Comscore Tracker

Biden Siap Buka Kembali Kamp Migran di Guantanamo

Kamp tersebut pertama kali dibuka sejak tahun 1991 lalu

Jakarta, IDN Times - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, berencana membuka kembali kamp migran di penjara Guantanamo yang ada di Kuba dalam pengumumannya pada Rabu (22/9) waktu setempat. Kamp tersebut pertama kali digunakan untuk para migran sejak tahun 1991 lalu.

1. Biro Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai mengajak tender bagi kontraktor untuk menjalankan Pusat Operasi Migran di Pangkalan Angkatan Laut AS 

Dilansir dari The Guardian, pemerintahan Biden sedang bersiap untuk membuka kembali kamp penahanan migran di Teluk Guantanamo setelah gelombang migran dan pencari suaka di perbatasan selatan.

Biro Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai (Ice) setempat mengundang tender bagi kontraktor swasta untuk menjalankan Pusat Operasi Migran di Pangkalan Angkatan Laut AS, dekat dengan kompleks penjara yang menampung 39 tahanan tersisa yang ditahan dalam perang melawan teror.

Kamp migran pertama kali didirikan sejak tahun 1991 lalu dan dimaksudkan untuk menampung pencari suaka Kuba.

Pada akhirnya itu digunakan untuk menahan sekitar 34 ribu warga Haiti dan kira-kira jumlah yang sama dari Kuba sampai dibubarkan oleh pemerintahan Presiden AS saat itu, Barack Obama. Itu tidak digunakan untuk menampung migran sejak tahun 2017 lalu.

Biro tersebut sedang mencari kontraktor swasta untuk menjalankan pusat tersebut dan menyediakan petugas penjagaan serta keamanan yang tidak bersenjata.

Dalam iklan tersebut, setidaknya 10 persen dari personel tambahan harus lancar berbahasa Spanyol dan Kreol Haiti.

Baik Departemen Keamanan Dalam Negeri AS pada Rabu malam waktu setempat, yang mengawasi Ice, maupun Dewan Keamanan Nasional setempat belum memberikan komentar terkait ini.

2. Pihak Departemen Keamanan Dalam Negeri AS tidak akan mengirim warga Haiti yang ditemukan ke Teluk Guantanamo 

Baca Juga: AS Pindahkan Tahanan Guantanamo ke Negara Asalnya

Dalam sebuah pernyataan, pihak Departemen Keamanan Dalam Negeri AS mengatakan
tidak akan mengirim warga negara Haiti yang ditemukan di perbatasan barat daya ke Pusat Operasi Migran di Teluk Guantanamo.

Pusat Operasi Migran telah digunakan selama beberapa dekade untuk memproses migran dilarang di laut untuk pemukiman kembali negara ketiga dan permintaan informasi yang baru-baru ini disampaikan adalah langkah pertama yang biasa dan rutin dalam pembaruan kontrak serta tidak terkait dengan Perbatasan Barat Daya.

Kontrak tersebut awalnya diberikan pada tahun 2002 lalu dengan masa berlaku saat ini berakhir pada tanggal 31 Mei 2022 ini.

Para migran yang menunggu pemukiman kembali yang tidak berada dalam tahanan Ice di Pusat Operasi Migran tidak ditahan atau dipenjarakan serta bebas setiap saat untuk kembali ke negara asal mereka.

Rencana pembukana kembali situs itu terjadi pada saat diperkirakan 14 ribu migran telah menyeberangi Rio Grande selama 2 minggu terakhir.

Sebagian besar migran merupakan warga negara Haiti dan kerumunan termasuk ribuan wanita dan anak-anak, melarikan diri dari kekacauan yang terjadi baru-baru ini yang disebabkan oleh gempa bumi kuat serta diperparah oleh kekacauan situasi politik di Haiti.

Pemerintahan Biden telah meningkatkan penerbangan deportasi ke Haiti tetapi mendapat kecaman keras dari kelompok-kelompok HAM yang mengatakan para migran dan pencari suaka Haiti sengaja diterbangkan kembali ke dalam bahaya besar.

3. Teluk Guantanamo paling dikenal sebagai penjara bagi para tahanan kasus terorisme

Biden Siap Buka Kembali Kamp Migran di GuantanamoSuasana di sekitar penjara Guantanamo yang ada di Kuba. (Twitter.com/griffithconner1)

Teluk Guantanamo paling dikenal akhir-akhir ini sebagai tempat penjara bagi tahanan terorisme bernilai tinggi, termasuk dalang tragedi 9 September yang diakui, Khalid Sheikh Mohammed, yang diadili di sana di hadapan komisi militer.

Tetapi pangkalan itu telah lama mencakup fasilitas penahanan imigrasi Departemen Keamanan Dalam Negeri AS, fasilitas dengan masa lalu kontroversial yang terkait dengan Haiti.

Selama pemerintahan Presiden AS saat itu, George H. W. Bush, dari 1991-1993 lalu, ketika banyak warga Haiti yang berusaha melarikan diri dari negara itu untuk mencari suaka di Florida, AS, sebanyak 12 ribu dikirim ke Teluk Guantanamo di bawah kebijakan yang diawasi oleh Jaksa Agung AS saat itu, William Barr.

Pendukung imigran mengatakan pada saat itu bahwa kebijakan tersebut sebagian didorong oleh fakta bahwa beberapa orang Haiti mengalami positif HIV.

Dalam beberapa tahun terakhir, administrasi berturut-turut telah menghabiskan jutaan dolar untuk infrastruktur di fasilitas Departemen Keamanan Dalam Negeri AS, membangun bantalan semen untuk tanda, serta bangunan dengan kakus kasar.

Baca Juga: Maju Mundur Penutupan Guantanamo, Salah Satu Penjara Terkejam di Dunia

Christ Bastian Waruwu Photo Verified Writer Christ Bastian Waruwu

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya