Comscore Tracker

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di Dunia

Vaksinasi perdana sudah dilakukan di sebagian besar negara

Jakarta, IDN Times - Pertengahan tahun lalu, sejak virus SARS-CoV-2 alias virus corona penyebab COVID-19 dinyatakan menjadi pandemik oleh WHO, para pengembang vaksin berlomba-lomba memulai proyek mereka dan menjadi yang terdepan. Sejumlah perusahaan farmasi dan bioteknologi serta lembaga-lembaga penelitian pun berkolaborasi dalam pengembangan itu.

Pfizer, perusahaan farmasi asal Amerika Serikat yang menggandeng perusahaan bioteknologi Jerman, BioNTech, menjadi salah satu yang paling diunggulkan sejak awal. Masih dari AS, perusahaan bioteknologi Moderna juga disebut-sebut menjanjikan. Universitas Oxford Inggris lantas bekerja sama dengan perusahaan multinasional berbasis Inggris-Swedia, AstraZeneca, juga disorot selama pengembangan vaksin mereka.

Dari Negeri Tirai Bambu, tempat asal virus corona, pengembangan vaksin juga digencarkan. Perusahaan farmasi milik negara, Sinopharm bahkan mengerjakan dua penelitian di dua laboratorium berbeda, di Wuhan dan Beijing. Perushaan pengembang vaksin Tiongkok, CanSino Biologics pun tentu tak mau ketinggalan. 

Salah satu perusahaan yang paling terdengar namanya di Tanah Air adalah Sinovac Biotech. Perusahaan biofarmasi ini mengembangkan vaksin bernama CoronaVac--vaksin yang paling pertama dipastikan pemerintah RI untuk digunakan dalam vaksinasi massal. Sinovac mengerjakan tahapan uji klinis fase III mereka secara multicenter, di Indonesia, Brasil, Turki, dan Cile. Bangladesh yang semula direncanakan menjadi lokasi uji klinis akhirnya menolak.

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaInfografis Perkembang Status Vaksin COVID-19 di Dunia. (IDN Times/Aditya Pratama)

Akhir tahun lalu hingga kini, sejumlah negara sudah disibukkan dengan agenda vaksinasi massal. Indonesia menggelar vaksinasi perdana pada 13 Januari lalu. Pada 7 Desember, Inggris menjadi yang pertama melakukan vaksinasi massal, disusul AS dan Kanada pada 14 Desember. Mereka semua menggunakan vaksin Pfizer.

Sejumlah negara Uni Eropa seperti Belgia, Prancis, Jerman, Yunani, Hongria, Finlandia, Denmark, Italia, Spanyol, Swiss, Belarus, Kroasia, Polandia, Serbia, Malta, Republik Ceko, dan Slovakia sudah memulai juga vaksinasi warga mereka. Begitu pula negara Amerika Latin seperti Argentina, Kosta Rika, Meksiko, dan Cile. Di Timur Tengah, Turki, Syprus, Arab Saudi, Kuwait, Oman, Qatar, dan sudah melakukan vaksinasi perdana. 

Lalu, di Asia, Tiongkok telah melakukan vaksinasi darurat kepada tenaga militer dan tenaga kesehatan bahkan sejak Juni, setelah mereka memberika izin penggunaan terbatas pada vaksin CanSino. Namun, vaksinasi secara umum pada publik belum dilakukan.

Izin penggunaan darurat (emergency used autorization/EUA) pertama mereka berikan kepada vaksin Sinopharm pada Desember lalu. Sedangkan Sinovac, yang sudah mendapatkan EUA dari Indonesia, justru belum mengantongi EUA Tiongkok.

Menyusul Indonesia, India juga menjadi Asia sudah melakukan vaksinasi massal, setelah berhasil megembangkan vaksin mereka sendiri di bawah perusahaan Bharat Biotech. Di Asia Tenggara, Singapura menjadi negara pertama yang melakukan vaksinasi perdana. Mereka menggunakan vaksin Pfizer.

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaInfografis Rencana Pengadaan Vaksin pada 2021 (IDN Times/Arief Rahmat)

Di tahun ini, perlombaan yang disorot di seluruh penjuru dunia bukan hanya dalam pengembangan dan produksi vaksin COVID-19. Namun, kini perhatian dunia sudah lebih menuju pada perlombaan mengamankan pesanan vaksin bagi kebutuhan negara masing-masing.

Amnesty International dan beberapa organisasi lainnya yang tergabung dalam Aliansi Vaksin Rakyat (PAV) melaporkan bahwa 53 persen dari vaksin-vaksin COVID-19 yang kemanjurannya menjanjikan sudah diborong dan bahkan ditumpuk oleh negara-negara kaya, sebagaimana dilaporkan BBC, Rabu, 9 Desember 2020.

Analisis aliansi tersebut menunjukkan negara-negara kaya sudah membeli lebih dari cukup stok vaksin COVID-19 bahkan bisa melakukan tiga kali vaksinasi ke seluruh penduduknya. Kanada contohnya, memesan stok vaksin untuk semua warganya hingga bisa melakukan lima kali vaksinasi. Israel diberitakan bahkan bisa melakukan 10 kali vaksinasi untuk setiap warganya dengan jumlah stok vaksin yang mereka pesan. 

Fakta ini mengkhawatirkan karena negara-negara dengan berpendapatan rendah tidak akan mampu memberikan vaksin bagi semua warganya. Menurut penghitungan Aliansi Vaksin Rakyat, negara berpendapatan rendah hanya mampu melakukan vaksinasi terhadap 1 dari 10 warga mereka. 

Badan Kesehatan Dunia (WHO) melakukan berbagai upaya agar semua negara bisa memperoleh vaksin COVID-19. Salah satunya melalui insitusi Global Alliance for Vaccine and Immunization (Gavi) dalam COVAX Facility. Bersama Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI), Gavi membentuk COVAX Facility.

COVAX adalah terobosan kolaborasi global yang bertujuan mempercepat pengembangan dan pembuatan vaksin COVID-19, serta menjamin akses yang adil dan merata bagi setiap negara di dunia. Indonesia telah tergabung di COVAX sejak akhir tahun lalu dan menjadikan ini menjadi solusi pengadaan vaksin melalui jalur multilateral, selain jalur bilateral dengan perusahaan pengembang vaksin langsung.

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaData mengenai negara dan jenis vaksin COVID-19 yang dipesan (IDN Times/Sukma Shakti)

Baca Juga: Dirut Bio Farma Akui Indonesia Susah Cari Pasokan Vaksin COVID-19

20 Mei: Peneliti Tiongkok di Stemirna Therapeutics mendaftar untuk uji fase 1

Dilansir The New York Times, peneliti Tiongkok di Stemirna Therapeutics telah mengembangkan vaksin mRNA bekerja sama dengan Rumah Sakit Shanghai East. Mereka mendaftarkan uji coba fase 1 pada 1 Mei.

18 Mei: Tiongkok beri EUA untuk vaksin Shenzhen Kangtai

Shenzhen Kangtai Biological Products adalah perusahaan Tiongkok yang membuat vaksin untuk penyakit seperti hepatitis B dan campak. Pada Agustus, AstraZeneca mencapai kesepakatan dengan Shenzhen untuk memasok Tiongkok dengan vaksin adenovirus mereka, meskipun ada laporan korupsi dan skandal yang dimiliki perusahaan tersebut.

Pada Oktober, Shenzhen Kangtai meluncurkan uji coba Fase 1 pada 180 sukarelawan vaksinnya sendiri, berdasarkan virus corona yang tidak aktif. Pada Februari 2021, perusahaan menjalankan uji coba Fase 2, diikuti dengan uji coba Fase 3 yang diluncurkan pada Mei. Pada bulan yang sama, perusahaan mengumumkan bahwa pemerintah China telah memberikan persetujuan penggunaan darurat.

13 Mei: Australia bujuk Moderna bangun manufaktur vaksin

Menteri Kesehatan Australia, Greg Hunt, mengatakan pihaknya telah membujuk  Moderna Inc untuk mendirikan fasilitas manufaktur domestik untuk vaksin COVID-19 di negeri Kanguru.

Pemerintah Australia, Greg melanjutkan, juga akan mengembangkan fasilitas untuk memproduksi vaksin menggunakan messenger ribonucleic acid (mRNA), sebuah teknologi molekuler tertent.

Moderna dan Pfizer Inc memang menggunakan teknologi mRNA dalam vaksin COVID-19. 

11 Mei: BioNTech akan memproduksi vaksin COVID-19 di Singapura

Perusahaan bioteknologi Jerman, BioNTech, yang bermitra dengan perusahaan farmasi Amerika Serikat (AS) Pfizer untuk mengembangkan vaksin COVID-19 menggunakan teknologi messenger RNA (mRNA), akan mendirikan fasilitas manufaktur dan kantor pusat regionalnya di Singapura.

“Fasilitas baru ini akan menyediakan kapasitas pasokan regional dan global dari kandidat produk berbasis mRNA BioNTech dan berfungsi sebagai fasilitas produksi respon cepat untuk Asia Tenggara untuk mengatasi potensi ancaman pandemi,” kata perusahaan itu, mengutip Channel News Asia, Senin (10/5/2021).

BioNTech menambahkan bahwa mereka berencana untuk membuka kantornya di Singapura dan memulai pembangunan fasilitas manufaktur tahun ini, dengan persetujuan perencanaan. Fasilitas tersebut dapat beroperasi paling cepat 2023 dan menciptakan hingga 80 pekerjaan di Singapura.

Dalam rilis medianya, BioNTech mengatakan fasilitas baru, yang didukung oleh Dewan Pengembangan Ekonomi Singapura (EDB), akan memanfaatkan manufaktur mutakhir dan infrastruktur digital.

“Ini akan diperlengkapi untuk memproduksi berbagai vaksin mRNA baru dan terapi untuk penyakit menular dan kanker,” jelasnya.

10 Mei: FDA beri izin vaksin Pfizer-BioNTech untuk anak-anak berusia 12-15 tahun

Pada 9 November 2020, Pfizer yang berbasis di New York dan perusahaan Jerman BioNTech membuat sejarah dengan mengumumkan bahwa vaksin virus corona mereka memiliki tingkat kemanjuran lebih dari 90 persen, jauh melampaui ekspektasi.

Ini adalah pertama kalinya ada orang yang menemukan bukti seperti itu. Lebih dari sebulan kemudian, pada 11 Desember, FDA memberinya otorisasi penggunaan darurat pertama yang pernah diberikan oleh Amerika Serikat untuk vaksin virus corona. Dan hari ini, 10 Mei, FDA memperluas otorisasi untuk anak-anak berusia 12 tahun.

8 Mei: Pfizer tolak penghapusan hak paten vaksin COVID-19

CEO Pfizer Albert Bourla mengeluarkan peringatan yang menyuarakan penolakannya untuk menghapus sementara hak paten pada vaksin COVID-19.

Bourla mengatakan pengabaian perlindungan paten untuk vaksin COVID-19 akan memicu negara-negara di seluruh dunia memperoleh bahan mentah masing-masing, yang dapat mengancam pembuatan vaksin COVID-19 yang aman dan efisien.

“Saat ini, infrastruktur bukanlah penghambat bagi kami untuk memproduksi lebih cepat. Hambatannya adalah kelangkaan bahan mentah yang sangat terspesialisasi yang diperlukan untuk memproduksi vaksin kami,” kata Bourla dalam surat kepada kolega yang diposting di LinkedIn, Jumat (8/5/2021). 

7 Mei: Vaksin Sinopharm dapat EUA dari WHO

WHO memberikan izin penggunaan darurat (emergency use authorization/EUA) untuk vaksin buatan Sinopharm, dilaporkan The New York Times. Sebelumnya, pemerintah Tiongkok sudah lebih dahulu memberikan persetujuan darurat Sinopharm pada musim panas 2020. Pejabat pemerintah, petugas kesehatan, dan kelompok terpilih lainnya mulai menerima vaksin yang bernama BBIIP-CorV.

Beijing Institute of Biological Products menciptakan vaksin virus corona melalui uji klinis oleh perusahaan Tiongkok milik negara, Sinopharm. Pada 30 Desember, Sinopharm mengumumkan bahwa vaksin tersebut memiliki kemanjuran 79,34 persen, membuat pemerintah Tiongkok memberikan persetujuannya.

6 Mei: Rusia mengesahkan vaksin dari Gamaleya versi satu dosis yang disebut Vaksin Sputnik Light

Rusia mengesahkan versi satu dosis dari vaksin Gamaleya, yang dijuluki "Sputnik Light". Dengan versi ini, cukup vaksinasi dengan satu dosis saja. Vaksin ini buatan Institut Penelitian Gamaleya, bagian dari Kementerian Kesehatan Rusia, telah membuat vaksin dengan tingkat kemanjuran 91,6 persen. Pencipta vaksin menerbitkan hasil uji coba tahap 3 mereka pada 2 Februari di Lancet.

The New York Times menulis Gamaleya memproduksi vaksin, awalnya disebut Gam-Covid-Vac, dari kombinasi dua adenovirus yang disebut Ad5 dan Ad26. Kedua jenis ini telah diuji sebagai vaksin selama beberapa tahun. Dengan menggabungkan keduanya, para peneliti Rusia berharap untuk menghindari situasi di mana sistem kekebalan dapat belajar mengenali vaksin sebagai benda asing yang perlu dimusnahkan.

5 Mei: Korsel umumkan efikasi vaksin AstraZeneca 86 persen dan Pfizer 89,7 Persen

Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA) menyebut satu dosis vaksin COVID-19 AstraZeneca atau Pfizer lebih dari 86 persen efektif dalam mencegah infeksi di antara orang-orang yang berusia 60 tahun ke atas.

Hasil temuan yang dirilis pada Rabu (5/5/2021) itu membuka jalan bagi perluasan peluncuran vaksin untuk meningkatkan perlindungan dari COVID-19.

Menurut Reuters, sebagaimana dikutip Forbes, data yang dirilis oleh KDCA menunjukkan vaksin Pfizer 89,7 persen efektif dalam mencegah infeksi COVID-19 dua minggu setelah dosis pertama diberikan, sedangkan suntikan AstraZeneca efektif 86,0 persen.

Temuan KDCA didasarkan pada analisis data dari 3,5 juta orang di negara itu yang berusia 60 tahun atau lebih, termasuk 521.133 orang yang menerima dosis pertama mereka, selama dua bulan sejak 26 Februari.

3 Mei: Denmark umumkan setop vaksin Johnson & Johnson

Denmark mengumumkan tidak akan lagi menggunakan vaksin Johnson & Johnson. Hal ini diputuskan karena adanya risiko efek samping penggumpalan darah sementara pasokan vaksin merek lain yang melimpah di negara itu.

Pada 23 April, peneliti CDC melaporkan 15 kasus pembekuan yang tidak biasa di hampir 8 juta orang yang menerima vaksin Johnson & Johnson. Pemerintah Amerika Serikat memutuskan untuk mencabut larangan sementara pada penggunaan vaksin ini. Mereka hanya menambahkan peringatan pada vaksin bahwa ada kemungkinan sedikit risiko efek samping yang parah pada perempuan berusia muda.

3 Mei: COVAX teken kontrak dengan Moderna

Platform vaksin global COVAX mengatakan pihaknya telah mencapai kesepakatan untuk membeli 500 juta dosis vaksin COVID-19 Moderna, dilansir The Jakarta Post, Senin (3/4/2021). Moderna diharapkan mulai memasok Covax pada kuartal terakhir 2021.

Wakil pemimpin skema Covax Gavi menargetkan ada 34 juta dosis tersedia sebelum akhir tahun. Sedangkan 466 juta dosis lainnya akan menyusul pada 2022.

1 Mei: Terapi Elixirgen yang berbasis di Baltimore memasuki Fase 1/2

Para peneliti di Elixirgen Therapeutics yang berbasis di Baltimore AS telah menciptakan vaksin RNA, bernama EXG-5003, dilansir The New York Times. Penelitian ini menargetkan sebagian kecil protein lonjakan virus corona. Pada 28 April, mereka mendaftarkan uji coba vaksin Fase 1/2 di Jepang. Dan uji coba tersebut dimulai hari ini.

30 April: Penelitian Dewan Riset Ilmiah dan Teknologi Turki masuk Fase 1

The New York Times melaporkan penelitian Dewan Riset Ilmiah dan Teknologi Turki memasuki Fase 1 hari ini. Pada 29 April, mereka mendaftarkan uji coba Fase 1 di Turki. Selain vaksin proteinnya, Dewan Riset Ilmiah dan Teknologi Turki juga telah mengembangkan vaksin yang menggunakan virus corona yang tidak aktif.

30 April: India tutup pusat vaksinasi di Mumbai

Semua pusat vaksinasi di ibu kota keuangan India, Mumbai, ditutup selama tiga hari mulai Jumat (30/4/2021) karena kekurangan vaksin. Penutupan itu terjadi ketika negara itu membukukan rekor kenaikan harian baru kasus virus corona.

Selain Mumbai, beberapa negara bagian India juga telah mengatakan bahwa mereka tidak akan dapat mengimunisasi warga yang berusia 18-45 tahun karena kekurangan vaksin. Baru sekitar 9 persen dari 1,4 miliar orang India yang telah menerima dosis vaksin sejak Januari, menurut Straits Times.

29 April: Butuh dana Rp2.263 triliun untuk vaksin COVID-19 dunia hingga 2025

Perang melawan virus corona tak pernah mudah dan murah. Bahkan total dana yang dibutuhkan untuk vaksinasi COVID-19 secara global diproyeksikan mencapai 157 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.263,7 triliun) pada 2025, demikian menurut laporan perusahaan data kesehatan Amerika Serikat IQVIA Holdings Inc.

Pembelanjaan vaksin menjadi pos pengeluaran terbesar dengan angka 54 miliar dolar AS atau sekitar Rp778,7 triliun. Sementara pengeluaran negara-negara untuk vaksin COVID-19 diperkirakan menurun hingga Rp158,6 triliun pada 2025.

28 April: Malaysia putuskan tidak akan pakai AstraZeneca untuk vaksinasi nasional

Malaysia memutuskan untuk tidak menggunakan AstraZeneca dalam program vaksinasi nasional COVID-19. Meski sejumlah ahli mengemukakan bila manfaat dari vaksin buatan Inggris-Swedia itu lebih besar daripada risiko penggumpalan darah, pemerintah lebih memperhatikan kecemasan publik dan keraguan terhadap vaksin jika AstraZeneca tetap digunakan.

“Dr. Adham (Menteri Kesehatan) dan saya telah membahas tentang penggunaan vaksin AstraZeneca. Kami tidak ingin menyia-nyiakan vaksin yang efektif dan aman ini. Tetapi pada saat yang sama, kami memahami bahwa dalam periode ini, mungkin sains dan fakta tidak bisa mengatasi ketakutan masyarakat dan hoaks yang sudah viral,” kata Menteri Sains, Teknologi, dan Inovasi Khairy Jamaluddin, dikutip dari Channel News Asia, Rabu (28/4/2021).

28 April: Vaksin ketiga dari Sinopharm Tiongkok memasuki Fase 1/2

Vaksin ketiga dari Sinopharm China memasuki Fase 1/2, dilansir The New York Times. Para peneliti di China's Sinopharm telah menciptakan vaksin berbasis protein yang menggunakan protein lonjakan yang direkayasa secara genetik untuk membantu tubuh memproduksi antibodi.

Dua kandidat vaksin Sinopharm lainnya, satu dikembangkan dengan Institut Beijing dan satu lagi dikembangkan dengan Institut Wuhan, menggunakan virus korona yang tidak aktif untuk mengembangkan kekebalan. Sinopharm memulai uji coba Fase 1/2 pada 24 April.

28 April: Kazakhstan mulai menggunakan vaksin QazVac untuk umum

Negara Asia tengah mulai memberikan vaksin yang dikenal sebagai QazVac itu kepada publik pada akhir April, dilansir The New York Times. Sebelumnya, Wakil menteri pendidikan dan sains Kazakhstan mengumumkan bahwa vaksin tersebut diharapkan akan disahkan pada April, meskipun kurangnya hasil yang dipublikasikan dari uji coba Tahap 3.

Kazakhstan memulai penelitian tentang vaksin yang dibuat dari virus korona yang tidak aktif selama musim panas. Pada 28 Agustus 2020, Lembaga Penelitian untuk Masalah Keamanan Biologis mereka mendaftarkan uji coba Fase 1 pada vaksin.

Pada 19 Desember, Kazinform melaporkan bahwa para peneliti telah menyelesaikan uji coba Fase 2, menemukan bahwa vaksin itu aman dan menghasilkan respons kekebalan yang menjanjikan. Para peneliti memulai uji coba Tahap 3 pada Maret.

27 April: Warga AS yang sudah vaksin diperbolehkan tidak pakai masker

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden, atas rekomendasi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), mengizinkan warganya yang telah divaksinasi penuh untuk beraktivitas di luar ruangan tanpa mengenakan masker. Namun, mereka diimbau tetap menggunakan penutup wajah jika berada di tengah kerumunan.
 
Aturan ini diperbarui oleh CDC setelah mempertimbangkan, lebih dari setengah populasi Negeri Paman Sam itu telah menerima suntikan vaksin dosis pertama.
 
"Kami membuat kemajuan menakjubkan karena kalian semua. Jika Anda telah divaksinasi, Anda dapat melakukan lebih banyak hal, lebih aman, baik di luar maupun di dalam ruangan,” kata Biden pada Selasa (27/4/2021), sebagaimana dilansir dari Reuters.

26 April: Anvisa Brasil tolak vaksin Sputnik V Rusia

Pada 26 April, dewan regulator vaksin Brasil menolak Sputnik V, mengatakan bahwa Sputnik V mengandung adenovirus yang belum dinonaktifkan dengan benar, sebagaimana dilaporkan The New York Times. Replikasi adenovirus dapat membuat vaksin berbahaya.

Anvisa, badan pengatur Brasil, juga mengeluhkan data yang tidak lengkap tentang kemanjuran dan keamanan vaksin. Pengembang Rusia menolak klaim Anvisa dan mengatakan mereka akan menuntut atas pencemaran nama baik.

26 April: Vaksin dari Baylor College of Medicine dan Texas Children’s Hospital masuk Fase 3

Vaksin dari Baylor College of Medicine dan Texas Children’s Hospital dipindahkan ke Fase 3, dilansir The New York Times. Pada 24 April, Biological E mengumumkan akan memulai uji coba Tahap 3.

Dua hari kemudian, pemerintahan Biden mengatakan akan mendanai ekspansi substansial dari kemampuan manufaktur Biological E. Perusahaan memiliki target 300 juta dosis siap untuk segera disebarkan ketika vaksin disetujui, dan berencana membuat 1,2 miliar dosis pada 2022.

Setelah epidemi SARS pada 2002, para peneliti Baylor College of Medicine mulai mengembangkan vaksin yang dapat mencegah wabah baru. Meskipun hasil awal menjanjikan, dukungan untuk penelitian tersebut menghilang.

Karena virus corona yang menyebabkan SARS dan COVID-19 sangat mirip, para peneliti menghidupkan kembali proyek tersebut bekerja sama dengan Texas Children’s Hospital. Para peneliti telah menemukan bahwa vaksin COVID-19 menghasilkan antibodi pada tikus.

Perusahaan India Biological E melisensikannya pada Agustus dan meluncurkan uji coba Fase 1/2 pada November, menggabungkan protein virus dengan bahan pembantu yang dibuat oleh Dynavax.

Pada 29 Desember, Biological E dan Koalisi untuk Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi mengumumkan kemitraan untuk memajukan pengembangan dan pembuatan vaksin, dengan CEPI pada awalnya menyumbang 5 juta dolar untuk upaya tersebut.

 

24 April: Distribusi vaksin COVID-19 negara miskin cuma 0,3 persen

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti distribusi vaksin COVID-19 di seluruh dunia yang dinilai belum merata. Kritik datang dari Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus. Menurut Tedros, vaksin COVID-19 hingga saat ini masih berada di luar jangkauan negara-negara miskin.

"Hampir 900 juta dosis vaksin telah didistribusikan secara global, namun lebih dari 81 persen diberikan kepada negara-negara berpenghasilan tinggi atau menengah ke atas," ujar Tedros seperti dikutip dari dailysabah.com, Sabtu (24/4/2021).

Menurut Tedros, dari 900 juta dosis vaksin yang sudah disebarkan, negara berpenghasilan rendah menerima tak sampai 1 persen dari total dosis.

"Negara-negara berpenghasilan rendah hanya menerima 0,3 persen," kata Tedros. Seperti diketahui, Tedros telah beberapa kali melayangkan kecaman atas ketidakadilan dalam distribusi vaksin.

23 April: Komisi Uni Eropa siapkan tuntutan hukum untuk AstraZeneca

Komisi Eropa sedang mempersiapkan kasus hukum terhadap AstraZeneca karena gagal memberikan dosis yang cukup, dilansir The New York Times. Vaksin yang dinamai Vaxzevria itu yang dirancang oleh Universitas Oxford dan diproduksi oleh perusahaan Inggris-Swedia AstraZeneca ini mencapai kesepakatan dengan sejumlah produsen untuk memproduksi miliaran dosis saat mereka masih menjalankan uji klinis.

Tetapi pada Januari 2021, mereka mengakui bahwa pengiriman vaksin yang dijanjikan ke Uni Eropa akan gagal. Kekurangan jumlah pengiriman semakin memburuk pada Maret ketika India, menghadapi ledakan kasus baru dan memblokir ekspor vaksin dari pabriknya. Pada 26 April, Komisi Eropa mengumumkan telah mengajukan gugatan terhadap perusahaan tersebut atas pelanggaran kontrak.

Namun India masih berjuang untuk memvaksinasi warganya sendiri sementara kasus dan kematian meroket. Amerika Serikat sempat mendapat kecaman keras karena menahan bahan baku yang dibutuhkan India untuk membuat pasokan Covishield sendiri. Pada 25 April, pemerintahan Biden mengumumkan akan mencabut sebagian larangannya.

Para kritikus juga menunjuk pada persediaan jutaan dosis vaksin AstraZeneca yang mulai dibuat oleh Amerika Serikat tahun lalu. Sekarang Amerika Serikat memiliki cukup vaksin dari perusahaan lain untuk melindungi semua warganya. Pada 25 April, Dr. Anthony Fauci mengatakan bahwa pemerintah Amerika Serikat sedang mempertimbangkan pengiriman vaksin.

20 April: Vaksin Sputnik V klaim efikasi 97,6 persen

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaSalah satu taket tahap pertama vaksin Sputnik V asal Rusia yang diterima oleh Palestina pada Kamis (4/2/2021). (Facebook.com/mohps - Kementerian Kesehatan Palestina)

Pusat Penelitian Epidemiologi dan Mikrobiologi Nasional Gamaleya dari Kementerian Kesehatan Federasi Rusia dan Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF) mengumumkan bahwa vaksin Sputnik V menunjukkan efikasi 97,6 persen.

Hasil itu didasarkan pada analisis data mengenai tingkat infeksi virus corona pada orang Rusia yang telah divaksinasi dengan kedua komponen Sputnik V, sebagaimana disampaikan RDIF dalam rilisnya kepada IDN Times, Selasa (20/4/2021).

RDIF mengatakan Sputnik V disetujui untuk digunakan di 60 negara dengan total populasi 3 miliar orang. Itu menjadikan Sputnik V menempati urutan kedua di antara vaksin virus corona secara global dalam hal jumlah persetujuan yang dikeluarkan oleh regulator pemerintah.

14 April: Inggris perluas uji klinis pencampuran vaksin

Inggris memutuskan memperluas dan memperbesar skala uji coba pencampuran berbagai jenis vaksin. Uji klinis ini bertujuan untuk mengetahui, apakah kekebalan optimal terhadap COVID-19 bisa diperoleh dari dua jenis vaksin berbeda.

Pencampuran vaksin juga menawarkan fleksibilitas dalam proses inokulasi, mengingat keterbatasan produksi di tengah kebutuhan vaksin yang sangat tinggi sekarang ini.

Orang dewasa berusia di atas 50 tahun yang telah disuntik dosis pertama Pfizer atau AstraZeneca diperbolehkan mendaftar ikut serta dalam penelitian Com-Cov, platform uji klinis pencampuran vaksin yang digagas Universitas Oxford ini. Pada dosis kedua, mereka bisa menerima vaksinasi Moderna atau Novavax.

14 April: Johnson & Johnson tunda pengiriman vaksinnya ke Eropa

Menyusul rekomendasi FDA tentang vaksinnya yang menyebabkan pembekuan darah, Johnson & Johnson memutuskan menunda pengiriman vaksin COVID-19 buatannya ke Eropa.

Ini tepat seminggu setelah regulator obat Benua Biru meninjau kasus gumpalan darah pada empat penerima vaksin di AS. Afrika Selatan juga menangguhkan penggunaan vaksin J&J.

13 April: FDA rekomendasikan penghentian vaksin Johnson & Johnson karena pembekuan darah

Badan Kesehatan Federal AS (FDA) pada Selasa (13/4/2021) memberi rekomendasi agar menghentikan penggunaan vaksin J&J, setidaknya selama beberapa hari. Hal itu dilakukan setelah enam perempuan di bawah 50 tahun mengalami pembekuan darah setelah diinokulasi.

Pejabat FDA Peter Marks menyampaikan, kasus pembekuan darah setelah disuntukkan vaksin J&J dengan AstraZeneca sangat mirip. Dia juga menyinggung tidak ditemukannya kasus pembekuan darah serupa di antara penerima Moderna atau Pfizer-BioNTech, yang menggunakan teknologi berbeda dan sebagian besar digunakan bakal vaksinasi di AS.

11 April: Tiongkok eksperimen campur vaksin COVID-19

Tiongkok sedang mengeksplorasi ide terkait penyuntikkan vaksin COVID-19 dalam jenis yang berbeda. Ide ini muncul demi menutup margin dalam rendahnya efikasi vaksin COVID-19.

Kepala Pusat Kontrol dan Pengendalian Penyakit, Gao Fu, menyatakan sebenarnya pihaknya sedang memikirkan dua metode dalam menyuntikkan vaksin COVID-19.

9 April: 87 Persen Lebih Pasokan Vaksin COVID-19 Masuk ke Negara Kaya

Negara-negara kaya telah menerima sebagian besar pasokan vaksin COVID-19 yang ada di dunia, sementara negara-negara miskin telah memperoleh kurang dari 1 persen, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada konferensi pers Jumat (9/4/2021).

“Dari 700 juta dosis vaksin yang telah didistribusikan di seluruh dunia, lebih dari 87 persen telah diberikan ke negara-negara berpenghasilan tinggi atau atas dan menengah, sementara negara-negara berpenghasilan rendah hanya menerima 0,2 persen,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

2 April: WHO geram vaksinasi COVID-19 di Eropa sangat lelet

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mengkritik peluncuran vaksin corona di Eropa yang sangat lambat. Imbasnya, pandemik COVID-19 di Benua Biru memasuki fase yang semakin mengkhawatirkan dalam beberapa bulan terakhir.
 
"Vaksin memberikan jalan keluar terbaik dari pandemik ini. Namun, peluncuran vaksin ini sangat lambat dan memperpanjang pandemik di kawasan Eropa,” kata Direktur WHO untuk Eropa Hans Kluge, seperti dikutip dari BBC, Jumat (2/4/2021).
 
"Kita harus mempercepat proses dengan meningkatkan produksi, mengurangi hambatan dalam pemberian vaksin, dan memanfaatkan setiap dosis yang kita miliki sekarang," tambahnya.

2 April: Amerika kemungkinan tidak akan pakai AstraZeneca

Kepala penasihat medis Gedung Putih Anthony Fauci mengatakan, Amerika Serikat (AS) mungkin tidak membutuhkan vaksin AstraZeneca untuk diinokulasi kepada warganya. Selain karena otoritas Paman Sam sudah mengamankan cukup dosis, vaksin buatan Inggris-Swedia itu juga dianggap bermasalah dalam data dan penggunaannya.
 
“Itu masih belum jelas,” kata Fauci ketika ditanya apakah AS akan menggunakan AstraZeneca atau tidak.
 
“Mengingat hubungan kontraktual yang kami miliki dengan sejumlah perusahaan (vaksin), kami memiliki cukup vaksin untuk memenuhi semua kebutuhan kami tanpa meminta AstraZeneca,” tutur epidemiolog terkemuka itu, dilansir Reuters, Jumat (2/4/2021).

1 April: Vaksin Moderna dapat otorisasi FDA untuk penyimpanan suhu kamar dalam 24 jam

Pada 1 April, Moderna mengumumkan bahwa mereka telah menerima otorisasi FDA untuk menyimpan vaksinnya pada suhu kamar selama 24 jam--dua kali lebih lama dari sebelumnya. Perusahaan juga diberikan persetujuan untuk mengirimkan vaksin dalam botol yang lebih besar yang dapat menampung 15 dosis.

Vaksin Moderna adalah salah satu dari beberapa yang diuji dalam penelitian Oxford yang mengukur seberapa baik dosis pengganti dapat meningkatkan kekebalan. Pada Maret, Moderna memulai uji coba Fase 1 dari vaksin yang dibuat khusus untuk varian B.1.351 dan uji coba Fase 1 dari vaksin baru yang tahan terhadap lemari es. 

23 Maret: Malaysia dan Singapura terapkan sertifikat vaksinasi berteknologi blockchain

Malaysia dan Singapura melakukan gebrakan dalam hal vaksinasi COVID-19. Sertifikat vaksinasi COVID-19 digital di kedua negara diamankan oleh teknologi blockchain dan akan dilengkapi dengan fitur penelusuran.

Fitur itu dapat memberitahu dengan tepat batch dari botol vaksin yang digunakan untuk inokulasi tiap orang, menurut Menteri Sains, Teknologi, dan Inovasi Malaysia Khairy Jamaluddin dalam postingan Facebooknya pada Selasa (23/3/2021).

“Baik Malaysia dan Singapura menggunakan teknologi blockchain untuk tujuan ini (untuk mengeluarkan sertifikat vaksin mereka),” kata Khairy, mengutip Channel News Asia.

17 Maret: COVAX sudah salurkan 28,3 juta vaksin ke 46 negara

Menteri Luar Negeri (Menlu) Republik Indonesia Retno Marsudi, yang juga menjabat sebagai Co-Chair COVAX AMC Engagement Group (AMC EG) menyampaikan, skema pendanaan vaksin yang didukung oleh World Health Organization (WHO) ini telah mendistribusikan 28,3 juta vaksin ke lebih dari 46 negara.

Menurut Retno, telah terjadi perkembangan positif perihal pemerataan vaksin bagi negara-negara miski. Sekalipun hal itu sempat menghadapi tantangan, salah satunya karena negara-negara maju beberapa saat lalu meremehkan skema COVAX.

“Sejak pertemuan yang lalu (Januari 2021), kita menyaksikan perkembangan yang signifikan di mana program vaksinasi telah dimulai setidaknya di 131 negara. Semua ini memberi harapan. Mari kita terus bekerja sama untuk menjaga momentum ini," ujar Retno dalam pertemuan COVAX AMC EG pada Rabu (17/3/2021), dilansir dari laman kemlu.go.id.

18 Maret: WHO sebut manfaat vaksin AstraZeneca lebih besar dari risikonya

World Health Organization (WHO) tetap merekomendasikan penggunaan vaksin AstraZeneca dalam upaya menghentikan pandemik COVID-19. Terkait laporan penggumpalan darah di sejumlah negara setelah diinokulasi vaksin buatan Inggris-Swedia, WHO saat ini masih melakukan penyelidikan dan berjanji akan merilis hasil investigasi secepat-cepatnya.

"Saat ini, WHO menganggap bahwa manfaat vaksin AstraZeneca lebih besar daripada risikonya dan merekomendasikan agar vaksinasi dilanjutkan,” demikian tertulis dalam keterangan WHO, sebagaimana dikutip DW pada Kamis (18/3/2021).

Seorang perempuan di Denmark meninggal akibat penggumpalan darah setelah disuntikkan vaksin AstraZeneca. Otoritas kesehatan kemudian menangguhkan penggunaan vaksin tersebut. Keputusan serupa juga diambil oleh Islandia, Norwegia, Italia, Belanda, Jerman, bahkan Indonesia.

16 Maret: Thailand putuskan suntikkan vaksin AstraZeneca setelah sempat ditunda

Thailand memutuskan untuk menggunakan kembali vaksin AstraZeneca pada Selasa (16/3/2021), setelah penundaan singkat karena khawatir efek samping berupa penggumpalan darah, menyusul laporan di sejumlah negara Eropa.

Dilansir dari The Straits Times, Menteri Kesehatan Thailand Anutin Charnvirakul mengatakan, vaksin AstraZeneca akan segera didistribusikan tepat setelah badan pengawas obat memberi persetujuan. Pertemuan antara otoritas tersebut dengan pemerintah berlangsung Senin (15/3/2021) ini.

Untuk meyakinkan masyarakat, Perdana Menteri Thailand bersama beberapa menteri akan terdaftar sebagai kloter pertama penerima vaksin yang dikembangkan bersama Oxford University tersebut.

4 Maret: Vaksin Soberana 2. dari Institut Vaksin Finlay Kuba memasuki fase uji klinis III

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaIlustrasi Penelitian Ilmiah. IDN Times/Mardya Shakti

Vaksin yang dikembangkan Institut Vaksin Finlay Kuba memasuki fase uji coba klinis fase III, seperti dilansir The New York Times. Mereka mengembangkan vaksin yang dikenal sebagai Soberana 2.

Vaksin ini mengandung bagian dari protein lonjakan virus korona, yang digabungkan dengan vaksin tetanus standar untuk membuatnya stabil. Soberana 2 juga mengandung aluminium hidroksida sebagai bahan pembantu untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Setelah menguji Soberana 2 pada hewan, peneliti Finlay memulai uji coba Fase 1 pada Oktober, diikuti dengan uji coba Fase 2 pada Desember. Pada Januari Kuba mencapai kesepakatan dengan Iran untuk menguji vaksin mereka dalam uji coba Fase 3. Pada tanggal 3 Maret, Institut Vaksin Finlay mendaftarkan uji coba Tahap 3 untuk Soberana 2, dengan rencana untuk merekrut 44.010 peserta di Havana.

Kuba berencana membuat 100 juta dosis Soberana 2 untuk memvaksinasi seluruh penduduknya. Kuba menaruh harapan pada vaksin sebagai penyelamat ekonomi bagi pulau itu.

4 Maret: Vaksin Gritstone Oncology masuk uji klinis fase I

Penelitian vaksin yang dikembangkan Gritstone Oncology telah memasuki fase I uji coba  klinis. The New York Times melansir Mereka mengembangkan vaksin eksperimental dalam beberapa tahun terakhir yang mengajarkan sistem kekebalan untuk menyerang tumor. Tahun lalu, mereka membangun vaksin untuk COVID-19 dengan virus corona sebagai untuk diserang.

Dalam uji coba Fase 1 yang diluncurkan pada bulan Maret, Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular sedang menguji seberapa baik dua dosis vaksin ini bekerja sama. Adenovirus simpanse berfungsi sebagai dosis pertama dan RNA yang menguat sendiri sebagai yang kedua. Para peneliti berharap kombinasi ini akan menghasilkan respons imun yang lebih baik.

3 Maret: COVAX distribusikan 237 juta dosis vaksin ke 142 negara pada akhir Mei

COVAX, platform penyedia dan pendistribusi vaksin bagi negara miskin dan berpenghasilan menengah, menargetkan pengiriman 237 juta dosis vaksin AstraZaneca ke 142 negara pada akhir Mei 2021. Jadwal pengiriman vaksin akan terbagi menjadi dua fase, yaitu gelombang pertama pada Februari-Maret dan gelombang kedua pada April-Mei.

Penyebarannya termasuk ke Afganistan 2,6 juta dosis, Aljazair 1,9 juta dosis, Bangladesh 10,9 juta dosis, Brasil 9,1 juta dosis, Indonesia 11,7 juta, dan Korea Utara 1,7 juta dosis.

"Patokan waktu ini bergantung pada berbagai faktor, termasuk persyaratan peraturan nasional, ketersediaan pasokan, dan pemenuhan kriteria lain seperti rencana penyebaran dan vaksinasi nasional yang telah divalidasi," tertulis dalam keterangan yang dirilis COVAX, dilansir dari Reuters, Rabu (3/3/2021).

2 Maret: PM India Narendra Modi divaksinasi COVID-19 gunakan buatan dalam negeri

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaPerdana Menteri India Narendra Modi saat Hari Kemerdekaan India pada 15 Agustus 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Adnan Abidi

Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi mendapatkan vaksinasi COVID-19 pertamanya pada Senin, 1 Maret 2021. Vaksin yang digunakan adalah COVAXIN buatan dalam negeri, menurut laporan Channel News Asia.

Upaya vaksinasi pada Modi tersebut dilakukan di tengah kampanye imunisasi negara, yang sudah dimulai sejak pertengahan Januari.

“Luar biasa bagaimana dokter dan ilmuwan kami bekerja dalam waktu cepat untuk memperkuat perang global melawan COVID-19,” kata Modi di Twitter. Ia juga memposting fotonya saat divaksinasi di rumah sakit pemerintah di New Delhi.

“Saya mengimbau semua orang yang memenuhi syarat untuk menerima vaksin. Bersama-sama, mari kita buat India bebas COVID-19,” Modi mengajak warganya agar vaksinasi.

27 Februari: Vaksin Johnson & Johnson kantongi izin FDA

Badan pengawas makanan dan obat AS, FDA mengeluarkan izin penggunaan darurat (EUA) untuk vaksin Johnson & Johnson, menjadikannya vaksin virus corona ketiga yang tersedia di Amerika Serikat. Itu juga yang pertama terbukti aman dan efektif hanya dengan satu dosis daripada dua.

Proyek penelitian yang mengarah pada vaksin dimulai satu dekade lalu di Beth Israel Deaconess Medical Center di Boston, di mana para peneliti mengembangkan metode untuk membuat vaksin dari virus yang disebut Adenovirus 26, atau disingkat Ad26. Johnson & Johnson menggunakan Ad26 untuk mengembangkan vaksin Ebola dan penyakit lainnya dengan Ad26.

Januari lalu, perusahaan dan peneliti Beth Israel bekerja sama dalam membuat vaksin virus korona. Maret lalu mereka menerima $ 456 juta dari pemerintah Amerika Serikat untuk mendukung langkah mereka menuju produksi. Setelah vaksin memberikan perlindungan dalam percobaan pada monyet, Johnson & Johnson memulai uji coba Fase 1/2 pada bulan Juli.

Berdasarkan hasil yang menjanjikan dalam studi ini, Johnson & Johnson meluncurkan uji coba Fase 3 pada bulan September dengan hanya menggunakan satu dosis, bukan dua. Meskipun Johnson & Johnson awalnya berencana untuk merekrut 60.000 sukarelawan, itu membatasi persidangan pada 45 ribu pada bulan Desember ketika kasus meningkat.

26 Februari: Malaysia mulai vaksinasi massal

Malaysia segera memulai proses vaksinasi COVID-19 ke warganya. Setidaknya, mulai Jumat 26 Februari 2021, program vaksinasi di Malaysia secara resmi dimulai. Itu setelah pemerintah Malaysia menerima kiriman pertama vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech.

Malaysia menargetkan bisa menyuntikan vaksin ke 80 persen warganya selama 12 bulan ke depan. Ada tiga fase yang diterapkan dalam program vaksinasi di Malaysia. Tiga fase tersebut, durasinya memakan waktu sampai satu tahun.

Fase pertama, dilancarkan pada 26 Februari hingga April 2021 mendatang, mencakup kaum prioritas seperti tenaga kesehatan, pejabat penting, anggota polisi dan militer, lalu relawan pertahanan sipil.

Kemudian, fase kedua akan digelar sejak April hingga Agustus 2021. Kaum lansia di atas 60 tahun, disabilitas, hingga morbiditas, masuk dalam tahapan kedua tersebut. Pada fase ketiga yang digelar hingga Februari 2022 mendatang, vaksin akan diberikan kepada anak-anak, remaja 18 tahun, dan usia di atasnya.

26 Februari: Vaksin AstraZeneca dapat izin penggunaan sementara di Kanada

Vaksin AstraZeneca mendapatkan izin penggunaan darurat (EUA) dari badan pengawas obat Kanada. Pada 8 Desember, para peneliti dari Universitas Oxford dan perusahaan Inggris-Swedia AstraZeneca menerbitkan makalah ilmiah pertama tentang uji klinis fase 3 dari vaksin virus corona.

Menurut The New York Times, Uji coba tersebut menunjukkan bahwa vaksin tersebut dapat melindungi orang dari COVID-19, tetapi meninggalkan banyak pertanyaan yang belum terselesaikan tentang hasilnya.

Pada awal pandemii, peneliti Oxford mengembangkan vaksin dengan merekayasa genetika adenovirus yang biasanya menginfeksi simpanse. Ketika mereka memberikan vaksin kepada monyet, mereka menemukan bahwa vaksin tersebut melindungi hewan dari penyakit.

April lalu mereka menindaklanjuti dengan uji coba Fase 1/2. Pengembang vaksin tidak mendeteksi efek samping yang parah dalam uji coba, sementara mengamati bahwa vaksin tersebut meningkatkan antibodi terhadap virus corona serta pertahanan kekebalan lainnya.

Vaksin tersebut memulai uji coba Fase 2/3 di Inggris Raya dan India, dan (yang dikenal sebagai Covishield). Selain itu, AstraZeneca kemudian meluncurkan uji coba Tahap 3 di Brasil, Afrika Selatan, dan Amerika Serikat.

25 Februari: Tiongkok beri izin penggunaan umum bagi vaksin Sinopharm Wuhan dan CanSino

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaSebuah stan yang menampilkan kandidat vaksin virus corona dari China National Biotec Group (CNBG), sebuah unit dari raksasa farmasi milik negara China National Pharmaceutical Group (Sinopharm), terlihat di Pameran Internasional China untuk Perdagangan Jasa (CIFTIS) 2020, di tengah wabah COVID-19, di Beijing, China, Jumat (4/9/2020). (ANTARA/REUTERS/Tingshu Wang)

Tiongkok mengumumkan persetujuan vaksin Sinopharm dari Institut Wuhan dan CanSino Biologics untuk penggunaan umum. Meski demikian, menurut laporan New York Times, kemanjuran yang ditentukan dari uji coba Fase 3 belum dipublikasikan Tiongkok.

Bersamaan dengan vaksin Institut Beijing mereka, Sinopharm juga menguji vaksin virus yang tidak aktif yang dikembangkan oleh Institut Produk Biologi Wuhan. Uji coba Tahap 1/2 menunjukkan bahwa vaksin tersebut menghasilkan antibodi pada sukarelawan, beberapa di antaranya mengalami demam dan efek samping lainnya.

Sinopharm mengklaim kemanjuran vaksin itu 72,51 persen. Vaksin versi Wuhan sedang menjalani uji coba Fase 3 di beberapa negara. Pada bulan Desember, Peru secara singkat menghentikan uji coba Sinopharm mereka untuk menyelidiki masalah neurologis yang dialami seorang sukarelawan, tetapi memutuskan bahwa itu tidak ada hubungannya dengan vaksin.

Selain Sinopharm, izin penggunaan umum juga diberikan Tiongkok bagi vaksin Convidecia yang dikembangkan perusahaan China CanSino Biologics dalam kemitraan dengan Institut Biologi di Akademi Ilmu Kedokteran Militer negara itu.

Vaksin sekali pakai didasarkan pada adenovirus yang disebut Ad5. Mei lalu, para peneliti menerbitkan hasil yang menjanjikan dari uji coba keamanan Fase 1 pada Convidecia, dan pada Juli mereka melaporkan bahwa uji coba Fase 2 mereka menunjukkan vaksin menghasilkan respons imun yang kuat.

Dalam langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya, militer Tiongkok menyetujui vaksin pada 25 Juni sebagai "obat yang dibutuhkan secara khusus" dan digunakan selama setahun. Pada 28 November, Kepala Eksekutif CanSino Biologics mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa sekitar 40 ribu hingga 50 ribu orang telah menerima Convidecia, terutama pihak militer.

Mulai Agustus 2020, CanSino mulai menjalankan uji coba Tahap 3 di sejumlah negara, termasuk Pakistan, Rusia, Meksiko, dan Cile.

21 Februari: Malaysia terima vaksin Pfizer gelombang 1

Vaksin COVID-19 merek Pfizer-BioNTech telah tiba di Kuala Lumpur International Airports, pada Minggu (21/2/2021) pukul 09.57 waktu setempat. Vaksin diangkut dengan menggunakan pesawat Malaysia Airlines bernomor penerbangan MH604, yang dioperasikan MAB Kargo Sdn Bhd (MASKargo), demikian laporan Malay Mail.

Perdana Menteri Malaysia, Muhyiddin Yassin, dan Direktur Jenderal Kesehatan Dr Noor Hisham Abdullah, yang akan menerima vaksin dosis pertama.

Vaksin yang pertama kali dikirim ke Malaysia mencapai 312.390 dosis. Pengiriman kali ini dikawal langsung oleh sejumlah pejabat penting Malaysia. Total jumlah vaksin yang didatangkan pemerintah Malaysia, mencapai 12.799.800 dosis. Satu orang warga Malaysia nantinya akan diberikan dua dosis.

16 Februari: Israel hentikan pengiriman bantuan vaksin ke jalur Gaza

Israel telah menghentikan pengiriman seribu dosis vaksin COVID-19 Sputnik V yang ditujukan bakal pekerja medis di Jalur Gaza. Keputusan tersebut dilandasi atas pertimbangan politik, dengan mengabaikan isu kemanusiaan di tengah pandemik.

“(Tindakan Israel) adalah kejahatan nyata dan melanggar semua hukum internasional serta bantuan kemanusiaan,” kata juru bicara Hamas Hazem Qassem pada Selasa (16/2/2021) sebagaimana dilansir dari Al Jazeera.

The Coordinator of Government Activities (COGAT) atau badan militer Israel yang menjalankan urusan sipil di wilayah pendudukan Palestina, menjelaskan Israel sedang menunggu keputusan politik dari para pengambil kebijakan untuk meloloskan vaksin buatan Rusia.

11 Februari: Malaysia bakal beri vaksinasi gratis juga buat warga negara asing di negaranya

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di Dunia(ANTARA FOTO/Malaysia's Ministry of Health/Muzzafar Kasim/Handout via REUTERS)

Pemerintah Malaysia mengumumkan kabar gembira bagi warga asing yang bermukim di negara tersebut. Mereka berencana akan memberikan vaksin COVID-19 gratis kepada semua warga asing, termasuk WNI. 

Informasi itu disampaikan oleh Menteri Sains, Teknologi dan Inovasi Malaysia Khairy Jamaluddin melalui akun media sosialnya pada Kamis (11/2/2021). Keputusan itu diambil dalam rapat kabinet pemerintahan Perdana Menteri Muhyiddin Yassin pada Rabu malam kemarin. 

"Kabinet telah memutuskan bahwa warga asing yang bermukim di Malaysia akan menerima vaksin COVID-19 secara gratis di bawah Program Nasional Imunisasi," demikian keterangan tertulis kementerian yang dipimpin Khairy pada hari ini. 

"Program ini akan melibatkan diplomat, ekspatriat, pelajar, pasangan dari warga Malaysia yang merupakan warga asing dan anaknya, pekerja asing, warga asing pemegang kartu UNHCR," katanya lagi. 

Berdasarkan keterangan dari satuan tugas program vaksinasi Malaysia, warga lokal akan diberikan prioritas. Tetapi, mereka memutuskan untuk memberi vaksin COVID-19 bagi warga asing untuk mencegah penularan virus corona. 

"Ini sesuai dengan pendekatan tiada yang selamat, sehingga semua adalah selamat," ujar Khairy. 

10 Februari: Takis Biotech dan Rottapharm Biotech dari Italia meluncurkan uji coba klinis fase 1

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaIlustrasi Suasana Pandemik COVID-19 di Milan, Italia (ANTARA FOTO/REUTERS/Alessandro Garofalo)

Takis Biotech dan Rottapharm Biotech, dua perusahaan vaksin di Italia, meluncurkan uji coba klinis fase 1 pada 10 Februari. Mereka mengembangkan vaksin yang disebut COVID-eVax.

Dilansir dari The New York Times, metode itu menggunakan perangkat khusus menggunakan denyut listrik kecil untuk mengirimkan DNA melalui kulit. DNA memasuki sel, yang menggunakan instruksi genetik untuk membuat protein lonjakan. COVID-eVax diklaim dapat tetap stabil pada suhu kamar.

8 Februari: SK Bioscience dari Korea Selatan luncurkan uji coba vaksin fase 1/2

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaPresiden Republik Korea Selatan, Moon Jae-in (Twitter.com/TheBlueHouseENG)

Perusahaan vaksin Korea Selatan, SK Bioscience, merancang vaksin COVID-19 yang terdiri dari nanopartikel yang ditaburi potongan protein lonjakan virus corona. Pada Agustus mereka menemukan bahwa vaksin yang disebut GBP510 memicu produksi antibodi yang kuat pada monyet.

Setelah bermitra dengan GSK, mereka meluncurkan uji coba fase 1/2 dari vaksin mereka pada hari ini, seperti dilansir The New York Times. Mereka akan meluncurkan uji coba Fase 1 pada akhir November.

8 Februari: vaksin AstraZeneca efikasinya turun, Afrika Selatan tunda vaksinasi

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaVaksin AstraZeneca (cepi.net)

Afrika Selatan memutuskan menunda program vaksinasi nasional, yang memprioritaskan tenaga kesehatan pada kloter pertama. Kebijakan itu diputuskan setelah mempertimbangkan rendahnya efikasi vaksin Oxford-AstraZaneca terhadap COVID-19 varian Afrika Selatan (501Y.V2).
 
Pada pekan lalu, Afsel telah menerima satu juta dosis AstraZaneca untuk digunakan pada pertengahan Februari. Hasil uji klinis vaksin ini menunjukkan tingkat kemanjuran sekitar 75 persen. Studi lanjutan terkait corona 501Y.V2 menunjukkan nilai efikasinya jatuh hingga 22 persen, terpaut jauh dari standar nilai kerja vaksin yang ditetapkan regulator 50 persen. 
 
“Vaksin AstraZeneca tampaknya efektif melawan strain aslinya, tetapi tidak melawan variannya. Kami telah memutuskan untuk menangguhkan sementara peluncuran vaksin,” kata Menteri Kesehatan Zweli Mkhize dikutip dari AP, Senin (8/2/2021).

6 Februari: Tiongkok baru terbitkan izin penggunaan vaksin Sinovac

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaLokasi kantor Sinovac (www.sinovac.com)

Regulator produk medis Tiongkok baru memberikan izin penggunaan vaksin Sinovac pada Sabtu (6/2/2021). Sinovac menjadi vaksin kedua setelah Sinopharm yang diberi lampu hijau untuk disuntikkan kepada masyarakat luas di Tiongkok.
 
Rejimen dua suntikan yang diotorisasi oleh China's National Medical Products Administration pada Sinovac dan Sinopharm diperuntukkan mengejar kekebalan imunitas (herd immunity) dengan menyasar kelompok rentan yang berisiko tinggi terpapar virus corona.

Izin pakai Sinovac yang baru diberikan oleh otoritas kesehatan setempat tentu menjadi catatan menarik. Sebab, beberapa negara seperti Indonesia, Turki, Brasil, Chili, Kolombia, Uruguay, dan Laos telah memberikan izin darurat untuk penggunaan vaksin yang diproduksi oleh Sinovac Life Sciences.  
 
Dilansir dari Channel News Asia, Beijing ternyata masih menanti hasil uji klinis dan analisis efikasi di berbagai negara sebelum memberikan izin penggunaan kepada rakyatnya.

6 Februari: Perusahaan vaksin COVAX asal AS luncurkan uji coba fase 2

Anak perusahaan United Biomedical, COVAXX yang berbasis di New York, telah menciptakan vaksin yang mengandung bagian dari beberapa protein virus. Hari ini, mereka meluncurkan uji coba Fase 2, juga di Taiwan, seperti dilansir The New York Times.

Sebelumnya, pada 11 September, COVAXX mendaftarkan uji coba Fase 1 di Taiwan yang menyebabkan 100 persen sukarelawan memproduksi antibodi tanpa efek samping yang serius. Uji coba Fase 2/3 direncanakan untuk diluncurkan di Brasil.

Pada 25 November, Covaxx mengumumkan perjanjian dengan negara-negara termasuk Brasil, Ekuador, dan Peru untuk memberikan lebih dari 140 juta dosis senilai 2,8 miliar dokar. Pada Januari, COVAXX mengumumkan bahwa mereka juga memulai penelitian praklinis pada vaksin yang dirancang khusus untuk varian virus corona yang baru muncul yang berpotensi menghindari vaksin konvensional.

6 Februari: COVID-19 di dunia baru bisa berakhir 7 tahun lagi

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaIlustrasi prediksi berakhirnya COVID-19 negara-negara di dunia (IDN Times/Arief Rahmat)

Pandemik COVID-19 diperkirakan baru bisa berakhir tujuh tahun lagi secara global. Hal ini bila dihitung berdasarkan kecepatan vaksinasi di dunia saat ini yang dianalisis dari database Bloomberg. Hingga saat ini, vaksinasi COVID-19 di dunia telah diberikan untuk 119 juta penduduk.

"Butuh tujuh tahun penuh untuk memvaksinasi 75 persen populasi global dengan vaksin dua dosis," tulis The Strait Times yang dilansir pada Sabtu (6/2/2021).

Meski negara-negara Barat diperkirakan lebih cepat pulih, namun ada tiga negara yang diprediksi lebih cepat dalam waktu kurang dari setahun. Yakni Israel, Uni Emirat Arab, Inggris, dan Amerika Serikat.

"Israel, negara dengan tingkat vaksinasi tertinggi di dunia saat ini, menuju cakupan 75 persen hanya dalam dua bulan. Begitu juga dengan Uni Emirat Arab. Amerika Serikat akan sampai di sana tepat pada waktunya untuk merayakan Tahun Baru 2022," tulis Strait Times.

4 Februari: Korea Utara minta batuan vaksin ke COVAX

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaPresiden Korea Utara, Kim Jong-un, saat memimpin rapat Kongres Korea Utara. (Twitter.com/Korea_Friend_UK)

Korea Utara telah meminta bantuan vaksin COVID-19 kepada COVAX Facility meski selama ini mengklaim negaranya bebas kasus virus corona. Dilaporkan France 24, permintaan bantuan internasional itu adalah konfirmasi resmi pertama yang pernah dilakukan negara itu.

Menurut laporan distribusi sementara COVAX yang dirilis minggu ini, lembaga itu akan mendistribusikan 1,99 juta dosis vaksin ke Korea Utara. “Semua negara yang menerima alokasi sementara vaksin telah mengajukan permintaan vaksin,” kata Juru Bicara GAVI kepada AFP, Kamis (4/2/2021).

“Alokasi yang dikutip dalam laporan itu mencerminkan perkiraan pasokan terbaru dan mempertimbangkan kesiapan negara dan persetujuan peraturan,” tambahnya.

4 Februari: Inggris uji klinis untuk ketahui apakah dua dosis suntikan bisa gunakan vaksin yang berbeda

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaPerdana Menteri Inggris Boris Johson berada di luar ruangan dimana para teknisi membuat vaksin COVID-19 AstraZeneca di Oxford Biomedica, di Oxford, Inggris (ANTARA FOTO/Heathcliff O'Malley/Pool via REUTERS/WSJ)

Inggris baru saja memulai studi klinis untuk mengetahui, apakah rejimen dua dosis vaksin COVID-19 bisa menggunakan jenis yang berbeda. Studi yang rencananya berlangsung selama 13 bulan menggunakan sampel vaksin Pfizer dan AstraZaneca.
 
Skema dari penelitian ini adalah memberikan vaksinasi awal vaksin Pfizer, kemudian diikuti penguat vaksin AstraZaneca, atau sebaliknya, dengan jarak antar suntikan 4-12 minggu.
 
“Studi ini akan memberi kita wawasan yang lebih luas tentang bagaimana kita dapat menggunakan vaksin, untuk tetap berada di atas penyakit jahat ini,” kata wakil petugas medis Inggris Jonathan Van Tam, dilansir Channel News Asia, Kamis (4/2/2021).

Vaksin menjadi solusi utama untuk menekan angka kematian dari virus yang telah merenggut lebih dari 2,2 juta nyawa umat manusia. Tetapi solusi itu terhambat oleh ketersediaan dan kebutuhan dunia terhadap vaksin.  
 
“Jika vaksin dapat digunakan secara bergantian, ini akan sangat meningkatkan fleksibilitas pemberian vaksin. (Ini) juga dapat memberikan petunjuk tentang cara meningkatkan perlindungan terhadap strain virus baru,” kata ahli kesehatan di Universitas Oxford Matthew Snape.
 
Supaya studi ini memenuhi standar akademik, Snape berharap relawan yang terlibat lebih dari 800 orang yang berusia di atas 50 tahun.

3 Februari: COVAX umumkan segera kirim 330 juta dosis vaksin ke negara-negara miskin

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaCOVAX/Gavi.org

COVAX Facility telah mengalokasikan setidaknya 330 juta dosis vaksin COVID-19 untuk negara-negara miskin dan akan mendistribusikannya dalam waktu dekat. Lembaga yang bertujuan untuk memastikan setiap negara memperoleh akses yang adil ke vaksin COVID-19 itu juga menargetkan untuk menambah jutaan dosis lagi pada paruh pertama tahun 2021.

Dalam pernyataannya pada Rabu (3/2/2021), COVAX Facility mengatakan distribusi akan mencakup rata-rata 3,3 persen dari total populasi 145 negara yang mengambil bagian dalam tahap awal ini.

“Kami akan segera dapat mulai memberikan vaksin penyelamat hidup secara global, hasil yang kita tahu sangat penting jika kita ingin memiliki kesempatan untuk mengalahkan pandemi ini,” kata kepala eksekutif GAVI Seth Berkley kepada wartawan dalam sebuah pengarahan, sebagaimana dilaporkan Channel News Asia.

3 Februari: Meksiko mengeluarkan izin penggunaan vaksin Sputnik V

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaPenumpang komuter di Kota Meksiko, Meksiko, melakukan jaga jarak pada 29 Mei 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Carlos Jasso

Meksiko memberikan izin penggunaan bagi vaksin Sputnik V yang juga dikenal sebagai Gam-Covid-Vac. Setelah Rusia mengumumkan tingkat efikasi 91,6 persen setelah penyuntikan 2 dosis dengan selang 3 minggu, Meksiko pun memberikan izinnya.

Dilansir The New York Times, Gamaleya memproduksi vaksin COVID-19 bernama Sputnik V, yangawalnya disebut Gam-Covid-Vac. Ini adalah kombinasi dua adenovirus yang disebut Ad5 dan Ad26. Kedua jenis ini telah diuji sebagai vaksin selama beberapa tahun.

Dengan menggabungkan keduanya, para peneliti Rusia berharap untuk menghindari situasi di mana sistem kekebalan dapat belajar mengenali vaksin sebagai benda asing yang perlu dihancurkan.

2 Februari: Tingkat efikasi vaksin Sputnik V berdasarkan uji klinis terbukti 92 persen

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaIlustrasi logo vaksin Sputnik V dari Rusia (www.twitter.com/@sputnikvaccine)

Hasil uji klinis Fase III Sputnik V, sebagaimana dipublikasikan dalam jurnal medis internasional The Lancet, membuktikan bahwa vaksin buatan Rusia itu 91,6 persen efektif untuk memerangi COVID-19. Dilansir dari Channel News Asia, para ahli mengartikannya sebagai senjata baru dunia untuk mengakhiri pandemik yang telah menewaskan hingga 2,2 juta manusia.

Institut Gamaleya Moskow selaku pengembang vaksin telah menjalani uji klinis sejak September 2020 dengan melibatkan 19.866 relawan. Seperempat di antaranya menerima plasebo. Hasilnya, ada 16 kasus gejala COVID-19 di antara penerima vaksin dan 62 di antaranya adalah kelompok plasebo.  

Hal tersebut menunjukkan bahwa rejimen dua dosis vaksin, yang diberikan dengan selang waktu 21 hari, 91,6 persen efektif melawan gejalan COVID-19. Uji klinis juga melibatkan 2.144 relawan yang berusia lebih dari 60 tahun. Hasilpunya pun menggembirakan yaitu 91,8 persen efektif pada komunitas lanjut usia. Tidak ditemukan pula efek samping yang serius dari suntikan vaksin.

Saat ini, Institut Gamaleya sedang menguji apakah vaksin tersebut efektif terhadap varian baru COVID-19. Rusia juga sedang melakukan uji klinis skala kecil dari untuk meningkatkan tingkat kemanjuran antara 73-85 persen hanya pada suntikan pertama.

Sejauh ini, Sputnik V terbukti 100 persen efektif melawan COVID-19 pada tingkat sedang atau berat. Tercatat ada empat kematian penerima vaksin, tapi kasus tersebut telah ditetapkan tidak terkait dengan vaksin.

Beberapa bulan di pengujung 2020, Rusia memutuskan untuk menyuntikkan vaksin Sputnik V kepada sekelompok masyarakat. Langkah tersebut saat itu menuai kritik dari pakar kesehatan karena belum menuntaskan fase-fase uji klinis dan tidak transparan soal data.

2 Februrari: Palestina mulai vaksinasi perdana dengan bantuan vaksin dari Israel

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaPerdana Menteri Palestina, Mohammad Shtayyeh, yang terus mengupayakan segala cara diplomatik guna mencari kedamaian bagi Palestina. twitter.com/PalestinePMO

Otoritas Palestina telah memulai program vaksinasi nasional di Tepi Barat (West Bank) setelah menerima dua ribu dosis vaksin dari Israel. Adapun jenis vaksin yang digunakan pada gelombang pertama ini adalah vaksin Moderna.

“Kami mulai (vaksinasi) nasional hari ini,” kata Menteri Kesehatan Palestina Mai al-Kaila, Selasa (2/1/2021) sebagaimana dilaporkan Al Jazeera.

Vaksinasi nasional diawali dari Tepi Barat, daerah yang dikuasai oleh Hamas dan diblokade oleh Israel. Kebijakan pendudukan Israel menyebabkan beberapa wilayah, termasuk Tepi Barat, kesulitan untuk memperoleh akses vaksin.

Di tengah keterbatasan, kata al-Kaila, tenaga medis akan menjadi kelompok prioritas gelombang pertama vaksinasi nasional. “Kami telah memberikan prioritas tertinggi kepada personel kesehatan dan mereka yang bekerja di unit perawatan intensif,” tambah dia.

Pada Minggu (31/1/2021) lalu, Israel telah berjanji untuk mendistribusikan lima ribu dosis vaksin Pfizer kepada Pelestina pada pekan pertama Februari. Vaksin tersebut digolongkan sebagai bantuan kemanusiaan di tengah pandemik COVID-19.

2 Februari: 11 juta dosis vaksin Sinovac tiba di Indonesia

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaKedatangan vaksin tahap 2 pada Kamis (31/12/2020) (IDN Times/Maya Aulia)

Duta Besar Indonesia untuk Singapura Suryopratomo atau akrab disapa Dubes Tommy, mengatakan saat ini pengiriman vaksin virus corona (COVID-19) dari Tiongkok ke Indonesia sedang mengalami transit di Singapura.

Dalam sebuah pesan singkat kepada IDN Times, Dubes Tommy mengatakan, vaksin COVID-19 buatan Sinovac Life Sciences Co. Ltd tersebut kemungkinan akan tiba di Indonesia pada hari ini, Selasa (2/2/2021) pukul 09.30 WIB.

“Transit di Singapura pengiriman vaksin Sinovac 11 juta dosis pemesanan Bio Farma Bandung dari Sinovac Life Sciences Co. Ltd. Beijing menuju Indonesia, menggunakan Singapore Airlines SQ 0801 pada 2 Februari 2021 pukul 00.10 WS, dan akan tiba di Indonesia pada 2 Februari 2021 pukul 09.30 WIB,” tulisnya.

Indonesia merupakan salah satu negara yang memesan vaksin corona Sinovac dalam jumlah besar. Batch pertama vaksin yang dipesan telah tiba di Indonesia pada 6 Desember 2020 lalu.

Saat itu, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan, vaksin Sinovac yang tiba di Bandar Udara Soekarno-Hatta diangkut menggunakan pesawat Garuda dengan kargo khusus. Saat itu sebanyak 1,2 juta dosis vaksin dalam bentuk jadi tiba di Indonesia pukul 21.30 WIB.

31 Januari: Indonesia dapat jatah 13,7-23,1 juta dosis vaksin AstraZeneca gratis dari COVAX

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaMenlu Retno Marsudi dalam rapat COVAX AMC-19 (www.kemlu.go.id)

Pemerintah Indonesia lewat Kementerian Luar Negeri telah menerima konfirmasi mengenai alokasi tahap awal vaksin multilateral, yaitu dari mekanisme COVAX Facility.

“Sesuai dengan surat dari Gavi, di tahap awal, Indonesia akan menerima 13,7-23,1 juta dosis vaksin AstraZeneca yang akan dikirim melalui 2 tahap, yaitu kuartal I, sebanyak 25-35 persen, dan kuartal II sebanyak 65-75 persen dari alokasi awal tersebut,” kata Menteri Luar Negri Retno Marsudi lewat keterangan tertulisnya, Minggu (31/1/2021).

Distribusi vaksin akan dilakukan setelah vaksin AstraZeneca mendapatkan WHO EUL (Emergency Use Listing).

“Termasuk telah mendapatkan validasi dari kelompok Independent Allocation of Vaccines Task Force (AIVG) dan ketersediaan suplai dari manufaktur sesuai dengan perkiraan awal,” ujarnya.

29 Januari: Regulator Eropa Setujui Penggunaan Vaksin COVID-19 Astrazeneca-Oxford

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaIlustrasi vaksin COVID-19 buatan AstraZeneca (www.france24.com)

Regulator obat Eropa, European Medicines Agency (EMA), menyetujui penggunaan vaksin virus corona yang dikembangkan oleh AstraZeneca dan Universitas Oxford pada Jumat (29/1/2020). EMA mengatakan pihaknya telah menilai keamanan dan keefektifan vaksin tersebut.

Vaksin itu juga telah direkomendasikan dengan konsensus otorisasi pemasaran bersyarat formal yang diberikan oleh Komisi Eropa, badan eksekutif Uni Eropa (UE), ujarnya. Lembaga itu juga mengatakan bahwa vaksin kemungkinan akan bisa digunakan pada orang tua.

“Dengan opini positif ketiga ini, kami telah memperluas gudang vaksin yang tersedia untuk negara-negara anggota UE dan EEA untuk memerangi pandemi dan melindungi warga,” kata Emer Cooke, direktur eksekutif EMA, dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat.

Cooke juga mengatakan Komite Produk Obat untuk Penggunaan Manusia (CHMP) EMA telah melakukan pemeriksaan yang ketat terhadap vaksin itu. “Seperti dalam kasus sebelumnya, CHMP telah mengevaluasi vaksin ini secara ketat, dan dasar ilmiah dari pekerjaan kami mendukung komitmen kuat kami untuk menjaga kesehatan warga UE,” kata Cooke seperti dikutip dari CNBC.

Sebelum mendapat persetujuan EMA, vaksin ini sudah digunakan di Inggris dan telah disetujui penggunaannya di negara itu pada akhir Desember.

28 Januari: Efikasi vaksin Novavax berdasarkan uji klinis di Inggris 89,3 persen

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di Duniailustrasi penyuntikan vaksin (IDN Times/Arief Rahmat)

Hasil uji klinis fase III vaksin COVID-19 Novavax di Inggris menunjukkan tingkat kemanjuran (efikasi) hingga 89,3 persen. Vaksin yang diproduksi pada gelombang kedua ini juga diklaim ampuh melawan virus corona varian Inggris atau B117 yang memiliki daya penularan lebih cepat.
 
“NVX-CoV2373 adalah vaksin pertama yang menunjukkan tidak hanya kemanjuran klinis yang tinggi terhadap COVID-19, tetapi juga kemanjuran klinis yang signifikan terhadap varian Inggris dan Afrika Selatan yang berkembang pesat,” kata Presiden dan Kepala Eksekutif Novavax Stanley C. Erck dalam keterangan pers yang dirilis pada Kamis (28/1/2021).

Uji klinis fase III Novavax di Inggris melibatkan 15 ribu peserta berusia 18-84 tahun, sekitar 27 persen di antaranya berusia di atas 65 tahun. Analisis pertama didasarkan pada 62 kasus, di mana 56 kasus COVID-19 diamati pada kelompok plasebo versus 6 kasus yang diamati pada kelompok NVX-CoV2373, menghasilkan efikasi vaksin 89,3 persen.
 
Analisis awal menunjukkan bahwa strain varian Inggris yang semakin lazim terdeteksi di lebih dari 50 persen kasus gejala yang dikonfirmasi PCR, 32 varian Inggris, 24 non-varian, 6 tidak diketahui. Berdasarkan PCR yang dilakukan pada strain dari 56 dari 62 kasus, kemanjuran oleh strain dihitung menjadi 95,6 persen terhadap strain COVID-19 asli dan 85,6 persen terhadap strain varian Inggris.

27 Januari: Israel klaim 82 Persen lansia sudah disuntik vaksin COVID-19

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaPerdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (www.twitter.com/@netanyahu)

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pidato di acara The Davos Agenda World Economic Forum (WEF) pada Rabu (27/1/2021). Dalam kesempatan tersebut, ia mengklaim Israel menjadi salah satu negara tercepat di dunia dalam vaksinasi COVID-19.

Menurut Netanyahu, Israel telah menyuntikkan vaksin virus corona kepada 82 persen dari total populasi orang lanjut usia (lansia) atau di atas 60 tahun. Ia menargetkan vaksinasi terhadap lansia bisa mencapai 95 persen dalam waktu dekat.

“Akan ada lebih banyak (mutasi) di masa depan. Itu artinya kami harus balapan secepat yang kami bisa,” kata Netanyahu dihadapan Presiden WEF, Børge Brende.

26 Januari: PM Boris Johnson minta maaf karena kasus kematian akibat COVID-19 di Inggris tembus 100 ribu orang

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaANTARA FOTO/REUTERS/Phil Noble

Kematian akibat virus Sars-CoV-2 yang lebih tinggi daripada kematian warga sipil Inggris Raya akibat Perang Dunia II, sekitar 100.162 orang, mengantarkan pemerintahan yang dipimpin oleh Perdana Menteri Boris Johnson dalam tekanan. Melalui video singkat yang dirilis pada Selasa (26/1/2021), Johnson mengungkapan penyesalan yang sangat mendalam karena gagal menekan angka kematian.
 
“Saya sangat menyesal atas setiap nyawa yang telah hilang dan, tentu saja, sebagai perdana menteri, saya bertanggung jawab penuh atas semua yang telah dilakukan pemerintah,” kata Johnson.
 
“Apa yang dapat saya katakan kepada Anda adalah bahwa kami benar-benar melakukan semua yang kami bisa, dan terus melakukan segala yang kami bisa untuk meminimalisasi hilangnya nyawa dan meminimalkan penderitaan,” tambah dia.

Hingga Senin (25/1/2021), sebanyak 6.853.327 orang telah menerima suntikan dosis pertama dan 472.446 orang sudah menerima suntikan kedua. Pemerintahan Johnson menargetkan semua kelompok rentan dan tenaga medis tuntas divaksinasi pada pertengahan Februari.

25 Januari: vaksinasi Pfizer di Israel menunjukkan hasil sukses

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaIlustrasi Suasana Pandemik COVID-19 di Israel (ANTARA FOTO/Oded Balilty)

Pada Senin (25/1/2021), Kementerian Kesehatan Israel dan Maccabi merilis data baru tentang orang-orang yang telah menerima suntikan kedua, menunjukkan nilai efikasi yang sangat tinggi. Kementerian menemukan bahwa dari 428 ribu orang Israel yang telah menerima dosis kedua, seminggu kemudian hanya 63 atau 0,014 persen yang tertular virus.
 
Demikian pula data Maccabi menunjukkan bahwa, lebih dari seminggu setelah menerima dosis kedua, hanya 20 dari sekitar 128.600 orang atau sekitar 0,01 persen yang tertular virus. Sebagai informasi, nilai efikasi uji klinis Pfizer terbukti 95 persen ampuh setelah menerima dua dosis untuk mencegah infeksi virus corona. Angka tersebut merujuk kepada subjek yang belum terinfeksi corona.
 
 “Ini adalah data yang sangat menggembirakan. Kami akan memantau pasien dengan cermat untuk memeriksa apakah mereka terus menderita gejala ringan saja dan tidak mengalami komplikasi akibat virus,” kata pakar kesehatan sekaligus wakil presiden Maccabi Anat Ekka Zohar, sebagaimana dikutip dari New York Times.  

25 Januari: Moderna klaim 3 dosis vaksinnya efektif lawan varian baru COVID-19 strain Inggris dan Afsel

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di Duniawww.modernatx.com

Perusahaan bioteknologi Amerika Serikat (AS) Moderna memaparkan, studi laboratorium menunjukkan vaksin COVID-19 Moderna tetap efektif untuk melindungi varian virus corona yang pertama kali teridentifikasi di Inggris dan Afrika Selatan.
 
Sebagai informasi, varian virus corona asal Inggris atau B117 dinilai memiliki daya penularan yang lebih cepat dibanding virus corona pada umumnya. Sementara, varian corona asal Afrika Selatan yaitu 501.V2 atau B1351 dinilai oleh sebagian ilmuwan lebih ganas dan lebih cepat menular.

Demi kehati-hatian dan efektivitas, Moderna menganjurkan agar suntikan vaksin dilakukan sebanyak tiga kali. Sejauh ini, skema vaksinasi Moderna adalah dua suntikan dengan jarak empat minggu. Moderna juga akan menguji penambahan penguat kedua dari vaksinnya, yang saat ini telah memulai studi praklinis untuk varian Afrika Selatan.

22 Januari: Pakar AS sebut tingkat efikasi vaksin turun terhadap varian baru COVID-19 Afsel

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaIlustrasi seorang petugas yang melakukan tes usap. Unsplash/JC Gellidon

Pakar kesehatan terkemuka Amerika Serikat (AS) Anthony Fauci menanggapi soal nilai efikasi vaksin terhadap varian baru virus corona yang muncul di Inggris dan Afrika Selatan. Fauci mengatakan nilai efikasi vaksin sangat mungkin berkurang ketika menghadapi varian corona 501.V2.

Jika sebelumnya efikasi vaksin senilai 95 persen, maka nilainya bisa turun hingga 80 persen. “Apa yang mungkin kita lihat adalah penurunan kemanjuran vaksin, lebih banyak di Afrika Selatan daripada Inggris,” kata Fauci dilansir Deadline, Jumat (22/1/2021).
 
Varian COVID-19 asal Inggris atau B.1.1.7 dinilai memiliki daya penularan yang lebih cepat dibanding virus corona pada umumnya. Sementara, varian corona asal Afrika Selatan atau 501.V2 dinilai oleh sebagian ilmuan lebih ganas dan lebih cepat menular.

22 Januari: Pfizer kurangi pengiriman ke negara Eropa hingga setengah dari kuota

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaKotak-kotak berisi vaksin Pfizer BioNTech COVID-19 dipersiapkan untuk dikirim di pabrik produksi Pfizer Global Supply Kalamazoo di Portage, Michigan, Amerika Serikat, Minggu (13/12/2020) (ANTARA FOTO/Morry Gash/Pool via REUTERS)

Perusahaan farmasi asal Amerika Serikat (AS), Pfizer, mengonfirmasi akan mengurangi pengiriman vaksin COVID-19 hingga setengah dari kuota pemesanan di negara-negara di Eropa. Kondisi tersebut diperkirakan berlangsung pada akhir Januari hingga awal Februari.

Juru bicara Pfizer Denmark, Line Fedders, menyampaikan penundaan pengiriman vaksin merupakan bagian dari strategi Pfizer meningkatkan produksi menjadi dua miliar dosis per tahun. Pfizer harus meningkatkan produksi vaksin di pabrik yang berada di Puurs, Belgia.

“Itu membutuhkan adaptasi fasilitas dan proses di pabrik yang membutuhkan uji kualitas dan persetujuan baru dari otoritas. Pengurangan sementara akan mempengaruhi semua negara Eropa,” kata Fedders dilansir AP, Jumat (22/1/2021).

21 Januari: Thailand beri izin penggunaan darurat vaksin AstraZeneca

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaSebuah keluarga berdoa di dekat reruntuhan patung Budha tanpa kepala, yang muncul di bendungan yang mengering akibat kekeringan, di Lopburi, Thailand, pada 1 Agustus 2019. ANTARA FOTO/REUTERS/Soe Zeya Tun/File Photo

Badan Pengawas Obat dan Makanan Thailand (Thailnd’s Food and Drug Administration/FDA), telah memberikan persetujuan darurat penggunaan vaksin COVID-19 produksi AstraZaneca, Kamis, 21 Januari 2021.
 
Dilansir The Straits Times, Menteri Kesehatan Thailand Anutin Charnvirakul mengatakan, negaranya segera mengimpor 200 ribu dosis vaksin AstraZaneca, dengan 50 ribu dosis pertama diperkirakan tiba bulan depan.

20 Januari: Selandia Baru pilih tunda vaksinasi

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaIlustrasi Suasana Selandia Baru (IDN Times/Umi Kalsum)

Otoritas Selandia Baru memiliki strategi yang berbeda mengenai vaksinasi COVID-19. Bila negara lain termasuk Indonesia ingin vaksinasi bisa dilakukan secepatnya, maka Selandia Baru memilih menundanya.

Selandia Baru berencana mulai vaksinasi pada April 2021. Saat itu dilakukan, maka Pemerintah Selandia Baru tak akan mengeluarkan izin darurat penggunaan (EUA) vaksin. Artinya, vaksin COVID-19 yang diterima warga Selandia Baru telah rampung melalui uji klinis tahap ketiga. 

Laman Stuff Selandia Baru, Rabu, 20 Januari 2021 melaporkan, Perdana Menteru Jacinda Ardern mengonfirmasi hal tersebut. Dalam siaran daring melalui Facebook perdana di tahun 2021, Ardern menyatakan saat ini ada lebih banyak negara lain yang membutuhkan vaksin COVID-19. Sehingga, negara-negara tersebut lebih layak untuk diprioritaskan menerima vaksin COVID-19. 

"Ada begitu banyak, banyak negara yang berada dalam kondisi sangat buruk (pandemiknya) yang membutuhkan vaksin untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa," kata Ardern. 

"Meski begitu, kita tetap dalam posisi yang stabil dan siap untuk menerima giliran vaksin (yang sudah dipesan)," lanjut dia. 

Selandia Baru memang termasuk salah satu negara di dunia yang menuai pujian dari komunitas internasional lantaran sukses membendung pandemik COVID-19.

Berdasarkan data yang dikutip World O Meter per Kamis (21/1/2021), ada 2.267 kasus COVID-19 di Negeri Kiwi. Sebanyak 2.166 berhasil sembuh, sedangkan angka kematian hanya mencapai 25 kasus. Sementara, kasus aktifnya sangat kecil yakni 76. 

Ardern menjelaskan, saat ini Selandia Baru tengah memulai proses vaksinasi yang akan digelar pertengahan tahun. Namun, pemerintah sudah memperoleh berbagai informasi dari perusahaan farmasi yang menyediakan vaksin bagi Selandia Baru dan otoritas kesehatan di negaranya.

15 Januari: Norwegia laporkan kematian 23 lansia usai disuntik vaksin Pfizer

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaPetugas medis memperlihatkan vaksin COVID-19 produksi Sinovac sebelum proses penyuntikan menyuntikan ke tenaga kesehatan di RS Siloam TB Simatupang, Jakarta, Kamis (14/1/2021) (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

Norwegia mengeluarkan peringatan soal risiko dari pemberian vaksin COVID-19 pada orang yang sangat tua dan sakit parah. Badan Obat Norwegia mengatakan 23 orang telah meninggal di negara itu dalam waktu singkat setelah menerima dosis pertama vaksin mereka.

Dari total kematian tersebut, 13 orang telah diautopsi. Hasilnya menunjukkan bahwa efek samping yang umum mungkin telah berkontribusi pada reaksi parah pada orang tua yang lemah, demikian pernyataan lembaga tersebut seperti dilaporkan Bloomberg, Jumat (15/1/2021).

“Bagi mereka yang memiliki kelemahan paling parah, bahkan efek samping vaksin yang relatif ringan dapat menimbulkan konsekuensi yang serius,” demikian pernyataan Institut Kesehatan Masyarakat Norwegia.

14 Januari: Malaysia kaji pembatalan beli vaksin Sinovac

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaIlustrasi vaksin COVID-19 buatan Sinovac (Dokumentasi Sinovac)

Menteri Sains, Teknologi, dan Inovasi Malaysia Khairy Jamaluddin mempertimbangkan opsi untuk membatalkan pembelian vaksin COVID-19 asal perusahaan asal Tiongkok, Sinovac. Salah satu penyebabnya adalah hasil uji klinis dan tingkat efikasi di berbagai negara kurang memuaskan.
 
“Terkait data efikasi, ada juga beberapa kekhawatiran tentang kemanjuran uji coba Sinovac di Brasil, mengingat Sinovac merupakan salah satu vaksin yang kami negosiasikan untuk dibeli,” kata Jamaluddin di laman daring pribadinya (blog) yang diunggah pada Kamis, 14 Januari 2021.
 
Melihat tingkat efikasi yang rendah dibanding vaksin lainnya, tutur Jamaluddin, banyak pihak mempertanyakan, apakah Negeri Jiran tetap membeli produk tersebut.
 
“Saya ingin menegaskan kembali bahwa ketika bernegosiasi, kami selalu bersikeras vaksin harus disetujui dan didaftarkan oleh Badan Pengatur Farmasi Nasional (NPRA), sebelum perjanjian dioperasionalkan. Itulah mengapa pengembalian deposit adalah kondisi yang telah kami bangun dalam negosiasi,” kata dia.

Keputusan akhir untuk membeli vaksin dari Tiongkok itu bergantung pada evaluasi Kelompok Kerja Teknis Pemilihan Vaksin (TWG) yang diketuai Kalaiarasu Peariasamy, yang juga menjabat sebagai direktur Institut Penelitian Klinis.
 
“TWG sedang menganalisis. Apapun keputusannya, saya ingin meyakinkan Anda bahwa kami hanya akan mendapatkan vaksin yang aman dan manjur untuk orang Malaysia,” kata Jamaluddin.

13 Januari: Menlu retno terpilih jadi pimpinan kerja sama vaksin di COVAX

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaMenteri Luar Negeri Retno Marsudi (Twitter/@setkabgoid)

Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi terpilih menjadi Co-Chair COVAX Advance Market Commitment (AMC) Engagement Group (EG) atau COVAX-AMC EG. Hal tersebut disampaikannya dalam press briefing virtual pada Rabu (13/1/2021).

COVAX Facility dikenal sebagai kerja sama pengembangan vaksin antara World Health Organization (WHO), Global Alliance for Vaccine and Immunization (Gavi) bersama Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI). Ini adalah terobosan kolaborasi global yang bertujuan mempercepat pengembangan dan pembuatan vaksin COVID-19, serta menjamin akses yang adil dan merata bagi setiap negara di dunia.

“Pada dini hari 13 Januari 2021 kami mendapatkan kabar dari GAVI, the Vaccine Alliance melalui PTRI Jenewa bahwa Menteri Luar Negeri Indonesia telah terpilih menjadi salah satu Co-Chair COVAX Advance Market Commitment (AMC) Engagement Group (EG) atau untuk lebih singkatnya disebut COVAX-AMC EG,” kata Retno.

“Pemilihan Co-Chairs telah diselenggarakan secara virtual (e-voting) di Jenewa, dengan tenggat waktu pemilihan sampai tanggal 8 Januari 2021 tengah malam dan diumumkan 12 Januari malam waktu Jenewa,” tambahnya.

14 Januari: Vaksinasi perdana di Turki dilakukan pada Menteri Kesehatan dan Presiden Erdogan

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaANTARA FOTO/REUTERS/Umit Bektas

Menteri Kesehatan Fahrettin Koca menerima suntikan pertama vaksin Sinovac, CoronaVac pada Kamis (14/1/2021). Penyuntikan ini disiarkan secara langsung di televisi setelah Turki secara resmi menyetujui vaksin tersebut pada hari Rabu.

Setelah Koca, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga menerima vaksin di sebuah rumah sakit di Ankara, menurut kantor berita milik negara Anadolu. Studi pendahuluan yang melibatkan lebih dari 7.000 sukarelawan di Turki menunjukkan CoronaVac efektif hingga 91,25 persen.

Namun, suntikan itu berada di bawah pengawasan regulator, setelah data terbaru dari Brasil menunjukkan efikasi hanya 50 persen lebih, sedikit di atas patokan yang ditetapkan WHO agar vaksin efektif untuk penggunaan umum.

13 Januari: Izin penggunaan darurat Sinovac diterbitkan Turki

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaLokasi kantor Sinovac (www.sinovac.com)

Pemerintah Turki menerbitkan izin edar darurat (EUA) vaksin CoronaVac buatan Sinovac Biotech, Tiongkok. EUA vaksin CoronaVac dirilis pada Rabu, 13 Januari 2021, tepat saat Presiden Joko "Jokowi" Widodo akan disuntik vaksin CoronaVac. 

Dikutip dari akun resmi media sosial Menteri Kesehatan Turki, Fahrettin Koca, proses tersebut dilakukan setelah hasil uji klinis tahap ketiga menunjukkan efikasi 91,25 persen. Izin ini diterbitkan meskipun ada data yang bertentangan tentang tingkat kemanjurannya setelah Brasil mengumumkan efikasi CoronaVac hanya 50,4 persen dan Indonesia mengumumkan 65,3 persen.

"Berdasarkan laporan sementara, vaksin dinyatakan aman dan efektif. Kami memutuskan untuk memulai proses mengeluarkan izin penggunaan darurat (EUA). Uji keamanan produk juga sudah dilakukan terhadap kargo vaksin pertama yang sudah diterima," kata Koca dalam keterangan tertulis di akun media sosialnya pada Jumat (8/1/2021). 

Setelah uji keamanan produk selesai, Koca menyebut jika EUA akan diterbitkan. Ia juga memastikan setelah diperoleh informasi bahwa vaksin aman dan efektif, tim peneliti segera menghentikan pendaftaran relawan untuk uji klinis tahap ketiga.  "Hingga saat ini sudah ada 17.700 dosis vaksin yang disuntikan kepada 10 ribu relawan dan hasil akhirnya terus dipantau," ujar Koca.

