Comscore Tracker

Kisah Guru Honorer di Pedalaman Kaltim, Upah Minim Hingga Bertemu Ular

Bertha harus berjalan naik turun bukit ke sekolah

Samarinda, IDN Times - Suara kokok ayam membangunkan Bertha Bua'dera dari tidur lelapnya saat fajar belum merekah. Guru honorer alias pegawai tidak tetap harian (PPTH) itu pun segera bersiap-siap menuju sekolah.

Setiap Senin hingga Sabtu dia berjalan kaki sejauh lebih dari dua kilometer, demi mengajar anak didiknya. Perjalanan dari rumah menuju sekolah memakan waktu sekitar satu jam.

"Setiap pagi bangunnya jam setengah lima. Kalau tidak begitu bisa terlambat," ucap Bertha saat ditemui di SD Filial 004, Dusun Berambai, Kelurahan Sempaja Utara, Kecamatan Samarinda Utara, Kalimantan Timur.

Sekolah ini merupakan cabang dari SD 004 yang beralamat di Jalan Padat Karya. Jaraknya sekitar 13 kilometer dari sekolah utama.

Baca Juga: Bongkar Dugaan Pungli di Tangsel, Guru Honorer Ini Justru Dipecat!

1. Bertha harus melewati hutan dan terkadang bertemu hewan buas

Kisah Guru Honorer di Pedalaman Kaltim, Upah Minim Hingga Bertemu UlarPotret murid-murid SD Filial 004 yang berada pinggiran Samarinda (IDN Times/Yuda Almerio)

Banyak suka duka bagi perempuan 56 tahun ini selama mengajar di pinggiran kota yang dikelilingi belantara hutan. Medan yang dilaluinya juga tak mudah. Jalan tanah naik turun bukit sudah menjadi aktivitasnya sehari-hari.

Jika turun hujan, jalanan susah dilewati karena terlalu licin. Sepeda motor juga sulit melintas. Ada lima tanjakan dan turunan yang harus dilalui Bertha sebelum bertemu murid-muridnya.

"Kadang saya juga ketemu ular. Kan kiri-kanan masih hutan," ucap ibu satu anak itu, yang selalu membawa payung setiap pergi mengajar.

2. Bertha mengajar tiga kelas hanya menerima gaji Rp800 ribu per bulan

Kisah Guru Honorer di Pedalaman Kaltim, Upah Minim Hingga Bertemu UlarBertha saat mengajar murid-muridnya di SD Filial 004. Letaknya di tengah hutan pinggiran Samarinda (IDN Times/Yuda Almerio)

Sudah 10 tahun mengajar, Bertha belum juga naik status menjadi pegawai negeri sipil (ASN). Statusnya tetap sebagai guru honorer dengan upah pas-pasan. Setiap bulan dia hanya menerima Rp800 ribu, bahkan sepuluh tahun lalu dia sempat merasakan upah Rp150 ribu.

"Ya, mau bagaimana lagi, dicukup-cukupkan saja. Belum ada peningkatan (gaji) buat honorer," tutur dia.

Bertha berbagi tugas dengan rekannya, Herpina, yang juga guru honorer di SD Filial 004. Jika Bertha mengajar kelas 1, 2, dan 3, Herpina kebagian mendidik siswa kelas 4, 5, dan 6.

Maklum, gedung sekolah hanya ada tiga ruangan. Satu untuk ruang guru, sisanya bilik kelas. Awalnya, beban keduanya tak seberat sekarang, sebab setahun lalu ada Hamka, guru paling senior di antara ketiganya.

Hamka masuk sebagai guru honorer di sekolah itu pada 2007, menyusul Bertha pada 2009, dan Herpina pada 2014. Namun, Hamka ditarik kembali ke sekolah induk.

"Jadi kami berdua saja sekarang," timpal Herpina, pada kesempatan yang sama.

Filial adalah kata lain dari kelas jauh, atau kelas yang dibuka di luar sekolah induk. Sekolah filial ini diperuntukan bagi siswa-siswi yang tidak tertampung di sekolah induk, baik karena keterbatasan kursi atau ruang kelas, atau juga jarak tempat tinggal siswa-siswi yang jauh.

3. Herpina terpaksa berkebun untuk mencukupi biaya hidupnya

Kisah Guru Honorer di Pedalaman Kaltim, Upah Minim Hingga Bertemu UlarHerpina saat mengajar murid-muridnya di SD Filial 004. Letaknya di tengah hutan pinggiran Samarinda (IDN Times/Yuda Almerio)

Herpina adalah mantan murid SD Filial. Dia kemudian kuliah dan kembali ke sekolah tersebut untuk mengabdi. Tak seperti Bertha, dia lebih beruntung karena menggunakan sepeda motor ke sekolah.

Rumahnya berada di Jalan Poros L3, Kecamatan Tenggarong Seberang. Waktu tempuh menuju ke sekolah hanya 20 menit. Selama mengajar sejak 2014 lalu hingga sekarang, guru 23 tahun itu menerima upah Rp700 ribu, setelah mengalami kenaikan Rp300 ribu sejak awal masuk.

Dengan penghasilan jauh di bawah Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK), Herpina harus bertahan sebagai guru honorer. Demi menutupi biaya sehari-hari, mereka terpaksa berkebun dan hasilnya dijual ke pasar malam.

"Saya hanya mengabdi saja. Gaji yang saya dapat untuk bensin saja," tutur Herpina.

Bertha dan Herpina kini terus berharap mendapat kenaikan upah.

Baca Juga: Demi Puaskan Pacar, Ibu Guru di Buleleng Ini Ajak Siswinya Threesome

Topic:

  • Rochmanudin

Just For You