PBB: Korut Telah Mulai Lagi Reaktor yang Hasilkan Plutonium

Pihak IAEA saat ini memantau Korut dari jauh melalui satelit

Jakarta, IDN Times - Pengawas atom PBB mengatakan pada hari Minggu, 29 Agustus 2021, waktu setempat bahwa Korea Utara dikabarkan telah memulai kembali sebuah reaktor nuklir yang diyakini menghasilkan plutonium. Pihak Badan Energi Atom Internasional (IAEA) saat ini sedang memantau Korea Utara dari jauh menggunakan citra satelit.

1. IAEA tidak memiliki akses ke Korea Utara sejak diusir pada tahun 2009 lalu 

Dilansir dari The Guardian, Korea Utara tampaknya telah memulai kembali sebuah reaktor nuklir yang secara luas diyakini menghasilkan plutonium untuk senjata nuklir.

IAEA tidak memiliki akses ke Korea Utara sejak inspektur IAEA diusir pada tahun 2009 lalu. Korea Utara kemudian melanjutkan program senjata nuklirnya dan segera melanjutkan uji coba nuklir, di mana terakhir kali dilakukan pada tahun 2017 lalu.

Saat ini, IAEA sedang memantau Korea Utara dari jauh menggunakan citra satelit. Berdasarkan laporan IAEA tentang reaktor 5 megawatt di Yongbyon, kompleks nuklir di jantung progran nuklir Korea Utara, tidak ada indikasi operasi reaktor dari awal Desember 2018 hingga awal Juli 2021 lalu.

Laporan tersebut menambahkan sejak awal Juli 2021 lalu sudah ada indikasi, antara lain keluarnya air pendingin, sejalan dengan beroperasinya reaktor.

Tahun 2020 lalu, 38 North mengatakan banjir kemungkinan telah merusak rumah pompa yang terhubung dengan Yongbyon, menyoroti betapa rentannya sistem pendingin reaktor nuklir terhadap peristiwa cuaca ekstrem.

Hujan musiman membawa banjir di beberapa daerah pada tahun 2021 ini, tetapi belum ada laporan tentang ancaman terhadap situs Pusat Penelitian Ilmiah Nuklir Yongbyon.

2. Sebelumnya, IAEA pada bulan Juni 2021 lalu mengatakan ada kemungkinan pekerjaan pemrosesan ulang dalam pemisahan plutonium 

PBB: Korut Telah Mulai Lagi Reaktor yang Hasilkan PlutoniumSalah satu tempat situs nuklir di Korea Utara. (Twitter.com/Iamanirudhsethi)

Pihak IAEA telah mengeluarkan laporan setiap tahunnya sebelum pertemuan negara-negara anggotanya, yang mempostingnya secara online tanpa pengumuman pada hari Jumat, 27 Agustus 2021, lalu.

IAEA mengatakan pada bulan Juni 2021 lalu ada indikasi di Yongbyon tentang kemungkinan pekerjaan pemrosesan ulang untuk memisahkan plutonium dari bahan bakar reaktor bekas yang dapat digunakan dalam senjata nuklir.

Laporan hari Jumat mengatakan durasi pekerjaan yang nyata itu selama 5 bulan, dari pertengahan Februari 2021 hingga awal Juli 2021 lalu, yang menyarankan agar bahan bakar bekas ditangani dalam jumlah penuh, berbeda dengan waktu yang lebih singkat yang dibutuhkan untuk pengolahan atau pemeliharaan limbah.

Mereka juga menjelaskan adanya indikasi baru pengoperasian reaktor 5MW(e) dan laboratorium radiokimia (pemrosesan ulang) sangat meresahkan.

Ada indikasi untuk jangka waktu tertentu bahwa apa yang diduga sebagai pabrik pengayaan uranium di Yongbyon tidak beropasi.

Selain itu, ada juga indikasi kegiatan penambangan dan konsentrasi di tambang dan pabrik uranium di Pyongsan.

Kementerian Luar Negeri Korea Selatan mengatakan bahwa pemerintah Korea Selatan terus memantau kegiatan nuklir dan rudal Korea Utara dalam kerja sama erat dengan Amerika Serikat.

Seorang peneliti di James Martin Center for Nonproliferation Stuides (CNS), Joshua Pollack, mengatakan ini adalah taruhan yang aman bahwa Korea Utara bermaksud setiap plutonium yang baru dipisahkan untuk senjata.

Ia juga menambahkan dalam pidato tahun 2021 ini oleh Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, memberikan daftar panjang senjata canggih yang sedang dikembangkan, termasuk lebih banyak bom nuklir.

Baca Juga: 7 Bocoran Sistem Pendidikan Korea Utara dari Para Pembelot Mereka 

3. Awal tahun 2019 lalu, Kim Jong-un menawarkan untuk membongkar seluruh kompleks jika berhasil meringankan sanksi

PBB: Korut Telah Mulai Lagi Reaktor yang Hasilkan PlutoniumBendera Korea Utara. (Twitter.com/Quicktake)

Pada awal tahun 2019 lalu, Kim Jong-un menawarkan untuk membongkar seluruh kompleks nuklir jika ia memenangkan keringanan sanksi ekstensif selama pertemuan puncak dengan Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump.

Tetapi Amerika Serikat menolak tawaran Kim karena itu hanya akan menjadi penyerahan sebagian dari kemampuan nuklirnya.

Korea Utara diyakini menjalankan beberapa fasilitas pengayaan uranium lainnya. Menurut perkiraan Korea Selatan pada tahun 2018 lalu, Korea Utara mungkin sudah memproduksi 20-60 senjata nuklir juga.

Dalam beberapa bulan terakhir, Korea Utara telah memperingatkan akan memperluas program nuklirnya jika Amerika Serikat tidak menarik kebijakan bermusuhan di Korea Utara, dalam referensi nyata untuk sanksi yang dipimpin Amerika Serikat dan latihan militer Amerika Serikat-Korea Selatan.

Awal bulan Agustus 2021 lalu, saudara Kim Jong-un, Kim Yo-jong, mengatakan Korea Utara akan meningkatkan pencegahan mutlak untuk mengatasi ancaman Amerika Serikat yang semakin intensif.

Baca Juga: 13 Negara yang Bebas dari Virus Corona, Ada Korea Utara

Christ Bastian Waruwu Photo Verified Writer Christ Bastian Waruwu

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topik:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya