AS Peringatkan Warganya untuk Hindari Bandara di Kabul

Alasannya karena adanya potensi serangan

Kabul, IDN Times - Amerika Serikat memperingatkan kepada para warganya untuk menjauh sementara dari bandara di Kabul pada hari Sabtu, 21 Agustus 2021, waktu setempat. Alasannya, karena ada potensi serangan yang dilakukan oleh kelompok IS (Islamic State).

Bagaimana awal ceritanya?

1. Pejabat pertahanan AS mengatakan pihaknya memantau perkembang serta mencari rute alternatif  

AS Peringatkan Warganya untuk Hindari Bandara di KabulPara pasukan militer Amerika Serikat. (Twitter.com/DeptofDefense)

Dilansir dari BBC, peringatan keamanan pada hari Sabtu mengatakan kepada warga negaranya untuk menjauh karena kemungkinan ancaman keamanan di luar gerbang.

Hanya mereka yang secara individu disuruh melakukan perjalanan oleh perwakilan pemerintah Amerika Serikat yang harus melakukannya. Pejabat pertahanan Amerika Serikat mengatakan mereka memantau perkembangan dan mencari rute alternatif.

Mereka juga tidak memberikan secara spesifik tentang ancaman dari kelompok IS tetapi menggambarkannya sebagai signifikan dan menambahkan belum ada serangan yang dikonfirmasi sampai saat ini.

Pemberitahuan tersebut datang di tengah kekacauan yang terus berlanjut di luar terminal bandara setempat serta laporan mengenai beberapa orang yang dihancurkan ketika mereka berusaha kabur dari Afghanistan setelah dikuasai oleh kelompok Taliban.

Menjelang berakhirnya tenggat waktu pada tanggal 31 Agustus 2021 ini, Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, untuk menarik sebagian besar pasukannya yang tersisa.

Dalam pernyataannya pada hari Jumat, 20 Agustus 2021, waktu setempat, dia tidak berkomitmen untuk memperpanjangnya, meskipun dia mengeluarkan janji baru untuk mengevakuasi tidak hanya semua orang warganya di Afghanistan, tetapi juga puluhan ribu warga Afghanistan yang telah membantu upaya perang sejak 2001 lalu.

2. Meski diperingatkan, kerumunan di sekitar bandara masih terus terjadi

AS Peringatkan Warganya untuk Hindari Bandara di KabulSituasi kerumunan yang terjadi di sekitar bandara di Kabul, Afghanistan. (Twitter.com/Ahm88672531Amir)

Kelompok Islamic State (IS), yang telah lama menyatakan keinginan menyerang Amerika Serikat dan kepentingan Amerika Serikat di luar negeri, telah aktif di Afghanistan selama beberapa tahun, melakukan gelombang serangan mengerikan, yang sebagian besar terhadap minoritas Syiah.

Mereka diketahui telah berulang kali menjadi sasaran serangan udara Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir, serta serangan kelompok Taliban.

Tetapi para pejabat mengatakan bahwa bagian-bagian dari kelompok itu masih aktif di Afghanistan serta pihak Amerika Serikat merasa khawatir mengenai pembentukannya kembali dalam cara yang lebih besar.

Terlepas dari peringatan yang disampaikan, kerumunan masih tetap berlangsung di luar penghalang beton bandara Kabul, memegangi dokumen, serta terdapat anak-anak di sekitar itu.

Sementara itu, pemimpin politik utama Taliban tiba di Kabul, Afghanistan, untuk melakukan pembicaraan mengenai pembentukan pemerintahan baru. Kehadiran tokoh utama Taliban, Mullah Abdul Ghani Baradar, yang kembali ke Kandahar pada awal pekan ini dari Qatar dikonfirmasi oleh seorang pejabat Taliban.

Baradar merundingkan kesepakatan damai gerakan keagamaan dengan Amerika Serikat
tahun 2020 lalu dan dia saat ini diharapkan memainkan peran kunci dalam negosiasi antara Taliban dan pejabat pemerintah Afghanistan.

Baca Juga: Austria Tegaskan Tak Terima Lagi Pengungsi dari Afghanistan 

3. Pemerintahan Biden sedang mempertimbangkan untuk meminta maskapai penerbangan komersial AS untuk menyediakan pesawat dan kru 

AS Peringatkan Warganya untuk Hindari Bandara di KabulPresiden Amerika Serikat, Joe Biden. (Instagram.com/potus)

Pemerintahan Biden saat ini sedang mempertimbangkan untuk meminta maskapai penerbangan komersial Amerika Serikat untuk menyediakan pesawat dan kru untuk membantu mengangkut para pengungsi Afghanistan begitu mereka dievakuasi dari negara mereka dengan pesawat militer

Di bawah program sukarela Civil Reserve Air Fleet, maskapai penerbangan sipil menambah kemampuan pesawat militer selama krisis terkait pertahanan nasional.

Komando Transportasi Amerika Serikat mengatakan pada hari Sabtu bahwa pihaknya telah mengeluarkan perintah peringatan kepada operator Amerika Serikat Jumat malam waktu setempat mengenai kemungkinan aktivasi program tersebut.

Jika dipanggil, maskapai komersial akan mengangkut para pengungsi dari stasiun jalan di luar Afghanistan ke negara lain atau dari Bandara Internasional Dulles di Virginia, Amerika Serikat, ke pangkalan militer Amerika Serikat.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Antony Blinken, mengatakan sejauh ini, sebanyak 13 negara telah menyatakan setuju untuk menampung warga Afghanistan yang berisiko setidaknya untuk sementara.

Untuk 12 negara lainnya telah setuju menjadi titik transit bagi para pengungsi, termasuk warga Amerika Serikat dan negara lainnya.

Proses evakuasi masih terus dilakukan, meskipun beberapa penerbangan keluar masih jauh dari penuh karena kekacauan di bandara.

Pihak militer Jerman mengatakan satu pesawat telah meninggalkan Kabul pada hari Sabtu dengan 205 orang yang dievakuasi, sementara pesawat kedua hanya membawa 20 orang.

Kementerian Pertahanan Italia juga mengumumkan di hari yang sama dari 211 warga
Afghanistan di antara 2.100 pekerja Afghanistan di misi Italia serta keluarga mereka telah dievakuasi dengan aman.

Pada hari Jumat, Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, mengatakan sekitar 1.000 orang setiap hari dievakuasi di tengah stabilisasi di bandara.

Namun, pada hari Sabtu, mantan Direktur Amal Royal Marine di Afghanistan menjelaskan situasinya justru semakin buruk, bukan semakin membaik.

Baca Juga: JK: Musuh Taliban Sesungguhnya AS, Bukan Pemerintah Afghanistan

Christ Bastian Waruwu Photo Verified Writer Christ Bastian Waruwu

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topik:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya