Comscore Tracker

Cerita Teddy Lolos dari Maut saat Bom Mengguncang Gereja Surabaya 

#SetahunBomSurabaya Teddy dan Theresia memaafkan pelaku

Bulan ini, tepat setahun lalu, lima bom mengguncang Surabaya dan Sidoarjo. Ada 28 orang meregang nyawa, puluhan terluka. Yang lebih miris, semua pelaku mengajak serta keluarga dalam aksinya. Melalui pengakuan saksi dan korban, kami mencoba menceritakannya kembali. Kesaksian mereka menunjukkan bahwa apapun dalihnya, terorisme adalah kejahatan terhadap kemanusiaan dan tak selayaknya mendapat tempat di manapun.

 

Surabaya, IDN Times - Darah yang keluar dari kepala Teddy Jamanto Purnomo terus bercucuran seolah enggan berhenti. Cairan merah kini membasahi tubuhnya. Namun, laki-laki yang duduk di atas kursi roda itu dengan sabar menanti pertolongan dokter. Tak pernah terbesit dalam pikirannya, di usia yang ke-65, ia harus merasakan serpihan kaca menghujam kepalanya.

“Karena kasurnya habis dan saya masih bisa berjalan, makanya saya duduk di atas kursi roda,” kata Teddy kepada IDN Times di kediamannya.

Hampir 30 menit Teddy menanti. Selama itu pula ia merasakan bagaimana sakitnya tertusuk beling. Beruntung, rambut tebalnya bisa menahan benda-benda tajam menikam kepalanya lebih dalam.

Suasana Rumah Sakit Bedah Surabaya pagi itu kian gaduh. Tenaga medis hilir-mudik membantu korban yang terus berdatangan. Namun, tak ada satu pun yang mengindahkan kehadiran Teddy. Hingga akhirnya kesabaran sang istri, Theresia Margalextina, menyentuh batas.

“Dia marah-marah, ini kenapa suami saya gak dipegang-pegang (dirawat),” lanjut Teddy.

Tidak lama setelah Theresia mengeluh, Teddy segera dipindahkan ke ruangan yang tersisa. Terbaring pasrah, dokter segera memberikan pertolongan pertama kepadanya. Alat bantu pernapasan dengan sigap dipasangkan. Kaos abu-abunya yang sudah bersimbah darah juga diganti. Perban putih dengan selimut coklat juga menemani perjuangan Teddy siang itu.

Theresia yang menanti was-was hanya bisa berdoa. Dia menyerahkan segalanya kepada Sang Maha Kuasa melalui tangan dokter. Ia percaya, apa pun yang terjadi merupakan suratan takdir yang telah dituliskan oleh Tuhan.

“Puji Tuhan bapak sembuh cepat. Minggu kan kejadian, Selasa sudah bisa pulang,” sahut sang istri yang mendampingi Teddy, menceritakan setiap bait-bait kisah bom yang terjadi di Gereja Santa Maria Tak Bercela, 13 Mei 2018.

1. Teddy berangkat ke gereja pukul 05.30 WIB

Cerita Teddy Lolos dari Maut saat Bom Mengguncang Gereja Surabaya IDN Times/Fitria Madia

Minggu (13/5) pagi, matahari masih malu-malu menampakkan diri, namun Teddy bersama istrinya sudah bergegas menuju Gereja Santa Maria Tak Bercela. Mereka berdua hendak mengikuti misa pagi yang dimulai pukul 05.30 WIB. Honda Vario yang dibeli sejak 2016 menemani mereka menembus udara subuh Kota Pahlawan.

“Kami memang biasa ke gereja sana (Santa Maria Tak Bercela). Kebetulan juga istri lagi ada tugas pagi di sana,” jelas Teddy. Theresia merupakan anggota Wanita Katolik (WK). Meningkatkan kualitas hidup masyarakat sesuai dengan ajaran Injil menjadi aktivitas sehari-hari perempuan 62 tahun itu bersama komunitasnya.

