Comscore Tracker

The Gunners Makin Loyo, Inikah Saatnya Arsene Wenger Hengkang?

Masih dengan tagar #WengerOut

Hingga berita ini ditulis, berhembus kabar bahwa Liverpool menyepakati pembelian Oxlade-Chamberlain dari Arsenal dengan harga £35 juta. Diperkirakan pemain berusia 24 tahun tersebut segera menuju St George's Park pada hari Kamis (31/08) untuk jalani tes medis guna melengkapi proses transfernya.

Padahal beberapa jam sebelumnya pada hari Rabu (30/08), Kieran Gibbs juga secara resmi pindah dari Arsenal ke West Bromwich Albion dengan harga £7 juta saja.

Belum lagi jika menghitung berita Alexis Sanchez yang ingin menyeberang ke Manchester City (entah sebagai pembelian atau sekedar peminjaman), Shkodran Mustafi yang diminati oleh Inter Milan, dan penyerang Lucas Perez yang ingin minggat dari Emirates Stadium kembali ke tanah Spanyol.

Pada awal musim ini pun, fans Arsenal harus gigit jari usai kiper kedua mereka, Wojciech Szczęsny, pindah ke Juventus dan bek andalan Gabriel Paulista memilih Valencia sebagai klub barunya. Keduanya pun dilego dengan harga yang cukup murah, masing-masing £11 juta dan £10 juta.

Terang saja ini membuat ketar-ketir pendukung The Gunners, apalagi pada transfer window sejauh ini Arsenal hanya mendapatkan dua pemain (Lacazette dan Kolasinac). Dan yang terbaru, Arsenal harus kalah telak 0-4 dari Liverpool pada akhir pekan lalu. Konyolnya, dua rekrutan baru yang sudah nyetel dengan tim malah dicadangkan oleh Wenger. Di pertandingan tersebut, Arsenal tidak berhasil membukukan shot-on-target satu pun.

Kondisi Arsenal mengundang kekhawatiran dari para legendanya. Thierry Henry pun angkat bicara mengenai hal ini.

"Saya pernah melihat kekalahan di film dan di dunia nyata," ujarnya setelah kekalahan di Anfield pada SkySports. "Tetapi masalahnya adalah bagaimana cara Arsenal kalah. Siapa pun bisa kalah di Anfield, itu selalu terjadi tetapi ini soal bagaimana Arsenal mengalaminya."

"Membicarakan Arsenal adalah membicarakan bakat, bakat dan bakat. Ketika saya tiba di Arsenal, tim dalam kondisi siap bersaing dan bertarung. Setelahnya Arsene hanya membawa pemain berbakat."

"Di mana daya juang tim? Di mana kemampuan tim bersaing? Di mana kemauan pemain membantu pertahanan? Di mana kemampuan memenangkan duel 50-50? Di zaman saya, hal-hal seperti itu yang selalu ditekankan sementara yang baru saja terjadi sungguh tidak bisa diterima."

Daya juang, itu yang terlihat tidak dimiliki oleh Ozil dan kawan-kawan. Determinasi tinggi jelas tidak mereka tunjukkan pada pertandingan melawan Liverpool minggu lalu. Salah kordinasi antar pemain, kontrol bola yang buruk serta taktik yang tidak sanggup membendung kecepatan Firmino-Mane-Salah menjadi penyebab utama kekalahan telak.

Tentu akan sulit membayangkan Arsenal saat ini harus berhadapan dengan tim-tim yang begitu eksplosif di lapangan tengah macam Tottenham Hotspurs, Manchester United dan bahkan Chelsea atau Everton.

Sumber "kekacauan"? Orang-orang tentu saja akan mengarahkan telunjuk pada Arsene Wenger. Wenger dianggap sudah kehilangan kharisma, sentuhan magis dan racikan strategi mumpuni. Arsenal hari ini sangat berbeda dengan Arsenal pada awal era 2000-an.

Hal itu diamini oleh mantan pemain Arsenal lain, Ian Wright. "Ketika Anda membuat daftar terhadap semua permasalahan yang ada dan Anda juga menghitung soal perekrutan pemain, maka ada banyak kekacauan di Arsenal. Saya amat terkejut," tutur Wright, seperti dikutip dari BBC Sport.

"Masalahnya sekarang, mengapa kita tidak bisa membuat para pemain ini bermain untuk kami (Arsenal)?" pungkasnya keheranan.

Situasi kamar ganti Arsenal pun tampaknya belum juga kondusif. Keinginan fans agar Wenger segera angkat kaki dari Emirates mempengaruhi psikologis para pemain.

Konflik internal ini tercium oleh media saat Sanchez memicu keributan usai kekalahan 5-1 dari Bayern Munchen di ajang Liga Champions bulan Februari lalu. Sanchez menyalahkan strategi Wenger yang membuat mereka mengalami kekalahan telak. Tampaknya sejak itu Sanchez tidak kerasan lagi di Arsenal.

Lacazette dan Kolasinac boleh saja datang karena alasan nama besar Wenger. Tapi tentu berbeda dengan apa yang dilihat oleh pemain-pemain yang sudah lama di Arsenal. Mereka boleh jadi berpendapat bahwa Wenger sudah kehilangan tajinya.

Raihan trofi Piala FA baru-baru ini rasanya tidak cukup untuk mengembalikan kepercayaan pemain pada Wenger. Mereka lebih memandang kompetisi Liga Inggris dan Liga Champions sebagai tolak ukur kesuksesan.

Wenger pun tak berdaya melihat pemain-pemainnya angkat kaki satu persatu dan beberapa lagi memilih tidak memperpanjang kontrak. Ini menandakan hubungan pelatih dan pemain tidak lagi hangat.

Entah apa yang ada di pikiran pemilik Arsenal, Stan Kroenke, yang menjamin kursi Wenger tetap aman meski kecaman dan protes dari fans datang bertubi-tubi. Pembelian pemain berlabel bintang rasanya menjadi solusi jangka pendek, namun mustahil terjadi mengingat kabar kondisi Arsenal yang semakin gawat saja sudah diketahui khalayak umum.

Entah apa yang terjadi ke depannya. Yang jelas, kampanye #WengerOut akan bergulir lebih kencang dari sebelumnya.

Achmad Hidayat Alsair Photo Verified Writer Achmad Hidayat Alsair

Separuh penulis, separuh orang-orangan sawah.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya