Comscore Tracker

6 Fakta Los Monos, Geng Kriminal Brutal asal Argentina

Los Monos alias The Monkeys ini pernah ancam hakim

Jakarta, IDN Times - Argentina dikenal sebagai negara terluas kedua di Amerika Selatan setelah Brasil. Negara ini juga dikenal sebagai salah satu negara dengan pendapatan per kapita tertinggi di Amerika Latin, meski sedang menghadapi masalah tingginya inflasi dan perlambatan ekonomi. 

Selain itu, meski tidak memiliki angka kriminalitas dan pembunuhan yang tinggi, tetapi di Argentina ternyata juga terdapat geng kriminal berbahaya beroperasi di negaranya. Organisasi kriminal tersebut dikenal dengan nama Los Monos atau dalam Bahasa Inggris berarti The Monkeys. 

Sama seperti geng kriminal di Amerika Latin lainnya, mayoritas geng ini melakukan aksi penyelundupan narkoba transnasional. Mereka memanfaatkan lokasi strategis Argentina untuk menjadi tempat transit narkoba atau menjualnya untuk konsumsi lokal. 

Siapa sebenarnya Los Monos? Berikut beberapa fakta menarik mengenai geng kriminal yang juga dikenal dengan nama Cantero Clan ini.

Baca Juga: Fakta Los Montes Bobadilla, Kartel Narkoba yang Dipimpin Perempuan

1. Los Monos didirikan di Kota Rosario pada tahun 1990-an

6 Fakta Los Monos, Geng Kriminal Brutal asal ArgentinaMáximo Ariel Cantero alias El Viejo ketika berhasil ditangkap. (twitter.com/U24noticias)

Aksi kriminal Los Monos sudah dimulai pada akhir 1990-an di bagian selatan Kota Rosario, tepatnya di area permukiman Las Flores. Kala itu, pendirinya Máximo Ariel Cantero alias El Viejo yang tinggal di area permukiman kelas bawah mulai menarik iuran keamanan bagi warga sebagai jaminan keamanan. 

Di samping itu, El Viejo juga mulai mengorganisasi proses penyelundupan marijuana dari Paraguay ke Argentina. Terjadinya krisis ekonomi terbesar di Argentina di awal tahun 2000-an membuat geng ini berkembang pesat seiring dengan naiknya angka kemiskinan dan pengangguran. 

Hal itulah yang membuat Los Monos dapat merekrut pemuda untuk bekerja dengannya di area permukiman Las Flores. Bahkan, Cantero memiliki koneksi yang luas untuk menjalankan aksinya, termasuk dengan petugas keamanan dan berbagai perusahaan besar di Argentina.

Sementara itu, organisasi kriminal ini dioperasikan oleh anggota keluarga Cantero, yang terdiri dari Máximo Ariel Cantero, istrinya Celestina Cantero, anaknya Maximo Ariel Cantero, anak angkatnya Ramon Machuca dan Claudio Cantero alias El Pajaro yang sudah tewas, dilaporkan dari Vice News

Baca Juga: AS Bekukan Aset Mantan Penasihat Tyson Fury, Ternyata Gembong Narkoba

2. Berfokus pada bisnis microtrafficking dan beroperasi di dalam bunker

6 Fakta Los Monos, Geng Kriminal Brutal asal ArgentinaBangunan kecil yang digunakan sebagai bunker untuk menyimpan narkoba di Rosario, Argentina. (twitter.com/Infomedia24hrs)

Geng Los Monos yang dikelola keluarga itu memanfaatkan lokasi strategis Kota Rosario yang terletak di pinggir Sungai Parana dan di tengah jalur Rute 34. Kestrategisan itu yang menjadikan Rosario sebagai titik transit utama penyelundupan narkoba internasional dari Bolivia dan Paraguay ke berbagai negara. 

