Comscore Tracker

Akibat Perang Suriah, Pria Ini Sebulan Lebih Terdampar di Bandara Malaysia

Sebelumnya telah di deportasi dari Uni Emirat Arab beberapa tahun lalu

Seorang pria asal Suriah terdampar di Bandara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia, selama sebulan lebih. Pasalnya, ini merupakan konsekuensi akibat perang saudara yang terjadi di Suriah beberapa waktu terakhir ini. Sebelumnya, ia juga dideportasi dari Uni Emirat Arab pada tahun 2016 akibat kasus yang sama. Bagaimana awal ceritanya?

1. Sebelumnya ditolak pergi ke Ekuador dan terbang ke Kamboja

Akibat Perang Suriah, Pria Ini Sebulan Lebih Terdampar di Bandara Malaysiatwitter.com/kontar81

Dilansir dari BBC, seorang pria Suriah yang diketahui bernama Hassan Al Kontar ini mengungkapkan bahwa dirinya di deportasi dari Uni Emirat Arab pada tahun 2016 akibat perang Suriah. Al Kontar sendiri mengaku ingin keluar dari masalah ketidakjelasan ini. "Saya putus asa untuk mendapatkan bantuan. Saya tidak bisa tinggal di bandara ini lebih lama lagi, ketidakpastian itu membuat saya gila. Rasanya seperti hidup saya mencapai titik terendah baru," ungkap pengakuan Al Kontar seperti yang dikutip dari BBC.

Singkatnya pada Januari 2017 lalu, Al Kontar pergi ke Malaysia setelah di deportasi dari Uni Emirat Arab dan diberi visa selama 3 bulan. Selama di sana, ia bekerja untuk sementara dan pergi ke Ekuador. Namun demikian, Al Kontar mau tidak mau melanggar visa turisnya ini. Setelah memiliki uang yang cukup, Al Kontar pergi ke Ekuador dan ketika memasuki pesawat maskapai Turkish Airlines, Al Kontar justru dilarang terbang ke sana. Alhasil, Al Kontar pergi ke Kamboja, namun ditolak untuk masuk bandara Phnom Penh. 

Atas kejadian tersebut, Al Kontar kembali lagi ke Malaysia dan tidak bisa mendapatkan visa baru untuk bisa masuk ke negara Malaysia.

2. Selama di sana, ia tidak memiliki pakaian serta alat perlengkapan mandi

Akibat Perang Suriah, Pria Ini Sebulan Lebih Terdampar di Bandara Malaysiatwitter.com/kontar81

Dilansir dari Washingtonpost.com, Al Kontar selama terdampar di sana tidak memiliki pakaian serta alat perlengkapan mandi. Bahkan, ia sendiri justru memilih tidur di bawah tangga dan membersihkan kamar mandi. Untuk makanan sendiri, ia mendapatkan beras yang dipasok serta ayam goreng. Kadang juga pergi ke restoran cepat saji atau kafe terdekat untuk membeli segelas kopi. Sayangnya, ia sendiri memiliki uang yang sangat sedikit.

Ia sendiri pun tidak bisa berbuat apa-apa selama masih terdampar di sana dan ingin sekali mendapatkan bantuan untuk bisa lepas dari masalah ini. "Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan. Aku tidak punya orang untuk menasihati aku ke mana aku bisa pergi. Aku benar-benar butuh bantuan karena aku percaya hal terburuk belum datang," ungkap Al Kontar seperti yang dikutip dari BBC.

Al Kontar sendiri bukanlah orang Suriah satu-satunya yang mengalami nasib serupa ini. Sejak perang Suriah terjadi, beberapa pengungsi Suriah yang memutuskan untuk melarikan diri banyak sekali terdampar di bandara yang ada di Kuala Lumpur, Bangkok, dan Istanbul. "Ada cerita serupa di masa lalu Suriah dan pengungsi Palestina dari Suriah yang terdampar di Kuala Lumpur, Bangkok. Bukan hanya masalah saya. Ini masalah ratusan orang Suriah yang merasa mereka dibenci, ditolak, tidak diinginkan, lemah, kesepian. Saya tidak tahu harus berkata apa atau apa yang harus dilakukan. Saya butuh solusi. Saya membutuhkan tempat yang aman di mana saya bisa secara hukum, dengan bekerja," ungkap Al Kontar seperti yang dikutip dari Theguardian.com.

3. Awal mula Al Kontar meninggalkan Suriah

Akibat Perang Suriah, Pria Ini Sebulan Lebih Terdampar di Bandara Malaysiatwitter.com/kontar81

Awalnya Al Kontar meninggalkan Suriah pada tahun 2006 untuk menghindari dinas militer, pulang ke rumah satu kali untuk melihat keluarganya pada tahun 2008. Dia mengatakan dia masih tunduk pada surat perintah penangkapan di sana. Keputusan yang diambil oleh Al Kontar sendiri untuk meninggalkan negara tercintanya ini bukan keputusan yang sangat mudah.

"Saya seorang manusia dan saya tidak menganggap berpartisipasi dalam perang itu benar. Itu bukan keputusan saya sendiri. Saya bukan mesin pembunuh dan saya tidak ingin ada bagian dalam menghancurkan Suriah. Saya tidak ingin darah di tangan saya. Perang tidak pernah menjadi solusi, tetapi sayangnya, bahkan dari tempat saya sekarang, saya membayar harga tindakannya," ungkap pengakuan Al Kontar seperti yang dikutip dari BBC. Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa badan pengungsi itu "sadar akan kasus ini" dan telah "menjangkau individu dan pihak berwenang".

Christ Bastian Waruwu Photo Community Writer Christ Bastian Waruwu

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Paulus Risang

Just For You