12 Januari: Brasil umumkan efikasi total vaksin Sinovac hanya 50,4 persen

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaPemakaman massal warga Brasil yang meninggal akibat COVID-19 (ANTARA FOTO/REUTERS/Ricardo Moraes)

Pemerintah Brasil kembali mengumumkan hasil efikasi vaksin COVID-19 buatan Sinovac Biotech. Hasilnya berada di angka yakni 50,4 persen, lebih rendah dibandingkan dengan yang pernah diumumkan pekan lalu. 

Kantor berita Reuters, Selasa, 12 Januari 2021 melaporkan, efikasi hasil uji klinis CoronaVac di Brasil nyaris hanya memenuhi standar minimum yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) yaitu 50 persen. Tak heran banyak ahli kesehatan di Brasil yang mengaku kecewa dengan hasil uji klinis vaksin CoronaVac.

Padahal, CoronaVac merupakan satu dari dua jenis vaksin yang disiapkan untuk menghadapi gelombang kedua pandemik COVID-19. 

Beberapa ahli dan pengamat menyatakan kecewa terhadap Institut Butantan yang merilis hasil efikasi, namun hanya mendasarkan pada data yang belum lengkap. Alhasil, hal itu memicu kemunculan ekspektasi yang tak realistis bagi CoronaVac. 

"Kita sudah memiliki vaksin yang baik, tapi bukan yang terbaik di dunia dan bukan vaksin yang ideal," kata ahli mikrobiologi Brasil,  Natalia Pasternak yang mengkritik pengumuman Institut Butantan pekan lalu yang berlebihan. 

Pekan lalu para peneliti di Brasil sempat merayakan hasil uji klinis vaksin CoronaVac yang menunjukkan efikasi 78 persen, sehingga dapat memberi perlindungan bagi kasus COVID-19 yang ringan sampai berat. Tetapi, belakangan mereka menjelaskan sebagai efikasi klinis. 

Direktur medis penelitian klinis Institut Butantan, Ricardo Palacios dan pejabat berwenang di Sao Paulo mengatakan, hasil uji klinis CoronaVac sudah cukup baik. Menilik data penelitian tersebut tidak ada relawan vaksin CoronaVac yang perlu dirawat di rumah sakit meski terinfeksi COVID-19 dan menunjukkan gejala. 

11 Januari: Joe Biden disuntik vaksin COVID-19 dosis kedua

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaCalon presiden Amerika Serikat dari Demokrat Joe Biden memesan milkshake dari restoran Cook Out dengan cucu perempuannya Finnegan Biden di Durham, North Carolina, Amerika Serikat, Minggu (18/10/2020) (ANTARA FOTO/REUTERS/Tom Brenner)

Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Joe Biden akan menerima dosis kedua vaksin COVID-19 pada hari Senin (11/1/2021) waktu AS, kantornya mengumumkan. Biden pertama kali disuntik vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech di Rumah Sakit Christiana di Newark, Delaware, pada 21 Desember 2020.

“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” kata calon presiden berusia 78 tahun tersebut kepada warga AS pada saat menerima suntikan dosis pertama, menurut Channel News Asia.

7 Januari: Brasil umumkan efikasi vaksin Sinovac 78 persen

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaMarkas Sinovac Biotech di Haidian, Beijing (European Press Agency)

Peneliti di Brasil pada Kamis, 7 Januari 2021 menyampaikan vaksin CoronaVac yang dibuat oleh Sinovac Biotech, Tiongkok memiliki efikasi dalam melawan virus corona mencapai 78 persen. Ini merupakan tindak lanjut dari pengumunan pada Desember 2020 lalu yang menyebut efektivitas vaksin di atas 50 persen. Namun, dalam pengumuman kali ini vaksin tersebut dinyatakan aman dikonsumsi oleh orang-orang lanjut usia. 

Kantor berita Reuters, Kamis kemarin melaporkan dalam uji klinis tahap ketiga, Institut Butantan, mitra Sinovac Biotech, turut melibatkan relawan usia lanjut. Mereka termasuk dalam populasi yang rentan terpapar COVID-19. 

Direktur Utama Institut Butantan, Dimas Covas mengatakan uji klinis tahap ketiga di Brasil melibatkan 13 ribu relawan. Ada 218 relawan yang tetap terpapar COVID-19 selama proses uji klinis. Sebanyak 160 relawan hanya diberi plasebo, sedangkan sisanya tetap terpapar COVID-19 meski sudah disuntik vaksin. 

Menurut Covas, vaksin CoronaVac terbukti mencegah relawan agar kondisinya tidak memburuk meski tertular COVID-19. Bahkan, hasil uji klinis turut membuktikan vaksin CoronaVac ampuh mmberikan perlindungan bagi kaum lansia. 

"Tidak ada satu pun relawan yang disuntik vaksin menjadi sakit parah (bila kena COVID-19) dan harus dirujuk ke rumah sakit," kata Covas. 

Ia menambahkan hasil detail dari uji klinis tahap ketiga sudah diserahkan ke otoritas kesehatan yang disebut Anvisa. Hal itu merupakan salah satu persyaratan agar vaksin CoronaVac memperoleh izin edar darurat (EUA) di Negeri Samba.

7 Januari: Israel bersama Pfizer janji vaksinasi selesai akhir Maret

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaPerdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (www.twitter.com/@netanyahu)

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengumumkan hasil negosiasi dengan Pfizer bahwa seluruh warganya yang berusia di atas 16 tahun akan divaksinasi pada akhir Maret 2021. Raksasa farmasi itu telah menjalin komitmen dengan Netanyahu untuk mengirim jutaan dosis tambahan ke Israel.
 
“Kami akan memvaksinasi seluruh populasi yang relevan dan semua orang yang ingin dapat vaksin,” kata Netanyahu pada Kamis (7/1/2021) dilansir dari The Times of Israel. Netanyahu menegaskan bahwa Israel akan menjadi negara percontohan untuk program vaksinasi di seluruh dunia.

Setelah melakukan serangkaian telepon sebanyak 17 kali, kesepakatan ini terjalin karena Israel menjanjikan timbal balik kepada Pfizer untuk membantu perumusan strategi global mengalahkan pandemik.
 
Israel juga membagikan data seputar penanganan corona kepada Pfizer. Awalnya, Israel menolak untuk membagikan data tersebut. Namun, kesepakatan terjalin karena Netanyahu berhasil meyakinkan Pfizer untuk menjual jutaan dosis vaksin ke Israel, lebih dulu daripada negara lain.
 
“Kami dapat melakukan ini karena sistem kesehatan kami termasuk yang paling maju di dunia, benar-benar menjadi cahaya bagi bangsa-bangsa,” ungkap Netanyahu beberapa jam sebelum Israel memasuki lockdown yang paling ketat selama dua minggu ke depan.

6 Januari: Uni Eropa terbitkan izin darurat vaksin COVID-19 Moderna

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di Duniawww.modernatx.com

Badan obat-obatan Uni Eropa (UE) memberi izin penggunaan vaksin COVID-19 Moderna Inc. pada Rabu (6/1/2021). Ini menjadikan vaksin Moderna sebagai vaksin kedua yang akan dipakai blok yang terdiri dari 27 negara itu.

Persetujuan yang diberikan oleh komite obat-obatan manusia European Medicines Agency (EMA) itu diumumkan di tengah tingginya tingkat infeksi COVID-19 di banyak negara UE.

“Vaksin ini memberi kami alat lain untuk mengatasi keadaan darurat saat ini,” kata Emer Cooke, Direktur Eksekutif EMA. “Ini adalah bukti upaya dan komitmen semua yang terlibat bahwa kami memiliki rekomendasi vaksin positif kedua ini hanya dalam waktu kurang dari setahun sejak pandemi diumumkan oleh WHO.”

Persetujuan penggunaan vaksin Moderna mendapat sambutan yang baik dari banyak pihak, termasuk Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen. Dalam sebuah postingan di Twitter, von der Leyen mengatakan menyambut baik persetujuan tersebut.

“Kabar baik atas upaya kami membawa lebih banyak vaksin #COVID19 ke Eropa! @EMA_News menilai bahwa vaksin @moderna_tx aman & efektif. Sekarang kami bekerja dengan kecepatan penuh untuk menyetujuinya & membuatnya tersedia di UE,” tulisnya, Rabu.

6 Januari: CDC AS analisis efek samping alergi dari vaksin Pfizer dan Moderna

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di Duniawikimedia.com

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) tengah memantau dengan seksama terhadap individu yang alergi setelah disuntik vaksin corona dari Pfizer-BioNTech dan Moderna. CDC juga menekankan supaya mereka yang alergi tidak diberi suntikan kedua.
 
Dilansir dari Channel News Asia pada Rabu (6/1/2021), badan kesehatan masyarakat Amerika Serikat (AS) mengatakan reaksi alergi terjadi pada tingkat 11,1 per 1 juta vaksinasi. Perbandingannya cukup jauh dengan vaksin flu pada tingkat 1,2 per 1 juta suntikan.

Sejauh ini, CDC sangat jarang mendapati reaksi alergi yang sangat parah sehingga membutuhkan perawatan lebih lanjut. Oleh sebab itu, reaksi tersebut kemungkinan tidak akan mengganggu jalannya program vaksinasi, mengingat virus COVID-19 sudah merenggut lebih dari 357 ribu nyawa warga AS. Adapun hasil dari pemantauan alergi akan segera diunggah di laman website yang diperbarui setiap minggu.

5 Januari: Putin dan Merkel bahas soal produksi vaksin Sputnik V di Uni Eropa

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaPresiden Rusia Vladimir Putin melakukan panggilan video dengan Perdana Menteri Mikhail Mishustin di kediaman resmi Novo-Ogaryovo, Rusia, pada 2 Juni 2020. ANTARA FOTO/Sputnik/Alexei Nikolsky/Kremlin via REUTERS

Kanselir Jerman Angela Merkel melakukan pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin membahas vaksin COVID-19. Mereka berdua berbicara melalui sambungan telepon pada Selasa, 5 Januari 2021.

Wakil juru bicara pemerintah Jerman, Ulrike Demmer,  mengungkapkan pada Rabu kemarin, pihaknya terbuka melakukan kerja sama bilateral yang memungkinkan vaksin COVID-19 buatan Rusia, Sputnik V, diproduksi di Uni Eropa (UE).

“Selama panggilan telepon, dia mengatakan bahwa dia terbuka untuk gagasan kerja sama bilateral untuk tujuan memanfaatkan kapasitas produksi Eropa (untuk vaksin Rusia),” kata Demmer menukil Politico. Seorang juru bicara pemerintah Jerman yang berbasis di Brussel juga mengonfirmasi pernyataan yang sama kepada CNBC.

Meski mengatakan membuka kans memberikan izin produksi Sputnik V di Eropa, namun pemerintahan Merkel menyebut jika semuanya tergantung kepada European Medicines Agency (EMA). Kerja sama itu bakal berjalan, dengan catatan EMA memberikan persetujuannya.

4 Januari: AS rencanakan pangkas dosis vaksin untuk percepat vaksinasi

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaSeorang sukarelawan meletakkan bendera Amerika mewakili beberapa dari 200.000 nyawa yang hilang di Amerika Serikat dalam pandemi penyakit virus korona (COVID-19) di National Mall, Washington, Amerika Serikat, Selasa (22/9/2020) (ANTARA FOTO/REUTERS/Joshua Roberts)

Pemerintah Amerika Serikat (AS) sedang mempertimbangkan untuk memberikan setengah dosis vaksin COVID-19 Moderna kepada beberapa orang, untuk mempercepat vaksinasi. Kepala Operation Warp Speed program vaksin federal, Moncef Slaoui, mengatakan bahwa para pejabat sedang mendiskusikan rencana tersebut dengan Modernda dan Food and Drug Administration.

Skema vaksinasi awal, setiap orang memperoleh dua suntikan vaksin. Bila gagasan ini disetujui, maka vaksinasi bisa lebih cepat menyentuh seluruh masyarakat karena sejumlah kelompok orang hanya memperoleh satu suntikan vaksin.
 
“Kami tahu bahwa untuk vaksin Moderna dua dosis, (rencana ini) memberikan setengah dosis kepada orang-orang yang berusia antara 18-55, yang berarti secara tepat mencapai tujuan imunisasi dua kali lipat jumlah orang dengan dosis yang kami miliki,” kata Slaoui seperti dikutip dari Channel News Asia, Senin (4/1/2021).

Per Sabtu pagi (2/12/2021), Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS) mengatakan telah memberikan 4.225.756 dosis pertama vaksin COVID-19 di negara itu. CDC juga telah mendistribusikan 13.071.925 dosis.

“Penghitungan dosis vaksin yang didistribusikan dan jumlah orang yang menerima dosis pertama adalah untuk Moderna dan Pfizer-BioNTech, divaksinasi pada pukul 09.00 ET pada hari Sabtu,” kata badan tersebut, sebagaimana disampaikan Channel News Asia.

Sebelumnya menurut penghitungan yang diposting pada 30 Desember, badan tersebut telah memberikan 2.794.588 dosis pertama vaksin dan mendistribusikan 12.409.050 dosis.

Baca Juga: [LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di Dunia pada 2020

Topic:

  • Anata Siregar
  • Yogie Fadila
  • Dwi Agustiar

Berita Terkini Lainnya