Pada 2004, geng kriminal ini diketahui berfokus pada bisnis microtrafficking untuk menjual narkoba, baik kokain dan marijuana dalam jumlah yang kecil atau eceran. Los Monos umumnya menjual narkoba untuk memenuhi permintaan lokal di area yang dikuasainya. 

Menariknya, Los Monos menjalankan aksinya untuk mengemas dan menjual narkobanya di dalam bunker yang tersebar pada kawasan Las Flores. Seiring bisnisnya yang kian berkembang, bunker milik Los Monos kian menjamur dan dapat ditemui pada berbagai sudut Rosario. 

Dilansir El Pais, bunker yang digunakan oleh geng kriminal ini bukanlah ruangan bawah tanah, tetapi juga bangunan kosong dengan pintu kecil di area permukiman kumuh. Bangunan itu yang dijadikan sebagai tempat untuk menyembunyikan narkoba dan uang hasil penjualan narkoba. 

Selain itu, bunker itu umumnya dijaga oleh soldaditos atau anak remaja yang direkrut sebagai pasukan untuk mengamankan narkoba dan uang. Setelah lulus sebagai soldaditos, nantinya anak itu akan menjadi pembunuh bayaran yang bekerja untuk Los Monos. 

Baca Juga: Dubes Argentina di Israel Mundur usai Terlibat Skandal Korupsi

3. Mengalami kemunduran setelah hilangnya kepercayaan satu sama lain

Setelah berkuasa selama belasan tahun, Los Monos mengalami kemunduran setelah hilangnya kepercayaan antar anggota. Pada September 2012, Martin Paz alias El Fantasma yang merupakan menantu Maximo Cantero dibunuh ketika mengemudikan mobilnya di pusat kota Rosario. 

Namun, orang di balik pembunuhan Paz rupanya adalah Claudio Cantero alias El Pajaro yang merupakan anak dari Maximo Cantero. Ia membunuhnya lantaran menganggap ia berkhianat setelah sejumlah narkoba dan uang yang diselundupkan dari Bolivia disita oleh aparat kepolisian di Argentina. 

Pada 26 Mei 2013, El Pajaro ditembak mati oleh orang tak dikenal ketika berada di sebuah klub malam. Menyusul kematian El Pajaro, rentetan aksi kekerasan terjadi di Rosario dan sudah terjadi empat kasus pembunuhan hanya dalam waktu satu minggu sejak kematiannya.

Pada 2014, tingginya kasus kekerasan di Rosario menyeret pemerintah pusat untuk ikut campur tangan menangani masalah ini. Bahkan, investigasi besar-besaran ini membuka seluruh kedok dan jaringan kriminal yang didirikan oleh Los Monos dengan aparat kepolisian dan pebisnis di Rosario.

4. Pemimpin Los Monos berhasil ditangkap oleh Gendarmerie Argentina

Pemerintah Santa Fe mengakui bahwa patroli yang dilakukan aparat kepolisian di jalanan justru menjadi masalah di Rosario. Maka, pemerintah lokal menganggap polisi sudah tidak dapat dipercaya lagi untuk menjaga keamanan dan kontrol keamanan diserahkan kepada pasukan Gendarmerie Argentina. 

Menteri Keamanan Argentina pada saat itu, Sergio Berni akhirnya meluncurkan tindakan perlawanan kepada aksi penyelundupan narkoba dan memusnahkan bunker milik geng kriminal. Bahkan, sebanyak 3 ribu pasukan elite sudah diterjunkan ke Rosario beserta enam helikopter dan pesawat. 

Di sisi lain, setelah tewasnya El Pajaro, maka kepemimpinan Los Monos diserahkan kepada Ariel Máximo Cantero, alias “Guille" dan saudara tirinya Ramón Machuca alias "Monchi". Namun, tak berselang lama, beberapa pemimpin Los Monos lainnya berhasil ditangkap oleh aparat Gendarmerie Argentina. 

Pada April 2018, Guille dan Monchi akhirnya resmi divonis hukuman 38 dan 22 tahun penjara. Keduanya dijerat atas kasus pembunuhan dan kerja sama dalam mengoperasikan bisnis ilegal. Sementara itu, El Viejo juga mendapatkan hukuman enam tahun penjara lantaran menjadi anggota organisasi kriminal. 

5. Melakukan berbagai ancaman dan intimidasi kepada pejabat hukum di Rosario

Dilaporkan Insight Crime, ketiga pemimpin geng kriminal itu memang sudah dijebloskan ke dalam penjara. Namun, pemimpin Los Monos punya berbagai cara agar bisnis narkobanya tetap dapat berjalan normal, termasuk dengan memberi intimidasi dan ancaman kepada pejabat hukum.

Para pemimpin Los Monos itu melakukan upaya balas dendam kepada hakim, jaksa, dan saksi mata di Rosario yang mengakibatkan mereka dijebloskan ke dalam penjara. Beberapa hari setelah Guille divonis, seorang pria bersenjata menembakkan peluru di rumah salah satu hakim. 

Dikutip Buenos Aires Times, Guille sudah merencanakan tujuh kali upaya pembunuhan kepada para hakim dan institusi hukum di Provinsi Santa Fe. Atas hal itu, pada Oktober 2021, ia kembali mendapatkan hukuman 22 tahun penjara atas penyerangan kepada hakim di Rosario. 

Meski berada di persidangan, Guille diketahui mengancam langsung kepada hakim yang memimpin jalannya persidangan. Bahkan, ia mengakui secara langsung bahwa "Saya menyewa pembunuh bayaran untuk menembak para hakim". 

Para anggota keluarga Cantero sudah dikirimkan ke penjara yang berbeda untuk menghindari komunikasi dengan dunia luar yang berkaitan dengan operasional geng kriminalnya. Sayangnya, strategi ini tidak berjalan sesuai dengan harapan. 

6. Los Monos membuat Rosario sebagai kota dengan tingkat kekerasan tertinggi di Argentina

6 Fakta Los Monos, Geng Kriminal Brutal asal ArgentinaPemandangan Sungai Parana di Kota Rosario, Argentina. (instagram.com/rosarioarg_)

Pada 2020, Máximo Cantero alias El Viejo yang menjadi pendiri Los Monos dibebaskan dari penjara lebih awal. Namun, pada April 2022, ia ditangkap kembali lantaran dituding menjadi dalang di balik penembakan sekolah dan pom bensin di Rosario pada pertengahan November 2021. 

Penangkapan El Viejo ini bersamaan dengan ditangkapnya 19 orang lain terduga dalang di balik aksi kekerasan di Rosario. Bahkan, istri Maximo Cantero, Patricia Celestina Contreras juga ikut ditangkap oleh aparat keamanan setempat. Penangkapan ini disebut sebagai pukulan besar kepada anggota keluarga Cantero dan Los Monos, dilaporkan Vice News

Meski begitu, Rosario masih menjadi kota dengan tingkat pembunuhan dan kekerasan tertinggi di Argentina. Bahkan, sepanjang tahun ini, sudah ada 90 kasus pembunuhan di kota terbesar ketiga di negara Amerika Selatan tersebut. 

Selain itu, di Provinsi Santa Fe itu sudah tercatat ada 136 kasus pembunuhan yang jumlahnya empat kali lipat dari rata-rata nasional. Sedangkan pada bulan April sudah tercatat ada 30 kasus pembunuhan yang menunjukkan peningkatan dari bulan sebelumnya. 

Sementara menurut Observatorio de Seguridad Pública, 84 persen kasus pembunuhan yang tercatat tahun ini dilakukan dengan senjata api dan 77 persen di antaranya sudah direncanakan. Setengah kasus pembunuhan itu diduga diakibatkan oleh perseteruan antar organisasi kriminal. 

Brahm . Photo Verified Writer Brahm .

-

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya