Comscore Tracker

Climate Change, Bahaya Lebih Besar dari COVID-19, Mengapa?

Pertanyaan para jurnalis perubahan iklim

Jakarta, IDN Times – Selama setahun setengah terakhir, dunia dihajar bertubi-tubi oleh serangan pandemik COVID-19. Tetapi, ada yang lebih berbahaya dari pandemik, yaitu dampak perubahan iklim (climate change). Sederet tokoh mengingatkan soal ini, mulai dari pendiri Microsoft Bill Gates, sampai Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Climate change adalah global disaster yang magnitude-nya diperkirakan sama seperti pandemik COVID-19,” kata Sri Mulyani dalam acara ESG Capital Market Summit 2021, 27 Juli 2021 lalu.

Jagan Chapagain, Sekretaris Jenderal Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC), dalam sebuah konferensi pers daring akhir 2020, mengatakan bahwa, "Perubahan iklim akan memiliki dampak jangka menengah dan panjang yang lebih signifikan terhadap kehidupan manusia dan bumi. Dan sayangnya, tidak ada vaksin untuk perubahan iklim,” kata dia, saat meluncurkan Laporan Bencana Dunia 2020.

Laporan itu menyebutkan, selama dekade terakhir, 83 persen dari semua bencana yang dipicu bahaya alam disebabkan cuaca ekstrem dan peristiwa terkait iklim, seperti badai, banjir dan gelombang panas.

Isu perubahan iklim sangat beragam, dan semua ada di sekitar kita. Begitupun, menulis soal perubahan iklim agar mudah dipahami pembaca awam adalah masalah yang masih dialami jurnalis.

Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) menggelar workshop, “Climate Change, Bahaya Lebih Besar dari Pandemik COVID-19”, untuk membantu jurnalis lebih memahami informasi terkait hal ini. Acara digelar secara daring, pada Sabtu (9/10/2021), dan diikuti 80-an peserta, menghadirkan pembicara Amanda Katili Niode, manajer Indonesia untuk Climate Reality Project, sebuah organisasi berskala global yang didirikan  Al Gore, mantan wakil presiden AS yang juga menerima Anugerah Nobel Perdamaian karena aktivitasnya sebagai pejuang perubahan iklim.

Berikut dinamika dan pertanyaan jurnalis peserta yang datang dari sejumlah kota.

Baca Juga: 7 Hal Penting yang Perlu Kamu Tahu soal Perubahan Iklim Global!

  • Jurnalis di Papua bertanya soal suhu yang meningkat dan khawatir konversi hutan untuk kepentingan investasi
Climate Change, Bahaya Lebih Besar dari COVID-19, Mengapa?Workshop Jurnalis mengenai Climate Change. (IDN Times/Uni Lubis)

Olha Mulalinda, kontributor kantor berita ANTARA di Sorong, Papua Barat, menanyakan hal di atas. Menurut Amanda, teman-teman di Papua menganggap hutan itu sebagai ibunya, kemudian sebagai pasarnya dan apa saja makanan lokalnya. Apa yang bisa ditulis dengan perspektif perubahan iklim? “Dengan menulis itu tiga hal di atas, sudah memberikan informasi terkait bagaimana menyikapi perubahan iklim. Karena kalau kita konsumsi pangan lokal berarti kita membantu menyikapi perubahan iklim. Karena kalau pangan impor itu diangkut menggunakan energi yang tinggi, emisi gasnya keluar lebih banyak lagi. Jadi dengan kita menggunakan atau konsumsi pangan lokal itu sudah sangat membantu. Misalnya memilih konsumsi Papeda, sumber karbohidrat lokal di Papua.

Itu contoh termudahnya. Tapi kalau misalnya memang mau masuk ke ranah sains, itu bisa dipelajari karena perubahan iklim itu masalah global meskipun secara regional ada data-data yang berbeda tetapi ini sudah secara global. Jadi bisa dilihat dari mana mau memulainya apakah dari sains-nya, atau mulai banyak perkampungan, misalnya. Bisakah diteliti apakah ada yang terpengaruh kehidupannya, penghidupannya.

  • Bagaimana komitmen Indonesia akan penurunan emisi karbon? Apakah layak mengorbankan hutan dan kawasan pesisir? 
Climate Change, Bahaya Lebih Besar dari COVID-19, Mengapa?Workshop Jurnalis mengenai Climate Change. (IDN Times/Uni Lubis)

Sahid dari Papua Post menanyakan hal ini, juga soal urgensi memastikan tata ruang dan tata wilayah, menjamin keberlanjutan pembangunan.

Amanda menjawab, “Ada istilah yang bahasa Inggrisnya decoupling. Diterjemahkan sebagai keterlepasan antara kebutuhan dan keinginan. Pembangunan tanpa perspektif lingkungan itu memang sudah tidak zamannya lagi, makanya muncul istilah pembangunan berkelanjutan. Jadi kita tetap membangun tetapi tidak melupakan generasi yang akan datang, itu adalah konsep dasarnya.”

Dia melanjutkan, Indonesia mempunyai komitmen dan sebagai mana setiap komitmen itu turun dalam berbagai bentuk peraturan. Kunci memang ada di penegakan hukum kalau kita sudah kaitkan dengan peraturan. Tetapi disamping ada penegakan hukum tentunya ada penegakan moral yang terus menerus harus dilakukan. Mungkin kita akan frustasi dan menganggap percuma jika kita keluar dari peraturan.

Tetapi bila kita lihat trennya semakin lama semakin baik. Contohnya, banyak yang mengritik dengan adanya pembangkit listrik berbahan bakar batu bara dan pembangkit listrik tenaga uap yang mengeluarkan gas-gas rumah kaca yang harus dibatasi. Selain itu lembaga-lembaga keuangan juga sudah banyak yang tidak mau membiayai proyek-proyek yang mencemari lingkungan meskipun belum semua.

Jadi trennya itu sudah mengarah ke sana dan kita harus memperingatkan dan mencari aspek-aspek ekonomi yang memberikan keuntungan tanpa merusak lingkungan. Contohnya, seperti energi angin, energi surya, panas bumi, dan lain sebagainya. Tetapi kita tidak harus selalu konsentrasi ke energi karena negara kita ini banyak sektor kehutanan dan lahan gambut yang berperan. Sehingga cara-cara seperti agroforestry, pertanian regenaratif, dan lain sebagainya akan kita gali.

Ada sebuah proyek yang mengidentifikasi 100 jenis proyek teknologi yang dapat kita gunakan untuk menyikapi perubahan iklim, dan proyek ini harus melakukan kerja sama melalui dunia akademisi seperti peneliti, dosen, mahasiswa, dan lain sebagainya. Kembali, dalam menyikapinya tidak harus dari pemerintah saja, melainkan non pemerintah juga seperti masyarakat, perusahaan, akademisi, maupun lembaga swadaya masyarakat.

  • Bagaimana dengan sikap pemerintah pusat yang mengajukan banding dalam gugatan warga soal polusi udara dimenangkan warga? Padahal mengklaim komitmen Paris Agreement? 
Climate Change, Bahaya Lebih Besar dari COVID-19, Mengapa?Workshop Jurnalis mengenai Climate Change. (IDN Times/Uni Lubis)

Ghita Maharkesri dari Kompas TV menanyakan soal di atas. Amanda menjawab, dimulai dari kontribusi sektor transportasi. Emisi itu bermacam-macam ada yang dari transportasi, energi, dan di Indonesia paling tinggi sektor kehutanan dan lahan gambut.

“Tergantung kebijakan para pengambil keputusan apa yang akan mereka lakukan. Idealnya mereka harus terima, tetapi ada kebijakan baik kementerian atau secara personalnya mungkin ada kebijakannya. Mungkin secara moral setuju tetapi ini berbicara atas nama lembaga dan juga ada perhitungan dari sisi politik dan lain sebagainya. Satu contoh yang menarik dari lembaga administrasi negara mereka punya program pro hijau, jadi perubahan iklim itu masuk ke dalam kurikulum pendidikan aparatur sipil negara dari eselon 1 sampai 4, dan mudah-mudahan mendapatkan hasil yang baik,” ujarnya.

Baca Juga: Sri Mulyani: Dampak Perubahan Iklim Bakal Segila COVID-19

  • Bagaimana menulis isu perubahan iklim berkaitan dengan pengelolaan sungai?  
Climate Change, Bahaya Lebih Besar dari COVID-19, Mengapa?Workshop Jurnalis mengenai Climate Change. (IDN Times/Uni Lubis)

Elviza jurnalis Mongabay Indonesia berdomisili di Jambi menanyakan hal di atas. Dia menganggap selama ini isu perubahan iklim dikerucutkan dengan deforestasi, degradasi hutan dan energi. Kurang soal sungai. Sungai Batanghari di Jambi kondisinya makin memprihatinkan. Bagaimana menulis isu sungai ini menjadi penting jika dikaitkan dengan isu perubahan iklim?

Amanda menjawab begini: Kita melihatnya dari sistem, tidak bisa dilihat dari sungainya saja. Baik daerah aliran sungai dari hulu sampai ke hilir seperti apa, sampah yang dibuang sembarangan, dan yang lain sebagainya. Saling mengkaitkan seperti sampah, plastik, sungai, curah hujan dan dampak bagi manusianya. Hal ini bisa dilihat dari masalah lingkungan lokal. Masalah lingkungan regional antar negara seperti kebakaran hutan yang memberikan pengaruh kepada negara tetangga, dan masalah global.

Sungai ini masalah lokal dan kita bisa kaitkan dengan masyarakatnya. Contohnya, ketika curah hujan meningkat dan dikaitkan dengan keadaan sungai tersebut. Lihat datnya di BMKG. Ketika curah hujan meningkat apakah ada indikator-indikator yang diukur oleh pemerintah daerah, apakah sungainya meluap diakibatkan sampah yang banyak atau apakah ada penyakit yang terkait di sungai itu.

Menurut para filsafat, jika ilmuwan mempunyai data-data terkait sungai, dengan indikator dan sebagainya, belum tentu yang membacanya akan mengikuti yang dikatakan para ilmuwan. Seperti kebudayaannya, falsafah masyarakat tentang sungai bagaimana di daerah itu? Apakah ikan-ikan terpengaruh, dan sebagainya. Kemudian dicari aspek-aspek yang lebih mengerucut kepada inti permasalahan.

  • Promosi wisata dilakukan tanpa peduli dampak lingkungan. Bagaimana mengedukasi pemerintah dan publik soal ini? 
Climate Change, Bahaya Lebih Besar dari COVID-19, Mengapa?Workshop Jurnalis mengenai Climate Change. (IDN Times/Uni Lubis)

Eva dari Smart FM Banjarmasin menanyakan hal ini. Perubahan iklim berdampak besar pada lingkungan di Kalsel, termasuk Banjarmasin yg awal tahun ini banjir besar. Rumahnya terdampak.

Amanda menyarankan pendekatan menuliskan skenario-skenario kemungkinan yang akan terjadi nantinya, mulai dari yang yang menguntungkan sampai yang merugikan dan orang yang dirugikan dari sebuah kebijakan, termasuk promosi wisata tanpa peduli dampak lingkungan. Kalau 100 orang yang datang ke tempat wisata itu, dampaknya apa? Yang datang 200? 300? Ini kita sajikan. Yang akan rugi adalah pemangku kebijakan di daerah itu kalau lingkunganya rusak.

“Sertakan pendapat-pendapat mereka yang terkena dampaknya dan perasaan mereka yang terkena dampaknya,” kata Amanda.

Tambahan lagi, kalau mengalaminya langsung, bagaimana rasanya? Kita masukkan pengalaman itu ke tulisan. Teman saya banyak yang kena banjir. Yang kurang selama ini adalah kisah-kisah seperti ini. Pengalaman personal. Teorinya ada, selesai disampaikan dalam 30 menit tadi. Tapi kita perlu cari cerita untuk pembuktian. Apalagi kalau kita datang ke negosiasi-negosiasi perubahan iklim, kita gak bisa hanya keluar dengan pernyataan, harus ada cerita, kisah, data yang diperkuat dengan teori-teori ilmiah.

Kanada ada kegiatan yang saya lihat, khusus seni. Bicara sungai digambarkan lewat seni. Kecintaan terhadap sungai yang lebih dulu diangkat. Sense of belonging-nya.

  • Bagaimana mengajak mahasiswa sadar pentingnya perubahan iklim? 
Climate Change, Bahaya Lebih Besar dari COVID-19, Mengapa?Workshop Jurnalis mengenai Climate Change. (IDN Times/Uni Lubis)

Nita Savitri yang juga seorang dosen di Bogor, menanyakan hal ini. Amanda mengaku ini subyek favoritnya. Dia bercerita soal kesibukan di Climate Reality Project Indonesia. Organisasi ini mengumpulkan mahasiswa dari seluruh Indonesia. Keadaan pandemik malah lebih baik karena dari seluruh Indonesia bisa ikutan lewat digital. Kegiatan tiga hari, bicara mengenai perubahan iklim.

“Lalu mereka bikin proyek, post camp activities, apakah mereka kampanye di media sosial, apakah membuat bisnis, apalah penghijauan dan sebagainya. Ada mentor-mentornya,” kata Amanda. Peminatnya membludak. Ada tempat untuk 100 mahasiswa, yang mendaftar ada 1.000-an mahasiswa.

Kegiatan dilakukan setiap tiga bulan, tergantung ada tidak sponsornya. Jadi, menurut Amanda, mahasiswa punya minat yang tinggi, asal dilibatkan. Dan dalam tim, tidak satu orang. Misalnya lima orang dalam tim, harus ada laki-laki dan perempuan supaya balanced. Meskipun durasi Zoom-nya cukup lama, mereka bersemangat. Padahal kualitas sinyal telekomunikasi berbeda. Ada yang harus naik ke bukit untuk dapat sinyal, ada yang harus ke pesisir. Terharu sih.

Yang juga kesempatan baik berkaitan dengan mahasiswa adalah programnya Menteri Nadiem Makarim tentang Kampus Merdeka Belajar. Amanda dan timnya memegang dua mata kuliah. Green Planet dan Future Green Leadership. Peminatnya banyak. Jadi, intinya dibuatkan program yang melibatkan banyak pihak. Pandemik ini membuat kita bisa berhubungan dengan tokoh lintas dunia.

  • Bandung, Aceh, Medan, Lebak, alami fenomena perubahan iklim karena suhunya memanas? Banjir robnya makin tinggi? Angin kencang? Aliran sungai makin deras? Bagaimana menuliskan hal-hal itu? 
Climate Change, Bahaya Lebih Besar dari COVID-19, Mengapa?Amanda Katili Niode dalam Workshop Jurnalis mengenai Climate Change. (IDN Times/Uni Lubis)

Aziss, Saniah, Amelia, Linova, Leli, Iqbal dari Bandung, Aceh, Medan, Banten menanyakan hal ini. Fenomena alam, terkait cuaca. Menurut Amanda, data soal pengaruh perubahan iklim terhadap cuaca, yang dampaknya ke berbagai hal bisa didapatkan. Banjir Rob ada kaitannya dengan pasang surut air laut dan di dukung dengan kenaikan permukaan air laut walaupun tidak signifikan. Dalam hal ini yang sering ditemukan solusinya terkait perubahan iklim hanya mitigasi, untuk adaptasi tidak begitu banyak terkait dengan banjir.

Amanda lahir di Bandung, dan merasa memang Bandung makin gerah. Karena perubahan iklim, salah satunya. Hal lain adalah, Bandung tadinya memiliki pohon-pohon besar sejak zaman Belanda. “Sekarang sudah pada tumbang ditebangi. Itu juga mempengaruhi. Pemukiman makin banyak, ruang terbuka hijaunya berkurang,” kata Amanda. Jadi ada beberapa faktor selain perubahan iklim.

Untuk tsunami, Amanda menganjurkan jurnalis bertanya ke ahlinya. Dia sering melakukannya saat menulis kolom, termasuk rutin di watyuthink.com.

Amanda juga menganjurkan, di masing-masing lokasi dilihat sejarahnya. Kejadian sebelumnya, kerangka waktunya, tanyakan ke warga dari kisah turun temurun, diajak komunikasi. Misalnya, kejadian di Lebak ketika belakangan aliran sungai jadi makin deras, sampai merusak jembatan. Bagaimana dengan cuaca ekstrem? Hujan yang tinggi misalnya, seminggu terakhir? Sebulan terakhir? Hulunya seperti apa. Perlu banyak menggali informasi.

Bagi Amanda, artikel yang menarik bukan bencananya, karena sudah banyak. “Buat saya lebih menarik soal tokoh atau sosok yang terlibat, dan juga usaha di lapangan, apa yang mereka lakukan,” katanya. Misalnya, ketika sedang di konferensi tahunan perubahan iklim (COP), saat mau menulis tentang Paviliun Indonesia, dia menulis tentang sosok Nicholas Saputra, mengapa aktor kondang ini tertarik berkecimpung dalam isu perubahan iklim? Bagaimana membuat film Semesta? Intinya, kalau Nicholas tertarik sama perubahan iklim diharapkan pengagumnya ikutan tertarik. Peran influencer, selebriti sangat menarik di isu perubahan iklim.

Masih selaras dengan semangat perubahan iklim, Amanda juga menerbitkan buku memasak menu khas Gorontalo. Pangan lokal berperan untuk menurunkan emisi karbon karena mengurangi panjangnya jejak karbon mulai dari bahan di pertanian, sampai di meja makan.

“Yang menarik, baru selesai KTT Sistem Pangan Dunia yang dipimpin sekjen PBB. Sekjen menganggap pangan bagian penting benang merah untuk bisa mencapai 17 tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs),” kata Amanda. Termasuk mengurangi kemiskinan, soal perubahan iklim dan sebagainya. Pangan lokal adalah bagian dari adaptasi sekaligus mitigasi.

Baca Juga: IPCC akan Rilis Laporan Mengenai Bahaya Perubahan Iklim

Topic:

  • Umi Kalsum

Berita Terkini Lainnya