Perang Pendukung di Medsos, Bawaslu: Hati-hati, Pidana Lebih Berat!

Kedua kubu saling tuding penggunaan akun robot. Nah lho

Jakarta, IDN Times - Mendekati masa kampanye Pilpres 2019 mulai 23 September mendatang, media sosial akan menjadi salah satu wadah bagi tim sukses masing-masing pasangan calon untuk mengambil hati rakyat. Penggunaan media sosial yang cukup bebas, akan mudah bagi akun robot serta anonim untuk menggiring opini masyarakat di dunia maya.

Politisi PAN Mustofa Nahrawardaya mengatakan bahwa memang benar akun bot atau robot sering dipakai kedua kubu untuk saling menyerang, tetapi ia mengaku akun bot tersebut tidak semuanya berasal dari oposisi.

Di Pilpres 2019, PAN sudah memutuskan masuk koalisi pendukung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Pasangan Prabowo-Sandiaga akan melawan pasangan petahana, Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

Baca Juga: Akun Robot di Balik Perang Pendukung Capres di Medsos

1. Media sosial ibarat wahana

Perang Pendukung di Medsos, Bawaslu: Hati-hati, Pidana Lebih Berat!Chat di media sosial (Pixabay)

Mustofa menjelaskan, apabila bermain media sosial, masyarakat harus bisa mencari penjelasan tentang info-info yang beredar. Menurutnya, media sosial hanyalah wahana saja, namun masyarakat tetap diimbau untuk mencari kebenaran informasi yang beredar di media sosial.

"Jadi Twitter itu hanya wahana saja. Oleh karena itu, mau kita di sana di sini tetap harus dengan prinsip itu. Saya melakukan postingan selalu bertabayyun (mencari kejelasan)," kata Mustofa di acara Indonesia Lawyers Club, Selasa (21/8).

Baca Juga: Perang Siber di Pilpres 2019, Media Dituntut Jadi Penengah

2. Tidak semua akun bot milik oposisi

Perang Pendukung di Medsos, Bawaslu: Hati-hati, Pidana Lebih Berat!ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Mustofa juga menegaskan bahwa tidak semua akun bot di media sosial itu milik opsisi. Dia bahkan mencurigai bahwa pihak petahana yang juga ikut memainkan akun bot.

"Karena pihak lawan bisa membuat bot, seolah kami yang melakukan. Kan tidak ada aturan. Siapa tahu pihak lawan," ucap Mustofa.

Tambahnya, pihak petahana juga bisa bertopeng menyerang oposisi dengan menggunakan akun bot tersebut. "Jadi bisa bertopeng menggunakan topeng lawan untuk merugikan lawan. Oleh karena itu, penutupan akun bukan takaran dia seorang hebat. Itu gampang diurus," jelasnya.

Lebih lanjut, Mustofa memaparkan bahwa rata-rata dari pihak oposisi dan petahana itu ada upaya mengaburkan dan mengubrukan informasi lawan, demi mengutungkan kelompoknya.

"Tidak perlu kita mengaburkan dan menguburkan. Tetapi ketika pihak lawan melakukan pengaburan informasi mau gak mau, harus dilawan," terangnya.

3. Bawaslu ingatkan beratnya hukuman pidana

Perang Pendukung di Medsos, Bawaslu: Hati-hati, Pidana Lebih Berat!IDN Times/Teatrika Handiko Putri

Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Rahmat Bagja mengingatkan agar pendukung dan relawan hati-hati dalam menulis status di media sosial di era perang jelang Pilpres 2019. Bawaslu, kata dia, tidak punya kewenangan untuk mengawasi perilaku relawan dan pendukung yang bukan dari peserta pemilu.

Dia mengungkapkan, jika relawan dan pendukung bermasalah dengan status mereka maka akan dibawa ke ranah hukum, bukan lagi pelanggaran pemilu. "Dan, ini lebih berat jika pidana. Sementara Bawaslu hanya mengawasi penyelenggara, pelaku atau peserta pemilu," kata Rahmat di acara yang sama.

Selain itu, kata dia, belum ada aturan yang yang mengikat untuk mengatur debat, kampanye, hingga perang pendukung bakal pasangan capres dan cawapres di media sosial.

Topik:

  • Ita Lismawati F Malau

Berita Terkini Lainnya