingga total menjadi 42.670 kasus
5. Sumatra Utara bertambah 98 kasus hingga total menjadi 9.941 kasus
6. Kalimantan Selatan bertambah 40 hingga total kasus menjadi 10.120 kasus
7. Sulawesi Selatan bertambah 193 hingga total kasus menjadi 15.175 kasus
8. Papua bertambah 77 kasus hingga total menjadi 5.840 kasus
9. Bali bertambah 63 kasus hingga total menjadi 8.452 kasus.

Data per 27 September 2020 (penambahan kasus harian dan total jumlah kasus):
1. DKI Jakarta bertambah 1.217 kasus hingga total menjadi 70.441 kasus
2. Jawa Barat bertambah 437 kasus hingga total menjadi 20.954 kasus
3. Jawa Tengah bertambah 258 kasus hingga total menjadi 21.626 kasus
4. Jawa Timur bertambah 220 kasus hingga total menjadi 42.890 kasus
5. Sumatra Utara bertambah 97 kasus hingga total menjadi 10.038 kasus
6. Kalimantan Selatan bertambah 77 kasus hingga total menjadi 10.197 kasus
7. Sulawesi Selatan bertambah 120 kasus hingga total menjadi 15.925 kasus
8. Papua bertambah 113 kasus hingga total menjadi 5.953 kasus
9. Bali bertambah 80 kasus hingga total menjadi 8.4532 kasus.

Data per 28 September 2020 (penambahan kasus harian dan total jumlah kasus):
1. DKI Jakarta bertambah 898 kasus hingga total menjadi 71.339 kasus
2. Jawa Barat bertambah 489 kasus hingga total menjadi 21.443 kasus
3. Jawa Tengah bertambah 304 kasus hingga total menjadi 21.930 kasus
4. Jawa Timur bertambah 284 kasus hingga total menjadi 43.174 kasus
5. Sumatra Utara bertambah 85 kasus hingga total menjadi 10.123 kasus
6. Kalimantan Selatan bertambah 40 kasus hingga total menjadi 10.237 kasus
7. Sulawesi Selatan bertambah 59 kasus hingga total menjadi 15.354 kasus
8. Papua bertambah 46 kasus hingga total menjadi 5.999 kasus
9. Bali bertambah 107 kasus hingga total menjadi 8.639 kasus.

7. Kenaikan kasus COVID-19 selama September sebanyak 103.926, dan spesimen yang diperiksa mencapai 999.602

Luhut VS COVID-19: Menang atau Tumbang?Ilustrasi virus corona (IDN Times/Sukma Shakti)

Selama September ini, grafik peningkatan kasus COVID-19 di Indonesia naik signifikan. Grafik pergerakan kasus selama September 2020 menggambarkan garis naik dan turun yang tajam. Jumlah kasus harian virus corona pada 1 September 2020 berada di angka 2.776 kasus, namun pada 25 September 2020, kasus harian meroket hingga 4.823 kasus.

Bahkan, hanya dalam kurun 1-28 September 2020, penambahan kasus COVID-19 di Indonesia melonjak hingga 103.926 kasus. Jadi, secara rata-rata kasus hariannya mencapai 3.712 kasus.

Juru Bicara Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito mengungkap alasan di balik tingginya angka kasus harian selama September 2020. "Karena penularan tinggi dan juga testing yang tinggi," katanya kepada IDN Times, Jumat 25 September 2020.

Satgas Penanganan COVID-19 secara rutin memberikan informasi terkait penambahan kasus positif harian. Kasus tersebut berasal dari hasil tes spesimen di 343 laboratorium yang tersebar di seluruh Indonesia.

Namun sayang, pada setiap data yang diberikan, selalu ada catatan tentang jumlah lab yang belum melaporkan hasil pemeriksaan sesuai dengan waktu, yaitu pukul 12.00 WIB setiap harinya.

Contohnya, pada Senin, 28 September 2020, tercatat kasus positif COVID-19 sebanyak 3.509 dari 32.189 pemeriksaan spesimen. Namun, masih ada 89 dari 343 lab yang belum melaporkan hasilnya.

Melalui catatan laporan harian Satgas Penanganan COVID-19, dapat dihitung secara rata-rata ada 84 laboratorium yang tidak memberikan laporan pemeriksaan spesimen tepat pukul 12.00 WIB setiap harinya, sejak 1-28 September 2020.

Sejak 1-28 September 2020, Satgas Penanganan COVID-19 mencatat pemeriksaan spesimen di laboratorium mencapai 999.602. Sedangkan jumlah orang yang diperiksa sebanyak 637.679 orang.

Angka pemeriksaan spesimen selama September 2020 memang mengalami peningkatan, apabila dibandingkan dengan Agustus 2020. Pada Agustus 2020, spesimen yang diperiksa sebanyak 733.451 dari 430.645 orang.

8. Ahli Epidemiologi: Mustahil kasus turun dalam dua minggu, kecuali ada perubahan dalam sistem laporan

Luhut VS COVID-19: Menang atau Tumbang?Pedagang yang tidak mengenakan masker melintas, di depan mural yang berisi pesan waspada penyebaran virus Corona, di kawasan Tebet, Jakarta, Selasa (8/9/2020) (ANTARA FOTO/M. Risyal Hidayat)

Target dua minggu yang diberikan Jokowi untuk menurunkan kasus COVID-19, dirasa mustahil menurut Ahli epidemiologi dari Universitas Griffith di Australia, Dicky Budiman. Menurut dia, wabah atau pandemik tidak mungkin turun dalam kurun dua pekan.

Dia menuturkan, jika dalam dua minggu kasus tiba-tiba merosot, maka itu bukanlah keajaiban. Melainkan, ada perubahan dalam mengoleksi data dan mendefinisikan satu kasus.

"Perubahannya dalam administrasi, lebih pada sistem laporan. Itu yang sangat logis bila terjadi dalam waktu dua minggu," kata Dicky saat dihubungi IDN Times, Senin, 28 September 2020.

Apalagi, menurut Dicky, situasi saat ini buka lagi awal pandemik. Tapi situasinya sudah sangat serius, apalagi di Pulau Jawa. "Jadi itu tidak logis. Dalam pengalaman saya sebagai praktisi pandemi belasan tahun," tutur dia.

Dicky menyebut Indonesia memiliki angka kematian yang tinggi, menunjukkan Indonesia sudah tertinggal dari virusnya. Bahkan, kecepatan kenaikannya sudah empat hingga enam minggu ini. Sehingga mustahil dalam waktu dua minggu kasus tiba-tiba turun.

"Artinya tidak ada basis atau argumentasi yang ilmiah berbasis keilmuan wabah, tidak ada dasar yang kuat kita bisa diturunkan dalam dua minggu. Kecuali kasusnya masih dua orang. Kalau kasus seperti ini kebakaran di mana-mana, itu tidak memungkinkan, tidak realistis dalam dua minggu," ucap Dicky.

Baca Juga: [LINIMASA-4] Perkembangan Terkini Pandemik COVID-19 di Indonesia

Topic:

  • Rochmanudin

Berita Terkini Lainnya