Comscore Tracker

Tekan Angka COVID-19, Inggris Perketat Aturan Perjalanan ke Prancis

Pemerintah Prancis menyayangkan hal ini

Westminster, IDN Times - Inggris menjadi negara yang paling terdampak oleh COVID-19 di Eropa dengan lebih dari 41.000 kematian, membuat PM Boris Johnson dikritisi oleh berbagai pihak. Untuk menekan angka ini, Inggris sudah sejak lama menerapkan kebijakan wajib karantina selama 14 hari bagi warganya yang berkunjung ke negara atau daerah tertentu. Sejak seminggu lalu, beredar isu bahwa Inggris akan menambahkan Prancis ke dalam daftar negara karantina. Isu ini dibenarkan oleh Kantor Urusan Luar Negeri dan Persemakmuran Inggris pada Jumat (14/08) ini melalui pernyataan resmi via Twitter.

Sekretaris Negara Bidang Transportasi, Grant Shapps menjelaskan bahwa kebijakan ini akan diberlakukan mulai Sabtu (15/08) pukul 4 sore waktu setempat. Dilansir dari France24, Shapps mengatakan bahwa memasukkan Prancis ke dalam daftar negara karantina dilakukan demi menekan angka COVID-19 di negaranya, mengingat kasus harian baru di Prancis sudah mencapai angka 2.669 pada Kamis (13/08) kemarin. "Kami tidak mampu menambah kasus baru yang berasal dari tempat lain", ucap Shapps kepada media.

1. Wajibkan karantina selama 14 hari setelah kembali dari Prancis

Tekan Angka COVID-19, Inggris Perketat Aturan Perjalanan ke PrancisPM Inggris, Boris Johnson mengunjungi Ruislip Manor untuk memberikan dukungan kepada bisnis lokal setempat. Twitter.com/BorisJohnson.

Mengutip dari situs resmi pemerintah Inggris, aturan perjalanan ini mewajibkan warga Inggris untuk mengisolasi diri selama 14 hari setelah pulang dari negara yang masuk ke dalam daftar karantina. Warga juga wajib memberikan alamat tempat mereka melakukan isolasi kepada pihak berwenang. Jika menolak untuk mengisolasi diri, pemerintah akan mengenakan denda sebesar £1,000 atau sekitar Rp20 juta. Denda sebesar £3,200 atau sekitar Rp63 juta juga akan dikenakan jika menolak untuk memberikan alamat.

Selama melakukan isolasi mandiri, warga yang baru kembali ke Inggris hanya boleh bekerja dan sekolah dari rumah. Mereka tidak diperbolehkan menerima tamu kecuali tamu tersebut menyediakan:

  • pertolongan darurat
  • perawatan medis
  • pelayanan kesehatan hewan
  • layanan publik tertentu
  • bahan makanan

Jika tidak dapat bekerja dari rumah, maka karyawan tidak akan digaji selama melakukan isolasi mandiri, kecuali mereka mengalami gejala COVID-19.  Adanya aturan ini membuat setengah juta turis Inggris yang berada di Prancis segera berbondong-bondong membeli tiket untuk kembali ke Inggris sebelum Sabtu (15/08) pukul 4 sore.

2. Sektor pariwisata kedua negara terpuruk

Tekan Angka COVID-19, Inggris Perketat Aturan Perjalanan ke PrancisGrant Shapps, Sekretaris Negara Bidang Transportasi yang menjelaskan bahwa aturan perjalanan diberlakukan demi menekan kasus COVID-19 di Inggris. Twitter.com/grantshapps.

Prancis yang menjadi tujuan kedua warga Inggris untuk berwisata akan sangat terdampak akibat kebijakan ini. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Statista, warga Inggris berkunjung sekitar 10.35 juta kali ke Prancis pada tahun 2019. Adanya imbauan dari pemerintah Inggris untuk tidak melakukan perjalanan ke Prancis kecuali ada urusan penting membuat sektor pariwisata Prancis melemah.

Clement Beaune selaku Sekretaris Negara Prancis untuk Urusan Eropa menanggapi kebijakan ini melalui Twitter. "Ini adalah keputusan Inggris yang kami sesali", unggahnya pada Jumat (14/08) ini. Masih dalam cuitan yang sama, Beaune juga berharap segalanya dapat segera kembali normal.

Tidak hanya Prancis, sektor pariwisata Inggris juga ikut terdampak, mengingat pemerintah menetapkan banyak daerah dan negara yang masuk ke dalam daftar karantina. Salah satu jasa penerbangan di Inggris mengatakan bahwa kebijakan ini  merupakan 'pukulan dahsyat bagi industri perjalanan yang sudah terhuyung-huyung dari krisis terburuk dalam sejarahnya'.

The Guardian juga melaporkan bahwa Abta, agen perjalanan terbesar di Inggris telah menekan maskapai penerbangan untuk mengembalikan dana kepada konsumen yang ingin membatalkan perjalanannya. Tentunya, hal ini membuat sektor penerbangan akan semakin terpuruk.

3. Longgarkan kebijakan dalam negeri

Tekan Angka COVID-19, Inggris Perketat Aturan Perjalanan ke PrancisAturan wajib mengenakan masker di Inggris yang menuai protes warga pada 19 Juli lalu. Fotografer: Joshua Bratt.

Hal sebaliknya berlaku bagi kebijakan dalam negeri Inggris. Johnson mulai melonggarkan penjarakan sosial di negara yang ia pimpin. Johnson berencana untuk membuka kembali bisnis hiburan dan tempat olahraga dalam negeri pada Sabtu (15/08) ini, mengingat kasus COVID-19 harian Inggris mulai menurun.

Pembukaan ini dilakukan demi menopang perekonomian Inggris yang terdampak akibat pandemi. Johnson mengatakan bahwa kebijakan ini akan membuat lebih banyak orang kembali bekerja dan melakukan hal-hal menyenangkan yang telah mereka lewatkan. Kebijakan ini akan memperbolehkan sejumlah tempat dibawah ini untuk beroperasi kembali:

  • Teater dalam ruangan dan tempat pertunjukan musik
  • Resepsi pernikahan dengan tamu maksimal 30 orang
  • Uji coba sejumlah acara olahraga
  • Arena skating
  • Layanan kecantikan dengan 'kontak dekat' seperti perawatan bulu mata, perawatan alis, dan layanan rias wajah

Johnson mengatakan bahwa kebijakan ini tidak akan berlaku di daerah yang menerapkan PSBB lokal sembari mengingatkan bahwa berkumpul lebih dari 30 orang tidak diperbolehkan. Jika melanggar aturan ini, penyelenggara acara akan dikenakan denda sebesar £10,000 atau sekitar Rp194 juta. Selain itu, BBC juga melaporkan bahwa denda sebesar £3,200 atau sekitar Rp63 juta akan diberlakukan bagi warga yang tidak mengenakan masker.

Baca Juga: Masyarakat Diimbau Pakai Masker Kain, Masker Bedah untuk Tenaga Medis

Aviliani Vini Photo Verified Writer Aviliani Vini

-

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya