Bennett Senang Biden Cegah Iran Dapat Senjata Nuklir

Kedua pemimpin ini mengadakan pertemuan di Gedung Putih

Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett, merasa senang dengan pernyataan Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, yang menyatakan berkomitmen mencegah Iran untuk memperoleh senjata nuklir. Kedua pemimpin ini telah bertemu pada hari Jumat, 27 Agustus 2021, waktu setempat di Gedung Putih, Washington, D.C, Amerika Serikat.

1. Biden menyuarakan komitmen tak tergoyahkan terhadap keamanan Israel 

Dilansir dari Aljazeera.com, Biden mengatakan Amerika Serikat tetap berkomitmen untuk mencegah Iran mendapatkan senjata nuklir dalam pertemuannya dengan Bennett, yang menggemborkan pilihan lain jika diplomasi dengan Iran gagal.

Terlepas dari penentangannya terhadap upaya Amerika Serikat untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran, Bennett mengatakan dia senang dengan pernyataan Biden sebagai tanda menjembatani kesenjangan antara pendekatan Israel dan Amerika Serikat ke Iran.

Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Biden menyuarakan komitmen tak tergoyahkan terhadap keamanan Israel.

Menurut Biden, pihaknya juga akan membahas ancaman dari Iran dan komitmen untuk
memastikan Iran tidak pernah mengembangkan senjata nuklir.

Ia menambahkan pihaknya mengutamakan diplomasi dan melihat ke mana itu membawa negaranya, tetapi jika diplomasi berakhir gagal, pihaknya siap untuk beralih ke opsi lain.

Sama seperti Perdana Menteri Israel sebelumnya, Benjamin Netanyahu, Bennett justru telah menjadi penentang keras kesepakatan nuklir multilateral dengan Iran.

Namun, Bennett menyambut baik pernyataan Biden, yang menggarisbawahi referensi Biden untuk kebijakan alternatif untuk diplomasi.

Menurut Bennett, ia merasa senang mendengar pernyataan yang jelas bahwa Iran tidak akan pernah dapat memperoleh senjata nuklir dan untuk menekankan bahwa pihaknya akan mencoba rute diplomatik, tetapi ada opsi lain.

2. Baik Bennett maupun Biden tampaknya ingin mengesampingkan ketidaksepakatan mendasar mereka untuk saat ini 

Bennett Senang Biden Cegah Iran Dapat Senjata NuklirPresiden Amerika Serikat, Joe Biden, bertemu dengan Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett, di Gedung Putih pada hari Jumat, 27 Agustus 2021, waktu setempat. (Instagram.com/IsraelinSF)

Kedua pemimpin ini tampaknya ingin mengesampingkan ketidaksepakatan mendasar
mereka untuk saat ini. Bennett tetap dengan tegas menentang kesepakatan nuklir internasional dengan Iran yang telah dijanjikan Biden untuk mencoba bergabung kembali.

Politisi sayap kanan Israel itu juga menganggap tujuan Biden sebagai negara merdeka untuk Palestina sebagai kebodohan.

Perpecahan itu tidak disebutkan dalam sambutan singkat dalam konferensi pers, seperti halnya debat partisan yang dituduhkan mengenai dukungan Amerika Serikat untuk Israel yang telah dibantu oleh Netanyahu di antara Partai Republik.

Bennett tidak menyebut nama pendahulunya, tetapi artinya jelas. Biden bersama Presiden Amerika Serikat saat itu, Barack Obama, telah marah ketika Netanyahu saat itu merekrut oposisi Kongres untuk kesepakatan Iran pada tahun 2015 lalu dan dibutakan ketika pemimpin Israel itu disambut untuk berpidato di depan Kongres untuk mengecam rencana tersebut.

Pendekatan Bennett di Iran berbeda dari Netanyahu lebih dalam gaya dibandingkan substansi.

Pemerintahannya telah meyakinkan para pejabat Amerika Serikat bahwa dia tidak akan berkeliling Gedung Putih atau secara terbuka mengkritik posisi Amerika Serikat dan Bennett tampaknya tidak mendorong oposisi Partai Republik yang bertahan lama terhadap rencana Iran.

Baca Juga: AS: Bahan Peledak Serangan Kapal Tanker Diproduksi di Iran

3. Seharusnya, kedua pemimpin ini bertemu pada sehari sebelumnya 

Seharusnya, kedua pemimpin ini dijadwalkan bertemu pada hari Kamis, 26 Agustus 2021, waktu setempat tetapi pertemuan mereka ditunda karena Biden mengalihkan perhatiannya ke Afghanistan setelah tragedi pemboman di luar bandara di Kabul, Afghanistan, yang menewaskan sekitar 175 orang, termausk 13 pasukan militer Amerika Serikat.

Gedung Putih mengatakan Biden berbicara melalui telepon dengan Bennett pada hari Kamis untuk berterima kasih atas kesediannya untuk menunda pertemuan mereka sehubungan dengan serangan teror di Kabul.

Iran tampaknya menjadi item teratas dalam diskusi bilateral pada hari Jumat. Perjanjian nuklir, yang ditandatangani tahun 2015 lalu, melihat Iran mengurangi program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi terhadap ekonominya.

Para pemimpin Iran menekankan bahwa mereka mencari teknologi nuklir untuk tujuan damai dan tidak ingin memperoleh senjata nuklir.

Bennett menyebut Iran pengekspor utama teror, ketidakstabilan, dan pelanggaran HAM. Menurutnya, pihaknya telah mengembangkan strategi komprehensif yang akan dibicarakan dengan dua tujuan.

Ia menjelaskan tujuan pertama adalah menghentikan Iran dari agresi regionalnya serta mulai menggulungnya kembali ke dalam kotak dan yang kedua adalah untuk secara permanen menjauhkan Iran dari kemampuan untuk meledakkan senjata nuklir.

Mengenai Palestina, Bennett mengatakan pada awal pekan ini bahwa dia tidak akan menghidupkan kembali pembicaraan damai dengan Palestina.

Sementara itu, Biden mengatakan hubungan dengan Palestina akan menjadi agenda pertemuan itu.

Baca Juga: Iran Minta Jepang Cairkan Aset yang Dibekukan

Christ Bastian Waruwu Photo Verified Writer Christ Bastian Waruwu

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topik:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya