Comscore Tracker

COVID-19 Masih Tinggi, Kamboja Longgarkan Lockdown

Total infeksi meningkat 3.500 persen sejak akhir Februari

Phnom Penh, IDN Times - Meski kasus infeksi COVID-19 di Kamboja terus meningkat, pemerintah memilih mengakhiri lockdown total selama tiga pekan di kota Phnom Penh yang menjadi episentrum pandemik pada Kamis kemarin (6/5/2021).

Meski begitu, penduduk ibu kota Kamboja tersebut diminta tetap mematuhi protokol kesehatan sebab gelombang pertama belum mencapai puncaknya.

"Saya meminta agar orang tidak lalai, karena kita berada di bawah cara hidup baru dalam konteks COVID-19," ujar wakil gubernur Phnom Penh, Mean Chanyada, dalam sesi konferensi pers seperti dikutip dari Reuters.

Lalu lintas sejumlah ruas jalan Phnom Penh dilaporkan kembali ramai dengan kendaraan dan manusia. Tetapi, beberapa distrik di Phnom Penh masih dikunci lantaran menjadi sumber mayoritas kasus infeksi baru.

1. Total jumlah kasus infeksi COVID-19 di Kamboja kini mencapai lebih dari 17 ribu

COVID-19 Masih Tinggi, Kamboja Longgarkan LockdownIlustrasi bendera Kamboja dan salah satu landmark di kota Phnom Penh. (unsplash.com/@nardly)

Negeri yang dipimpin oleh Perdana Menteri Hun Sen tersebut sempat jadi salah satu negara di dunia dengan jumlah infeksi paling sedikit. Sejak kasus pertama dilaporkan pada 31 Januari, totalnya hanya mencapai sekitar 500 hingga akhir Februari lalu. Tetapi angka kasus harian melonjak drastis sejak 21 Februari silam.

Menurut data Johns Hopkins University (JHU) per Jumat 7 Mei 2021, sudah ada 17.621 kasus infeksi di Kamboja. Dengan kata lain, jumlahnya meningkat hingga 3.500 persen. Selain itu, total 114 pasien yang dinyatakan meninggal dengan 6.843 orang di antaranya dinyatakan sudah sembuh.

Rekor tertinggi jumlah kasus harian di Kamboja terjadi pada Selasa kemarin (4/5/2021), di mana ada 938 kasus baru dilaporkan oleh otoritas kesehatan nasional.

2. Meski mengurangi jumlah zona merah, jam malam di Phnom Penh tetap diberlakukan

COVID-19 Masih Tinggi, Kamboja Longgarkan LockdownPemandangan Phnom Penh, ibu kota negara Kamboja, dari ketinggian. (unsplash.com/@allphotobangkok)

Pemerintah Kamboja membagi Phnom Penh ke dalam tiga zona berdasarkan tingkat infeksi virus SARS-CoV-2 pada penduduk lokal. Yakni "merah" dengan kondisi paling berat, "oranye" sebagai daerah dengan resiko sedang dan aman untuk mobilitas, kemudian "kuning" untuk tingkat penyebaran rendah.

Khmer Times pada Kamis kemarin (6/5/2021) melaporkan bahwa pemerintah kota Phnom Penh telah mengurangi jumlah zona merah dari 26 menjadi 23 pemukiman. Tetapi wilayah dengan status merah dan kuning masih tetap diisolasi secara ketat hingga 12 Mei mendatang.

Aktivitas ekonomi dan lalu lintas yang masuk dalam zona kuning kembali diizinkan bergeliat, terlebih pos-pos penjagaan dan barikade telah dicabut oleh pihak keamanan pada Rabu malam (5/5/2021). Meski begitu, aturan jam malam tetap diterapkan yakni dari jam 8 malam hingga jam 3 pagi. Penduduk juga diminta tetap taat pada protokol kesehatan.

Baca Juga: Intelijen Jerman Mulai Awasi Gerakan Anti-Lockdown

3. Kebijakan pelonggaan lockdown dianggap terlalu cepat sebab kurva kasus masih meroket

COVID-19 Masih Tinggi, Kamboja Longgarkan LockdownSalah satu pejabat pemerintah Kamboja saat mengikuti vaksinasi COVID-19 tahap pertama di Phnom Penh, Rabu (10/2/2021). (Facebook.com/Samdech Hun Sen, Cambodian Prime Minister)

Sebelum pelonggaran lockdown, pemerintah Kamboja telah mengambil sejumlah langkah strategis. Mulai dari meningkatkan kemampuan tes dan pelacakan COVID-19, penggencaran vaksinasi di beberapa zona merah Phnom Penh, plus larangan penjualan alkohol. 

Beberapa pihak menganggap pelonggaran lockdown di Phnom Penh dilakukan terlalu cepat. Terlebih kurva kasus positif belum menunjukkan tanda-tanda akan melandai, malah kian tinggi dari hari ke hari.

"Mencabut peraturan pembatasan aktivitas tidak berarti melonggarkan tindakan (pencegahan) COVID-19. Sangat berbahaya untuk menjadi "terlalu santai" saat virus masih menyebar," demikian bunyi cuitan Perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Kamboja, Li Ailan, pada Kamis kemarin (6/5/2021).

Baca Juga: Kamboja Tolak Jadi Kelinci Percobaan Vaksin COVID-19 Buatan Tiongkok

Achmad Hidayat Alsair Photo Verified Writer Achmad Hidayat Alsair

Separuh penulis, separuh orang-orangan sawah.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya