CIA Simpulkan Putra Mahkota Saudi Perintahkan Pembunuhan Khashoggi

Temuan CIA itu dilaporkan Washington Post. Saudi membantah

Jakarta, IDN Times - Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat, Central Intelligence Agency (CIA) mengemukakan temuan terbaru mengenai pembunuhan kolumnis Washington Post, Jamal Khashoggi. CIA menyimpulkan, Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS) diduga memerintahkan pembunuhan Khashoggi pada 2 Oktober 2018.

Kesimpulan itu bertolak belakang dengan pernyataan pemerintahan Arab Saudi  yang menegaskan bahwa MBS tidak terlibat dalam pembunuhan, demikian dikutip dari situs Washington Post edisi 16 November 2018. 

Masih dikutip dari Washington Post, sejumlah pejabat disebut "memiliki keyakinan tinggi" atas hasil penilaian CIA tersebut. 

Baca Juga: Sebulan Berlalu, Bagaimana Kasus Kelanjutan Kasus Jamal Khashoggi?

1. Temuan CIA soal kematian Jamal Khashoggi dan bantahan pihak Saudi

CIA Simpulkan Putra Mahkota Saudi Perintahkan Pembunuhan KhashoggiTwitter/Khalid bin Salman

Dikutip dari situs The Independent, CIA menemukan bahwa 15 agen Saudi terbang menggunakan pesawat milik pemerintah ke Istanbul, Turki untuk melaksanakan misi pembunuhan itu di konsulat Saudi di kota tersebut. Laporan Washington Post menyebut, kesimpulan CIA itu bisa memperumit upaya Amerika Serikat di bawah pimpinan Donald Trump dalam mempertahankan hubungan dengan sekutunya, Saudi.

Untuk sampai pada kesimpulannya, CIA memeriksa berbagai sumber intelijen, termasuk sebuah komunikasi telepon antara saudara laki-laki MBS, Khalid bin Salman dengan Khashoggi, demikian menurut orang-orang yang tahu masalah ini, tapi menolak menyebutkan nama. Khalid juga merupakan Duta Besar Saudi untuk Amerika Serikat. 

Dalam komunikasi itu, Khalid disebut meminta kepada Khashoggi untuk datang ke konsulat Saudi di Istanbul untuk mengambil sejumlah dokumen. Khalid bahkan disebut menjamin keamanan Khashoggi untuk melakukan hal tersebut. 

Dikutip dari The Washington Post, tidak jelas apakah Pangeran Khalid mengetahui rencana pembunuhan Khashoggi. Namun, panggilan itu dilakukan Khalid atas arahan MBS, demikian menurut orang-orang yang familiar dengan sambungan telepon itu dan kemudian disadap CIA. 

Hal ini langsung dibantah Khalid. Dikutip dari situs Arabnews.com, dia mengaku tidak pernah menyuruh Khashoggi pergi ke Turki.  "Saya tidak pernah berbicara dengan dia (Khashoggi) melalui telepon dan tidak pernah menyuruhnya pergi ke Turki untuk alasan apapun. Saya minta pemerintah Amerika Serikat merilis informasi apapun atas klaim (CIA) tersebut," demikian cuitan Khalid di akunnya yang terverifikasi di Twitter. 
 

Masih dikutip dari Arabnews.com, Khalid juga menyatakan kekecewaannya karena Washington Post "gagal mempublikasikan semua respons Saudi," seraya menyebut artikel Washington Post itu sebagai tudingan serius dan seharusnya tidak menggunakan narasumber anonim.

Khalid juga mengunggah pernyataan lengkap Saudi mengenai komunikasinya dengan Jamal Khashoggi, yang terakhir terjadi pada 26 September 2017. Kala itu, komunikasi dia lakukan melalui teks, bukan telepon. 

CIA Simpulkan Putra Mahkota Saudi Perintahkan Pembunuhan KhashoggiTwitter/Khalid bin Salman

2. Bantahan juga disampaikan juru bicara Kedutaan Besar Saudi di Washington

CIA Simpulkan Putra Mahkota Saudi Perintahkan Pembunuhan KhashoggiANTARA/REUTERS/Saudi Press Agency/Han

Juru bicara Kedutaan Besar Saudi di Washington, Fatimah Baeshen ikut angkat suara. Senada dengan cuitan Khalid, Fatimah Baeshen menegaskan, Sang Duta Besar dan Khashoggi tidak pernah mendiskusikan "apapun yang terkait dengan pergi ke Turki."  

Dia juga menambahkan bahwa klaim dalam "penilaian yang diakui CIA itu salah. Kami telah dan terus mendengar berbagai teori tanpa melihat dasar utama untuk spekulasi ini.”

Kesimpulan CIA mengenai peran MBS dalam kasus kematian Jamal Khashoggi, menurut laporan Washington Post, "disumbang" juga penilaian CIA atas sang pangeran sebagai "penguasa de facto negara yang mengawasi berbagai hal, bahkan hingga ke urusan terkecil di Kerajaan Saudi. 

Dimintai konfirmasi, seorang juru bicara CIA menolak berkomentar mengenai pemberitaan tersebut. 

Baca Juga: LINIMASA: Cara Saudi "Ngeles" Soal Kematian Jamal Khashoggi

3. Sebanyak 17 warga Saudi akan menghadapi sanksi

CIA Simpulkan Putra Mahkota Saudi Perintahkan Pembunuhan KhashoggiANTARA/Saudi Press Agency/SPA

Dikutip dari dari situs Independent, Departemen Keuangan AS juga sudah mengumumkan bahwa 17 warga Saudi akan menghadapi sanksi atas pembunuhan Khashoggi pada Kamis (15/11). 

Sanksi yang diberikan tersebut berdasarkan Global Magnitsky Act, yang berkaitan dengan tindakan orang asing di luar AS yang mengancam stabilitas internasional, "Para pejabat Saudi yang kami (jatuhi) sanksi itu terlibat dalam pembunuhan mengerikan Jamal Khashoggi," kata Menteri Keuangan, Steven Mnuchin. 

Mnuchin juga menegaskan bahwa Amerika Serikat terus bekerja keras untuk memastikan semua fakta dan mencapai keadilan bagi tunangan Khashoggi, anak-anak, dan keluarga yang ditinggalkannya.

Baca Juga: Kata Perpisahan Tunangan untuk Jamal Khashoggi yang Menyayat Hati

4. Sikap Saudi yang sempat berubah-ubah dalam kasus kematian Jamal Khashoggi

CIA Simpulkan Putra Mahkota Saudi Perintahkan Pembunuhan KhashoggiANTARA FOTO/Courtesy TRT World/Handout via REUTERS

Saat Khashoggi dinyatakan hilang pada 2 Oktober lalu, otoritas Saudi membantah mengetahui nasib kolumnis Washington Post itu. Saat itu, otoritas Saudi kemudian menegaskan bahwa Khashoggi sudah meninggalkan konsulat mereka di Istanbul dan dalam keadaan hidup. 

Namun, pemerintahan Saudi kemudian mengakui bahwa Khashoggi tewas dalam sebuah perkelahian di dalam konsulat. Dalam kasus ini, otoritas Saudi menyebut sudah menahan 18 orang dan memecat dua pejabat teras. 

Kedua pejabat itu adalah deputi kepala intelijen Saudi, Ahmad al-Assiri dan pembantu senior Putra Mahkota Mohammed Bin Salman. 

Baca Juga: Siapa Jamal Khashoggi, Wartawan yang Diduga Dihabisi Arab Saudi

Topik:

  • Ita Lismawati F Malau

Berita Terkini Lainnya