Comscore Tracker

Pengamat Terorisme: Operasi Tinombala Butuh Berapa Tahun Lagi?

Harusnya Satgas lebih paham medan dari MIT

Jakarta, IDN Times - Kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) kembali menunjukkan taringnya kepada pemerintah. Aksi teror kelompok MIT kali ini menyerang satu keluarga di Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pada Jumat, 27 November 2020.

Pembantaian tersebut menewaskan satu keluarga yang terdiri dari pasangan suami istri, anak, dan menantunya yang tewas dalam kondisi mengenaskan. Selain korban jiwa, sejumlah bangunan juga dibakar oleh pelaku. Salah satunya adalah bangunan yang sering digunakan warga untuk tempat beribadah.

Munculnya penyerangan MIT tentu menjadi tanda tanya kepada Satuan Tugas (Satgas) Operasi Tinombala. Satgas ini memang dibentuk guna melumpuhkan dan menangkap jaringan teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang dipimpin Santoso, yang kini dipimpin Ali Kalora.

Pengamat terorisme Harits Abu Ulya mengatakan perlu adanya evaluasi total terkait kinerja dari Satgas Tinombala. Sebab, operasi tersebut sudah berjalan bertahun-tahun dan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Termasuk kajian atas strategi yang diterapkan dalam operasi di lapangan, karena pertanyaan besarnya, untuk mengejar dan menangkap 10-an orang hidup atau mati, butuh berapa tahun lagi," ucap Harits saat dihubungi IDN Times, Rabu (2/12/2020).

Baca Juga: Mengenal Operasi Tinombala, Satgas Pemburu Kelompok MIT

1. Berlarut-larutnya kasus membuat publik bertanya-tanya tentang kredibilitas Satgas

Pengamat Terorisme: Operasi Tinombala Butuh Berapa Tahun Lagi?

Harits mengatakan berlarut-larutnya operasi justru membuat publik bertanya-tanya terhadap kredibilitas dan kapasitas semua elemen aparat yang terlibat operasi ini. Menurutnya, banyaknya aparat yang dikerahkan, seharusnya bisa menghadapi kelompok teroris seperti MIT.

"Di lapangan ada polisi, TNI yang di BKO (Bawah Kendali Operasi) kan, ada unsur BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), ada unsur intelijen dari berbagai kesatuan, termasuk BIN (Badan Intelijen Negara) di dalamnya. Dan jangan lupa, mereka semua dididik, pernah belajar, dan logistik melimpah, senjata lebih dari cukup," kata Harits.

"Lantas, kenapa menghadapi kelompok sipil yang tidak pernah dididik di barak-barak militer, tidak pernah belajar intelijen pertempuran dan lain-lain. Bahkan, senjata plus amunisi yang mereka miliki juga terbatas. Perbandingannya jauh sekali, kenapa seperti bisa mencundangi aparat?" lanjutnya.

2. Aparat harusnya bisa lebih menguasai medan dibandingkan kelompok MIT

Pengamat Terorisme: Operasi Tinombala Butuh Berapa Tahun Lagi?Ilustrasi Bom (Teroris) (IDN Times/Mardya Shakti)

Harits menyampaikan dalam operasi penangkapan kelompok MIT, seharusnya aparat tidak menggunakan alasan tidak menguasai medan. Menurutnya, NKRI lebih luas dibandingkan Poso dan rakyat di seluruh Indonesia membutuhkan perlindungan dari aparat.

"Indonesia punya pasukan khusus, melalui mekanisme yang ada Polri tinggal minta agar mereka diterjunkan dengan skenario di BKO kan. Dan teknis di lapangan merekalah unjung tombak untuk melakukan pengejaran," kata Harits.

3. Aksi teror yang dilakukan MIT di Sigi tewaskan empat orang

Pengamat Terorisme: Operasi Tinombala Butuh Berapa Tahun Lagi?Ilustrasi Bom (IDN Times/Mardya Shakti)

Sebagai informasi, telah terjadi kasus pembunuhan empat warga di Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pada Jumat, 27 November 2020. Adapun korban merupakan satu keluarga, terdiri dari pasangan suami istri, anak, dan menantunya yang tewas dalam kondisi mengenaskan.

Selain korban jiwa, sejumlah bangunan juga dibakar oleh pelaku. Salah satunya adalah bangunan yang sering digunakan warga untuk tempat beribadah.

Menurut polisi, pelaku pembunuhan diduga merupakan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora. Kelompok ini awalnya dipimpin oleh Santoso yang tewas dalam baku tembak dengan personel Operasi Tinombala di Poso pada 18 Juli 2016. Lalu, posisinya digantikan Ali Kalora.

Baca Juga: 32 Terduga Anggota Kelompok Teroris MIT Ditangkap Sepanjang 2020

Topic:

  • Rochmanudin

Berita Terkini Lainnya