Comscore Tracker

Menkes Iran Umumkan Negaranya Lockdown Selama 2 Pekan

Wabah COVID-19 di Iran kali ini didominasi varian Delta

Teheran, IDN Times - Wabah COVID-19 di Iran akhir-akhir ini semakin mengganas setelah Menteri Kesehatan Iran, Saeed Namaki, mengumumkan pada hari Minggu, 1 Agustus 2021, waktu setempat diberlakukannya lockdown selama 2 pekan ke depan. Varian Delta kini mendominasi kasus COVID-19 di Iran kali ini. Bagaimana situasi di sana saat ini?

1. Menurut Menteri Kesehatan Iran, tekanan saat ini sangat tinggi sehingga ia merasa khawatir bahkan rencana tersebut tidak akan cukup 

Menkes Iran Umumkan Negaranya Lockdown Selama 2 PekanSuasana di sekitar wilayah Teheran, Iran. (Pixabay.com/frank497)

Dilansir dari Aljazeera.com, Menteri Kesehatan Iran telah menyerukan dilakukan lockdown selama 2 pekan ke depan yang diberlakukan oleh angkatan bersenjata dan penegak hukum untuk mengekang peningkatan cepat kasus COVID-19 yang begitu mengkhawatirkan di seluruh Iran. Saeed Namaki membuat permintaan tersebut dalam sebuah surat kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang juga dipublikasikan secara luas oleh media Iran pada hari yang sama. Menurutnya, tekanannya sangat tinggi sehingga ia khawatir bahkan rencana ini tidak akan cukup, kecuali pihaknya mengurangi beban eksponensial penyakit melalui tindakan pencegahan cepat serta meningkatkan kepatuhan terhadap protokol kesehatan.

Namaki mengatakan gelombang kelima COVID-19, kali ini didominasi oleh varian Delta yang ganas, bisa menjadi lebih bencana dan tidak dapat diubah jika tidak ada yang dilakukan karena bahkan jika Iran tidak kehabisan tempat tidur rumah sakit, itu akan berjalan lancar. Ia menambahkan meskipun mereka sudah divaksinasi, rekan-rekannya semua jatuh sakit karena lama tidak bisa tidur serta mengalami stres. Pimpinan dari 65 Universitas Iran dan Fakultas Kedokteran di seluruh Iran juga menyerukan adanya lockdown dalam sepucuk surat kepada Hassan Rouhani pekan lalu.

2. Sejak pandemi COVID-19 dimulai pertama kali, Iran telah melakukan banyak lockdown dan penutupan sementara

Menkes Iran Umumkan Negaranya Lockdown Selama 2 PekanSuasana di sekitar wilayah Teheran, Iran. (Pixabay.com/mohammadshahhosseini)

Iran telah memperkenalkan banyak lockdown dan penutupan sementara di seluruh negeri sejak pandemi pertama kali terjadi, tetapi sebagian besar telah diberlakukan secara longgar. Pemerintah Iran telah menempatkan Teheran, ibu kota Iran, dan wilayah tetangganya, Alborz, di bawah lockdown total selama 6 hari pada akhir Juli 2021 lalu, tetapi sebagian besar dianggap tidak ada gunanya karena hampir tidak ada bisnis yang ditutup serta pembatasan perjalanan dilanggar di tengah penegakan protokol yang rendah.

Situasinya menjadi jauh lebih buruk sejak saat itu, tetapi pejabat kesehatan setempat telah memperingatkan bahwa gelombang kelima kasus COVID-19 belum mencapai puncaknya. Juru bicara satuan tugas COVID-19 Iran, Alireza Raisi, mengatakan pada hari Sabtu, 31 Juli 2021, lalu bahwa 29 dari 31 Provinsi di Iran saat ini dalam pergolakan varian Delta serta tempat tidur rumah sakit dengan cepat terisi. Ratusan wilayah di seluruh Iran saat ini diklasifikasikan ke dalam zona merah dalam skala kode warna yang menunjukkan tingkat keparahan wabah COVID-19.

Baca Juga: Iran Desak Biden Bawa AS Kembali ke Kesepakatan Nuklir Iran

3. Jumlah kasus COVID-19 di Iran sampai pada saat ini 

Menkes Iran Umumkan Negaranya Lockdown Selama 2 PekanIlustrasi virus COVID-19. (Unsplash.com/sonance)

Jumlah kasus COVID-19 di Iran hingga hari Minggu, 1 Agustus 2021, waktu setempat mencapai angka 3.903.519 kasus dengan rincian 90.996 kasus berakhir meninggal dunia serta 3.385.195 kasus berakhir sembuh. Di hari yang sama, Iran mengalami penambahan kasus sebanyak 32.511 kasus baru dengan rincian 366 kasus berakhir meninggal dunia. Dengan demikian, Iran saat ini berada di urutan ke-12 jumlah kasus COVID-19 terbanyak di dunia.

Dari program vaksinasi, peluncuran vaksin di Iran telah dipercepat dalam 2 minggu terakhir ini karena beberapa juta dosis telah diimpor setelah berbulan-bulan tertinggal yang menurut para pejabat setempat disebabkan oleh sanksi Amerika Serikat dan melewatkan tenggat waktu oleh negara lain. Sejauh ini, vaksin telah diimpor dari Tiongkok, Rusia, India, Kuba, dan program vaksin global (COVAX). Tetapi tetap saja, menurut Kementerian Kesehatan Iran, hanya sekitar 10 juta orang yang telah menerima setidaknya satu dosis vaksin di negara berpenduduk lebih dari 83 juta orang itu.

Baca Juga: Protes Krisis Air di Iran, Satu Orang Tewas

Christ Bastian Waruwu Photo Verified Writer Christ Bastian Waruwu

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya