Comscore Tracker

Hasil Studi: Sinovac Cegah Kematian Nakes akibat COVID-19 

Kemenkes menyebut efektifitasnya mencapai 98 persen

Jakarta, IDN Times - Hasil studi cepat yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan, vaksin Sinovac mampu mencegah kematian tenaga kesehatan (nakes) akibat COVID-19 hingga 98 persen.
 
“Hasil studi cepat kami menunjukkan, vaksinasi (Sinovac) efektif mencegah 98 persen kematian karena COVID-19 pada hari ke-28 hingga 63 hari setelah dosis kedua,” kata peneliti Balitbang Kemenkes Pandji Dhewantara melalui pemaparan secara virtual, Rabu (12/5/2021).
 
“Hanya tercatat satu individu yang mendapatkan vaksinasi lengkap, dua dosis, dan meninggal. Jadi yang mendapat vaksinasi dosis lengkap peluang untuk meninggal lebih kecil,” tambah dia.

Baca Juga: WHO Sebut Data Uji Klinis Sinovac Meragukan tapi Efektif untuk Dewasa

1. Sinovac juga efektif untuk mencegah gejala dan perawatan

Hasil Studi: Sinovac Cegah Kematian Nakes akibat COVID-19 Vaksin COVID-19 Sinovac pada 19 Juli 2020 tiba di Soetta dan langsung dibawa ke Bandung untuk segera mulai Uji Klinis oleh Biofarma dan FK Unpad. Dok. IDN Times/bt

Studi cepat ini dilakukan oleh Kemenkes pada periode 13 Januari-18 Maret 2021. Subjek yang diteliti dengan desain kohor restropektif adalah 128.290 tenaga kesehatan di DKI Jakarta. Rata-rata atau sekitar 60 persen subjeknya adalah nakes perempuan pada kisaran usia 30 tahun.
 
Hasil lain dari studi ini adalah ternyata vaksin dengan nama lain Coronavac ini juga mampu mencegah COVID-19 bergejala hingga 94 persen. Kemudian, vaksin ini juga efektif untuk mencegah perawatan karena virus corona hingga 96 persen.
 
Satu hal yang ditekankan oleh Pandji adalah kerja vaksin akan sangat optimal ketika seseorang telah diberi dua dosis.
 
“Vaksinasi parsial atau hanya satu dosis efektifnya lebih rendah daripada vaksinasi penuh. Individu yang dapat dosis kedua akan jauh lebih kecil terinfeksi COVID-19 dan menurunkan risiko perawatan,” ujarnya.

Baca Juga: Menkes: Indonesia Dapat Tambahan Jutaan Vaksin Sinovac dan AstraZeneca

2. Disclaimer tentang studi cepat

Hasil Studi: Sinovac Cegah Kematian Nakes akibat COVID-19 ilustrasi vaksin Sinovac

Pada saat yang sama, Pandji mengingatkan jika data yang dia sampaikan sarat keterbatasan. “Ini hasil studi cepat, bukan survei dan datanya sekunder, jadi tidak bertanya langsung atau mempertanyakan tentang perilaku,” kata Pandji menjawab pertanyaan IDN Times, terkait sejauh mana efektivitas vaksin terhadap tingkat kepatuhan subjek atas protokol kesehatan.
 
Selain itu, studi ini juga membatasi perilaku subjek hingga hari ke-63, yang berarti studi ini belum mengungkap berapa lama vaksin dapat memberikan perlindungan. Studi juga tidak menjelaskan persentase penularan dari orang-orang yang sudah divaksinasi.
 
“Masih ada penelitian Kemenkes yang sedang berjalan,” ujar dia.

3. Masyarakat tidak perlu pilah-pilih vaksin

Hasil Studi: Sinovac Cegah Kematian Nakes akibat COVID-19 Vaksinasi di Balaikota DKI Jakarta, Rabu (5/5/2021). (IDN Times/Herka Yanis).

Berdasarkan pemaparan Pandji, Juru Bicara vaksinasi Siti Nadia Tarmizi menyimpulkan, masyarakat tidak perlu khawatir dan tidak perlu pilah-pilih vaksin. Sebab, vaksin Sinovac yang memperoleh efikasi 65 persen ternyata fakta di lapangan efektivitasnya lebih tinggi.
 
Tingginya efektivitas itu bahkan dicatatkan ketika subjek studinya adalah nakes, kelompok masyarakat yang sangat rentan terpapar COVID-19. Nadia juga mengimbau agar masyarakat tidak perlu melakukan uji anti bodi secara mandiri.
 
“Studi cepat ini sudah membuktikan kita gak perlu periksa anti bodi. Nakes yang paling rentan hanya 5 persen risikonya jadi sakit,” kata Nadia.
 
“Harapannya studi ini bisa untuk mempromosikan vaksinasi.” sambung Pandji.

Baca Juga: Ribut-Ribut Vaksin Nusantara, Jokowi: Masa Politikus Ngurusin Vaksin

Topic:

  • Hana Adi Perdana

Berita Terkini Lainnya