Theresia mendapat tugas untuk berjualan pagi itu. “Kami juga mau main ke rumah Andre (sang anak), niatnya setelah misa. Makanya waktu itu ikut misa pagi,” sambung Teddy.

Setelah misa sesi pertama berakhir, mereka tidak bisa langsung bertolak ke kediaman Andre. Theresia hendak menyelesaikan tugasnya sekaligus mendapat izin untuk pulang lebih awal. Teddy yang saat itu menanti istrinya memilih berada di dalam gereja lebih lama.

“Setelah bubar misa, dia tugas dulu, saya masih di dalam gereja tuh,” imbuhnya. Teddy melanjutkan, “gak lama, orang yang ikut misa kedua mulai masuk, nah saya keluar tuh ke halaman gereja.”

Teddy memilih tempat yang sedikit lebih jauh dari pintu agar tidak mengganggu jemaat yang keluar-masuk. “Karena saya masih nunggu istri izin sama ketua WK,” ujarnya.

Dari kejauhan, Theresia mengenali suaminya yang berdiri di dekat pintu. Tampak jelas Teddy membawa tas dan bungkusan yang dititipkannya. Jarak mereka hanya terpaut 15 meter.

“Saya nyuruh bapak agak kesanaan,” ujar Theresia dengan mencontohkan lambaian tangannya. Sang istri takut kehadiran suaminya mengganggu mobilitas jemaat. Teddy yang menuruti tanda dari sang istri memilih untuk berdiri di dekat tembok. 

2. Perhatian Teddy tiba-tiba tertuju pada dua orang pengguna sepeda motor

Cerita Teddy Lolos dari Maut saat Bom Mengguncang Gereja Surabaya IDN Times/Faiz Nashrillah

Dalam sekejap, perhatian Teddy tersita oleh dua pemuda yang menerobos masuk ke halaman gereja dengan motornya. Ia juga melihat seorang ibu dengan tiga anaknya berjalan tepat di depan motor setelah turun dari mobil. Walau sebagian pandangannya terhalang tembok, ia juga mengetahui bila ada seorang lelaki yang menghadang laju kendaraan.

“Saya gak tahu itu siapa, tapi saya pikir orang gereja (pengurus) sini. Karena kalau jemaat pasti tahu parkirnya di mana,” ungkap Teddy.

Tidak sedikit pun dia menaruh rasa curiga. Ia bahkan tetap santai berdiri menanti sang istri. Belum sempat ia mengenali siapa dua lelaki tersebut, tiba-tiba ledakan terjadi. Teddy terhempas jatuh. Tangannya tak mampu lagi menjaga tas dan bungkusan titipan sang istri.

Dalam keadaan terbaring di bawah reruntuhan kaca gereja, Teddy sempat kehilangan kesadaran. Bom yang meledak sekitar pukul 07.15 WIB itu merusak bangunan dalam radius 200 meter. Hampir seluruh kaca di halaman depan gereja rusak. Mau tidak mau, kepala Teddy harus menjadi tempat pelarian bagi serpihan kaca.

“Waktu bom meledak, saya jatuhnya sambil duduk. Di kepala saya ada sembilan jahitan karena kaca-kaca yang hancur nancep di kepala saya,” katanya sembari memegang kepalanya.

Teddy menambahkan, “setelah kejadian, saya baru tahu kalau perempuan itu adalah Ibu Wenny, dia kehilangan dua anaknya ya. Terus, laki-laki yang menghalangi itu Bayu. Kalau gak ada mereka, saya gak tahu lagi berapa banyak korban yang jatuh,” ungkap Teddy.

3. Theresia menyaksikan langsung pelaku meledakkan diri

Cerita Teddy Lolos dari Maut saat Bom Mengguncang Gereja Surabaya IDN Times/Faiz Nashrillah

Dari kejauhan, Theresia yang perhatiannya teralihkan oleh aktivitas WK, seketika memalingkan wajahnya untuk mencari asal keributan. Dia melihat pengendara motor yang kehilangan kecepatan, sehingga tunggangannya menerabas masuk ke halaman gereja. Tidak jauh dari sana, sekitar lima meter dari sumber kegaduhan, Theresia melihat suaminya masih sabar menanti.

Theresia mengaku menyaksikan bagaimana Yusuf Fadil (18) dan FH (16) meledakkan diri dengan bom yang dipangkunya. “Saya lihat meledaknya bagaimana. Setelah dengar dua ledakan, semuanya buram sama asap tuh. Kayak gelap tapi putih,” seru Theresia.

Mendadak, pendengarannya dipenuhi oleh jemaat yang histeris meneriakkan anggota keluarganya. Raungan mereka saling sahut dengan alarm mobil yang terus berdengung. Penciumannya tercemar oleh aroma anyir yang mengudara di gereja.

“Wah itu pokoknya ngeri bener,” ujarnya.

4. Theresia keliling gereja, mencari keberadaan sang suami

Cerita Teddy Lolos dari Maut saat Bom Mengguncang Gereja Surabaya Dok.IDN Times/Istimewa

Seakan ingin berteriak namun tertahan di ujung lidah, Theresia hanya mampu memanggil nama suaminya dalam sunyi. Hatinya berseru memanggil nama Teddy. Pikirannya semakin tak karuan bila mengingat posisi suami yang sangat dekat dengan asal dentuman. Tidak mudah bagi Theresia untuk menentukan langkah. Bukan karena khawatir dengan bom susulan, hanya saja pemandangan menyeramkan pagi itu membuat kakinya seolah tak ingin bergerak lebih jauh.

“Saya lihat mayat, kaki buntung, ada kepala orang, pokoknya anggota badan banyak yang berceceran. Saya jadi gak berani juga melangkahinya,” ucapnya menggambarkan kejadian hari itu.

Dalam kepulan asap, Theresia memutuskan untuk memutari gereja. Ia sepenuhnya berharap aroma anyir yang menyeruak di “rumah suci” bukan bagian dari anggota tubuh suaminya. Dalam pencarian, kalimat “Ya Tuhan Yesus” tak henti-hentinya disebutkan oleh para jemaat. Dengan panik, gelisah, dan penuh harap, dia bertanya dalam hati apakah suamiku masih menanti di tempat ia berdiri?

5. Ia menemukan Teddy selamat namun dalam kondisi terluka

Cerita Teddy Lolos dari Maut saat Bom Mengguncang Gereja Surabaya Dok.IDN Times/Istimewa

Detik demi detik berlalu. Menit demi menit dihempaskan oleh keresahan. Akhirnya, 15 menit “terlama” dalam hidupnya berakhir. Betapa bersyukurnya Theresia melihat suaminya masih tegak berdiri. Baginya, ini adalah keajaiban Tuhan yang tak tergantikan. “Ada yang manggil saya, bu Teddy bu Teddy, ini lho pak Teddy,” cerita dia.

Theresia yang kala itu mengenakan baju pink dengan tas gendongnya segera memegang tangan sang suami. Melalui video amatir yang direkam oleh seorang jemaat, terlihat Theresia merasa geram dengan suaminya yang malah berjalan-jalan dalam keadaan bersimbah darah. “Mendingan ke sana, kamu kenapa jalan-jalan,” ujar Theresia dalam video tersebut.

Teddy yang terpincang-pincang menggenggam erat tangan istrinya. Seseorang jemaat meminta agar Theresia membawa suaminya segera ke rumah sakit. Baginya, pertemuan tersebut bak adegan romantis di drama percintaan. Sepertinya, Dilan dan Milea sekalipun tidak akan mampu menandingi cinta mereka.

“Wah pokoknya udah kayak di film-film. Saya nangis, meluk. Saya sendiri mau ketawa juga kalau ingat-ingat,” ungkap Theresia.

Baca Juga: "Nathan dan Evan Sudah Dijemput Tuhan ke Surga"

6. Demi hilangkan trauma, Teddy menjual motornya

Cerita Teddy Lolos dari Maut saat Bom Mengguncang Gereja Surabaya Dok.IDN Times/Istimewa

Bukan perkara mudah bagi kedua pasangan tersebut untuk melawan trauma. Butuh waktu berbulan-bulan bagi Theresia untuk menghapuskan ingatan tentang anggota tubuh yang berceceran. Selama tiga hari, perempuan asal Tebet, Jakarta Selatan ini kehilangan selera makannya. Untuk sekedar menatap matahari pagi sekalipun ia gelisah.

“Saya tiga hari gak mau makan. Motor juga dibawa pulang, masih bau amis. Ada motor di luar, saya gak berani keluar, gak berani nyiram pohon. Selama satu bulanan saya kebayang-bayang terus,” paparnya. “Akhirnya saya minta itu motor dijual biar traumanya hilang.”

Di lain kesempatan, Theresia sempat mendengar pengakuan seorang jemaat tentang lelaki mencurigakan dengan perawakan aneh. “Saya dapat cerita kalau ada orang yang keluar dari pintu belakang gereja, terus bilang ‘sip berhasil’. Orangnya pakai batik,” ujarnya.

Ia menduga orang tersebut satu komplotan dengan pengebom. Kendati begitu, ia tidak khawatir apabila lelaki tersebut kembali ke gereja untuk melakukan aksi terorisme.

“Menurut saya sih tujuannya (untuk membuat ketakutan) gak berhasil. Pemerintah juga semakin berjaga-jaga. Ya kita berdoa aja supaya gak terulang lagi, gak boleh membenci.”

7. Menghilangkan trauma dengan memaafkan pelaku dan bersyukur kepada Tuhan

Cerita Teddy Lolos dari Maut saat Bom Mengguncang Gereja Surabaya IDN Times/Deby Amaliasari

Sementara Teddy, harus dihantui bebunyian keras yang terus terngiang di alam bawah sadarnya. “Sampai dengar pintu bagasi ditutup aja, itu kan ‘boooom’ saya masih takut,” kata Teddy.

Selama dua bulan, dia memilih untuk memanjatkan doa dari rumah. Bukan perkara mudah bagi dia untuk menghapus ingatan suram tersebut. Kemudian Teddy sadar, kerinduannya kepada Tuhan dan berada di dekat kerumunan jemaat yang menaruh harapan kepada Sang Maha Kuasa, mengalahkan segala tekanan jiwa.

“Ya karena saya rindu (ke gereja), akhirnya saya memberanikan diri. Walaupun awal-awal ke gereja saya pilih-pilih tempat, gak mau dekat pintu masuk. Kemudian menjauh dari kaca. Waktu pulangnya juga was-was dengan keramaian. Sampai sekarang kadang juga masih was- was,” ia membeberkan.

Atas inisiasi gereja dengan pemuka agama di Surabaya, para korban bom Surabaya selalu berkumpul setiap tanggal 13. Dialog keimanan lintas agama dianggap menjadi solusi yang tepat untuk menghilangkan dendam dan rasa gelisah.

“Memaafkan mereka dan bersyukur kepada Tuhan adalah cara yang saya pakai biar traumanya hilang,” sambung Theresia.

Berkumpul bersama keluarga, membenamkan detik demi detik dalam kebersamaan, mensyukuri sekecil apa pun kuasa Tuhan menjadi cara Teddy menghapuskan ingatan buruknya. “Anak sering ke sini, sama cucu sama mantu, jadi sering kumpul sama anak-anak untuk trauma healing,” ulas Teddy.

“Kalau bukan atas izin Tuhan, saya tidak akan selamat,” ujar Teddy mengakhiri obrolan panjangnya bersama IDN Times.

https://www.youtube.com/embed/ZpQRvMCoOyM

Baca Juga: Aloysius Bayu, Relakan Nyawa untuk Adang Teroris

Topic:

  • Sunariyah
  • Rochmanudin

Just For You