Comscore Tracker

Raul Castro Undur Diri dari Pemimpin Partai Komunis Kuba

Pengganti Raul Castro akan dipilih melalui Kongres

Havana, IDN Times - Pemimpin partai Komunis Kuba, Raul Castro, memutuskan mundur dari jabatannya pada hari Jumat, 16 April 2021, waktu setempat dengan mengakhiri kekuasaan di bawah keluarganya selama 6 dekade terakhir ini. Pengganti dari Raul Castro akan ditentukan melalui Kongres dalam 4 hari ke depan. Bagaimana awal ceritanya?

1. Kemungkinan besar kepemimpinan partai akan diserahkan kepada Presiden Kuba saat ini

Raul Castro Undur Diri dari Pemimpin Partai Komunis KubaPemimpin partai Komunis Kuba, Raul Castro, dan Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel. (Twitter.com/HelenYaffe)

Dilansir dari BBC, Raul dalam pernyataannya pada Kongres partai bahwa dia menyerahkan kepemimpinan kepada generasi muda yang penuh semangat serta memiliki semangat anti-imperialis, di mana penggantinya akan dipilih melalui Kongres dalam 4 hari ke depan. Langkah tersebut, yang diharapkan, telah mengakhiri era kepemimpinan formal oleh dia dan saudaranya, Fidel Castro, yang dimulai sejak Revolusi 1959 lalu.

Meskipun Raul sendiri belum mendukung sosok penggantinya, secara luas diyakini bahwa kepemimpinan partai Komunis Kuba akan diberikan kepada Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel, yang telah memimpin sejak tahun 2018 lalu. Ia menambahkan dalam pernyataannya bahwa ia sangat percaya kepada kekuatan dan sifat teladan serta pemahaman rekan-rekannya di partai, dan selama ia masih hidup, ia akan siap dengan kakinya di sanggurdi untuk mempertahankan tanah air, revolusi, serta sosialisme.

2. Saat ini, Kuba dalam krisis ekonomi yang terpukul akibat pandemi COVID-19 dan sanksi Amerika Serikat

Raul Castro Undur Diri dari Pemimpin Partai Komunis KubaSuasana di sekitar wilayah Havana, Kuba. (Pixabay.com/dwoodsi)

Perubahan di puncak partai yang telah memerintah Kuba terjadi saat kepemimpinan negara itu menangani krisis ekonomi paling serius dalam beberapa dekade. Pandemi COVID-19, reformasi keuangan, serta pembatasan yang diberlakukan oleh pemerintahan Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, telah melanda sektor perekonomian yang menyusut sekitar 11 persen pada tahun 2020 lalu. Reformasi mata uang yang telah lama ditunggu-tunggu yang diluncurkan pada 1 Januari 2021 lalu telah berupaya membuat ekonomi dan perusahaan negara lebih efisien, akan tetapi hal itu justru sangat menekan anggaran warga Kuba.

Banyak yang menyerukan lebih banyak kebebasan ekonomi di Kuba. Tantangan lainnya adalah mempertahankan persatuan dan dukungan ideologis dalam menghadapi peningkatan akses warga negara ke internet dan media sosial. Pembangkang telah menggunakan media sosial untuk melakukan protes anti-pemerintah dan melakukan live streaming. Sebagai tanggapan, partai tersebut mengatakan salah satu fungsi Kongres partai adalah menghadapi subversi politik dan ideoligis, yang menjadikan internet dan media sosial sebagai bidang operasi utama.

Tetapi, meskipun ada perubahan dalam kepemimpinan, hanya sedikit yang berharap hal itu akan mendorong perubahan dramatis dalam arah kebijakan. Sebuah konstitusi baru pada tahun 2019 lalu menegaskan dominasi negara terhadap ekonomi dan sosialisme yang tidak dapat dibatalkan. 

Baca Juga: Kuba Berlakukan Hukuman Denda Bagi Penyiksa Binatang

3. Hubungan Castro dengan Amerika Serikat selama ini

Raul Castro Undur Diri dari Pemimpin Partai Komunis KubaPemimpin partai Komunis Kuba, Raul Castro. (Twitter.com/adriang86518036)

Sebagai pemimpin, Raul mempertahankan cengkeraman satu partai komunis atas kekuasaan di Kuba. Terlebih hubungannya antara Raul dengan pemerintah Amerika Serikat selama beberapa tahun terakhir ini menjadi sorotan. Dengan Presiden Amerika Serikat saat itu, Barack Obama, Raul mencoba memperbaiki hubungan antara Kuba-Amerika Serikat yang sempat rusak selama beberapa tahun, termasuk melakukan pembicaraan bersejarah dengan Obama pada tahun 2016 lalu.

Meski demikian, dia juga mengawasi peningkatan hubungan antara Kuba-Amerika Serikat sebelum pertemuannya dengan Obama. Sayangnya, hubungan kedua negara ini justru semakin memburuk di bawah Trump yang justru pada saat itu, Trump memilih memperketat sanksi Amerika Serikat yang berusia 60 tahun, sebelum akhirnya pandemi COVID-19 menyerang sektor perekonomian dan pariwisata Kuba. Presiden Amerika Serikat saat ini, Joe Biden, telah berjanji untuk melonggarkan beberapa sanksi yang diberikan di bawah pemerintahan Trump, meskipun pihak Gedung Putih mengatakan pada hari Jumat, 16 April 2021, waktu setempat bahwa perubahan dalam kebijakan Kuba bukanlah salah satu dari prioritas utamanya.

Baca Juga: Kasus COVID-19 Naik, Kuba Berlakukan Pembatasan Ketat

Christ Bastian Waruwu Photo Verified Writer Christ Bastian Waruwu

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya