Penembakan di Turnamen Game, Apakah Pantas Untuk Menyalahkan Game?

Menurutmu bagaimana?

Jacksonville, IDN Times - Penembakan massal yang terjadi di turnamen video game, Jacksonville, Florida, pada hari Minggu (26/8/2018) lalu menewaskan dua orang dan 11 orang luka-luka.

Pelaku yang juga seorang gamer, melakukan aksi bunuh diri setelah melakukan penembakan. Gun Violence Archive mencatat sebanyak 230 kasus penembakan massal terjadi di Amerika Serikat pada tahun 2018 saja.

Dengan jumlah yang sangat tinggi tersebut, masyarakat bertanya-tanya apakah penyebab di balik terjadinya penembakan massal di Amerika Serikat? Sebagian masyarakat Amerika Serikat yang konservatif meminta pemerintah untuk memperketat, membatasi bahkan melarang penjualan senjata, dan sekarang mereka mulai menaruh perhatian mereka kepada video-video game.

Terutama karena semakin maraknya video game yang menampilkan kekerasan dan menggunakan beragam senjata api, dilansir dari Cbsnews.com dan Bleacherreport.com.

1. Kenneth Fok menekankan masyarakat untuk tidak menyalahkan video game

Penembakan di Turnamen Game, Apakah Pantas Untuk Menyalahkan Game?esportsobserver.com

Namun badan eSports top Asia meminta masyarakat untuk tidak menyalahkan video game, pada hari Rabu (29/8/2018).

Kenneth Fok, ketua Asian Electronic Sports Federation (AESF) mengatakan bahwa targedi tersebut seharusnya tidak pernah terjadi. Insiden malang tersebut sangat disayangkan karena terjadi di area turnamen video game. Namun menurut Kenneth tidaklah adil untuk menyalahkan video game.

"Saya rasa ini lebih kepada masalah kontrol senjata api dan juga akses masyarakat ke senjata," katanya.

2. Asia menjadi pelopor dan pemimpin tren gaming

Penembakan di Turnamen Game, Apakah Pantas Untuk Menyalahkan Game?indosport.com

Turnamen dengan beragam gaya permainan video game semakin meluas di pelosok dunia dalam beberapa tahun terakhir, dengan aksi tembak-menembak, strategi dan kerja sama tim multi-player menjadi wadah utama para gamer untuk menunjukkan keahlian mreka.

Asia menjadi pemimpin tren yang baru-baru ini semakin digandrungi masyarakat, dengan Korea Selatan sebagai pelopor gaming yang kompetitif dan Cina sebagai pasar gaming terbesar di dunia.

3. Game yang menunjukkan kekerasan dan tembak-menembak tidak akan dimasukkan ke dalam Olimpiade

Penembakan di Turnamen Game, Apakah Pantas Untuk Menyalahkan Game?indiatvnews.com

Bahkan AESF berusaha untuk membawa dunia gaming untuk setara dengan olahraga tradisional lainnya di Asian Game. Ketua Komite Olimpiade Internasional menyatakan bahwa eSport dapat dianggap sebagai olahraga.

Namun game yang didasari oleh tembak-tembakan dan kekerasan tidak akan pernah bisa dipertimbangkan masuk ke dalam Olimpiade mendatang.

Amerika Serikat hingga sekarang belum memiliki keputusan yang pasti tentang senjata api, dan penembakan massal yang sering terjadi akhir-akhir ini. Karena itulah keputusan Ketua Komite Olimpiade untuk sekarang masuk diakal.

Nathasia Photo Verified Writer Nathasia

-

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topik:

  • Irma Yudistirani

Berita Terkini Lainnya