Comscore Tracker

Kasus Balita Tanpa Kepala, Orangtua Menduga Ada Motif Pembunuhan?

Keluarga ingin polisi cari bukti mendalam

Samarinda, IDN Times - Meskipun polisi sudah menetapkan dua tersangka dalam kasus menghilangnya balita empat tahun, Ahmad Yusuf Ghazali, pada 22 November 2019, namun kedua orangtua Yusuf tak puas dengan hasil tersebut.

"Alhamdulillah, kami apresiasi kinerja kepolisian dalam mengungkap, dan kami berterima kasih untuk itu. Sebenarnya kami tak terlalu senang (dengan hasil tersebut)," ucap Bambang, orangtua Yusuf saat ditemui di Mapolresta Samarinda, Rabu (22/1).

1. Keluarga Yusuf akan mengumpulkan bukti konkret, jika berseberangan dengan polisi

Kasus Balita Tanpa Kepala, Orangtua Menduga Ada Motif Pembunuhan?Bambang, ayah Ahmad Yusuf Ghazali, saat berada di Polresta Samarinda. (IDN Times/Yuda Almerio)

Bambang memahami untuk menetapkan status tersangka memang tak sembarangan. Diperlukan penyelidikan mendalam untuk mengambil hipotesis tertentu, itu sebabnya keluarga menyerahkan sepenuhnya kepada polisi untuk mengusut tuntas kasus kematian Yusuf.

Kendati, kata Bambang, keluarga juga tak bisa berpangku tangan. Bapak berusia 39 tahun itu mengaku, akan menyiapkan bukti pendukung terbaik yang relevan dan tidak berdasarkan hal-hal di luar nalar manusia.

"Kami ikuti saja dulu, jika berseberangan, kami akan ajukan bukti konkret," ujar dia.

Baca Juga: Hasil Tes DNA: Balita Tanpa Kepala di Samarinda Adalah Yusuf

2. Keluarga Yusuf ingin polisi memberikan bukti kuat kematian anaknya

Kasus Balita Tanpa Kepala, Orangtua Menduga Ada Motif Pembunuhan?Jenazah balita Ahmad Yusuf Ghazali saat berada di ruang jenazah (IDN Times/Yuda Almerio)

Bambang dan keluarga berharap polisi mengungkap fakta secara mendalam, sehingga kasus ini berakhir dengan adil dan transparan. Tentunya kasus ini juga memerlukan bukti kuat yang bisa meyakinkan keluarga.

"Bukan berdasarkan dugaan," tutur dia.

Tak hanya itu, Bambang juga menyesalkan ketika hasil uji Deoxyribonucleic Acid (DNA) sudah dikantongi polisi, namun keluarga tak diberikan informasi.

Padahal, kata dia, sesuai prosedur, keluarga mendapat kabar lebih dahulu dibandingkan pihak lain. Sebab keluarga juga ingin kepastian kasus balita tanpa kepala itu.

"Yang jelas, kasus ini memang harus ada tersangka. Tapi motif kami berbeda (Bambang menduga anaknya sebagai korban kejahatan)," kata Bambang.

Sebagai informasi, saat ditemukan pada 8 Desember 2019, jenazah Yusuf sudah tidak utuh lagi. Mulai dari kepala, tangan, hingga kedua telapak kakinya. Polisi menduga, jenazah Yusuf tidak utuh akibat benturan saat terseret arus sungai.

3. Ibunda Yusuf tidak yakin buah hatinya meninggal karena terjatuh ke sungai

Kasus Balita Tanpa Kepala, Orangtua Menduga Ada Motif Pembunuhan?Melisa, ibunda balita Ahmad Yusuf Ghazali. (IDN Times/Yuda Almerio)

Sementara, Melisari, ibunda Yusuf tak terlalu banyak berkomentar. Intinya, ia ingin perkara ini selesai dengan baik. Namun ia tetap berprasangka, sang buah hatinya merupakan korban kejahatan, bukan jatuh ke sungai.

"Kami memang awam dengan hal seperti ini, tapi kalau dilihat dari kondisi anak saya itu tak mungkin (terjatuh ke sungai)," kata dia. 

Melisari juga mempertanyakan pertanggungjawaban PAUD, terutama kepala sekolah yang diberi kepercayaan untuk menjaga anaknya, meski dua pegawai PAUD Jannatul Athfaal sudah ditetapkan menjadi tersangka.

"Saya belum puas, kami ingin penjelasan lebih," kata dia.

4. Polisi menduga Yusuf meninggal dunia akibat unsur kelalaian

Kasus Balita Tanpa Kepala, Orangtua Menduga Ada Motif Pembunuhan?Kanit Reskrim Polsek Samarinda Ulu Ipda M Ridwan saat memberikan keterangan pers terkait kasus Yusuf pada Selasa (21/1) malam (IDN Times/Yuda Almerio)

Kanit Reskrim Polsek Samarinda Ulu Ipda M Ridwan di hadapan sejumlah media pada Selasa (21/1) malam, mengatakan keterbatasan saksi menjadi kendala besar, sebab saat itu kedua tersangka berinisial SY dan ML sedang beraktivitas, sehingga tidak melihat kapan Yusuf meninggalkan PAUD.

Guna mengungkap kasus bayi tanpa kepala ini, polisi meminta keterangan belasan saksi, dan prarekonstruksi yang dilakukan pada 9 Desember 2019. Ada 22 adegan yang menggambarkan bagaimana bocah malang itu menghilang tanpa diketahui ML dan SY. Saat itu, keduanya memang berjaga, bahkan SY mendapat mandat piket.

"Makanya, kami mengambil kesimpulan ada dugaan kelalaian dalam kasus ini sesuai Pasal 359 KUHP tentang Kelalaian yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain," kata Ridwan.

Namun, Ridwan mengatakan, dugaan utama dari kepolisian masih mengarah pada kematian Yusuf akibat tercebur dalam parit, yang hanya berkisar 10 meter dari PAUD.

"Sementara kami menyimpulkan jika korban (Yusuf) meninggal karena tercebur air atau terbawa arus hingga lokasi penemuan kali pertama," kata dia.

Baca Juga: Begini Penuturan 2 Tersangka Kasus Bayi Tanpa Kepala di Samarinda

Topic:

  • Rochmanudin

Berita Terkini Lainnya