Comscore Tracker

Roberta Metsola: Presiden Parlemen Eropa Termuda

Ia adalah wanita pertama yang menjabat 20 tahun terakhir

Strasbourg, IDN Times - Anggota parlemen Eropa asal Malta, Roberta Metsola, terpilih sebagai Presiden Parlemen Eropa menggantikan posisi David Sassoli yang meninggal pada pekan lalu. Penunjukkannya yang terjadi pada Selasa (18/1/2022) waktu setempat membuatnya sebagai yang termuda sekaligus wanita pertama dalam 20 tahun terakhir.

1. Ia memiliki catatan anti-aborsi serta pendukung LGBT 

Dilansir dari BBC, Metsola diketahui memiliki catatan anti-aborsi meskipun dirinya merupakan pendukung hak pro-LGBT.

Pejabat asal Malta ini mengambil peran dari David Sassoli yang meninggal pada pekan lalu setelah mengalami sakit parah.

Dia merupakan salah satu dari 3 wanita di posisi teratas Uni Eropa, bersama dengan Kepala Komisi Eropa dan Bank Sentral.

Metsola merasa terhormat telah mengamankan posisi itu dan bahwa dia berjanji akan
melakukan yang terbaik untuk mewakili rumahnya dengan bermartabat.

Ia menekankan bahwa Parlemen Eropa telah tidak ambigu tentang posisi pro-aborsi serta
posisi parlemen akan menjadi posisinya.

"Saya dapat menegaskan dan berkomitmen kepada anda semua bahwa ini adalah posisi yang saya akan dorong ke depan seperti yang telah saya lakukan sebagai Wakil Presiden,"
ungkap pernyataan dari Roberta Metsola setelah terpilih yang dilansir dari Euronews.com.

Selain itu, ia juga menyoroti selama setahu terakhir selama menjabat sebagai Wakil Presiden Parlemen Eropa, dia mempresentasikan resolusi dari anggota Parlemen Eropa ke
Senat Polandia tentang larangan adopsi yang hampir total di negara itu.

2. Sebelum terpilih, ia telah menerima dukungan sebanyak 458 suara 

Baca Juga: Pertama Kali dalam Sejarah, Parlemen Eropa Kunjungi Taiwan

Metsola, yang merupakan anggota Partai Rakyat Eropa (EPP) kanan-tengah, menjadi wanita ketiga yang menduduki posisi tinggi serta mengalahkan 3 calon lainnya untuk posisi tersebut, yakni Sira Rego (Spanyol, kiri-radikal), Kosma Zlotowski (Polandia, ECR Eurosceptics), dan Alice Bah Kuhnke (Swedia, Greens).

Zlotowski sebelumnya keluar dari pencalonannya sebelum pemungutan suara dimulai yang membuka jalan bagi Metsola untuk mengumpulkan dukungan dari semua partai sentris dan konservatif.

Metsola akhirnya berhasil memperoleh 458 suara dukungan, sementara Bah Kuhnke dan Rego tertinggal jauh dengan masing-masing memperoleh suara 101 suara dan 57 suara.

Setiap calon mengajukan kasus mereka ke sesama anggota parlemen di Strasbourg, Prancis, pada Selasa waktu setempat.

Co-chair dari kelompok Greens/EFA, Philippe Lamberts, mengatakan senang bahwa seorang wanita adalah Presiden Parlemen Eropa sekali lagi, tetapi kecewa pada proses pemilihan, yang menurutnya 3 kelompok politik terbersa membuat kesepakatan ruang belakang pada pemilihan Metsola.

"Kami akan memiliki lagi seorang Presiden Parlemen Eropa perempuan, di mana dalam 40
tahun, ini baru yang ketiga. Kami tidak bisa mengatakan bahwa keseimbangan gender telah dihormati, jadi dari sudut pandang itu dinilai positif, meski sekali lagi Parlemen Eropa bisa mengadopsi prosedur yang lebih baik untuk memutuskan siapa yang layak menjadi Presiden," ungkap pernyataan dari Philippe Lamberts yang dilansir dari Euronews.com.

3. Proses pemungutan suara tersebut berlangsung selama 4 putaran 

Roberta Metsola: Presiden Parlemen Eropa TermudaRoberta Metsola terpilih sebagai Presiden Parlemen Eropa termuda sekaligus wanita pertama yang memimpin jabatan ini dalam 20 tahun terakhir pada Selasa, 18 Januari 2022, waktu setempat. (Instagram.com/roberta.metsola)

Sebelum Metsola, ada dua wanita sebelumnya yang pernah menjabat sebagai Presiden
Parlemen Eropa yakni Simone Veil dari Prancis (1979-1982) dan Nicole Fontaine (1999-2002).

Untuk terpilih, seorang calon harus menerima mayoritas mutlak suara yang diberikan melalui pemungutan suara rahasia.

Jika tidak ada mayoritas mutlak yang diperoleh setelah 3 putaran pemungutan suara, putaran keempat diselenggarakan dengan dua calon yang menerima suara terbanyak pada putaran sebelumnya.

Pemungutan suara kali ini berlangsung secara virtual karena situasi pandemi COVID-19. Selain Presiden, tidak kurang dari 14 Wakil Presiden akan dipilih selama sesi, untuk masa jabatan selama 2 setengah tahun.

Posisi Kepala Komite Parlemen dan delegasi Eropa juga akan diperbarui, yang memicu
tawar-menawar sengit antara kelompok-kelompok politik.

Menurut aturan prosedur parlemen, Presiden memiliki sejumlah kekuasaan, termasuk
memutuskan diterimanya teks dan amandemen yang diajukan ke majelis untuk pemungutan suara, di samping memimpin debat. Dia juga mewakili lembaga tersebut di KTT Eropa dari 27 negara anggota.

Baca Juga: Argentina: Pendemo Anti Tambang Bakar Gedung Parlemen Chubut

Christ Bastian Waruwu Photo Verified Writer Christ Bastian Waruwu

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya