Comscore Tracker

Spanyol: Lockdown Pertama Dinilai Tidak Konstitusional

Keadaan darurat pertama terjadi pada bulan Maret 2020 lalu

Madrid, IDN Times - Pengadilan Tinggi Spanyol pada hari Rabu, 14 Juli 2021, waktu setempat memutuskan lockdown pertama yang terjadi di Spanyol pada tahun 2020 lalu bersifat tidak konstitusional. Keadaan darurat akibat wabah COVID-19 pertama kali terjadi di Spanyol pada bulan Maret 2020 lalu. Bagaimana awal ceritanya?

1. Putusan tersebut membuat orang-orang yang terkena denda mendapatkan kembali uang denda mereka  

Spanyol: Lockdown Pertama Dinilai Tidak KonstitusionalIlustrasi mata uang Euro. (Pixabay.com/martaposemuckel)

Dilansir dari BBC, Pengadilan Tinggi Spanyol telah memutuskan bahwa lockdown ketat akibat COVID-19 pada tahun 2020 lalu bersifat tidak konstitusional. Putusan itu membiarkan pintu terbuka bagi orang-orang yang didenda karena melanggar aturan selama lockdown berlangsung untuk mendapatkan kembali uang yang mereka bayarkan saat itu. Namun pengadilan mengatakan tidak akan menerima tuntutan hukum dari orang dan bisnis yang ingin menggugat pemerintah karena kehilangan uang akibat lockdown.

Pada saat itu, kasus dan kematian akibat COVID-19 meningkat dan rumah sakit dengan cepat menjadi kewalahan. Spanyol sendiri memiliki 3 tingkat darurat yakni keadaan darurat, keadaan pengecualian, dan keadaan pengepungan yang merupakan tingkat tertinggi. Di bawah aturan darurat, hampir semua orang di Spanyol diperintahkan untuk tetap berada di rumah dan hanya diizinkan pergi karena alasan penting serta semua tempat usaha ditutup, kecuali usaha penting.

Undang-undang itu berlaku hingga bulan Juni 2020 lalu, meskipun beberapa pembatasan diberlakukan kembali di akhir tahun 2020 lalu ketika Spanyol menghadapi gelombang kedua.

2. Menteri Kehakiman Spanyol mengatakan bahwa pemerintahannya akan menegakkan aturan tetapi tidak mengambil keputusan atas keadaan darurat 

Spanyol: Lockdown Pertama Dinilai Tidak KonstitusionalMenteri Kehakiman Spanyol, Pilar Llop. (Instagram.com/pilar_llop)

Menteri Kehakiman Spanyol, Pilar Llop, mengatakan bahwa pemerintahannya akan
menegakkan aturan tetapi tidak mengambil keputusan atas ketidakmampuan deklarasi
darurat yang menyelamatkan ratusan ribu nyawa. Ia menambahkan bahwa aturan tetap berada di rumah yang dinyatakan dalam keadaan darurat, bersama dengan perilaku teladan warga, memungkinkannya untuk menghentikan COVID-19 serta perintah yang ditegakkan mirip oleh para pemimpin Eropa lainnya. Mahkamah Konstitusi Spanyol membuat keputusannya sebagai tanggapan atas gugatan yang diajukan oleh partai sayap kanan, Partai Vox Spanyol.

Pemimpin Partai Vox, Santiago Abascal, pada hari yang sama menyerukan Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, untuk mundur dari jabatannya. Ia menjelaskan bahwa pihaknya tidak dapat merayakan keputusan tersebut karena pihaknya memiliki bukti bahwa pemerintah bersedia melanggar hukum dan menodai konstitusi. Selama lockdown berlangsung yang terjadi selama 6 minggu pertama, orang-orang di Spanyol tidak bisa keluar bahkan untuk berolahraga, sehingga itulah yang membuat Partai Vox menarik dukungannya untuk diberlakukannya lockdown.

Baca Juga: Diduga Lakukan Kekerasan Seksual, TikToker Spanyol Dituntut

3. Seorang ahli hukum mengatakan Mahkamah Konstitusi Spanyol dapat membatasi paparan hukum negara dari ribuan warga yang terkena denda 

Spanyol: Lockdown Pertama Dinilai Tidak KonstitusionalIlustrasi Gedung Mahkamah Agung. (Pixabay.com/Free-Photos)

Seorang Profesor Hukum Tata Negara dari University of Navarra, Prof. Fernando Simon, mengatakan bahwa Mahkamah Konstitusi Spanyol dapat membatasi paparan hukum negara dari ribuan warga yang menerima denda karena melanggar pembatasan pergerakan selama keadaan darurat. Menurutnya, kemampuan ini masuk akal karena jika dampak keputusan diambil secara ekstrim, itu bisa menciptakan situasi kacau. Dia mengatakan bahwa kata-kata Konstitusi Spanyol mengenai keadaan darurat mendukung pembacaan yang ketat atau lebih terbuka, sambil menambahkan bahwa konflik yuridis jenis ini bahkan tidak akan ada jika kekuatan politik utama mencari kebaikan bersama.

Jumlah kasus COVID-19 di Spanyol sampai hari Rabu, 14 Juli 2021, waktu setempat mencapai angka 4.041.474 kasus dengan rincian 81.043 kasus berakhir meninggal dunia serta 3.654.790 kasus berakhir sembuh. Di hari yang sama, Spanyol mengalami penambahan kasus sebanyak 26.390 kasus baru dengan rincian 10 kasus berakhir meninggal dunia. Spanyol sendiri sempat menyentuh rekor baru penambahan kasus baru tertinggi sejak pandemi pertama kali terjadi di Spanyol pada hari Selasa, 13 Juli 2021, lalu yang menyentuh angka 43.960 kasus baru.

Untuk saat ini, Spanyol berada di urutan ke-11 jumlah kasus COVID-19 terbanyak di dunia.

Baca Juga: Spanyol Tangkap Terduga Pembunuh Samuel Luiz 

Christ Bastian Waruwu Photo Verified Writer Christ Bastian Waruwu

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya