Comscore Tracker

Panitia Diskusi UGM yang Diteror: Saya Sempat Kunci Kamar

Anugrah sudah ganti nomor HP tapi tetap diretas

Jakarta, IDN Times - Panitia pelaksana diskusi bertajuk “Persoalan Pemecatan Presiden di Tengah Pandemik Ditinjau Dari Sistem Ketatanegaraan” di Universitas Gadjah Mada (UGM) mengungkap bagaimana mereka mendapat ancaman pembunuhan dari orang tak dikenal.

“Saya tidak menyangka kalau sampai viral. Sampai ada yang bilang ini gerakan makar. Saya kaget. Saya ditelepon orang misterius. Kok mulai aneh, saya takut sekali,” kata M Anugrah Perdana, panitia pelaksana sekaligus pengurus komunitas Constitutional Law Society (CLS), saat diskusi live di YouTube Tempodotco, Minggu (31/5).

“Itu H-1 diskusi, Kamis, sekitar jam 12 atau jam 3, orang tua saya diancam, saya mulai dapat pembunuhan,” kata dia.

1. Anugrah diteror dengan pesanan ojek dan taksi online

Panitia Diskusi UGM yang Diteror: Saya Sempat Kunci KamarIlustrasi ojek online (IDN Times/Sunariyah)

Pengirim pesan pembunuhan mengaku dari salah satu organisasi masyarakat (ormas) di Klaten. Dia memaksa keluarga Anugrah menyerahkan anaknya ke Polres Sleman, untuk diadili atas tuduhan dugaan makar. Bila Anugrah tak kunjung datang ke kantor polisi, dia mengancam akan membunuh seluruh anggota keluarga Anugrah.

Selain ancaman pembunuhan, mahasiswa semester dua UGM itu juga mengalami teror berupa pesanan makanan dari ojek online. Ada tiga ojek online yang datang membawa makanan dan satu taksi online yang datang atas nama Anugrah.

“Mulai ada kejadian janggal, nomor saya diretas untuk menghubungi ojek online. Ada tiga yang antar makanan, ada juga satu mobil yang antar ke tempat tujuan. Waktu itu saya gak mesan,” kata Anugrah.

Baca Juga: UGM Ungkap Mahasiswa Panitia Diskusi Ikut Diancam akan Dibunuh  

2. Peretasan terjadi setelah nomor diganti

Panitia Diskusi UGM yang Diteror: Saya Sempat Kunci KamarIlustrasi peretas (IDN Times/Arief Rahmat)

Hal yang meresahkan Aher, sapaan hangat Anugrah, adalah peretesan tetap terjadi meski dia sudah mencabut sim card dan mengganti nomor pengguna di aplikasi ojek online.

“Bahkan, nomor saya yang lama sudah diganti, tapi tetap ada pesanan dari saya,” ungkap dia.

Karena kejadian itu, keluarga Anugrah menduga ojek online yang datang merupakan intel yang ingin menjemputnya. Keluarga yang panik meminta Aher bersembunyi di dalam kamarnya, seolah-olah dia tidak berada di rumah.

“Keluarga panik, kaget. Orang tua gak tahu harus apa. Saya disuruh tutup pintu, kunci kamar. Waktu itu ayah langsung ngunci pintu, minta rumah harus hening,” ungkap Anugrah.

3. Sempat ditawarkan rumah aman oleh dekan FH UGM

Panitia Diskusi UGM yang Diteror: Saya Sempat Kunci KamarDok. IDN Times/Istimewa

Anugrah juga menceritakan awal mula ide diskusi tersebut diselenggarakan. Semula, CLS melihat bahwa media sosial dipenuhi perdebatan, apakah presiden bisa dimakzulkan atau dilengserkan lantaran tidak becus menangani pandemik COVID-19 atau tidak?

Guna mendapat penjelasan yang komprehensif, kata Anugrah, CLS berencana mengadakan diskusi yang mengundang ahli hukum tata negara dari Universitas Islam Indonesia (UII), Profesor Nimatul Huda.

“Tujuannya memang lebih membahas ke teori,” kata Anugrah.

Namun, kata dia, diskusi pada akhirnya batal digelar karena adanya ancaman.

Dekan Fakultas Hukum UGM Sigit Riyanto, mengecam tindakan intimidatif terhadap diskusi tersebut. Menurut dia, diskusi itu semata-mata demi kepentingan akademik, maka apapun yang menghalanginya adalah hal yang tidak dapat dibenarkan.

Setelah mendengar laporan dari mahasiswanya tentang ancaman, dia sempat menawarkan rumah aman kepada Anugrah, untuk sementara waktu.

4. Pemerintah mendesak Polri mengusut tuntas kejadian tersebut

Panitia Diskusi UGM yang Diteror: Saya Sempat Kunci KamarMenko Polhukam Mahfud MD (Dok. Humas Menko Polhukam)

Sementara, Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengatakan, diskusi tersebut tidak tergolong sebagai tindakan makar. Bahkan, menurut dia, tujuan diskusi itu justru menegaskan bila presiden tidak bisa dipecat atas alasan tidak becus menangani pandemik.

“Tapi ada yang salah paham karena belum baca TOR dan hanya baca judul hingga kisruh. Setelah ditelusuri webinar itu bukan dibatalkan oleh UGM atau polisi,” tulis Mahfud melalui akun Twitter-nya, Minggu (31/5).

Mahfud yang merupakan guru besar hukum tata negara sekaligus mantan Hakim Mahkamah Konsitusi (MK) itu mendesak Polri, untuk segera mengungkap siapa dalang yang mengancam panitia penyelenggara diskusi tersebut.

“Demi demokrasi dan hukum, saya sudah minta Polri agar mengusut peneror panitia dan narasumber. Saya sarankan juga agar penyelenggara dan calon narasumber melapor agar ada informasi, untuk melacak identitas dan jejak peneror, terutama jejak digitalnya,” kata menteri yang juga alumni UII itu.

Baca Juga: Diskusi UGM Diwarnai Teror, Menko Polhukam Minta Korban Segera Melapor

Topic:

  • Vanny El Rahman
  • Rochmanudin
  • Yogie Fadila

Berita Terkini Lainnya